Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pertumbuhan dan Hasil Rimpang Jahe Merah (Zingiber officinale, Rosc.) Varietas Jahira 1 dengan Pemberian Arang Sekam: Growth and Yield of Red Ginger Rhizome (Zingiber officinale, Rosc.) Variety Jahira 1 with The Application of Husk Charcoal Windu Mangiring; Maman; Adwin Pangestu
Planta Simbiosa Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jplantasimbiosa.v5i2.3326

Abstract

This research aims to assess the impact of rice husk charcoal application on the growth and yield, as well as to determine the optimal dosage of rice husk charcoal for enhancing the growth and yield of red ginger rhizomes (Zingiber officinale, Rosc.) variety Jahira 1. The experiment was conducted in Ciruluk Village, Kalijati District, Subang Regency, from June to September 2022. The study utilized an experimental method with a randomized block design consisting of four replications and six treatments of rice husk charcoal dosage. The treatments included: P0 = 0 ton/ha, P1 = 2.5 ton/ha, P2 = 5 ton/ha, P3 = 7.5 ton/ha, P4 = 10 ton/ha, and P5 = 12.5 ton/ha. The results of the study indicate that the application of rice husk charcoal significantly affects the growth of red ginger plants (Zingiber officinale, Rosc.) variety Jahira 1. The dosage of 10 ton/ha of rice husk charcoal resulted in the tallest plants at the observation of 4 weeks after planting (WAP), while doses of 5 and 7.5 ton/ha provided the best results at 8 WAP. Treatments P2 (5 ton/ha), P3 (7.5 ton/ha), P4 (10 ton/ha), and P5 (12.5 ton/ha) yielded the best results at 12 WAP. The application of rice husk charcoal also influenced the leaf count, where the dosage of 5 ton/ha (P2) yielded the best results at 4 WAP, while doses of 5 and 7.5 ton/ha (P2 and P3) provided the best results at 8 WAP. The application of 7.5 ton/ha (P3) resulted in the highest number of shoots at 12 WAP. The application of rice husk charcoal did not have a significant effect on leaf length, rhizome weight per plant, and rhizome weight per plot.
Modifikasi Pengolahan Limbah Kotoran Sapi Melalui Pemberdayaan Karang Taruna di Desa Astomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah Kurniawati, Nurleni; Ariska, Feby Musti; Mangiring, Windu
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 9 No 3 (2024): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama ini limbah kotoran sapi hanya dijual dalam bentuk mentah tanpa melalui proses pengolahan sehingga harga relatif murah, bahkan hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan untuk petani daerah sekitar. Kegiatan pengabdian dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan seperti sosialisi dan pelatihan tentang modifikasi limbah kotoran sapi menjadi pupuk fermentasi dalam bentuk Kompos Blok dan Media Semai. Limbah tersebut ditambahkan bahan lain seperti cocopeat, arang sekam, ampas aren yang selanjutnya difermentasi menggunakan Biostrater untuk mempercepat proses pengomposan menjadi produk dengan kualitas dan bernilai ekonomi. Dengan melibatkan dan memberdayakan remaja Karang Taruna dalam mengembangkan potensi daerahnya, kedepannya program pengolahan limbah ini dapat berjalan secara terorganisir dan berkelanjutan. Hasil kegiatan ini berupa informasi tentang pengolahan dan modifikasi produk limbah kotoran sapi. Kontribusi mendasar kepada anggota Karang taruna yaitu setelah mengikuti kegiatan pengabdian ini mereka mampu mengolah limbah dari Kelompok Ternak Limousin kemudian memanfaatkan dan memasarkannya pada wilayah setempat. Pupuk Kompos Blok dapat digunakan sebagai pupuk subtitusi guna mengatasi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan media semai dalam bentuk blok dinilai bersifat ramah lingkungan dan sangat praktis karena tanpa ada wadah dan dapat langsung ditanam ke dalam tanah. Dengan demikian, remaja Karang Taruna dapat berperan besar dalam menangani permasalahan limbah sehingga termanfaatkan secara optimal dan meningkatkan nilai jual. Up until now, cow manure waste has only been sold in its raw form without processing, resulting in a relatively low price, with only a small portion being used by local farmers. The community service activities were carried out in the form of counseling, such as socialization and training on modifying cow manure waste into fermented fertilizer in the form of compost blocks and seedling media. The waste was mixed with other materials like cocopeat, rice husk charcoal, and aren pulp, and then fermented using Biostrater to accelerate the composting process, resulting in a product of quality and economic value. By involving and empowering the Karang Taruna youth in developing the potential of their region, this waste processing program can be organized and sustainable in the future. The outcome of this activity includes information on the processing and modification of cow manure waste products. A fundamental contribution to the Karang Taruna members is that after participating in this community service activity, they will be able to process waste from the Limousin Livestock Group, then utilize and market it within the local area. Compost blocks can be used as a substitute fertilizer to reduce dependency on chemical fertilizers, and the block-form seedling media is considered environmentally friendly and very practical because it requires no container and can be directly planted into the soil. Thus, the Karang Taruna youth can play a significant role in addressing waste issues so that it can be optimally utilized and increase its market value.
Sosialisasi Pengolahan Sampah Organik Menjadi Pakan Maggot pada Bank Sampah HATIM Berseri Kota Metro Kurniawati, Nurleni; Ariska, Feby Musti; Mangiring, Windu
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v6i1.11297

Abstract

Bank Sampah merupakan tempat menabung sampah dan alternatif daur ulang sampah. Bank Sampah Hatim Berseri aktif menampung kemudian mengolah sampah anorganik menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai jual seperti tas belanja, sofa ecobrik, paving blok, sedangkan sampah organik belum dimanfaatkan ataupun diolah. Tujuan pengabdian melalui sosialisasi ini yaitu untuk memberikan wawasan dan ketrampilan terkait pengolahan sampah organik dengan budidaya maggot, sehingga diharapkan mampu menjadi salah satu solusi dalam menangani permasalahan sampah organik Nasabah dan masyarakat sekitar Bank Sampah Selain itu, adanya pengolahan sampah organik tersebut juga menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat. Hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti ikan lele dan ayam, dan bahkan residu budidaya maggot berupa kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik tanaman. Berdasarkan evaluasi secara terukur melalui kuesioner diketahui bahwa pemahaman nasabah dan Masyarakat sekitar Bank Sampah cukup tinggi terlihat dari antusiasme, keaktifan selama proses sosialisasi dan diskusi.  Dari hal tersebut maka diharapkan juga dapat menambah inovasi program-program Bank Sampah Hatim Berseri dan masyarakat sekitar Bank Sampah dalam mewujudkan Lingkungan Bersih dan Sehat
Pendampingan Izin PIRT sebagai Penguatan Produk dan Perluasan Pasar Produk KWT Sekar Mewangi di Desa Untoro, Trimurjo, Lampung Tengah Feby Musti Ariska; Khasbullah, Fizzaria; Kurniawati, Nurleni; Mardliyah, Ainul; Mangiring, Windu; Alima Maolidea Suri; Yatmin
Jurnal Mitrawarga Vol. 2 No. 2 (2023): JURNAL MITRAWARGA
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jmw.v2i2.33

Abstract

Desa Untoro memiliki Kelompok Wanita tani (KWT) aktif bernama Sekar Mewangi. KWT yang aktif tersebut merupakan mitra binaan STIPER Dharma Wacana Metro. Diketahui bahwa KWT Sekar Mewangi memiliki produk berupa bubuk rempah instan dalam bentuk minuman serbuk. Akan tetapi, produk tersebut belum memiliki izin edar (nomor PIRT) sehingga masih diedarkan atapun dipasarkan secara lokal dan terbatas. Dalam pengelolaan produk KWT tersebut memiliki banyak permasalahan seperti dalam pengurusan P-IRT dan pengembangan produk minuman, seperti (a) minimnya pengetahuan sumber daya manusian (SDM) terkait produksi minuman yang baik guna memenuhi syarat pengurusan izin edar, (b) terbatasnya pengetahuan terkait manajemen tata kelola P-IRT, (c) jangkauan pemasaran yang terbatas karena belum adanya memiliki izin edar produk. Tujuan Pelaksanaan pengabdian dalam pengurusan P-IRT di KWT Sekar Mewangi di Desa Untoro yaitu meningkatkan pengetahuan dan wawasan anggota KWT mengenai sistem dan standar produk KWT yang baik agar memenuhi standar izin edar produk. Hasil kegiatan pengabdian pendampingan dalam mengurus ijin P-IRT berdampak dengan adanya perubahan dalam usaha minuman instan oleh anggota KWT. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) diketahui bahwa sarana produksi yang digunakan dalam proses pembuatan produk telah memenuhi standar yang ditetapkan. Produk hadir dengan kemasan dan label yang menarik serta telah memenuhi kriteria pelabelan yang distandarkan. Untuk kualitas produk yang dihasilkan sudah memenuhi standar produk minuman dan memiliki kualitas yang baik. Kata kunci: KWT, Minuman Instan, dan P-IRT
Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Terbatas dalam Mendukung Program Gerakan Tanaman Pangan Keluarga (Gertapaga) Melalui Pertanian Organik Secara Vertikultur Pada KWT Lingkungan Berseri Kota Metro Mangiring, Windu; Kurniawati, Nurleni; Ariska, Feby Musti
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 4 No. 4 (2025): November
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/xq5zt661

Abstract

Kemandirian pangan keluarga merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Namun, keterbatasan lahan di kawasan perkotaan menjadi kendala utama dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Lingkungan Berseri di Kota Metro dengan tujuan untuk meningkatkan kemandirian pangan keluarga melalui penerapan sistem pertanian organik secara vertikultur. Metode yang digunakan meliputi Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Demonstration Plot, sehingga anggota KWT terlibat aktif dalam setiap tahapan kegiatan mulai dari persiapan, sosialisasi, pelatihan, hingga evaluasi. Kegiatan pelatihan mencakup pembuatan media tanam organik, instalasi vertikultur, serta praktik langsung budidaya tanaman sayuran. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan anggota KWT dalam mengelola pertanian organik di lahan terbatas. Evaluasi melalui kuesioner juga mengungkapkan adanya minat dan komitmen anggota KWT untuk menerapkan sistem vertikultur secara berkelanjutan. Program ini menghasilkan model percontohan berupa vertical tower yang dapat direplikasi pada pekarangan rumah tangga, sehingga berkontribusi pada peningkatan produktivitas pangan keluarga, pemberdayaan perempuan, serta terciptanya lingkungan yang hijau, sehat, dan berkelanjutan