Sunartini Hapsara
Department Of Pediatric, Faculty Of Medicine, Public Health And Nursing, Universitas Gadjah Mada, Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Antibodi Anti DS-DNA Sebagai Faktor Prognosis Mortalitas pada Lupus Erimatosus Sistemik Muslikhah Yuni Farkhati; Sunartini Hapsara; Cahya Dewi Satria
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.90-6

Abstract

Latar belakang.Angka kejadian lupus eritematosus sistemik (LES) di RSUP Dr Sardjito meningkat dengan mortalitas tinggi. Antibodi anti double stranded-DNA (ds- DNA ) merupakan antibodi patognomonik pada SLE.Tujuan.Mengetahui hubungan antara antibodi anti ds-DNA dengan mortalitas pasien SLE.Metode.Penelitian kohort retrospektif terhadap pasien SLE yang berusia kurang dari 18 tahun yang didapatkan secara konsekutif. Survivaldihitung menggunakan metode Kaplan Meier. Analisis log rankdan regresi Coxdigunakan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan mortalitas.Hasil.Didapatkan 46 pasien ikutserta dalam penelitian, 8 (17,4%) laki-laki dan 38 (82,6%) perempuan dengan rerata usia terdiagnosis 11,9 tahun, 21 subyek (45,7%) diantaranya meninggal. Survivalpada tahun pertama, ketiga dan kelima adalah 85%, 60%, dan 30 %. Rerata waktu follow uppasien dengan antibodi anti ds-DNA sebesar 885,5 hari (IK 95% 631,9–1139,1) tampak lebih pendek secara bermakna dibanding pasien dengan antibodi anti ds DNA negatif 4807,5 (IK 95% 4025,4–5389,0). Analisis multivariat menunjukkan antibodi anti ds-DNA merupakan satu – satunya faktor prognostik terhadap mortalitas pasien SLE (hazard ratio6,7; IK 95% 1,38–12,40). Kesimpulan.Antibodi anti ds-DNA merupakan faktor prognosis terhadap mortalitas pasien SLE.
Faktor Prediktor Nefritis pada Anak dengan Purpura Henoch-Schonlein Ahmad Wisnu Wardhana; Cahya Dewi Satria; Sunartini Hapsara
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.094 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.209-13

Abstract

Latar belakang. Penyakit purpura Henoch-Schonlein (PHS) dapat menyebabkan komplikasi nefritis. Nefritis PHS dapat membaik sendiri atau berkembang menjadi penyakit ginjal kronik. Beberapa faktor prediktor telah diketahui berhubungan dengan kejadian nefritis PHS.Tujuan. Menentukan usia ≥10 tahun, purpura persisten, gejala abdomen berat dan relaps sebagai faktor prediktor nefritis pada PHS.Metode. Dilakukan studi kohort retrospektif. Sampel penelitian adalah anak berusia 1 tahun – 18 tahun dengan PHS yang dirawat di Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2008-Agustus 2016 yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel diambil secara konsekutif, kemudian diidentifikasi adanya faktor prediktor nefritis berdasarkan data rekam medis. Analisis bivariat untuk menghitung nilai p serta analisis multivariat dengan regresi logistik.Hasil. Diikutsertakan 80 pasien yang yang diikuti selama 6 bulan. Didapatkan nefritis pada 31 pasien (38,75%). Analisis bivariat dan multivariat menunjukkan bahwa hanya gejala abdomen berat yang merupakan faktor prediktor nefritis dengan nilai p=0,027 dan p=0,021, dan RR 3,759 (IK95%: 1,222-11,562).Kesimpulan. Gejala abdomen berat merupakan faktor prediktor pada kejadian nefritis PHS dan meningkatkan risiko 3,75 kali terjadinya nefritis PHS. Usia ≥10 tahun, purpura persisten, dan relaps tidak terbukti berpengaruh pada kejadian nefritis PHS.
Hubungan Antara Parameter Hematologi saat Perawatan Fase Induksi dengan Kejadian Demam Neutropenia pada Anak Leukemia Limfoblastik Akut Adhitya Putra Pratama; Sunartini Hapsara; Eddy Supriyadi
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.571 KB) | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.183-8

Abstract

Latar belakang. Demam neutropenia yang terjadi, terutama fase induksi, merupakan keadaan yang mengancam jiwa serta membutuhkan penanganan yang cepat dan segera. Di RSUP Dr. Sardjito, tingkat mortalitas 11% dari 25% insiden demam neutropenia pada Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) fase induksi. Parameter hematologi diduga berperan terhadap kejadian demam neutropenia pada anak LLA fase induksi.Tujuan. Mengetahui hubungan antara parameter hematologi terhadap kejadian demam neutropenia anak LLA pada fase induksi.Metode. Penelitian kasus-kontrol dengan besar sampel 100 anak. Penelitian dilakukan pada pasien yang sedang dan telah menjalani Indonesian Protocol Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) 2006 fase induksi, menderita demam neutropenia, dan berusia kurang dari 18 tahun. Sampel diambil secara konsekutif berdasarkan data rekam medik dan dilakukan matching berdasarkan usia, jenis kelamin, dan demam neutropenia yang terjadi pertama kali saat perawatan. Uji statistik dengan kai kuadrat dan analisis multivariat dengan regresi logistik.Hasil. Secara statistik, hasil analisis multivariat menunjukkan monositopenia dengan jumlah monosit ≤100/mm3 dan merupakan satu-satunya variabel yang berkaitan dengan kejadian demam neutropenia, OR 3,570 (p=0,005;95%CI=1,466-8,695).Kesimpulan. Monositopenia dengan jumlah monosit ≤100/mm3 berhubungan dengan kejadian demam neutropenia pada anak LLA fase induksi.
Kejang Berulang dan Status Epileptikus pada Ensefalitis sebagai Faktor Risiko Epilepsi Pascaensefalitis Nur Laili Muzayyanah; Sunartini Hapsara; Tunjung Wibowo
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.005 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.150-5

Abstract

Latar belakang. Epilepsi pascaensefalitis merupakan salah satu komplikasi ensefalitis yang sering terjadi serta memerlukan tata laksana jangka panjang dan menurunkan kualitas hidup pasien. Kejang berulang dan status epileptikus pada ensefalitis dicurigai dapat meningkatkan risiko terjadi epilepsi pascaensefalitis.Tujuan. Mengetahui apakah risiko epilepsi pascaensefalitis lebih tinggi pada pasien yang mengalami kejang berulang dan status epileptikus pada ensefalitis.Metode. Penelitian kasus kontrol pada pasien pascaensefalitis usia 6 bulan-18 tahun dilakukan di bangsal anak RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Kelompok kasus terdiri dari 26 pasien dengan diagnosis epilepsi pascaensefalitis, 27 pasien pascaensefalitis dengan gejala sisa selain epilepsi atau tanpa gejala sisa sebagai kelompok kontrol. Data klinis subyek selama episode ensefalitis akut didapatkan dari rekam medis pasien saat dirawat. Kekuatan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen diketahui berdasarkan analisis bivariat dan analisis multivariat.Hasil. Kejang berulang ensefalitis akut meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pascaensefalitis (OR 3,6;95 % CI 1,0-12,7; p<0,05). Status epileptikus ensefalitis secara klinis meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pascaensefalitis, tetapi secara statistik tidak bermakna (OR 2,4;95 % CI 0,7-8,2; p>0,05).Kesimpulan. Kejang berulang ensefalitis meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pascaensefalitis. Status epileptikus pada ensefalitis secara klinis meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pascaensefalitis, tetapi secara statistik tidak bermakna.
Faktor Risiko Lingkungan pada Pasien Japanese Encephalitis I Gede E. Paramarta; I Komang Kari; Sunartini Hapsara
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.308-13

Abstract

Latar belakang. Penyakit Japanese encephalitis (JE) diperkirakan menjadi endemis di seluruh negara Asia,namun hanya sedikit kasus yang telah dilaporkan dari negara-negara tropis Asia seperti Indonesia, Malaysia,dan Pilipina. Di Indonesia terutama di Bali, penelitian mengenai faktor risiko lingkungan pasien JE padamanusia masih sangat terbatas.Tujuan. Mengetahui peran sawah dan babi sebagai faktor risiko JE.Metode. Suatu penelitian kasus-kontrol telah dilaksanakan Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Bali, dariJanuari 2005 sampai Desember 2007. Pasien usia kurang dari 12 tahun dan tinggal di Provinsi Bali denganensefalitis akut atau meningoensefalitis dimasukkan dalam penelitian. Hasil diagnosis JE ditetapkan denganIgM virus-spesifik dalam cairan serebrospinal (CSS) dan serum, dengan metode IgM captures enzyme-linkedimmunosorbent assay (MAC ELISA).Hasil. Empat puluh enam orang telah dimasukkan sebagai subjek penelitian, 23 disebabkan oleh JE.Sawah RR 4,68 (IK 95% 1,29;16,98); p=0,016, babi RR 4,28 (IK 95% 1,24;14,73); p=0,018 dan jarakkandang kurang dari 100 meter RR 8,00 (IK 95% 1,27;50,04); p=0,004 berhubungan dengan terjadinyaJE. Umur rerata pasien JE 65,52 (SD 32,54) bulan. Setelah dilakukan analisis multivariat, variabel sawahdi sekitar tempat kediaman pasien menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik RR 69,9 (IK 95%1,55;314,52); p=0,029.Kesimpulan. Sawah di sekitar tempat tinggal pasien merupakan faktor risiko Japanese encephalitis.Â