Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

The Reception of Choi Siwon’s Transnational Star Image by Indonesian ELF Fandom: An Encoding–Decoding Analysis Basar Ananta Farrel Silitonga; Aprilianti Pratiwi
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v10i2.5909

Abstract

This study aims to analyze the synergy between the Korean entertainment industry’s Star System and fandom reception in shaping and reinforcing the global image of Choi Siwon as a transnational figure within cross-border marketing practices. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth interviews with three informants from the ELF fandom and document studies of promotional materials, media coverage, and commercial data related to brands collaborating with Choi Siwon. The analysis employs Stuart Hall’s Encoding–Decoding framework to trace how audiences interpret the industry-constructed image. Findings reveal that Siwon’s persona—combining roles as an idol, actor, and philanthropist—is the result of a systematic Star System that produces a stable and marketable public identity. ELF fandom generally decodes this image dominantly, interpreting Siwon as charismatic, professional, and morally grounded. This interpretation fosters consumption loyalty, demonstrated by increased engagement and product sales endorsed by Siwon, including the Mie Sedaap campaign, which recorded a significant rise in the Indonesian market. These findings confirm that the synergy between the Star System and fandom reception forms an effective global marketing mechanism through celebrity image reinforcement and active audience participation.
Pelatihan Fotografi dan Videografi untuk Pemasaran Digital Bagi Anggota Komunitas UMKM di Kota Depok Aprilianti Pratiwi; M. Marlin Muhaimin; Maudi -; Winda Haifa; Yolanda Valentia
Jurnal Karya untuk Masyarakat (JKuM) Vol 5 No 2: JULI 2024
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/8qpe1z15

Abstract

Sebagai salah satu kontributor penyedia lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat, penting bagi para pelaku UMKM untuk memiliki keterampilan fotografi dan video. Hal ini tak lepas dari fungsi utama dari foto dan video produk bagi UMKM yaitu membantu meningkatkan penjualan. Terlebih di era digital ini foto dan video produk menjadi senjata andalan bagi pelaku UMKM untuk memvisualisasikan produk mereka. Foto dan video produk yang bagus dan menarik tentunya akan menarik perhatian calon pelanggan dan tergerak untuk membelinya. Namun foto dan video yang dihasilkan oleh pelaku UMKM saat ini masih dapat dikategorikan belum ideal seperti pencahayaan, komposisi dan angel foto yang masih kurang baik. Hal ini dikarenakan pelaku UMKM belum memiliki keterampilan foto dan video yang baik. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk mengembangkan keterampilan anggota komunitas UMKM Gading Bersinar di Perumahan Gading Depok Residence, Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Kotamadya Depok, Jawa Barat dalam mengambil foto dan video produknya. Metode yang digunakan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah pengamatan dan pelatihan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh anggota komunitas UMKM Gading Bersinar. Pelatihan dibagi menjadi tiga sesi, yaitu sosialisasi, praktik dan evaluasi. Hasil pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa semua peserta berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai teknik dasar fotografi dan videografi produk. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan pemahaman mengenai foto dan video produk melalui hasil pre-test dan post-test.
Meme Jomok sebagai Representasi Interseksionalitas Ras dan Gender di Media Sosial Farrell Riskia Putra Sembiring; Aprilianti Pratiwi
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.452

Abstract

Abstrak - Media sosial menjadi tempat untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Media sosial juga menjadi tempat untuk bertukar informasi serta tempat untuk bertukar pikiran. Akibat adanya proses pertukaran informasi dan pikiran tersebut, muncullah komunitas-komunitas digital yang terdiri atas pengguna yang memiliki kesamaan akan keinginan. Pada zaman ini, meme menjadi alat komunikasi yang praktis. Karena, meme dengan praktisnya memberikan jelemaan tentang kehidupan yang sudah terjadi. Meme merupakan alat komunikasi menghibur, namun sekarang menjadi alat untuk menyampaikan stereotip secara tak langsung. Meme Jomok adalah konten meme yang secara langsung menampilkan laki-laki berkulit hitam yang berotot, maskulin, dan menampilkan pose yang homoerotik. Hal tersebut terjadi pada suatu komunitas yang bernama Sungut Lele. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konten Meme Jomok sebagai konten interseksionalitas di media sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipatif digital, wawancara, dan studi dokumen. Teori yang digunakan adalah teori interseksionalitas yang dikemukakan oleh Kimberle Crenshaw. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Komunitas Sungut Lele secara praktis mengunggah meme yang memiliki visual interseksionalitas terhadap orang kulit hitam. Orang kulit hitam divisualisasikan sebagai pria kulit hitam yang berotot, erotis, dan berorientasikan homoseksual. Konten tersebut senantiasa memberikan stereotip baru terhadap orang kulit hitam yang menimbulkan ketidaknyamanan terhadap suatu individu. Temuan tersebut menunjukkan meme tidak hanya sebagai alat komunikasi yang penuh hiburan, tetapi juga alat untuk menyalurkan stereotip baru secara tak langsung kepada audiens.   Kata kunci: Interseksionalitas; Komunitas Virtual; Meme; Observasi Digital; Stereotip
Resistance Murals and Spatial Politics in the Dago Elos Agrarian Conflict: A Visual Discourse Analysis Aprilianti Pratiwi; Nathalia Perdhani Soemantri; Ahamd Badari Burhan; Sudarto
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v11i1.6390

Abstract

Agrarian conflicts in the Dago Elos area, Bandung, not only take place in the realm of formal law and politics, but are also mediated through visual practices in residential spaces. This study aims to analyze how resistance murals function as a form of collective visual communication in responding to threats to citizens' living spaces. This research is expected to enrich the study of visual communication and urban resistance, especially in the context of urban agrarian conflict. The method used is a qualitative approach with visual discourse analysis, Gillian Rose, which includes the site of production, the site of the image, and the site of audiencing. The Data was obtained through focus group discussions with residents and artists, visual documentation, and analysis of four murals in the Dago Elos area. The results showed that murals are produced spontaneously, based on solidarity networks, and do not depend on formal structures. Visually, murals utilize a variety of communication strategies to claim living space and build a narrative of resistance. Murals also play a role in transforming everyday spaces into political arenas that are collectively accepted by citizens. This study concluded that murals do not merely represent agrarian conflicts, but become a medium for politicizing space and strengthening the collective identity of citizens.
DIGITAL MEDIA AND THE DIFFUSION OF FRUGAL LIVING: STRENGTHENING GENERATION Z’S FINANSIAL LITERACY Indi Azzahra Ibtihal; Aprilianti Pratiwi
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 11 No. 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v11i1.2043

Abstract

Generation Z in Indonesia faces a gap between financial inclusion and literacy, prompting them to seek more adaptive financial management strategies, including frugal living, which is popular through digital media. This study aims to analyze the stages of frugal living adoption and the role of digital media as a communication channel that shapes Generation Z's understanding and practice of frugal living. Using a descriptive qualitative method, data was obtained through in-depth interviews with four informants, namely three Generation Z individuals and one content creator. The analysis was conducted using the Miles & Huberman model based on Rogers' five stages of adoption. The results show that digital media serve as the main source of knowledge formation and reinterpretation of the concept of frugal living. The findings show that there are variations in adoption patterns, where early adopters internalize practices stably, the early majority implement strategies gradually and are more structured, while the late majority tend to be reactive and inconsistent. This study concludes that digital media plays a strategic role in facilitating the adoption process while strengthening Generation Z's financial literacy. The findings enrich the study of innovation diffusion and provide a basis for the development of more effective digital financial communications.
Analisis Pengaruh Persepsi Masyarakat Terhadap Respons Komunikasi Krisis Polri dalam Kasus Band Sukatani Erliyana Ine Puspitasari; Aprilianti Pratiwi
Jurnal PIKMA : Publikasi Ilmu Komunikasi Media Dan Cinema Vol. 9 No. 1 (2026): September 2026
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24076/pikma.2026v9i1.2473

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan lagu kritik sosial “Bayar, Bayar, Bayar” karya Band Sukatani terhadap kepercayaan publik kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) serta menguji peran strategi komunikasi krisis sebagai variabel moderasi. Penelitian menggunakan metode survei dengan kuesioner tertutup kepada 385 responden Generasi Z berusia 17–28 tahun yang terpapar kasus lagu tersebut. Instrumen penelitian disusun berdasarkan kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dengan skala likert empat poin. Data dianalisis menggunakan regresi linear dan Moderated Regression Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan lagu berpengaruh signifikan terhadap kepercayaan publik kepada Polri (R² = 0,381; p < 0,05), terutama dalam membentuk kesadaran kritis, empati, dan refleksi moral audiens. Sebaliknya, strategi komunikasi krisis Polri tidak terbukti memoderasi pengaruh tersebut (p > 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa efektivitas komunikasi krisis konvensional semakin terbatas di tengah berkembangnya media partisipatif dan komunikasi digital.