Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pengaruh Penambahan 2-Aminomethyl Pyridine pada Komposit Silika dan Karbon Aktif serta Aplikasinya untuk Adsorpsi Logam Pb2+ dan Cu2+ Sarfinda; La Harimu; Ratna
Sains: Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia Vol. 11 No. 2 (2022): EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Jurusan Pendidikan Kimia FKIP Universitas Halu Oleo, Jl. HEA. Mokodompit Kampus Hijau Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Gedung MIPA FKIP UHO Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh penambahan 2-aminomethyl pyridine pada komposit silika dan karbon aktif dan dan aplikasinya untuk adsorpsi logam berap Pb2+ dan Cu2+ (dibimbing oleh La Harimu dan Ratna).Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh penambahan 2-aminomethyl pyridine pada komposit silika dan karbon aktif dan aplikasinya untuk adsorpsi logam berat Pb2+ dan Cu2+. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pH optimum, Massa Optimum, dan waktu kontak optimum. Adsorpsi Pb2+ dan Cu2+ logam dilakukan dengan memvariasikan pH, massa adsorben , dan waktu kontak. Proses adsorpsi pH optimum larutan pb2+ dan Cu2+ untuk proses adsropsi oleh komposit silika-karbon aktif -2-aminomethyl pyridine adalah pada pH 4 . pb2+ presentasi adsorpsi kedua logam sebesar 82,70% untuk ion logam pb2+ dan 80,20% untuk logam Cu2+ . Massa optimum komposit silika-karbon aktif dan 2-aminomethyl pyridine untuk menurunkan kadar pb2+ adalah 0,3 gram dengan presentasi adsorpsi sebesar 90% dan Waktu kontak optimum komposit silika-karbon aktif dan 2-aminomethyl pyridine untuk menurunkan kadar pb2+ adalah 45 menit dengan presentasi adsorpsi sebesar 96,6% dan Cu2+ adalah 0,4 gram dengan presentasi adsorpsi sebesar 89,6% dan Cu2+ adalah 60 menit dengan presentasi adsorpsi sebesar 98,2%.
Pemisahan Senyawa Glukomanan dari Umbi Kano (Dioscorea alata L.) Asal Wakatobi Menggunakan Pelarut Etanol Sari Harliana; La Harimu; Haeruddin
Sains: Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia Vol. 11 No. 2 (2022): EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Jurusan Pendidikan Kimia FKIP Universitas Halu Oleo, Jl. HEA. Mokodompit Kampus Hijau Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Gedung MIPA FKIP UHO Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia kaya akan keragaman tanaman sumber karbohidrat, sumber protein baik nabati dan hewani, serta sumber vitamin yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat diantaranya umbi kano (Dioscorea alata L.). Umbi kano adalah salah satu varietas umbi-umbian yang memiliki potensi sebagai sumber bahan pangan karbohidrat non beras dan termasuk spesies tanaman uwi. Daerah yang termasuk penghasil umbi kano di Sulawesi Tenggara adalah Wakatobi. Tanaman Uwi (Dioscorea sp.) merupakan tanaman yang mengandung pati tinggi yaitu sebesar 60,3-74,4% dan mengandung glukomanan. Glukomanan merupakan polisakarida yang tersusun oleh satuan-satuan D-glukosa dan D-mannosa dan serat larut yang berfungsi sebagai pengemulsi (emulgator) pada industri makanan dan lainnya. Dalam penelitian ini, pemurnian tepung glukomanan dari umbi kano menggunakan kosentrasi bertingkat pelarut etanol. Untuk hasil pemisahan glukomanan dari tepung umbi kano dengan etanol diperoleh kadar glukomanan sebesar 73,4%. Analisis karakteristik glukomanan diperoleh kadar air 4,5%, kadar abu 1,48%, serat kasar 11,66%, protein 0,36%, pH 6.
Analisis Kandungan Gizi Mie dari Campuran Tepung Umbi Kano (Dioscorea alata L.) dan Tepung Rumput Laut (Eucheuma spinosum) Asal Wakatobi Wa Ode Samine Iru; La Harimu; Haeruddin
Sains: Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia Vol. 11 No. 1 (2022): EDISI JUNI 2022
Publisher : Jurusan Pendidikan Kimia FKIP Universitas Halu Oleo, Jl. HEA. Mokodompit Kampus Hijau Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Gedung MIPA FKIP UHO Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research has been carried out with the title "Analysis of the Nutrient Content of Noodles from a Mixture of Kano Bulb Flour (Dioscorea alata L.) and Seaweed Flour (Eucheuma Spinosum) from Wakatobi". This study aims to make noodles from a mixture of canoe tuber flour and seaweed flour by knowing the ratio composition of the best noodle raw materials and to determine the nutritional content of noodles, both fat, ash, and water. The samples of this study were canoe tubers (Dioscorea alata L) and seaweed (Eucheuma spinosum). This research was conducted using proximate and organoleptic analysi methods. Based on the results of data analysis, it was concluded that the noodles were made with several types of comparisons of canoe tuber raw materials and seaweed flour, namely 95:5, 90:10, 85:15, 80:20, and 75:25. Noodles made with various comparisons were then carried out organoleptic tests with the results of hedonic test analysis from 20 panelists of noodles with the best quality being noodles with a ratio of 95:5. The results of the analysis of the nutritional content of noodles from the best organoleptic analysis are 95:5, dry noodles contain water of 4.19% and wet noodles have water and fiber contentof 35.44 % and 11,58%.
Optimalisasi Nilai Bilangan Penyabunan Minyak Kelapa Hasil Pengolahan dengan Pemanasan Terkontrol: Optimization of Saponification Numbers of Processed Coconut Oil by Controlled Heating Haeruddin Haeruddin; La Harimu; Rahmanpiu Rahmanpiu; Dahlan Dahlan; La Rudi; La Ode Muhamad Alibonto; Citra Wati; Nurul Aulia Hikmah
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2023): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v5i5.2127

Abstract

Coconut oil is one part of the coconut that is utilized as cooking oil. This study aims to determine the optimal condition of the saponification number of coconut oil obtained from variations in heating time. This research method is in the form of measuring the value of saponification number by acid-base titration and determining the optimum condition of saponification number of coconut oil based on variations in temperature and saponification heating time on coconut oil obtained from variations in extraction time of 10-15 minutes. The results showed that variations in saponification heating time and temperature caused differences in the saponification number of coconut oil. At 30 minutes of saponification heating at 50°C-70°C, the saponification number value of coconut oil is lower than at 60 minutes of saponification heating at 50°C-70°C. The lowest saponification number value occurs in coconut oil extracted for 10 minutes at 107.66 mg KOH/gram at 50°C saponification heating for 30 minutes and the highest saponification number value occurs in coconut oil extracted for 35 minutes at 230.528 mg KOH/g at 60°C saponification heating for 60 minutes. The best results were obtained at 60°C saponification heating for 60 minutes from all extracted oils and treatment types where the saponification number value was closer to the SNI value range of 180-265 mg KOH/gram. Keywords:          coconut oil, saponification number, temperature, heating time   Abstrak Minyak kelapa adalah salah satu bagian dari kelapa yang dimanfaatkan sebagai minyak goreng. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi optimal nilai bilangan penyabunan minyak kelapa yang diperoleh dari variasi waktu pemanasan. Metode penelitian ini berupa pengukuran nilai bilangan penyabunan secara titrasi asam basa dan penentuan kondisi optimum bilangan penyabunan minyak kelapa berdasarkan variasi suhu dan waktu pemanasan penyabunan terhadap minyak kelapa yang diperoleh dari variasi waktu ekstraksi 10-15 menit. Hasil penelitian menunjukkan variasi waktu dan suhu pemanasan penyabunan menyebabkan terjadinya perbedaan nilai bilangan penyabunan minyak kelapa. Pada pemanasan penyabunan 30 menit suhu 50°C-70°C, nilai bilangan penyabunan minyak kelapa lebih rendah dari pada pemanasan penyabunan 60 menit suhu 50°C-70°C. Nilai bilangan penyabunan terendah terjadi pada minyak kelapa hasil ekstraksi selama 10 menit sebesar 107,66 mg KOH/gram pada pemanasan penyabunan 50°C selama 30 menit dan nilai bilangan penyabunan tertinggi terjadi pada minyak kelapa hasil ekstraksi selama 35 menit sebesar 230,528 mg KOH/g pada pemanasan penyabunan 60°C selama 60 menit. Hasil terbaik diperoleh pada pemanasan penyabunan 60°C selama 60 menit dari semua minyak hasil ekstraksi dan jenis perlakuan dimana nilai bilangan penyabunannya lebih mendekati rentang nilai yang dipersyaratkan SNI sebesar 180-265 mg KOH/gram. Kata Kunci:         minyak kelapa, bilangan penyabunan, suhu, waktu pemanasan
Analysis of the Desorption Capacity of Pb2+ and Cu2+ Metals on Silica and Silica-Chitosan Adsorbents Faizul Puspitasari; La Harimu; Wa Ode Mulyana
Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia Vol. 13 No. 4 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/hjkk.v13i4.16781

Abstract

Studies have been conducted on the analysis of the desorption ability of Pb(II) and Cu(II) metals from silica and silica-chitosan adsorbents. This study aims to determine the desorption ability of Pb2+ and Cu2+ metals with variations in HCl concentrations using silica adsorbents and to determine the desorption ability of Pb2+ and Cu2+ metals with variations in HCl concentrations using silica-chitosan adsorbents. The parameters optimized in this study were concentration variations, namely 0.005 M, 0.01 M, and 0.02 M. The results of the study showed that silica adsorbents, Pb(II) metal desorption was best obtained at an HCl concentration of 0.02 M, which was 10.11%. Meanwhile, in silica adsorbents for Cu(II) metals, the best desorption was also obtained at an HCl concentration of 0.02 M, which is 0.0753%. In the silica-chitosan adsorbent, the best Pb(II) metal desorption was obtained at an HCl concentration of 0.01 M, which is 0.0298%, while the best desorption of Cu(II) metal was obtained at an HCl concentration of 0.01 M, which was 12.0684%
ANALISIS KADAR BIOETANOL DARI LIMBAH CAIR PULP KAKAO MENGGUNAKAN ADSORBEN ABU SEKAM PADI La Harimu; Haeruddin; Wa Ode Mulyana; Cahyana Mandasari; Afrianti S. Lamuru; Mahirullah
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6211

Abstract

Pencarian sumber- sumber energi alternatif terutama berasal dari tumbuhan multiguna yang berbasis lokal dan berkelanjutan terus digalakan. Salah satu bahan bakar nabati (BBN) yang sangat prospektif dikembangkan di Indonesia adalah bioetanol, yaitu senyawa etanol yang dibuat dari tanaman yang mengandung komponen pati atau karbohidrat/gula seperti dari tanaman kakao. Salah satu komponen biji kakao adalah pulp yang mengandung glukosa 8-15% sehingga sangat potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan etanol melalui proses fermentasi yang selama ini jarang dimanfaatkan cairan lendir pulp yang dihasilkan dari proses fermentasi satu ton biji kakao dapat mencapai 75-100liter dengan bau yang tidak sedap, sehingga dapat mencemari lingkungan. Kadar bioetanol hasil fermentasi pulp kakao dipengaruhi oleh factor pH, kadar ragi, dan lama fermentasi. Sebelum fermentasi dilakukan terlebih dahulu dibuat starter dengan tujuan untuk mengaktifkan enzim. Pemisahan dan pemurnian etanol hasil fermentasi dapat ditingkatkan kadarnya dengan penambahan adsorben abu sekam padi. Abu sekam adi terlebih dahulu dicuci sampai bersih dan terakhir dicuci dengan aquades dan dipanaskan dalam oven pada suhu 1050C. Sampel pulp kakao hasil fermentasi yang mengandung etanol ditambahkan dengan abu sekam padi sebelum di destilasi. Destilat etanol yang diperoleh diukur kadarnya menggunakan Alcohol Meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu fermentasi dan kadar ragi mempengaruhi kadar bioetanol dari pulp kakao yang dihasilkan. Lama fermentasi optimal yang diperoleh adalah 6 hari dengan kadar bioetanol sebesar 4,73%. Kadar ragi optimal terhadap starter (berat starter adalah 1 % dari sampel pulp kakao yang difermntasi) diperoleh pada kondisi dengan perbandingan 1 gram ragi: 1% starter. Kadar bioetanol yang diperoleh dengan penambahan abu sekam padi menggalami peningkatan dari 5,06% menjadi 8,52%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penambahan abu sekam padi pada sampel pulp kakao hasil fermentasi yang menggandung bioetanol dapat ditingkatkan dengan penambahaan abu sekam padi.
Quality Analysis of Virgin Coconut Oil Resulting From a Combination of Fermentation and Controlled Heating Using Silica by Rice Husk Ash Fahdila Rahmadani; La Harimu; Rahmanpiu
Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/hjkk.v14i2.20244

Abstract

Virgin Coconut Oil (VCO) has unique characteristics such as a very clear color resembling mineral water, low water and free fatty acid content, and high lauric acid content. The purpose of this study was to compare the quality of physical, chemical, and organoleptic parameters of VCO before and after adsorption with rice husk ash silica. The method used was adsorption. The adsorbent is arranged to a height of 4 cm with a flow rate of 14 drops per minutes. The results showed that the clarity test before and after adsorption was 85.8% and 97.9%. The water content before and after adsorption was 0.29% and 0.07%; free fatty acids were 0.49% and 0.17%; peroxide value was 1.98 mg eq/kg and 1.48 mg eq/kg; and saponification value was 189.34 mg KOH/g and 229.24 mg KOH/g. The average organoleptic color test before and after adsorption was 3.07 and 4; ordor was 3.33 and 3.2; and tastes 2.8 and 2.4, meet SNI 7381:2008 and SNI 2015. Thus, it can be concluded that rice husk ash silica can improve the quality of VCO.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI TITRASI ASAM BASA Rendy Renaldy Pikoli; Rustam Musta; La Harimu
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 03 (2026): Volume 12 No. 3, September 2026 Publish
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i03.17273

Abstract

Chemistry learning not only requires students to understand concepts theoretically but also emphasizes scientific skills through laboratory activities. However, student's science process skills and learning outcomes in acid–base titration remain relatively low. Therefore, a teaching method that actively involves students in the learning process is needed. This study aimed to determine the effectiveness of the experimental method on student's science process skills and learning outcomes in acid–base titration at SMA Negeri 4 Konawe Selatan. This study employed a quantitative approach using a pre-experimental method with a One-Group Pretest– Posttest Design. The sample consisted of 25 twelfth-grade students from Class XII A of SMA Negeri 4 Konawe Selatan. The research instruments included a science process skills observation sheet, a learning outcomes test, and a student response questionnaire. The data were analyzed using descriptive statistics and n-Gain analysis. The results showed that the implementation of the experimental method had a positive effect on student's science process skills and learning outcomes. The mean science process skills score was 71.14, which was categorized as very good. Student’s learning outcomes improved from a mean pretest score of 45.60 to a mean posttest score of 83.80, with a mean n-Gain score of 0.71, which was categorized as high. In addition, student’s responses to the implementation of the experimental method obtained an average percentage of 83.53, which was classified as very good. Based on these findings, it can be concluded that the experimental method is effective for teaching acid–base titration in chemistry because it improves student’s science process skills and learning outcomes.