Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN CIPLUKAN (Physalis angulata L.) TERHADAP SISTEM KEKEBALAN TUBUH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Yusrika Octarina; Eva Prasetiyono; Dwi Febrianti; Robin Robin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.453 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.259-265

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun ciplukan (Physalis angulata) sebagai imunostimulan dalam meningkatkan jumlah leukosit dan aktivitas fagositosis pada ikan nila. Ikan nila yang digunakan berukuran panjang 10-12 cm dan bobot 70-90 g. Ikan tersebut diperoleh dari pembudidaya ikan nila di Desa Riding Panjang Kecamatan Merawang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap tunggal. Rancangan ini terdiri atas lima perlakuan (P), yaitu P1= kontrol positif (penyuntikkan dengan larutan fisiologis), P2= 4% (v/v) (1 mL ekstrak + 24 mL akuades), P3= 8% (v/v) (2 mL ekstrak + 23 mL akuades), P4= 12% (v/v) (3 mL ekstrak + 22 mL akuades) dan P5= kontrol negatif (tanpa penyuntikan). Ekstrak ciplukan diinjeksikan sebanyak 0,1 mL pada setiap ekor ikan secara intra-muskular. Indikator imun yang diamati adalah jumlah total leukosit dan aktivitas fagositosis. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil yang menunjukkan pengaruh antara perlakuan, selanjutnya dianalis dengan uji wilayah berganda duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak ciplukan dapat meningkatkan jumlah leukosit dan aktivitas fagositosis. Dosis terbaik dalam meningkatkan respon imun adalah dosis ekstrak P4= 12% (v/v) ekstrak dengan jumlah total leukosit (12,43 x 108 sel/mL) dan aktivitas fagositosis (46,67%).The aim of this research was to determined the effectivity of the extract Physalis angulata as immunostimulant on the amount of total leucocyte count and phagocytosis activity of nile tilapia. The tested fishes were nile tilapia with size of, 10-12 cm in total length, and 70-90 g in weight. The fish were obtained from fish farmers in Riding Panjang village Merawang Sub District. The research was designed in single completely randomized design. There were five levels of treatment (P), with P= positive control (injected with physiological solution), P2= 4% (v/v) (1 mL extract + 24 mL aquadest), P3= 8% (v/v) (2 mL extract + 23 mL aquadest), P4= 12% (v/v) (3 mL extract + 22 mL aquadest) and P5= negative control (without injection). The extract Physalis angulata L. was injected intramuscularly at a dose of 0.1 mL per fish. The immune indicators observed were total leucocyte count and phagocytosis activity). Data analyzed by using analysis of variant (Anova). if there were any significant different between the treatment, analysis continued by duncan”s multiple range test. The results of the research showed that the extract could increase the amount of total leucocyte count and phagocytosis activity. The ciplukan leaves at a dose of 12% (v/v) were the most effective dose in enhancing total leucocyte (12.43 x 108 cell/mL) and phagocytosis activity (46.67%).
PERTUMBUHAN POPULASI DAPHNIA PADA LIMBAH BUDIDAYA IKAN LELE SISTEM BIOFLOK DENGAN KONSENTRASI BERBEDA Ardiansyah Kurniawan; Laras Maharani; Robin Robin
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 5 No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v5i2.4501

Abstract

Daphnia sp. is one type of zooplankton that is used as natural food. The potential for catfish culture waste from the biofloc system is not yet known as a source of nutrients in the culture of Daphnia sp. The biofloc system of catfish culture wastewater needs to be tested as a medium for Daphnia cultivation. This research method uses experimental methods, namely experiments and Completely Randomized Design (CRD) methods with 5 treatments and 3 replications, namely control treatment (clean water + chicken manure 5gram/liter), 75% clean water + 25% wastewater, 50% clean water + 50% wastewater, 25% clean water + 75% wastewater, and 100% wastewater. Nitzschia and Melosira from Class Bacillariophyceae and Copepods from Class Maxillopoda were identified in the waste. The use of catfish culture waste in biofloc systems with different concentrations affected the growth of Daphnia sp. Daphnia sp. cultivation media. with a concentration using 75% of the waste produced the highest growth peak on the twelfth day.
ANALISIS KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT PADA LOKASI BUANGAN LIMBAH TAMBAK UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI KABUPATEN BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Eva Prasetiyono; Endang Bidayani; Robin Robin; Denny Syaputra
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 18, No 2 (2022): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.18.2.73-79

Abstract

Budidaya udang vaname pada kawasan perairan pesisir Bangka Tengah dilakukan secara intensif menggunakan pakan buatan sebagai pakan utama udang. Permasalahan yang muncul pada setiap budidaya intensif yaitu sisa pakan yang tidak termakan dan sisa metabolisme berupa feses dan urin yang berpotensi menyebabkan kesuburan ekosistem perairan. Dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme akan menghasilkan senyawa nitrogen dalam bentuk nitrat dan fosfat. Senyawa-senyawa ini merupakan nutrisi yang diserap oleh tumbuhan sehingga berpotensi menyebabkan pertumbuhan berlebih dari mikroalga. Penelitian ini bertujuan menguji dan menganalisis kandungan nitrat, fosfat dan parameter kualitas air lainnya serta kesesuaian air limbah yang dihasilkan pada lokasi buangan tambak udang vaname di Kabupaten Bangka Tengah. Lokasi yang dijadikan penelitian yaitu Tambak Udang TLTA (Lokasi 1), Tambak Udang ALB (Lokasi 2), dan Tambak Udang SDL (Lokasi 3). Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kandungan nitrat pada lokasi 1, 2 dan 3 masing-masing sebesar 0,92±0,18 mg/L, 0,89±0,14 mg/L, dan 0,93±0,21 mg/L dan kandungan fosfat masing-masing sebesar 0,25±0,09 mg/L, 0,15±0,11 mg/L, dan 0,23±0,15 mg/L. Kandungan nitrat dan fosfat tersebut masih memenuhi kriteria baku mutu standar air buangan limbah tambak namun terdapat potensi eutrofikasi pada saat limbah tersebut masuk ke perairan umum. Hal ini dikarenakan nilai nitrat dan fosfat tersebut berada pada kisaran yang dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi. Kandungan parameter kualitas air TSS, BOD, COD, kekeruhan, suhu, salinitas, pH dan DO pada semua titik lokasi menunjukan nilai yang masih memenuhi standar baku mutu yang menggambarkan bahwa tidak terdapat ketercemaran dari limbah tambak udang yang dihasilkan. Pacific white shrimp shrimp cultivation in the coastal waters of Central Bangka is carried out intensively using artificial feed as the main shrimp feed. Problems in intensive cultivation are uneaten feed residues and metabolic wastes in the form of feces and urine which have the potential to cause fertility in aquatic ecosystems. Decomposition of organic matter by microorganisms will produce nitrogen compounds in the form of nitrate and phosphate. They will be absorbed by plants that have the potential to cause blooming algae. This study aims to test and analyze the content of nitrate, phosphate and other water quality parameters as well as the suitability of wastewater generated at the disposal site of pacific white shrimp ponds in Central Bangka Regency. The research locations were TLTA Shrimp Pond (Location 1), ALB Shrimp Pond (Location 2), and SDL Shrimp Pond (Location 3). The research method used quantitative descriptive analysis method. The results showed that the nitrate content at locations 1, 2 and 3 were 0.92±0.18 mg/L, 0.89±0.14 mg/L, and 0.93±0.21 mg/L, respectively, and phosphate content of 0.25±0.09 mg/L, 0.15±0.11 mg/L, and 0.23±0.15 mg/L, respectively. The nitrate and phosphate content still meets the standard quality criteria for pond waste water, but there is potential for eutrophication when they flow into estuary or seas area. Their values are in the range that can cause eutrophication. The content of water quality parameters TSS, BOD, COD, turbidity, temperature, salinity, pH and DO at all location points shows values that still meet quality standards which illustrate that there is no pollution from shrimp pond waste produced.
Interaction of Organisms in Abandoned Tin Mining Pits: Perspective of Life in Acid Mine Drainage Environment Andri Kurniawan; Ardiansyah Kurniawan; Robin Robin
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 1 (2023): January 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.1.159-171

Abstract

Acid Mine Drainage (AMD) occured after mining activity exposes metal sulphides to oxidizing conditions that impact acidic condition with low pH value in the waters and heavy metals contamination. These conditions are also occurred in abandoned tin mining pits, one of placed in Bangka Belitung Archipelago Province. This mini review aimed to elaborate information of micro- and macro-organism’ life in acid mine drainage to be associated with the possibility of life in abandoned tin mining pits. Acidophilic and acidotolerant organisms such as bacterial, phyto- and zooplankton, and some macroorganism included invertebrate or vertebrate like fishes and also water plants were found in these waters. Their presence developed a symbiosis interaction in aquatic environment. Phytoplankton is an autotroph organism, despite being considered autotroph organism, many phytoplankton require exogenous organic cofactors and nutrients for their life. These cofactors were often served by heterotroph bacterial to sustain the growth of phytoplankton. Instead, bacterial obtained dissolved organic matter derived from phytoplankton to survive in the aquatic environment. Furthermore, phytoplankton was consumed by zooplankton; zooplankton was consumed by small fish to big fish in the waters. In addition, water plants also support the interaction of organisms in the water by supplying dissolved oxygen, also anorganic and organic material for their life. The symbiosis and quorum sensing plays an important role in structuring the aquatic food web and creating a life in the acidic water-polluted heavy metal.
Identification of Phytoplankton at Ephemeral Pond with Acidic pH in Bangka Regency Andri Kurniawan; Ardiansyah Kurniawan; Robin Robin
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.28608

Abstract

 AbstractEphemeral waters, the temporary aquatic environment become an interesting habitat to explore extremophile organism, include phytoplankton. Furthermore, the waters have an acidic condition or low pH that impact to metabolisms, community structure, and diversity of phytoplankton. This study was conducted on June until August 2022 in Bangka Regency, Bangka Belitung Archipelago Province, Indonesia. We analyzed the phytoplankton presence at acidic ephemeral waters to indicated their potential as primary producer in food web, bioindicator, and ecological succession agent. This study was conducted by exploration method of phytoplankton diversity. The research observed and found five class and twelve genera that consist of class Chlorophyceae (genera Enteromorpha, Ankistrodesmus, Prasiola, Pleurococcus, and Coleochaete), class Rhodophyceae (genera Lemanea), class Diatoms (genera Diatoma, Synedra, and Navicula), class Xanthophyceae (genera Ophiocytium), and class Cyanobacteria (genera Oscillatoria and Anabaena). The class Chlorophyceae, genera Enteromorpha were the highest community at the both of acidic waters and they could survive at pH 3.52 + 0.5 to 3.71 + 0.8.AbstrakPerairan ephemeral, lingkungan perairan musiman menjadi suatu habitat yang menarik untuk mengeksplorasi organisme ekstremofil, termasuk fitoplankton. Lebih jauh lagi, perairan tersebut memiliki kondisi asam atau pH rendah yang berdampak pada metabolisme, struktur komunitas, dan diversitas fitoplankton. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni hingga Agustus 2022 di Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Kami menganalisis keberadaan fitoplankton di perairan ephemeral asam untuk mengindikasikan potensi fitoplankton sebagai produsen utama, bioindikator dan agen suksesi lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksplorasi diversitas fitoplankton. Penelitian ini mengobservasi dan menemukan lima kelas dan dua belas genus yang terdiri atas kelas Chlorophyceae (genus Enteromorpha, Ankistrodesmus, Prasiola, Pleurococcus, dan Coleochaete), kelas Rhodophyceae (genus Lemanea), kelas Diatoms (genus Diatoma, Synedra, dan Navicula), kelas Xanthophyceae (genus Ophiocytium), dan kelas Cyanobacteria (genus Oscillatoria dan Anabaena). Kelas Chlorophyceae, genus Enteromorpha adalah komunitas tertinggi pada kedua perairan asam dan mampu bertahan pada pH 3.52 + 0.5 to 3.71 + 0.8.
MASKULINISASI IKAN GUPPY (Poecilia reticulata) MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN MENSIRAK (Ilex cymosa) MELALUI PERENDAMAN INDUK BUNTING Ahmad Fahrul Syarif; Dendy Winardi; Robin
Jurnal Perikanan Unram Vol 11 No 2 (2021): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v11i2.259

Abstract

Freshwater ornamental fish commodities are in great demand by people in Indonesia, one of which is guppy fish (Poecilia reticulata). Guppies are very popular because they are easy to maintain and have beautiful color variations, especially for male guppy fish. The constraint in guppies cultivation is that the number of male chicks produced is usually lower than the number of females. The use of mensirak leaf extract is thought to be used in the process of masculinizing guppies. This study was conducted to determine the best dose of mensirak leaf extract to increase male sex ratio in guppies. The method used in this study is an experimental method using a single Completely Randomized Design (CRD) with 5 levels of treatment consisting of 3 replications. The immersion doses of female guppy broodstock used were P1 (2 mg/L), P2 (4 mg/L), P3 (6 mg/L), positive control 17?-methyltestosterone (2 mg/L) and negative control (0 mg/L). L). The results showed that the use of mensirak leaf extract immersing pregnant mothers had a significant effect on the percentage of male sex with the best concentration of 2 mg/L (45.93±27.19%). The masculinization of guppies using mensirak leaf extract on the immersion of pregnant guppy broodstock had a significant effect on the percentage of male sex. The best dose for immersing pregnant guppies using mensirak leaf extract was obtained in treatment P1 with a dose of 2mg/L, which resulted in the percentage of male sex being 45.93±27.19%.
IMPLEMENTASI SOP CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA INDUSTRI TAMBAK UDANG DI KABUPATEN BANGKA SELATAN Endang Bidayani; Robin Robin; Ahmad Fahrul Syarif
Jurnal Perikanan Unram Vol 12 No 4 (2022): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v12i4.386

Abstract

Cara budidaya ikan yang baik adalah program dibidang perikanan budidaya bagi masyarakat dalam rangka menjamin keamanan pangan hasil perikanan. Tujuan penelitian ini adalah: Mengkaji implementasi CBIB pada industri tambak udang di Kabupaten Bangka Selatan. Penelitian akan dilaksanakan di tambak udang skala industri di Kabupaten Bangka Selatan pada Bulan Agustus-Oktober 2022. Teknik pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive sampling), dengan pertimbangan wilayah pengembangan budidaya udang di Kabupaten Bangka Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yaitu penelitian yang sumber data dan informasi utamanya diperoleh dari responden sebagai sampel penelitian menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Metode pengambilan sampel yang digunakan teknik sampling purposive. Populasi dalam penelitian ini adalah pengelola tambak udang yang sudah beroperasi lebih dari setahun dengan teknik snowball. Hasil penelitian, implementasi SOP CBIB tambak udang di Kabupaten Bangka Selatan pada kategori tinggi. Saran, pemerintah daerah dapat melakukan monitoring secara berkala terhadap penerapan SOP CBIB tambak udang agar industri tambak udang berkelanjutan, dan perusahaan memberikan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan karyawan.  
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN IKAN KONSUMSI AIR TAWAR DI PASAR TRADISIONAL KOTA PANGKALPINANG Endang Bidayani; Supitri Supitri; Robin Robin
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 2 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i2.494

Abstract

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan daerah pesisir yang mayoritas masyarakatnya mengkonsumsi ikan air laut. Kendati demikian, komoditi budidaya ikan air tawar juga ditemukan di pasar-pasar tradisional di ibukota propinsi ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola konsumsi ikan air tawar di Pasar Tradisional Kota Pangkalpinang, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan ikan konsumsi air tawar di Pasar Tradisional Kota Pangkalpinang. Metode pengambilan lokasi penelitian dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu di Pasar Pagi Pangkalpinang, Pasar Rumput Pangkalpinang, dan Pasar Higienis Pangkalpinang. Responden dalam penelitian ini diambil dengan cara sampling insedential berjumlah 60 orang yang merupakan konsumen ikan konsumsi air tawar di Pasar Tradisional Kota Pangkalpinang. Data yang dikumpulkan menggunakan data primer dan sekunder. Metode analisis data yang digunakan pada pola konsumsi ikan air tawar oleh konsumen menggunakan analisis data deskriptif, dan untuk rumusan masalah kedua yakni menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda dengan alat bantu SPSS 25. Hasil penelitian menyimpulkan jenis ikan air tawar paling banyak diminta oleh responden pada saat penelitian adalah ikan lele (46,67%), frekuensi mengkonsumsi yakni rata-rata sebulan sekali ( 58%), dan jumlah konsumsi ikan air tawar dalam satu bulan rata-rata yakni 1-5 kg (56,67%). Secara simultan variabel-variabel bebas seperti harga ikan air tawar, harga barang lain, ketersediaan stok, jumlah pendapatan konsumen, cita rasa konsumen atau selera, dan ekspetasi masa depan memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat yakni permintaan ikan air tawar. Sedangkan secara parsial variabel ketersediaan stok dan cita rasa konsumen atau selera memiliki pengaruh yang signifikan terhadap permintaan ikan air tawar di Pasar Tradisional Kota Pangkalpinang.
UPAYA PELESTARIAN IKAN ENDEMIK KEPULAUAN BANGKA BELITUNG endang bidayani; Robin Robin; Tiara Puspa Anjani
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 4 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i4.700

Abstract

Diperkirakan terdapat sekitar tujuh jenis ikan endemik di Kepulauan Bangka Belitung dengan status Rentan hingga Kritis. Kerusakan lingkungan akibat ulah manusia di perairan umum Pulau Bangka dikhawatirkan berdampak pada kelestarian sumberdaya ikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya pelestarian ikan endemik ulau Bangka. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Metode pengumpulan data primer melalui studi literatur dan wawancara dengan informan dari Dinas Perikanan Kabupaten Bangka, Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Pangkalpinang dan Komunitas Lanun Tebat Rasu yang berjumlah 30 orang, dan data sekunder melalui literatur. Metode analisis data deskriptif. Hasil penelitian upaya pelestarian ikan endemik Kepulauan Bangka Belitung meliputi domestikasi, cagar perikanan, peraturan penangkapan ikan, dan pelestarian budaya lokal nirok nanggok dan babanjor