Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PENGARUH TEKANAN TEMPA DAN WAKTU PENGELASAN TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK SAMBUNGAN FRICTION WELDING LOGAM TAK SEJENIS SS-316 DAN AISI-4140 Bambang Margono; Haikal; Moch Chamim
Teknika Vol 6 No 1 (2019): March 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.563 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengelasan gesek (friction welding) merupakan proses penyambungan logam tanpa terjadinya peleburan (solid state process), yang mana proses pengelasan terjadi sebagai akibat gesekan melalui penggabungan antara laju putaran salah satu benda kerja yang berputar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tekana tempa dan waktu pengelasan terhadap sifat fisik dan mekanik sambungan logam tak sejenis antara baja tahan karat SS 316 dan AISI 4140. Variasi tekanan tempa yang digunakan 110 kg/cm2, 130 kg/cm2 dan 150 kg/cm2, sedangkan variasi waktu pengelasan yang digunakan adalah 35 detik, 50 detik dan 65 detik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya variasi tekanan tempa dan waktu pengelasan mengakibatkan berkurangnya panjang spesimen, dikarenakan terjadi proses pelumeran pada daerah sambungan pengelasan pada kedua material. Sedangkan semakin berkurangnya panjang spesimen disisi lain mengakibatkan melebarnya panjang flash yang dihasilkan. Hasil struktur mikro terlihat terjadi pengkasaran butir (grain coarsened) terjadi pada daerah HAZ bentuk dan ukuran butiran berbeda jika dibandingkan dengan logam induk. Nilai kekerasann daerah sambungan rerata sebesar 246,4 HVN. Nilai kekerasan pada logam induk material AISI 4140 rerata sebesar 354,7 HVN. Sedangkan logam induk material SS 316 rerata sebesar 183,5 HVN. Nilai kekerasan antara kedua logam induk tersebut sangat berbeda jauh dikarenakan fasa pada baja AISI 4140 lebih dominan fasa perlit yang memiliki kekerasan tinggi. Nilai kekuatan tarik yang optimal dihasilkan pada variasi tekanan tempa130 kg/cm2 variasi waktu gesek 35 detik dengan nilai sebesar 455.02 N/mm2.
Dissemination of corn sheller machines to increase productivity and efficiency for corn farmer associations in Wonogiri Regency Haikal Haikal; Bambang Margono; Moch Chamim; Yudis Adhana Surya; Zulkarnaen Ryeda Febriawan; Rendi Yanwar Perdana Putra; Apri Wiyono
Community Empowerment Vol 6 No 11 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.347 KB) | DOI: 10.31603/ce.5394

Abstract

Corn is a superior agricultural product for the Giri Harjo I farmer group, Girikikis Village, Giriwoyo District, Wonogiri. However, farmers process and peel corn manually, so it takes a more time and inefficient. In order to overcome this problem, this community service designed and made a corn sheller machine that was used to simplify and increase the productivity in the corn harvesting process. This service activity begins with the delivery of the corn sheller machine to the farmer group, then exposure and training on the use of the machine. Corn shelling is accomplished by inserting the corn into the sheller shaft, after which the grinding knife separates the corn kernels from the cob. The shelling test results show that this machine works well, is practical to use, is highly portable, the production process is faster, the corncobs are not damaged, and the electric power consumption is low. This machine has a 0.5 HP motor and a production capacity of 183 kg/hour for shelling corn kernels.
PELATIHAN PEMBUATAN FILLER METAL ALUMINIUM UNTUK PENGELASAN ASETILIN PADA KELOMPOK BENGKEL LAS Zuhri Nurisna; Sotya Anggoro; M Abdus Shomad; Moch Chamim
MONSU'ANI TANO Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32529/tano.v6i1.1468

Abstract

Pengabdian masyarakat ini dilakukan pada kelompok usaha “Anugerah Las” yang bertujuan untuk pengembangan unit usaha bengkel las yang terletak di Desa Palur, Mojolaban, Sukoharjo. Permasalahan yang saat ini dihadapi oleh kelompok usaha jasa pengelasan aluminium yaitu dalam suatu proses pengelasan menggunakan las asetilin membutuhkan bahan tambah pengelasan (filler metal). Bahan yang sering digunakan untuk membuat filler metal yaitu dari sepatu rem bekas, blok mesin atau piston bekas, sehingga filler metal yang digunakan tidak bisa sama kualitasnya karena bahan yang digunakan tidak selalu sama. Masalah yang muncul ini sebenarnya terdapat solusinya tetapi belum dapat teratasi karena minimnya pengetahuan juru las. Solusi yang diberikan yaitu memberikan pelatihan teknik pembuatan filler metal yang berkualitas dan sudah teruji melalui penelitian yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, bahan filler metal yang berkualitas untuk dijadikan sebagai bahan tambah las yaitu menggunakan limbah piston bus. Limbah piston bus memiliki komposisi kimia yang lebih baik dibandingkan bahan limbah aluminium yang lainnya, serta limbah piston bus tersedia melimpah di pasaran. Pelatihan pengelasan las asetilin memberikan dampak yang signifikan dengan adanya peningkatan kualitas hasil las yang dihasilkan. Hasil akhir dari program pengabdian ini dapat meningkatkan penghasilan bagi pengusaha las dan usaha menjadi lebih kompetitif dalam bersaing dengan jenis usaha serupa yang lainnya.
KARAKTERISASI SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO PADA BAJA PADUAN RENDAH HASIL PROSES HARDENING Moch. Chamim; Margono Margono; Fatimah Nur Hidayah; Nugroho Tri Atmoko
Jurnal Rekayasa Mesin Vol. 14 No. 1 (2023)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/jrm.v14i1.1080

Abstract

The purpose of this study was to determine how the mechanical properties and microstructure formed on low alloy steel (tooth bucket) heated at temperatures of 850 ⁰C and 850 ⁰C then held for 15 minutes after that it was cooled with oil. The material hardening process was carried out by testing the Vickers hardness, impact, and observing the microstructure using an optical microscope with 200x magnification. Hardness values obtained from low alloy steel after heat treatment at temperatures of 800 ⁰C and 850 ⁰C are 389.2 HV and 414.6 HV. The optimum hardness is obtained at a temperature of 850 ⁰C with an increase of about 1.14% compared to that of raw material, which is 364.5 HV. From the results of the impact test on heat treatment with a temperature of 850 ⁰C, the highest impact value is 0.574 Joule/mm2. Furthermore, the results of the microstructure on heat treatment at a temperature of 850 ⁰C resulted in homogeneous microstructures, namely chrome, martensite, and bainite.
ANALISIS PENGARUH ARUS PADA PENGELASAN BERTINGKAT (MULTILAYER WELDING) TERHADAP STRUKTUR MIKRO, KEKERASAN DAN KUAT TARIK SAMBUNGAN MATERIAL ASTM A106 Elkana Bilak Lopo; Moch Chamim; Nugroho Tri Atmoko; Margono Margono; Hendi Lilih Wijayanto
Jurnal Rekayasa Mesin Vol. 14 No. 1 (2023)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/jrm.v14i1.1210

Abstract

This aims of this study to determine the effect of multilayer welding on ASTM A106 type carbon steel pipe material on the characteristics of the microstructure, hardness and maximum tensile strength of the material. ASTM A106 type carbon steel pipe is used as a raw material for welding using the Shielded Metal Arc Welding (SMAW) method. Welding on material joints is carried out in three layers (multilayer welding), namely the root pass, hot pass, and capping layers. There are two variations of welding specimens carried out in this study, namely in specimen 1 the currents used were 60, 70 and 80 A while in specimen 2 the currents used were 70, 80 and 90 A. To determine the effect of current variations on each specimen carried out three include Vickers Testing, microstructure testing and tensile testing. The results show that the base metal area is dominated by the ferrite phase, which indicates that the area has low hardness while the weld shows more perlite phase than ferrite besides the grain size is smaller and denser; this indicates that the hardness level will increase when compared to base metal. The results of the hardness test for all variations of the specimen concluded that the highest hardness value was in the weld. From the tensile test, it can be concluded that specimen 2 has a greater tensile strength of 2.5% when compared to specimen 1.
RANCANGAN PENGABDIAN DALAM PEMBUATAN TEMPAT TIDUR TINGKAT TERINTEGRASI MEJA BELAJAR DI PONDOK PESANTREN Surojo, Eko; Triyono, Teguh; Muhayat, Nurul; Chamim, Moch; Margono, Bambang; Triyono
Abdi Masya Vol 1 No 3
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52561/abma.v1i3.143

Abstract

Pondok Pesantren adalah salah satu jenis tempat pendidikan formal maupun non formal yang selain memberi materi pelajaran agama juga mengajarkan adab hidup sehari-hari sehingga siswa/santri harus menginap di asrama selama proses pendidikan. Untuk itu, selain sarana prasarana pendidikan, pondok pesantren juga harus menyediakan sarana prasarana kehidupan sehari-hari seperti kamar dan tempat tidur, dapur, sarana olah raga dan lain sebagainya. Karena keterbatasan lahan dan bangunan, satu ruang asrama biasanya dihuni oleh 30-40 santri dengan menggunakan tempat tidur bertingkat. Karena ruang kamar asrama yang kurang memadai, santri biasanya belajar, membaca, mengerjakan Tugas Sekolah di atas tempat tidur. Untuk memberi kenyamanan dalam belajar santri, maka meja belajar yang dirancang terintegrasi dengan tempat tidur untuk menghemat ruang sangat penting untuk dilakukan. Rancangan tempat tidur tingkat terintegrasi dengan meja belajar berbahan dasar baja siku yang bisa dibongkar pasang dengan mudah karena system sambungannya dengan mur-baut. Alas tidur bagian bawah bisa dipisah setengah, lalu dilipat ke arah tiang tempat tidur dan meja belajar bisa didapatkan dengan membuka lipatan berikutnya. Desain ini digunakan untuk program pengabdian yang melibatkan kerjasama bengkel las Sumber Rejeki desa Sawahan, Jaten dan Pondok Pesantren Wirausaha Masjid Fatimah Ar Royyan desa Jongkang, Buran, Karanganyar.
PENGARUH PROSES HARDENING TEMPERING TERHADAP KEKERASAN, STRUKTUR MIKRO DAN IMPAK PADA BAJA PADUAN RENDAH Chamim, Moch
AME (Aplikasi Mekanika dan Energi): Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/ame.v7i1.3808

Abstract

Baja paduan rendah banyak digunakan untuk material khusus salahsatunya material tahan abrasif. Ketahanan abrasif didapatkan dari nilai kekerasan yang tinggi. Meningkatnya kekerasan akan mengakibatkan kerugian karena cenderung rapuh sehingga perlu proses lanjutan yaitu temper. Penelitian ini dilakukan dengan cara memanaskan spesimen pada temperatur austenit 800°C dan 850°C dengan holding 15 menit kemudian didinginkan dengan media oli dan ditemper pada temperatur 300°C dengan holding 15menit didinginkan pada udara terbuka. Pada spesimen yang telah mengalami pemanasan dan pendinginan tersebut kemudian dilakukan pengujian Kekerasan, Impak dan struktur mikro untuk mengetahui perubahan sifat dari baja paduan rendah. Hasil pengujian terlihat susunan martensit dan jaringan krom karbida sebelum adanya proses perlakuan panas. Karbida krom melarut setelah proses perlakuan panas. Nilai kekerasan sangat berpengaruh terhadap penyerapan energi.
Technical Guidance for The Development of The Basement Floor of Pos Paud Asparaga, Merjosari, Lowokwaru, Malang City chamim, moch.; Zenurianto, Mohamad; Ajeng Mariyana, Raden; Gasenda Suryaningrat, Roland
Journal of Community Engagement Vol. 01 No. 02, (2025)
Publisher : PT. ELSHAD TECHNOLOGY INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70822/jce.vi.90

Abstract

Adequate physical facilities are essential to support safe, comfortable, and developmentally appropriate learning in Early Childhood Education (ECE). Pos PAUD Asparaga, a community-based ECE institution in Merjosari, Lowokwaru, Malang City, faces challenges related to deteriorating infrastructure and limited learning facilities. This community service activity aimed to provide technical guidance for improving the physical learning environment at Pos PAUD Asparaga. The program employed a technical assistance approach involving stakeholder coordination, needs assessment through field surveys and observations, preparation of working drawings, and participatory decision-making with teachers and community members. The results indicate that wall repair and learning space enhancement, including temporary aesthetic solutions, improved classroom appearance, comfort, and perceived safety. Although learning outcomes were not measured quantitatively, the improved environment is expected to support children’s engagement and well-being. This activity highlights the importance of integrating technical expertise with community participation in community-based ECE facility improvement.