Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Humano: Research Journal

PENGEMBANGAN PUSAT INFORMASI WISATA (TOURISM INFORMATION CENTER) KASTELA DI PULAU TERNATE Sunaidin Ode Mulae; Jainul Yusup
Humano: Jurnal Penelitian Vol 11, No 1 (2020): : PERIODE JUNI
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/humano.v11i1.2545

Abstract

PKM mefokuskan pada satu objek wisata yang ada di kelurahan Kastela, kecamatan Pulau Ternate agar mampu menjawab dan mandorong sektor pariwisata menjadi solusi peningkatan ekonomi masyarakat di kelurahan kastela. Hal ini menjadi alasan karena tim berdasarkan survei objek wisata kastela belum melihat ada kemajuan dan kesejahteraan pada masyarakat terhadap sektor pariwisata. Padahal, kalau dikembangkan secara baik dan benar sektor pariwisata di kelurahan Kastela dapat meningkatkan ekonomi kesejahteraan masyarakat. Tujuan PKM ini adalah terdapatnya pusat inormasi wisata yang disediakan pada objek wisata Kastela. Terbentuknya masyarakat sadar wisata dalam komunitas kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Peningkatan SDM Masyarakat Objek Wisata Kastela agar mampu secara ekonomi untuk kehidupannya di dalam mengelola Objek Wisata. Tahapan PKM ini yakni Survei objek sejarah Kastela, Pertemuan bahas keberanjutan objek wisata kastela, Pelatihan tata kelola pusat informasi pariwisata, Publikasi wisata Kastela, Festival wisata Kastela. Luaran PKM ini adalah Jurnal/publikasi objek wisata Kastela Memiliki pengurus Pusat Informasi Pariwisata (Tourism Information center) event/festival wisata castela. Metode yang digunakan pada PKM ini adalah Metode pelaksanaan yang diterapkan dalam PKM ini yakni metode Community based tourism, pendampingan, dan pelatihan. Hasil menunjukan bahwa PKM ini mampu membuat pemetaan potensi kastela dan mengidentifikasi potensi objek wisata. Simpulan yang dapat diambil pada kegiatan PKM ini adalah potensi objek wisata Kastela memiliki kekuatan dan kelemahan untuk dapat dikembangkan. Kastela memiliki dua objek unggulan yakni objek wisata Pantai Gamlamo dan Benteng Castela. Dua objek ini memiliki sejumlah atraksi, amenitas, aksebilitas yang belum secara baik dikelola oleh masyarakat dan Dinas Pariwisata Kota Ternate.
VERB PROCESS IN WANGI-WANGI (WANCI) DIALECT IN TALIABU REGENCY (A MORPHOLOGICAL APPROACH) Ridal Nurjrahman Harnaiya; Suddin MS Djumadil; Sunaidin Ode Mulae
Humano: Jurnal Penelitian Vol 11, No 1 (2020): : PERIODE JUNI
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/humano.v11i1.1936

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses verba dalam dialek Wangi-wangi di Taliabu, proses penelitian ini menggunakan metode Kualitatif yang bersumbar dari data lisan pengumupulan data di lakukan dengn metode simak dan metode cakap yang disertai dengan teknik rekam dan teknik catat. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode Tradisional.    Hasil pnelitian ini menunjukan hal-hal sebagai berikut. Bentuk Verb Proses Bahasa Wangi-wangi di Taliau meliputi bentuk Verba dasar dan bentuk Nomina. Bentuk Nomina meliputi: {pa}-{he} berprefiks {no}-{e}-{a}-{mo} bersufiks {pa}-{po}-{a} pengulangan berkombinasi dan pembubuhan sufiks {pa-a} pengulangan berkombinasi pembubuhan konfiks. Perilaku morfologi Verba Proses di amati melalui makna aspektualitas Verba.
CERITA RAKYAT SEBAGAI SUMBER NILAI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER: STUDI ETNOPEDAGOGI PADA CERITA RAKYAT MASYARAKAT TERNATE Hudan Irsyadi; Sunaidin Ode Mulae
Humano: Jurnal Penelitian Vol 12, No 1 (2021): PERIODE JUNI
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/humano.v12i1.3297

Abstract

Artikel ini ingin mendiskusikan tentang cerita rakyat sebagai sumber nilai dalam pembentukan karakter. Sumber datanya pada cerita rakyat masyarakat Ternate. Cerita rakyat masyarakat Ternate  masih banyak tersebar di tengah-tengah masyarakatnya. Cerita rakyat seperti mitos maupun legenda masih sering diceritakan secara turun temurun  dalam  kehidupan  sosial budaya  masyarakat  Ternate.  Cerita rakyat  seperti Kapita Bajurante, Asal mula Mahkota Sultan Ternate, dan Tolire Gam Jaha masih diketahui sebagian masyarakat Ternate. Fokus masalah dalam artikel ini lebih ditilik pada nila-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat masyarakat Ternate, dan bagaimana bentuk pemertahanan dalam lingkungan kehidupan sosial budaya. Adapun tujuannya adalah untuk mendeskripsikan dan mengekplanasik nila-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat masyarakat Ternate, serta untuk mengetahui bentuk pemertahanan dalam lingkungan kehidupan sosial. Metode dalam artikel ini menggunakan jenis deskriptif kualitatif. Di mana, informasi dideskripsikan secara teliti dan analitis. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, perekaman, dan pencatatan, serta pengumpulan dokumen. Artikel ini menunjukkan bahwa cerita rakyat masyarakat Ternate yang terdapat dalam cerita Kapita Bajurante, Asal mula Mahkota Sultan Ternate, dan Tolire Gam Jaha banyak mengandung nilai-nilai sosial budaya dan pesan moral, sehingga dapat berfungsi sebagai pembentukan karakter.
STRATEGI PENGEMBANGAN KAMPUNG WISATA BERBASIS MASYARAKAT KEPULAUAN DI PULAU HIRI Rahmah DO Subuh; sunaidin ode mulae
Humano: Jurnal Penelitian Vol 10, No 2 (2019): Periode November
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/humano.v10i2.1448

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi  objek wisata dan strategi pengembangannya  di Pulau Hiri. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu survei dan pendampingan. Hasil yang ditemukan pada penelitian ini adalah Potensi wisata di Pulau Hiri terdiri atas wisata alam, seni dan budaya. Wisata alam telah di buat spot foto yang menyajikan pemandangan alam kepada pelancong untuk mengabadikan moment saat berada di pulau Hiri. Wisata seni dan budaya seperti masyarakat Kota Ternate pada umumnya karena masyarakat Pulau Hiri sebagian besar menggunakan bahasa dan budaya Ternate. Penelitian ini bersamaan dengan program berkarya bermasyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa dan dosen pembimbin lapangan pada empat kelurahan yakni Togolobe, Mado, Faudu, Dorari Isa menemukan bahwa potensi wisata di empat kelurahan pulau Hiri ini dapat menjadi alternatif wisata bagi masyarakat kota Ternate, nasional dan internasional. Simpulan pada penelitian ini adalah Strategi dikembangkan pada sektor pariwisata pada empat kelurahan dengan dibuatkan kawasan wisata spot foto untuk mengabadikan moment saat pelancong berada di Pulau Hiri. Kemudian, disiapkan rambu-rambu wisata dalam bentuk informasi sapta pesona sekaligus kelompok sadar wisatanya.Kata kunci: Strategi, pengembangan,wisata, pulau Hiri
KEKERABATAN BAHASA NON-AUSTRONESIA DI HALMAHERA BARAT (BAHASA SAHU, WAIOLI, GAMKONORA, IBO, TOBARU, LOLODA) BAHASA TERNATE DAN BAHASA TIDORE Sunaidin Ode Mulae; Dahrun Sarif
Humano: Jurnal Penelitian Vol 12, No 2 (2021): PERIODE NOVEMBER
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/humano.v12i2.3281

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekerabatan bahasa-bahasa rumpun non-Austronesia di Halmahera Barat (bahasa Sahu, Waioli, Gamkonora, Ibo, Tobaru, Loloda), dan bahasa Ternate dan bahasa Tidore.  Penelitian ini menggunakan metode leksikostatistik. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan mengumpulkan sumber tertulis berupa kamus bahasa daerah. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis mencari kesamaan dan kemiripan leksikal kosa kata berkerabat.  Hasil temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa Bahasa Ternate dan bahasa Tidore memiliki persamaan kosakata dasar 66, kemiripan 47, perbedaan 60 dengan tingkat kekerabatan bahasa 188,4%, dengan begitu bahasa Ternate dan bahasa Tidore berada pada tingkat bahasa (language). Bahasa Sahu dan bahasa Waioli memiliki persamaan 51, kemiripan 60, perbedaan 82 dengan tingkat kekerabatan bahasa 124,17%, sehingga bahasa Sahu dan bahasa Waiolo berada pada bahasa (language). Bahasa Gamkonora dan bahasa Ibo memiliki persamaan 27, kemiripan 32, perbedaan 130 dengan tingkat kekerabatan bahasa 51,61%, dengan demikian bahasa Gamkonora dan bahasa Ibo berada pada rumpun bahasa (stock). Bahasa Tobaru dan bahasa Loloda memiliki persamaan 3, kemiripan 14, perbedaan 176 dengan tingkat kekerabatan bahasa 10,95%, sehingga bahasa Tobaru dan bahasa Loloda berada pada tingkat mikrofilum. Simpulan pada penelitian ini adalah kekerabatan bahasa-bahasa non-Austronesia di kabupaten Halmahera barat seperti bahasa Sahu dan bahasa Waioli masuk pada kategori bahasa, bahasa Gamkonora dan bahasa ibo (ibu) masuk pada kategori keluarga bahasa, dan bahasa Loloda dan bahasa Tobaru masuk pada kategori mikrofilum, bahasa Ternate dan bahasa Tidore masuk pada kategori bahasa.
MENGENAL REDUPLIKASI BAHASA TIDORE DALAM UPAYA PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH Sunaidin Ode Mulae
Humano: Jurnal Penelitian Vol 7, No 1 (2016): Periode Juni
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.072 KB) | DOI: 10.33387/humano.v7i1.299

Abstract

ABSTRAK. Studi ini bertujuan untuk mengenal bahasa Tidore dalam proses reduplikasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, mencatat, membaca, dan mengkategorisasi data. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan teori morfologi tentang reduplikasi. Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukan bahwa bahasa Tidore mempunyai beberapa proses reduplikasi yakni proses reduplikasi penuh, reduplikasi sebagian, reduplikasi proses awal kata dan reduplikasi proses akhir kata. Kata Kunci: Bahasa Tidore, Bahasa Daerah, ReduplikasiABSTRACT.This study goals to know Bahasa Tidore in reduplication processes. This research used descritive qualitative method with the collecting of the data namely, interview, notes, reading and data categoritation. The technique analysis of the data is doing with used morphology theories about reduplication. The result in this research to show that Bahasa Tidore have several reduplication processes, namely, partial reduplication, dwilingga reduplication, dwipurwa reduplication, and trilingga reduplication.Keywords: Bahasa Tidore, Local language, Reduplication
SIKAP PEJABAT SENIOR UNIVERSITAS KHAIRUN DAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA TERHADAP BAHASA INGGRIS, UPAYA MENDORONG KAMPUS BERTARAF INTERNATIONAL DI TIMUR INDONESIA Sunaidin ode Mulae; Halida Nuria
Humano: Jurnal Penelitian Vol 8, No 2 (2017): Periode November
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.134 KB) | DOI: 10.33387/humano.v8i2.587

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sikap pejabat senior di Universitas Khairun dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara terhadap bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-kuantitatif karena variabel yang diukur menggunakan angka-angka dalam menentukan sikap. Penelitian ini menggunakan skala Likert dalam mengukur sikap tentang fenomena pejabat senior terhadap bahasa Inggris di dunia akademik. Dengan jenis skala Likert, maka variabel yang akan di ukur diuraikan menjadi indikator capaian. Indikator capaian itu dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen berupa pertanyaan atau pernyataan. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan kuesioner. Teknik analisis data dilakuakan secara deskripsi-kuantitatif karena datanya kuantitatif, maka teknik analisis data menggunakan metode statistik untuk menentukan sikap. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu sikap pejabat senior di Universitas Khairun dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara terhadap bahasa Inggris menunjukan frekuensi pada angka Sangat Setuju 0,12 %, Setuju 0,49 %, Netral 0,03 %, tidak setuju 0,31 %, Sangat tidak setuju 0,06 %. Angka-angka persen tersebut menunjukan bahwa sikap pejabat senior di Universitas Khairun dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara terhadap bahasa inggris berada pada kategori cukup atau kondusif pada bahasa Inggris. Berdasarkan analisis program WINKS SDA 7 menunjukan juga rata-rata 2,50 dengan standar deviasi 0,74 serta keofisien 0,300. Angka-angka ini kalau dikonversikan pada kriteria sikap bahasa maka sikap pejabat senior di Universitas Khairun dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara berada pada rata-rata kondusif dengan persentase 0,5 %. Analisis program WINKS SDA 7 selaras dengan perhitungan manual menggunakan program excel yakni rata-rata keseluruhan item jawaban oleh pejabat senior 2,61 dengan standar deviasi 0,35, dan keofisien variasi 292,9, sehingga dapat dipastikan sikap pejabat senior berada pada posisi kondusi atau cukup. Kata Kunci: Sikap, Pejabat Senior, Universitas Khairun, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara   ABSTRACT. This research aims to see the influence of attitudes and motivation of senior officials at Universitas Khairun and Universitas Muhammadiyah Maluku Utara towards English. This research uses descriptive-quantitative methode because the variables measured using numbers to determine attitudes. This research uses Likert scale in measuring attitude about senior officer phenomenon to English in academic world. With the Likert scale type, then the variables to be measured are described into performance indicators. Indicator achievement was used as a starting point to arrange the items of the instrument in the form of questions or statements. This study uses data collection techniques with questionnaires. Data analysis techniques are doing quantitatively-descriptive because of the quantitative data, the data analysis technique using statistical methods to determine the attitude. The results found in this study are attitude of senior officials at the Universitas Khairun and Universitas Muhammadiyah Maluku Utara towards English shows the frequency at the number Strongly Agree 0.12%, Agree 0.49%, Neutral 0.03%, disagree 0.31% , Strongly disagree 0.06%. The percentage scores show that the attitude of senior officials at Universitas Khairun and Universitas Muhammadiyah Maluku Utara towards English is in enough category or conducive to English. Based on the analysis of the program WINKS SDA 7 also showed an average of 2.50 with a standard deviation of 0.74 and keofisien 0.300. These scores if converted to the attitude criteria of language then the attitude of senior officials at the Universitas Khairun and Universitas Muhammadiyah Maluku Utara are on the average conducive with a percentage of 0.5%. The analysis of WINKS SDA 7 program is consistent with manual calculation using the excel program that is the average of overall answer items by senior officials 2,61 with standard deviation of 0.35, and the variability of 292.9 variation, so it can be assured that senior officials are in a position of conducive or enough.  Key words: The Attitude, Senior Officials, Khairun University, Muhammadiyah University of North Moluccas
STRATEGI PENILAIAN OBJEK WISATA CENGKEH AFO SEBAGAI UPAYA PENGUATAN SEKTOR PARIWISATA DI TERNATE Sunaidin Ode Mulae; Rusli M Said
Humano: Jurnal Penelitian Vol 10, No 1 (2019): Periode Juni
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/hjp.v10i1.1344

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dari faktor internal serta peluang dan ancaman dari faktor eksternal objek wisata cengkeh Afo sebagai tujuan wisata rempah-rempah di Ternate, dan untuk mengetahui strategi pengembangan objek wisata cengkeh Afo sebagai destinasi tujuan wisata rempah-rempah (Spices tourism). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif (descriptive research) atau eksplanatory terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi. Teknik pengumpulan data pada penelitian menggunakan metode observasi (pengamatan), wawancara (interview), dokumentasi dan kajian pustaka. Hasil yang ditemukan adalah aksesbilitas di cengkeh afo cukup baik, amenitas sangat menunjang, atraksi cukup bagus. Simpulan pada penilaian terhadap objek wisata cengkeh afo berada pada diagram batang yang menunjukan bahwa faktor internal dan ekternal pada objek wisata cengkeh afo dari penilaian 26 responden menemukan sangat variatif yaitu pda responden nomor 1 sampai 26 mempunyai penilaian terhadap objek wisata terendah 14,18% sampai pada tertinggi 89,55%, atau keseluruhan 867,22%, dalam hal ini menunjukan bahwa potensi objek wisata cengkeh afo dapat dikembang menjadi tujuan wisatawan yang cukup baik.
IDENTIFIKASI POTENSI KOPI NYIRU SEBAGAI OLEH – OLEH KHAS TERNATE Sunaidin Ode Mulae; Betly Taghulihi
Humano: Jurnal Penelitian Vol 11, No 2 (2020): PERIODE NOVEMBER
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/humano.v11i2.2516

Abstract

Penelitian ini mengidentifikasi potensi kopi nyiru yang yang ada di kota ternate untuk dijadikan sebagai oleh–oleh khas Ternate karena selama ini wisatawan kesulitan menemukan oleh–oleh kopi yang merupakan khas dari kota Ternate. Diharapkan dari penelitian ini ditemukan model pengemasan kopi sebagai pendukung daya tarik wisata yang siap ditawarkan kepada pengunjung atau wisatawan yang datang ke kota Ternate. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana proses pembuatan kopi nyiru, apa khasiat kopi nyiru dan bagaimana mengemas kopi nyiru untuk dijadikan sebagai oleh – oleh khas Ternate. Target luaran penelitian ini adalah: (1) publikasi ilmiah di jurnal lokal ber-ISSN atau jurnal nasional, (2) pengayaan bahan ajar di Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Universitas Khairun sebagai wisata kuliner, (3) poster penelitian. Studi ini dilakukan di Kota Ternate dengan menggunakan metode kualitatif. Lokasi penelitian adalah di Taman Moya. Alasan pemilihan lokasi karena masyarakat lokal di Taman Moya menyediakan kopi nyiru untuk ditawarkan kepada pengunjung. Penelitian dilakukan selama enam bulan, sejak proposal penelitian dinyatakan disetujui. Jangka waktu penelitian mencakup keseluruhan tahapan penelitian, dari persiapan hingga penyusunan laporan akhir. Informan ditentukan secara sengaja berdasarkan fokus masalah penelitian. Kriteria informan meliputi: (i) Dinas Pariwisata Kota Ternate; (ii) Masyarakat Lokal; (iii) Pengunjung/Wisatawan; (iv) Industri pariwisata di Kota Ternate. Penentuan informan mempertimbangkan keterwakilan berdasarkan jenis kelamin, usia, agama, dan berbagai kategori lainnya. Teknik snowball digunakan untuk menentukan informan yang akan diwawancarai di lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan (observation), wawancara mendalam (indepth interview), dan studi dokumen (literature study). Temuan dalam penelitian ini menunjukan bahwa Kopi nyiru di Taman Moya tidak ada dalam bentuk kemasan hanya saja dalam bentuk penyajian pada saat ada konsumen memesan. Penyebaran kopi nyiru Moya di Kota Ternate yaitu sebagian besar kelurahan Moya dan sebagian pada warung-warung kopi yang ada di Kota Baru Pante. Khasiat kopi nyiru menurut narasumber untuk menghangatkan diri pada musim penghujan. Simpulan pada penelitian ini adalah kemasan Kopi nyiru di Taman Moya belum ada. Kopi nyiru Moya memiliki hasiat untuk menghangatkan tubuh saat musim penghujan. Kopi nyiru Moya sudah mendunia sehingga butuh perharian pemerintah kota untuk mempertahankan sebagai khas oleh-oleh wisat kuliner di Kota Ternate.   
IDENTIFIKASI KEKERABATAN BAHASA NON-AUSTRONESIA DI WILAYAH PAKAI BAHASA KAO Sunaidin Ode Mulae; Muhlis Fadel
Humano: Jurnal Penelitian Vol 14, No 1 (2023): PERIODE JUNI
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/humano.v14i1.5605

Abstract

This research aims to reconstruct non-Austronesian language relationships focus on the languages of the Kao ethnic, Pagu ethnic, Boeng ethnic, and Modole ethnicities in the Kao sub-district, West District, North District, Kao Teluk District and Malifut District. The method used in this research focuses on lexicostatistical methods to find similarities, differences, similarities in linguistic characteristics (shared of linguistics) in related vocabulary in the languages of the Kao ethnicity, Pagu ethnicity, Boeng ethnicity, and Modole ethnicity. The approach in this study uses a comparative historical and qualitative descriptive approach. The results found in this study are (1) the existence of kinship data for non-Austronesian languages in the Kao ethnic, Pagu ethnic, Boeng and Modole ethnic languages, (2) non-Austronesian languages in ethnic Kao, Pagu ethnic, Boeng ethnic have a close relationship compared to Modole ethnic (3) The basic vocabulary patterns of the Kao ethnic, Pagu ethnic, Boeng ethnic, and Modole ethnic form word structures Vowels (V), Vocal-Consonants (VC), Consonants-Vowels (CV), Consonants-Vocals-Consonants (CVC), Consonants-Vocals-Consonants-Consonants (CVCC), and Consonants-Consonants-Vocals (CCV). (4) The proto-kinship languages of the Kao, Pagu, Boeng, and Modole ethnicities have the proto-kinship languages of Kao, Pagu, and short Boeng (PKaoPB), which means that they come from one body, while the language of the Modole ethnic group has a language level of This microphylum that describes the Modole ethnic language has a kinship with the Kao ethnic language, whose tempo of separation is estimated to be 50-75 centuries ago. The conclusions of the study confirmed that the non-Austronesian language families, in this case the languages of the Kao ethnicity, Pagu ethnicity, Boeng ethnicity, and Modole ethnicity, have inter-ethnic kinship relationships that are built on one language family (language family).