Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

GENOTYPING OF TOXOPLASMA GONDII IN CEREBRAL AND OCULAR TOXOPLASMOSIS Mayashinta, Dearikha Karina; Halleyantoro, Ryan; Sari, Ika Puspa; Kurniawan, Agnes
Journal of Tropical Life Science Vol 8, No 3 (2018)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.022 KB) | DOI: 10.11594/jtls.08.03.02

Abstract

Toxoplasma gondii is an obligate intracellular protozoon, spread world-wide and capable of infecting birds and mammals. Genetic information on T. gondii type that causes human toxoplasmosis is limited. In this study, genetic analysis of SAG2 locus was used to determine the genotype of T. gondii from cases with cerebral and ocular toxoplasmosis in Indonesia. Genotype determination was done directly on the clinical samples. A number of 28 cerebrospinal fluid and 8 vitreous humor positively infected with T. gondii, underwent PCR-RFLP to classify each isolate into one of three genotypes of T. gondii. Type I was the most common found suggesting that cerebral and ocular toxoplasmosis in Indonesia is mostly caused by type I strain of T. gondii. 
EVALUASI PROGRAM PEMBERANTASAN KECACINGAN PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI PUSKESMAS ROWOSARI KECAMATAN TEMBALANG SEMARANG Shaura Ladayna Isma; Sudaryanto Sudaryanto; Ryan Halleyantoro
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.339 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20700

Abstract

Latar Belakang Kecacingan merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing golongan STH yaitu  Ascaris lumbricoides(A. lumbricoides), Trichuris trichura (T. trichura), dan cacing tambang, yaitu: Necatoramericanus (N. americanus), dan Ancylostoma duodenale (A. duodenale). Saat ini masyarakat dunia maupun di Indonesia cukup banyak yang terjangkit penyakit kecacingan. Indonesia telah menetapkan program untuk memberantas penyakit kecacingan. Program pembertantasan kecacingan dilaksanakan melalui program puskesmas. Salah satu Puskesmas yang menerapkan program tersebut adalah Puskesmas Rowosari.Tujuan Mengetahui kesesuaian program pemberantasan kecacingan dengan buku pedoman pemberantasan kecacingan oleh Dinas Kesehatan Republik IndonesiaMetode Deskriptif dengan pendekatan kuantitatif menggunakan metode wawancara dan pemeriksaan laboratorium, serta data pendukung dari puskesmas dan sekolah berupa data kegiatan penyuluhan, Data infeksi kecacingan sebelumnya, pemberian obat. Sampel penelitian ini adalah siswa sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Rowosari.Hasil Program pemberantasan kecacingan  sesuai dengan buku pedoman pemberantasan kecacingan. Dinilai berdasarkan pada keseluruhan sampel di dapatkan hasil negatif, tingkat pengetahuan sedang dan kebiasaan hidup bersih baik. Terdapat data  penyuluhan , data infeksi kecacingan sebelumnya tidak ada yang terinfeksi kecacingan, dan pemberian obat cacing berupa albendazole dengan dosis 400 mg telah dilaksanakan secara rutin.  .Kesimpulan Program pemberantasan kecacingan sesuai dengan buku pedoman oleh Dinas Kesehatan Republik Indonesia.
PERBANDINGAN PEMERIKSAAN TINJA ANTARA METODE SEDIMENTASI BIASA DAN METODE SEDIMENTASI FORMOL-ETHER DALAM MENDETEKSI SOIL-TRANSMITTED HELMINTH Marieta Puspa Regina; Ryan Halleyantoro; Saekhol Bakri
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.735 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20696

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan metode pemeriksaan tinja yang memiliki sensitivitas dan spesifitas tinggi terhadap Soil Transmitted-Helminth sangat penting untuk deteksi dini infeksi tersebut. Metode sedimentasi yang menggunakan prinsip perbedaan berat jenis merupakan alternatif bagi metode natif yang adalah gold standard untuk pemeriksaan tinja kualitatif.Tujuan: Mengetahui perbandingan pemeriksaan tinja antara metode sedimentasi biasa dan metode sedimentasi Formol-Ether dalam mendeteksi Soil-Transmitted Helminth.Metode: Uji diagnostik dengan sampel penelitian adalah sampel tinja siswa kelas IV sampai VI SDN I, II, III Gringsing, Batang, Jawa Tengah dan persediaan tinja Laboratorium Parasitologi FK Undip yang status serta tingkat infeksinya tidak diketahui sebelumnya. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Parasit Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Pemeriksaan dilakukan dengan metode natif, sedimentasi biasa dan sedimentasi Formol-Ether.Hasil: Terdapat 24 sampel positif terinfeksi STH dari 61 sampel tinja yang diperiksa. Spesies yang paling banyak terdeteksi adalah Ascaris lumbricoides. Metode yang paling banyak mendeteksi STH adalah metode natif (21 sampel). Metode sedimentasi Formol-Ether memiliki sensitivitas lebih tinggi dari metode sedimentasi biasa (71,43% vs 66,67%) namun tidak terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) sehingga metode sedimentasi Formol-Ether tidak memprediksi nilai positif lebih besar daripada metode sedimentasi biasa. Metode sedimentasi Formol-Ether adalah metode yang paling baik digunakan sebagai alternatif pengganti metode natif.Kesimpulan: Metode sedimentasi Formol-Ether sama baik dalam mendeteksi STH dengan metode sedimentasi biasa, dan metode sedimentasi Formol-Ether paling baik digunakan sebagai pengganti natif.
Nested PCR methods for detection Toxoplasma gondii B1 gene in Cerebrospinal Fluid of HIV patients Ryan Halleyantoro; Yunilda Andriyani; Ika Puspa Sari; Agnes Kurniawan
Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 5, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jbtr.v5i2.4840

Abstract

Background: Toxoplasmosis is a disease caused by infection of Toxoplasma gondii, Which may cause a life-threatening condition in immunocompromised patients, for example, Toxoplasma encephalitis (TE). It is challenging to diagnose Toxoplasma as a cause of central nervous system (CNS) infection in HIV patient, so we need an alternative method, which is a PCR detection of Toxoplasma gondii B1 gene.Objective: This research aimed to find association between PCR methods for Toxoplasma gondii B1 gene and anti-Toxoplasma IgG from cerebral spinal fluid patient HIV AIDS.Methods: A cross-sectional study was conducted to Cerebrospinal fluid (CSF) samples of HIV patients with neurological symptoms to determine Toxoplasma gondii infection using nested PCR methods for the B1 gene and detection of anti-Toxoplasma IgG.Results: 88 CSF samples from HIV patients tested using nested PCR showed 23 samples (26,1%) were positive. Serologic test for IgG Toxoplasma showed 34 samples were positive (28,6%). There was a significant correlation (p=0.000(<0.05) between PCR result and a serologic test for IgG Toxoplasma.Conclusion: Nested PCR methods to detect B1 gene increased the accuracy of diagnosis for toxoplasma encephalitis.
Effectivity of the jackfruit leaves infusion (Artocarpus heterophyllus l.) as a larvacide to the mortality rate of Aedes aegypti larva Fina Alvia Rahma; Endang Mahati; R.A. Kisdjamiatun RMD; Ryan Halleyantoro
Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14 No 1 (2020): Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Kerja Sama KNPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2147.783 KB) | DOI: 10.33533/jpm.v14i1.1461

Abstract

Larval stage control using temephos, a chemical larvicide powder, was not completely safe. WHO recommended to use biological controls. Jackfruit leaves which contain saponins, flavonoids, and tannins can be used as alternate. This study was conducted to determine the effectivity of jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus L.) infusion on the mortality of Aedes aegypti larvae using post test only control group design. 600 of Aedes aegypti larvae were divided into 1 control group and 5 experiment groups that consist  jackfruit leaves infusion concentrations of 4%, 8%, 12%, 16%, 20% with four times replication. The mortality of larvae was observed every 8 hours to 48 hours. The LC50 and LT50 were obtained by probit analysis were 3.842% and 2.150 hours. In the repeated Kruskal-Wallis test and Mann-Whitney, there were significant differences (p<0.05) in the mortality of Aedes aegypti larvae that died based on differences in the concentration of jackfruit leaf infusion. In the Spearman test, there were significant correlations (p<0.05) between the concentration of jackfruit leaves infusion and the mortality of Aedes aegypti larvae and the death rate of Aedes aegypti larvae. The results of the study are expected to be alternatives to chemical larvicides commonly used by the community.
INSIDENSI DAN ANALISIS FAKTOR RISIKO INFEKSI CACING TAMBANG PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI GROBOGAN, JAWA TENGAH Ryan Halleyantoro; Anugrah Riansari; Dian Puspita Dewi
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Kedokteran Raflesia
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v5i1.8927

Abstract

Penyakit kecacingan merupakan penyakit akibat infeksi cacing yang cenderung tidak mematikan namun  menimbulkan berbagai masalah seperti menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktivitas. Sebagian besar kecacingan pada siswa disebabkan oleh cacing Soil Transmitted Helminth (STH) salah satunya cacing tambang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing tambang serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian infeksi cacing tambang pada anak usia sekolah dasar di daerah Grobogan, Jawa Tengah.  Penelitian observasi dengan desain cross sectional menggunakan  sampel feses dari siswa di dua SD di Grobogan, Jawa Tengah sebanyak 73 sampel feses. Pemeriksaan mikroskopis dilakukan untuk mengetahui sampel feses yang positif mengandung telur cacing tambang. Hasil menunjukkan sebanyak 10 siswa (13,7%) positif terinfeksi cacing tambang. Data mengenai faktor resiko cacing tambang didapatkan melalui kuesioner sederhana megenai PHBS. Kebersihan sekolah, pekerjaan berisiko dari orang tua siswa serta kebersihan kuku siswa SD merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi angka infeksi cacing tambang pada siswa SD di Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.Pihak sekolah perlu meningkatkan program sanitasi di lingkungan sekolah, menggalakkan perilaku hidup sehat serta penyuluhan kesehatan kepada siswa dan keluarganya.
Genotyping of Toxoplasma gondii in Cerebral and Ocular Toxoplasmosis Dearikha Karina Mayashinta; Ryan Halleyantoro; Ika Puspa Sari; Agnes Kurniawan
Journal of Tropical Life Science Vol. 8 No. 3 (2018)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jtls.08.03.02

Abstract

Toxoplasma gondii is an obligate intracellular protozoon, spread world-wide and capable of infecting birds and mammals. Genetic information on T. gondii type that causes human toxoplasmosis is limited. In this study, genetic analysis of SAG2 locus was used to determine the genotype of T. gondii from cases with cerebral and ocular toxoplasmosis in Indonesia. Genotype determination was done directly on the clinical samples. A number of 28 cerebrospinal fluid and 8 vitreous humor positively infected with T. gondii, underwent PCR-RFLP to classify each isolate into one of three genotypes of T. gondii. Type I was the most common found suggesting that cerebral and ocular toxoplasmosis in Indonesia is mostly caused by type I strain of T. gondii. 
COMPARISON OF ANTIBACTERIAL EFFECTIVENESS OF HERBAL TOOTHPASTE AND FLUORIDE ON THE GROWTH OF Streptococcus mutans Rosalia Indri Dewanti; V Rizke Ciptaningtyas; Ryan Halleyantoro; Gustantyo Wahyu Wibobo
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v11i5.35640

Abstract

Background: Streptococcus mutans was the most dominant bacteria in caused caries. Caries could be prevented by chemical plaque control methods used toothpaste. Toothpaste had antibacterial properties by helped to prevent bacteria from colonized. There were two antibacterial ingredients in toothpaste, fluoride and herbal ingredients. Aim: Determined the antibacterial effect of toothpaste with herbal and fluoride content on the growth of Streptococcus mutans. Methods: This study was an experimental study with a post-test only control group design. This research method was a diffusion method by means of wells. The sample used was the Streptococcus mutans colony. The study was divided into four groups, namely herbal toothpaste, fluoride toothpaste, positive control (chlorhexidine), and negative control (aquadest sterile) which were replicated 16 times in each group. The results of this study was the diameter of the resistance zone. Results: The average diameter of the zone of inhibition results obtained 12.49 mm (herbal toothpaste), 14.66 mm (fluoride toothpaste), 21.70 mm (chlorhexidine) and aquadest sterile there were no inhibition zones. There was a significant difference with the p value
PERBANDINGAN PREVALENSI INFEKSI Blastocystis hominis PADA ANAK DENGAN DIARE DAN TIDAK DIARE DI RANDUDONGKAL Anita Carolina; Ryan Halleyantoro; Dian Puspita Dewi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.171 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23293

Abstract

Latar belakang: Blastocystis hominis merupakan protozoa usus anaerob yang hidup di dalam usus hewan maupun manusia, yang sering dijumpai di daerah tropis dan subtropis. Blastocystosis bukan merupakan infeksi oportunistik karena banyak ditemukan di usus, namun terdapat pula yang mengatakan bahwa Blastocystis hominis merupakan salah satu protozoa usus yang menyebabkan terjadinya diare. Tujuan: Untuk mengetahui adanya perbedaan kejadian infeksi Blastocystis hominis pada anak dengan diare dan tidak diare. Metode: Pengambilan sampel akan dilakukan di Randudongkal. Waktu penelitian berlangsung pada bulan April-September 2018. Proses diagnosis menggunakan metode pewarnaan Trikrom akan dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Chi square untuk mengetahui adanya perbedaan kejadian infeksi Blastocystis hominis pada anak dengan diare dan tidak diare. Hasil: Infeksi Blastocystis hominis pada anak dengan diare sebesar 12% dengan hasil analisis didapatkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Sanitasi lingkungan terhadap kasus terinfeksi Blastocystis hominis dan tanpa Blastocystis hominis didapatkan perbedaan tidak bermakna. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara infeksi Blastocystis hominis pada anak dengan diare dan tidak diare.Kata kunci: Blastocystis hominis, diare
SEROPREVALENSI TOXOPLASMOSIS WANITA DI KOTA SEMARANG Anugrah Riansari; Ryan Halleyantoro; Dian Puspita Dewi; Sudaryanto Sudaryanto; Eva Annisaa; Rebriarina Hapsari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.14885

Abstract

Pada berbagai belahan dunia diperkirakan 95% dari populasi telah terinfeksi Toxoplasma. Wanita terinfeksi Toxoplasma selama dan sesaat sebelum kehamilan dapat meneruskan infeksinya kepada janin (Congenital Transmission). Infeksi toxoplasma dapat mengakibatkan keguguran, janin lahir mati, dan cacat janin. Pada wanita hamil toksoplasmosis dapat menyebabkan 9% kematian fetus. Belum ada penelitian toxoplasmosis di Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan memperoleh data seroprevalensi antibodi anti toxoplasma Ig G dan menganalisis faktor risiko terjadinya toxoplasmosis pada wanita di Kota Semarang. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan analitik observasional, menggunakan desain penelitian cross sectional. Pemberian kuesioner dilakukan pada responden, selain itu juga dilakukan pengambilan sampel darah untuk uji antibodi anti Toxoplasma IgG. Variabel bebas dalam penelitian adalah memelihara kucing, interaksi dengan kucing, konsumsi daging yang kurang matang, kebiasaan kontak dengan tanah. Didapatkan 88 sampel penelitian responden yang memenuhi kriteria inklusi. Sebagian besar memiliki status menikah (75%) dan pendidikan tinggi (83%). Seroprevalensi toxoplasmosis pada wanita di Kota Semarang 48,9%. Tidak didapatkan pengaruh faktor risiko memelihara kucing (OR: 0,568; p-value:0,318), interaksi dengan kucing (OR:0,684, p-value: 0,378), konsumsi daging yang kurang matang (OR: 0,499, p-value: 0,085), kebiasaan kontak dengan tanah (OR:1,912, p-value:0,134) terhadap seroprevalensi toxoplasmosis pada wanita di Kota Semarang.  Diharapkan penelitian lanjutan tentang IgM Toxoplasma dan faktor lain yang kemungkinan berpengaruh terhadap penularan toxoplasmosis di Kota Semarang.