Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Kecerdasan Buatan dan Kearifan Lokal: Menegosiasikan Nilai-Nilai Budaya Madura dalam Pendidikan Islam Berorientasi Masa Depan Achmad Muchlis; Mohammad Akhwan Muchlis; Mohammad Muchlis Solichin; Misnawi Misnawi; Achmad Muzammil Alfan Nasrullah
Karakter : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam Vol. 3 No. 3 (2026): Agustus: Karakter : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/karakter.v3i3.2404

Abstract

The rapid development of artificial intelligence (AI) in education presents challenges for Islamic education within local cultural contexts, particularly regarding how data-driven technologies can be adopted without diminishing the moral values and local epistemic structures that support the social legitimacy of Islamic education. This conceptual paper examines this issue through the context of Madura, an Indonesian island society whose Islamic education system is closely connected to local wisdom through pesantren traditions, the epistemic authority of kyai, communal practices such as kompolan, and moral values expressed in bâburughân beccè'. Through a qualitative synthesis of recent studies on Madurese local wisdom and AI integration in Islamic education, this paper develops a conceptual framework that views AI and local wisdom as a negotiation space. Three key aspects require careful management: knowledge authority, character development and moderation, and access and equity. The paper argues that future-oriented Islamic education in Madura should implement a value-based AI adoption model with teachers acting as mediators, ensuring that technology strengthens rather than replaces the relational and communal dimensions of pesantren pedagogy.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS KESETARAAN GENDER Mohammad Muchlis Solichin
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 1 No 1 (2006)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/tjpi.v1i1.193

Abstract

Dalam realitas aktual kehidupan masyarakat Muslim telah terjadi proses ketimpangan dalam relasi gender yang betul-betul berlawanan dengan semangat fitri Islam yang sangat menjunjung tinggi dan mendambakan kesetaraan gender, kesetaraan laki-laki dan perempuan. Ketimpangan dimaksud seringkali dijustifikasi oleh tafsir ajaran agama, sehingga untuk mengubahnya, sangat diperlukan kemauan secara kultural dan struktural dalam mengubah paradigma pendidikan agama Islam menuju equalitas gender. Tulisan ini berusaha mendeskripsikan pendidikan agama berbasis kesetaraan gender dengan mengemukakan beberapa model strategi dalam aplikasinya.
BELAJAR DAN MENGAJAR DALAM PANDANGAN AL-GHAZÂLÎ Mohammad Muchlis Solichin
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 1 No 2 (2006)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/tjpi.v1i2.202

Abstract

Al-Ghazâlî merupakan tokoh pemikir Islam yang banyak memberikan karya monumental dalam berbagai kajian keislaman. Beliau dikenal luas sebagai seornag tokoh sufi, oleh karenanya tidak heran jika pemikirannya banyak diilhami oleh nilai-nilai tasawwuf, termasuk hasil pemikirannya dalam bidang pendidikan. Dalam hal belajar dan mengajar misalnya, al- Ghazâlî terinspirasi dengan pola kehidupan sufi, yaitu bagaimana seorang anak didik dan pendidik melaksanakan aktivitas belajar mengajarnya berdasarkan perspektif ajaran Islam. Sebagai titik tolak dari kedua aktivitas itu al-Ghazâlî menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar itu harus diniatkan sebagai aktivitas ibadah kepada Allah dan mencari keridhaan- Nya.
FITRAH; KONSEP DAN PENGEMBANGANNYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Mohammad Muchlis Solichin
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/tjpi.v2i2.219

Abstract

Salah satu tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia paripurna melalui pembiasaan, penanaman, pemberian hadiah (reward) dan hukuman (punishment). Tujuan pendidikan Islam sebagaimana diatas dapat diwujudkan dengan upaya mengarahkan, membimbing anak didik dan--yang lebih penting dari itu--menumbuhkembangkan potensi-potensi alamiah yang diterima anak sejak ia dilahirkan. Potensi-potensi itulah yang dikenal--dalam pendidikan Islam--sebagai fitrah. Fitrah dengan berbagai derivasinya dikembangakan melalui proses pembelajaran dalam pendidikan Islam dengan menekankan keseimbangan antara fitrah lahiriyah dan fitrah bâthiniyah.
ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DAN APLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Mohammad Muchlis Solichin
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 3 No 1 (2008)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/tjpi.v3i1.226

Abstract

Islamisasi ilmu pengetahuan sejak kelahirannya mengundang para ahli untuk memperbincangkannya. Kalangan cendekiawan Muslim yang berpendapat pentingnya ilmu pengtahuan meyakini bahwa ilmu pengetahuan sangat urgen untuk diislamkan, mengingat ilmu pengetahuan—dalam pandangan mereka—telah teracuni nilai-nilai ideologi dan filosofi Barat yang banyak bertentangan dengan ajaran Islam. Adalah al-Faruqi dan al-Attas—dua tokoh sentral—ide islamisasi ilmu pengetahuan yang secara getol mempropagandakan ide itu dengan tujuan mengembalikan ilmu pengetahuan yang dinilai telah keluar dari kerangka aksiologisnya. Dalam pikiran mereka, ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini bukan lagi untuk kemanfaatan manusia tapi telah mengarah kepada kerusakan dan kehancuran umat manusia.
PENDIDIKAN ISLAM KLASIK (Telaah Sosio-Historis Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam Masa Awal Sampai Masa Pertengahan) Mohammad Muchlis Solichin
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 3 No 2 (2008)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/tjpi.v3i2.237

Abstract

Pendidikan Islam secara historis dimulai pada zaman Rasulullah SAW. dalam bentuk membimbing dan mendidik para sahabatnya dengan ajaran Islam yang merupakan penjelasan dari ayat-ayat al-Qur’an yang beliau terima dari Allah melalui Jibril. Pada masa itu, pendidikan Islam berkisar aktivitas baca tulis al-Qur’an beserta makna yang dikandungnya. Pasca wafatnya, pendidikan dilanjutkan oleh para sahabat, tabi’în, dengan pengembangan yang cukup signifikan, dengan ditambahnya materi pendidikan Islam—sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat muslim saat itu. Pada masa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, pendidikan Islam berkembang pesat baik materi, metode, dan tempat-tempat pendidikan sebagai imbas semakin berkembangnya komunitas muslim menjadi komunitas kosmopolit yang ditandai dengan maju pesatnya berbagai cabang ilmu pengetahuan.
TAZKIYAH AL-NAFS SEBAGAI RUH REKONSTRUKSI SISTEM PENDIDIKAN ISLAM Mohammad Muchlis Solichin
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 4 No 1 (2009)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/tjpi.v4i1.242

Abstract

Islamic education ia a mean of value transmission and islamic doctrines to the students in order to understand, internalize, and practice the islamic doctrines precisely. Meanwhile, the core of islamic doctrines is to implant good morals. And this the prophetic mission of Muhammad SAW, prefecting morals of humans. Inserting good morals as the soul of developing the planning, actuating, and evaluating islamic education. These efforts are very crucial to avoid misleading orientation of islamic education as mastering knowledge only (Islamology) without understanding, penetrating, and actuating in daily life. The efforts to reconstruct islamic educaton as exsplain above can be carried out by formulating instructional goals, designing curriculum, and implementing Islam by referring to pervading good morals (akhlak) through tazkiyah al-nafs.