Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Multikultura

PENATAAN HALAMAN PERCANDIAN BUDDHA DI JAWA TENGAH Sihombing, Yohann Marshel Firstman; Munandar, Agus Aris
Multikultura Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang dilakukan terhadap penataan halaman percandian Buddha di Jawa Tengah bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk penataan halaman dengan memperhatikan karakteristik yang terdapat pada halaman percandian Buddha di Jawa Tengah. Pendirian percandian Buddha di Jawa Tengah diketahui berkaitan dengan Dinasti Śailendra yang bercorak Buddhis dan berkuasa pada abad VIII-X Masehi. Percandian ini berfungsi sebagai tempat dilakukannya ritus upacara bagi umat pemeluk agama ataupun didirikan bagi kaum agamawan sebagai vihara. Fungsi yang demikian berkenaan dengan ragam bentuk penataan halaman pada masing-masing percandian Buddha di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode klasifikasi berdasarkan variabel yang terdapat pada halaman percandian Buddha di Jawa Tengah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penataan halaman beserta variabel yang melekat pada halaman percandian Buddha di Jawa Tengah bertalian erat dengan aktivitas keagamaan yang berlangsung pada percandian tersebut.
APRESIASI DAN MAKNA KISAH MAHABHARATA DALAM MASYARAKAT JAWA KUNO Munandar, Agus Aris
Multikultura Vol. 1, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini membahas tentang kisah Mahabharata yang diapresiasi oleh masyarakat Jawa Kuno dalam abad ke-8—15 M. Bentuk apresiasi tersebut berupa karya sastra, penggambaran relief di candi-candi, dan juga beberapa tokoh dalam Mahabharata yang diarcakan. Kisah Mahabharata lebih populer daripada kisah Ramayana, uraiannya pun lebih luas, sekedar perbandingan beberapa data tentang kedua kisah itu adalah: Dewa utama yang dipuja dalam Ramayana ialah Visnu, sedangkan dalam Mahabharata adalah Siva Mahadeva, Ramayana mempunyai 7 kanda (jilid), sedangkan Mahabharata terdiri dari 18 parwa (bagian kisah), dalam Ramayana adanya tokoh hewan yang berperang, sedangkan dalam Mahabharata sepenuhnya tokoh-tokoh manusia. Setelah dilakukan telaah terhadap uraian kisah Mahabharata dan dampaknya pada masyarakat Jawa Kuno, maka dapat diketahui bahwa kisah Mahabharata (a) mengajarkan detail-detail sistem kerajaan di Jawa, (b) menjadi acuan tindakan bagi para raja dan ksatrya Jawa Kuno, (c) sebagai kisah yang menjadi latar belakang pemujaan nenek moyang, dan (d) tokoh-tokoh cerita dalam Mahabharata menjadi acuan sifat baik dan buruk. Kisah Mahabharata pun sampai sekarang masih dikenal terutama dalam etnik Jawa, Sunda. dan Bali dalam bentuk pagelaran wayang kulit, wayang golek, wayang wong, sendratari, dan bentuk seni pertunjukan lainnya yang berlatar belakang petikan dari kisah tersebut. Mahabharata bukanlah sembarang kisah kepahlawanan, melainkan juga kisah keagamaan yang secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang dinarasikan dalam untaian cerita. Hal yang menarik dalam masyarakat Jawa kisah Mahabharata telah dianggap sebagai karya susastra milik orang Jawa sendiri, bukan dari budaya India.