Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

A Study Knowledge About Pregnancy Breast Careat the BPS Etty J, Amd. Keb In Sukorejo Village Gurah Sub Distric Kediri Regency Wati, Susi Erna
Nusantara of Research : Jurnal Hasil-hasil Penelitian Universitas Nusantara PGRI Kediri Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.909 KB) | DOI: 10.29407/nor.v2i1.76

Abstract

ABSTRACT Breastcareduringpregnancyisan important partto notein preparation fora feeding. Breastcareis notonlydoneafterthe birth.Treatment doneaimingfor blood circulationandpreventcloggedmilk ductsto facilitateexpendituresmilk. This study aimstoidentify apicture ofthirdtrimesterpregnant womenknowledgeabout thedesign oftreatmentstudies usingdescriptivemethods. The population inthis study were allpregnant womeninthird trimesterofcontrolBPSEtty J.Keb In Sukorejo Village Gurah Sub Distric Kediri Regency on March to April 2014.With asampleof 18respondents, thesamplingtechniqueused istotalsampling. Data collectionusingquestionnaires. Tabulationof dataprocesseddata. Based on this researchcan result in16 respondents(88%) knowledgeableenoughaboutbreast careduringpregnancy, in the canfirstresponders(6%) bothknowledgeableaboutbreast careduringpregnancyandin the canfirstresponders(6%) are lessknowledgeableaboutbreast careduringpregnancy. Thus it canbe concludedmost of therespondentshavesufficientknowledgeaboutbreast care. Breastcareis animportant thing to bedonebya motherbecausethe more we arediligent inbreastcareduringpregnancy, thecolostrumwill expedite theexpenditureso thatthemothernotto worryand no need toprovidethe intake ofother foodsforinfants.   Keywords: Knowledge, Mother Pregnancy, BreastCare
Mencuci Tangan Yang Benar Di SDN Gempolan I dan II Gurah Kediri “PAK PUNG SACIPUTRI” Wati, Susi Erna; Aizah, Siti; Herawati, Elizabeth; Nafisah, Ifa Nilta; Andansari, Rherizqi; Christine, Ika Ampril
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 1 No 2 (2018): Volume 1 Nomor 2 Tahun 2018
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.149 KB) | DOI: 10.29407/ja.v1i2.11737

Abstract

Berdasarkan hasil observasi SDN Gempolan sudan memiliki fasilitas untuk mencuci tangan, akan tetapi sebagian besar siswa tidak mengetahui prosedur mencuci tangan dengan benar. Pendataan yang kami lakukan jumlah anak usia sekolah 45 orang, anak usia sekolah tidak melakukan cuci tangan setelah bermain. Anak usia sekolah banyak yang tidak melakukan cuci tangan dengan baik dan benar terlebih dahulu dan setelah bermain tidak mencuci tangan. Anak usia sekolah juga banyak yang terlihat jajan sembarangan. Berdasarkan fenomena diatas maka kami tertarik untuk memberikan penyuluhan tentang cara pencegahan berbagai penyakit, salah satunya dengan cara mengajarkan teknik cuci tangan secara baik dan benar. Seluruh Siswa di SDN Gempolan I dan II Kab. Kediri. Target : Seluruh Siswa yang ada di SDN. Manfaat Mencuci Tangan Dengan Benar: Membuang kotoran yang menempel di tangan, Membunuh kuman penyakit yang ada di tangan dan Mencegah penularan kuman penyakit/ infeksi pada orang lain. Waktu Yang Diharuskan Mencuci Tangan. Jika tangan terasa dan tampak kotor, Sebelum dan sesudah memegang anak, Sebelum dan sesudah makan/ memegang makanan atau minuman, Sesudah memegang benda-benda yang kemungkinan mengandung kuman penyakit seperti muntahan, darah, cairan tubuh lainnya, Sebelum memberikan / minum obat
9 PERBEDAAN STATUS GIZI BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DENGAN TIDAK ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS TAROKAN KABUPATEN KEDIRI Wati, Susi Erna
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 1 No 1 (2016): Volume 1 nomor 1 tahun 2016
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.011 KB) | DOI: 10.29407/judika.v1i1.412

Abstract

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zatzatgizi. Pemberian ASI eksklusif dan ASI tidak eksklusif dapat mempengaruhi status gizibayi. Pemberian ASI eksklusif kepada bayi sampai usia 6 bulan saat ini masih rendah ituterjadi karena pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI masih rendah. Tujuan penelitian iniuntuk mengetahui perbedaan status gizi bayi yang diberi ASI eksklusif dengan tidak ASIeksklusif. Desain penelitian menggunakan komparatif dan teknik quota sampling denganjumlah 40 responden. Pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Hasil uji statistikmenemukan hampir seluruh 37 responden (92,5%) memiliki status gizi normal. Hasil analisadengan menggunakan uji t tes didapatkan t hitung = 0,028 sedangkan pada t hitung dengan db38 terletak pada α 5% = 2,042. Jadi nilai t hitung < t table, sehingga dapat disimpulkan Hoditerima, artinya tidak ada perbedaan antara status gizi bayi yang diberi ASI eksklusif denganASI tidak eksklusif di Puskesmas Tarokan Kabupaten Kediri. Hal ini dapat terjadi karenastatus gizi tidak hanya dipengaruhi oleh pemberian ASI saja, melainkan ada faktor lainseperti kecukupan mengkonsumsi makanan, keadaan kesehatan bayi, pendidikan orang tua,faktor ekonomi orang tua. Diharapkan pada para ibu yang mempunyai bayi supayamemberikan ASI eksklusif pada bayinya meskipun mempunyai kesibukan diluar rumah bisadengan cara menyimpan ASI ke botol dot dan menyimpannya di dalam lemari es.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Cara Pencegahan Flour Albus Di SMK Ahmad Yani Gurah Kediri Wati, Susi Erna; Aizah, Siti
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 2 No 1 (2017): volume 2 nomor 1 tahun 2017
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.192 KB) | DOI: 10.29407/judika.v2i1.11807

Abstract

Flour Albus didefinisikan sebagai keluarnya cairan dari vagina. Cairan tersebut bervariasi dalam konsistensi (padat, cair, kental), dalam warna (jernih, putih, kuning, hijau) dan bau (normal, berbau). Remaja Indonesia merupakan kelompok resiko tinggi untuk terkena Flour Albus karena tingkat kelembaban udaranya tinggi. Penelitian menunjukan Flour Albus yang lama walau dengan gejala biasa-biasa saja lama kelamaan dapat merusak selaput dara. Oleh karena itu harus selalu menjaga kebersihan alat reproduksi. Kurang pengetahuan remaja tentang Flour Albus menjadi salah satu sebab terjadinya Flour Albus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja putri tentang Flour Albus dan cara pencegahannya di SMK Ahmad Yani Gurah Kab. Kediri. Desain penelitian ini korelasional. Adapun populasinya adalah semua remaja putri SMK Ahmad Yani Gurah Kediri dengan menggunakan tehnik quota sampling. Dari hasil uji statistik Spearman Rank hubungan tingkat pengetahuan dengan cara pencegahan flour albus di SMK Ahmad Yani Gurah (p value = 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak). Tingkat hubungan termasuk agak rendah dan positif (correlation coefficient = 0,562), artinya semakin baik pengetahuan maka semakin baik pula cara pencegahan flour albus dan sebaliknya. Sedangkan untuk sikap ada hubungan sikap dengan cara pencegahan flour albus di SMK Ahmad Yani Gurah (p value = 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak). Tingkat hubungan termasuk kuat dan positif (correlation coefficient = 0,562), artinya sikap yang semakin mendukung maka semakin baik pula cara pencegahan flour albus dan sebaliknya.
Gambaran Pengetahuan Siswa Tentang Karies Gigi Pada Siswa Sekolah Dasar Di SDN Mojoroto 2 Kota Kediri Wati, Susi Erna
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 4 No 1 (2020): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2019
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/judika.v4i1.15605

Abstract

Karies gigi atau yang biasa dikenal oleh masyarakat dengan istilah gigi keropos dan berlubang adalah proses demineralisasi yang disebabkan oleh interaksi antara produk organisme, ludah, sisa yang berasal dari makanan dan email. Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang karies gigi pada siswa di SDN Mojoroto 2 Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan jumlah sampel sebesar 77 responden. Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruhnya responden yaitu 66 responden (85%) mempunyai pengetahuan tentang karies gigi dalam kategori cukup,sebagian kecil yaitu 10 responden (14%) memiliki pengetahuan dalam kategori kurang dan sebagian kecil yaitu 1 responden (1%) mempunyai pengetahuan tentang karies gigi dalam kategori baik. Banyaknya responden yang mempunyai pengetahuan dalam kategori cukup tentang karies gigi.Hal ini menunjukkan kesadaran dan kepedulian mereka terhadap kesehatan diri terlebih kesehatan gigi adalah cukup. Perlu memasukkan materi gigi dalam meteri pembelajaran serta membina kerja sama di bidang kesehatan gigi dan mulut dari puskesmas sukorame tentang UKGS (Unit Kesehatan Gigi sekolah).
Penggunaan Gadget dengan kejadian stunting di TK Dharma Wanita II Desa Dukuh Kediri Sri Wulaningtyas, Eko; Erna Wati, Susi; Juhana, Dewi
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 8 No 1 (2024): Volume 8 No 1 April 2024
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/judika.v8i1.22842

Abstract

Stunting adalah kondisi kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan( HPK). Kejadian stunting atau balita pendek ini dapat dilihat dari tinggi badan yang kurang apabila dibandingkan umurnya (Kemenkes RI, 2019). Tahun 2020 PBB tercatat sekitar 22% (149 juta) balita didunia mengalami stunting dan sekitar 6,3% terdapat di Indonesia (Kemenkes RI, 2019 ). Di Indonesia balita stunting sekitar 21,6% sedangkan target yang ingin dicapai pada tahun 2024 adalah 14% (KemenKes (2018). Dapat disimpulkan bahwa masalah Kesehatan stunting di Indonesia masih cukup tinggi (Q. Falmuariat, 2022). Akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama pada usia ini bersifat permanen dan sulit untuk diperbaiki. Semakin dini stunting dicegah maka akan semakin baik hasilnya dan ini perlu memerlukan perubahan perilaku. Fenomena yang terjadi sekarang beberapa orang tua sering memberikan gadget pada anak untuk membantu pekerjaan mengasuh anak (Ameliola. S. 2013). Dengan meningginya screen time viewing membuktikan sangat berpengaruhnya media elektronik dapat mempengaruhi status gizi Yang menjadi salah satu dampak negatif pemberian gadget pada anak karena dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak (Widiawati,2014). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penggunaan Gadget dengan kejadian stunting di TK Dharma Wanita II Desa Dukuh Kediri. Metode yang digunakan adalah penelitian Kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan case control, sampel menggunakan 45 anak usia 4-7 tahun, instrument yang digunakan menggunakan data primer yang didapatkan melalui pengisian kuesioner dan pemeriksaan fisik (TB,BB,Lingkar lengan dan lingkar kepala). Hasil penelitian didapatkan nilai signifikansi (Sig) adalah 0,110 yang lebih besar dari nilai α (0,05), oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan gadget dengan kejadian stunting
EDUKASI TENTANG SELFITIS UNTUK MENURUNKAN KECANDUAN SELFI PADA REMAJA DI RT 002 RW 007 KELURAHAN SEMBUNG KABUPATEN TULUNGAGUNG risnasari, norma; Aizah, Siti; Wati, Susi Erna; Oktavia, Erika Violin; Nuur, Awin Latifah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol 1 No 2 (2022): Vol.1 No.2 (Juni 2022)
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/dimastara.v1i2.18286

Abstract

Selfitis is an activity that describes the habit of taking excessive selfies, the uploading them to social media sites. Selfies have become a habit for many people and can indeed fulfill the need for self-actualization. But if done excessively and uncontrollably, the habit of selfie can be a symptom of a mental disorder, in teenagers this can be a time full of social anxiety and depression. Health counseling was held on December 10, 2020 with pre-test and post-test. The results of the pre-test on 15 adolescents, 8 adolescents (53%) said they did not know about meaning of selfitis, 5 adolescents (33,3%) said they did not know the cause of selfitis, 12 adolescents (80%) did not know the signs of selfitis and 10 adolescents (66,7%) did not know the impact of selfiti, and 13 adolescents (86,7 %) did not know about selfisitis treatment. The results of post-test, 15 adolescents (100%) stated that they knew and understood the meaning, causes, and effects of selfitis, while 12 adolescents (80%) stated that they knew and understood the signs and treatment of selfitis. The existence of self-awareness to control the use smartphones wisely is expected to prevent adolescents from falling into the mental disorder selfitis.
Gambaran Pemberian Makanan Pendamping ASI Pada Balita Gizi Kurang Usia 6-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Tarokan Kabupaten Kediri: Profile of Complementary Feeding Practices Among Undernourished Toddlers Aged 6–24 Months in the Service Area of the Tarokan Community Health Center, Kediri Regency Sikris Ningsih; Siti Aizah; Susi Erna Wati
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 7 (2026): EDISI JULI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i7.468

Abstract

Pendahuluan: Gizi kurang pada balita menjadi masalah kesehatan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor yang berhubungan dengan gizi kurang adalah ketidaktepatan pemberian makanan pendamping ASI. Pemberian makanan pendamping ASI yang tidak sesuai usia, jumlah, frekuensi, tekstur, dan variasi makanan menyebabkan kebutuhan nutrisi balita tidak terpenuhi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian makanan pendamping ASI balita gizi kurang usia 6–24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tarokan Kabupaten Kediri. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 48 balita gizi kurang usia 6–24 bulan. Data dikumpulkan menggunakan lembar kuesioner dan dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden belum memberikan makanan pendamping ASI secara tepat (83%), sedangkan sebagian kecil responden memberikan makanan pendamping ASI secara tepat (17%). Ketidaktepatan perilaku paling banyak ditemukan pada variabel frekuensi pemberian makanan pendamping ASI ( 68,75%) dan variabel jumlah pemberian makanan (58%). Kesimpulan: Ketidaktepatan pemberian makanan pendamping ASI menyebabkan kebutuhan gizi balita tidak terpenuhi sehingga berisiko menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Puskesmas diminta memberikan edukasi kepada orang tua tentang pemberian makanan pendamping ASI yang sesuai usia, jumlah, frekuensi, tekstur, dan variasi makanan untuk mendukung status gizi balita.
Riwayat Pola Makan Balita Stunting Usia 1-3 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Tarokan Kabupaten Kediri: Dietary History of Stunted Toddlers Aged 1–3 Years in the Service Area of the Tarokan Community Health Center, Kediri Regency Agustina Khomrotul Pradita; Siti Aizah; Susi Erna Wati
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 7 (2026): EDISI JULI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i7.469

Abstract

Pendahuluan: Stunting akan terjadi ketika pola makan anak tidak memadai, khususnya kekurangan protein dan lemak. Pola pemberian makan dapat dipahami sebagai usaha dan metode yang diterapkan untuk memberi makan anak balita dengan tujuan untuk pemenuhan gizi balita dalam hal jenis, jumlah, dan jadwal makan. Tercatat ada beberapa kejadian stunting di wilayah Puskesmas Tarokan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi riwayat pola makan (frekuensi, jumlah, jenis makanan) sebagai faktor determinan utama kejadian stunting. Metode: Desain deskriptif kuantitatif, data diperoleh dari 52 balita stunting dengan wawancara terstruktur. Data diolah melalui tahap editing, coding, scoring, dan tabulating, lalu dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi variabel.   Hasil: Analisis data menunjukkan bahwa pola pemberian makan cukup baik dengan frekuensi sesuai (77%), jumlah sesuai (94%), dan jenis makanan sesuai (90%). Secara akumulatif, 83% balita memiliki pola makan tepat, dan 17% kurang tepat. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan teori yang menempatkan pola makan buruk saat ini sebagai penyebab utama stunting. Kesimpulan: Ada ketidakselarasan antara pola makan yang sesuai dengan status stunting responden yang mengindikasikan perbaikan nutrisi sebagai respons pasca-diagnosis (post-diagnosis response) belum mampu mengoreksi kegagalan pertumbuhan masa HPK secara instan. Konsistensi pola asuh gizi berkualitas sejak kehamilan diperlukan untuk optimalisasi pertumbuhan balita.
Gambaran Riwayat Konsumsi Makanan Cepat Saji pada Anak Obesitas di Puskesmas Sumberjo Kabupaten Kediri: Overview of Fast Food Consumption Patterns among Obese Children at the Sumberjo Community Health Center in Kediri Regency ferry arista; Siti Aizah; Susi Erna Wati
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 7 (2026): EDISI JULI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i7.488

Abstract

Pendahuluan: Obesitas pada anak menjadi masalah kesehatan yang berkaitan dengan kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, anak usia sekolah umumnya lebih menyukai makanan praktis seperti mie instan dan fried chicken yang mengandung kalori, lemak, gula dan natrium tinggi sebagai pemicu obesitas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi riwayat mengonsumsi makanan cepat saji pada anak obesitas di Puskesmas Sumberjo Kabupaten Kediri. Metode: Penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 31 anak usia 6-12 tahun dengan obesitas. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mengunakan lembar instrumen, kemudian dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase.  Hasil: Seluruh responden (100%) memiliki riwayat mengonsumsi makanan cepat saji. Jenis makanan yang paling banyak dikonsumsi adalah mie instan (100%) dan fried chicken (96,7%). Berdasarkan frekuensi mengonsumsi, hampir setengahnya responden mengonsumsi makanan cepat saji sekitar 2 kali dalam seminggu (45,2%), sedangkan (41,9%) mengonsumsi 1 kali dalam seminggu dan (12,9%) mengonsumsi kurang lebih 3 kali dalam seminggu. Hasil ini menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan cepat saji telah menjadi kebiasaan yang umum pada anak obesitas yang menjadi sampel penelitian. Kesimpulan: Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji minimal 1 kali dalam seminggu diduga berperan dalam kejadian obesitas pada anak di wilayah Puskesmas Sumberjo Kabupaten Kediri. Diperlukan edukasi mengenai pentingnya pola makan sehat, serta pengurangan mengonsumsi makanan cepat saji, dan peningkatan ativitas fisik pada anak usia sekolah