Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Derajat Insomnia dan Kejadian Migrain pada Mahasiswa Tingkat 3 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Fadhlan Rovie Effendie; Widayanti; Tryando Bhatara
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6377

Abstract

Abstract. The prevalence of insomnia and migraines is known to be high among university students. However, research that focuses on the relationship between the degree of insomnia and the incidence of migraine in medical students is still limited. To answer this question, this study focuses on the relationship between the degree of insomnia and the incidence of migraine among medical students. This study aims to describe the degree of insomnia and the description of the incidence of migraine as well as the relationship between the two variables in grade 3 students at the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung in 2022. The method used in this study was cross-sectional which was conducted on 75 research subjects by filling out the Insomnia Severity Index questionnaire. (ISI) and the Migraine Screen Questionnaire (MS-Q). The sampling technique used purposive sampling and statistical analysis using the Chi Square test. The results showed that the majority of research subjects experienced insomnia and migraines. These results indicate that there is a relationship between the degree of insomnia and the incidence of migraine in the study subjects. Abstrak. Prevalensi insomnia dan migrain diketahui tinggi pada kalangan mahasiswa. Namun penelitian yang berfokus pada hubungan derajat insomnia dan kejadian migrain pada mahasiswa kedokteran masih terbatas. Untuk menjawab persoalan tersebut, penelitian ini berfokus pada kaitan antara derajat insomnia dan kejadian migrain di kalangan mahasiswa kedokteran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran derajat insomnia dan gambaran kejadian migrain serta hubungan antara kedua variabel pada mahasiswa tingkat 3 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun 2022. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional yang dilakukan pada 75 subjek penelitian melalui pengisian kuesioner Insomnia Severity Index (ISI) dan kuesioner Migraine Screen Questionnaire (MS-Q). Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan analisis statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas subjek penelitian mengalami insomnia dan migrain. Hasil tersebut menunjukkan terdapatnya hubungan antara derajat insomnia dan kejadian migrain pada subjek penelitian.
Perbandingan Penyembuhan Luka Sayat pada Tikus Wistar Menggunakan Bubuk Kopi dengan Bubuk Kafein Muhammad Rifky Dzikrillah; Hendro Sudjono Yuwono; Tryando Bhatara
Jurnal Riset Kedokteran Volume 3, No.2, Desember 2023, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v3i2.3001

Abstract

Abstract. The content of caffeine and chlorogenic acid in coffee have anti-inflammatory and antioxidant effects that can suppress reactive oxygen species which has the effect of accelerating wound healing in the inflammatory phase. The research was conducted in August. This research is an experimental type research conducted in the laboratory with an in vivo preclinical experimental design that compares the appearance of wound healing in Wistar rats (Rattus novergicus) using robusta coffee powder and caffeine powder. The rats used in this study were about 24 rats. In this study, rats were divided into two coffee and caffeine treatment groups and two positive and negative control groups. In one group consists of 6 rats. The study was conducted for 1 week by assessing the description of wound healing through indicators; 1) dryness of the wound, 2) assessment of the wound edges (hyperemic or not), and 3) wound size. Data were obtained by observing the progress of wound healing in rats. Based on the results of statistical tests using one way ANOVA and Kruskall Wallis, the results showed that there was no significant difference in wound healing in the coffee and caffeine groups. This result is likely due to the influence of several factors such as; bandage sticking, stress, temperature, doses exceeding the LD50, excessive vasodilation, and disease in rats during the study period. Abstrak. Kandungan kafein, dan asam klorogenat dalam kopi memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan yang dapat menekan dari reactive oxygen species yang efeknya mempercepat penyembuhan luka pada fase inflamasi. Penelitian dilaksanakan bulan Agustus. Penelitan merupakan penelitian jenis eksperimental yang dilakukan di laboratorium dengan rancangan eksperimental preklinik in vivo yang membandingkan gambaran penyembuhan luka sayat pada subjek tikus wistar (Rattus novergicus) dengan menggunakan bubuk kopi robusta dan bubuk kafein. Tikus yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 24 ekor tikus. Dalam penelitian tikus terbagi menjadi dua kelompok perlakuan kopi dan kafein serta dua kelompok kontrol positif dan negatif. Dalam satu kelompok terdiri dari 6 tikus. Penelitian dilakukan selama 1 minggu dengan menilai gambaran penyembuhan luka melalui indikator; 1) kekeringan luka, 2) penilaian tepi luka (hiperemis atau tidak), dan 3) ukuran luas luka. Data diperoleh dengan memantau proses penyembuhan luka pada tikus. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan one way anova dan kruskall wallis di dapatkan hasil tidak ada perbedaan yang signifikan pada penyembuhan luka pada kelompok kopi maupun kelompok kafein. Hasil ini kemungkinan dikarenakan pengaruh dari beberapa faktor seperti; perban menempel, stres, suhu, dosis yang melebihi LD50, vasodilatasi yang berlebih, dan penyakit yang menimpa tikus pada masa penelitian.
Gambaran Kualitas Sarapan dan Konsentrasi Belajar Siswa Kelas 1 SDN Setramanah Subang Sri Gustiani; Arief Budi Yulianti; Tryando Bhatara
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10211

Abstract

Abstract. Based on Basic Health Research in 2010, 45% of children had low quality breakfast. Breakfast is not just eating, it is important to pay attention to the quality and nutritional content contained in it. Breakfast is said to be of quality if the food consumed meets 15-30% of daily nutritional needs. Correspondence between the amount of carbohydrates, protein and fat in the body is very important, especially for children's growth and concentration at school. The aim of this research was to find out how the quality of breakfast and learning concentration of grade 1 students at SDN Setramanah Subang was described. This research uses a descriptive design. The sample was determined using total sampling with a total of 56 respondents. Research tools to measure breakfast quality and study concentration were obtained through interviews and questionnaires which had been tested for validity and reliability. The research results showed that the majority of respondents had breakfast quality in the just breakfast category and the least in the no breakfast category, while the learning concentration level of the majority of grade 1 students at SDN Setrmanah was in the age appropriate category (> 20 minutes). Abstrak. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 terdapat 45% anak sarapan dengan kualitas yang rendah. Sarapan bukan hanya makan saja tetapi kualitas dan kandungan nutrisi yang terdapat di dalamnya perlu diperhatikan. Sarapan dikatakan berkualitas apabila makanan yang dikonsumsi telah memenuhi 15-30% kebutuhan gizi perharinya. Kesesuaian antara jumlah karbohidrat, protein, dan lemak dalam tubuh sangat penting terutama bagi pertumbuhan dan konsentrasi anak di sekolah. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana gambaran kualitas sarapan dan konsentrasi belajar siswa kelas 1 SDN Setramanah Subang. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Penentuan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah 56 responden. Alat penelitian untuk mengukur kualitas sarapan dan konsentrasi belajar diperoleh melalui wawancara dan kuesioner yang sudah di uji validatas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki kualitas sarapan dalam kategori sekedar sarapan dan yang paling sedikit terdapat dalam kategori tidak sarapan sedangkan tingkat konsentrasi belajar mayoritas siswa kelas 1 SDN Setrmanah masuk dalam kategori sudah sesuai usia (> 20 menit).
Gambaran Usia, Jenis Kelamin, dan Jenis Pekerjaan dengan Keluhan Muskuloskeletal pada Perawat Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Karawang Periode Mei – November 2023 Ayunita Meita Dewi Rasiwan; M. Ahmad Djojodugito; Tryando Bhatara
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10318

Abstract

Abstract. Inpatient nurses have activities as lifting, sitting, and bending. Complaints can occur in the area of the hands, elbow, neck, waist and shoulders. In reality, there are many health problems than can cause workers to lack knowledge about work hazard in workers environment, including hospitals. To see and overview of age, gender, and type of work for inpatient nurses at the Karawang Regional General Hospital for the period May – November 2023. By sorting the inclusion criteria, namely nurses who have worked for more than 1 year, nurses who actively work in the inpatient installation of Karawang Regional Hospital, and fill out a complete questionnaire. Exclusion criteria were nurses who had musculoskeletal trauma, had heavy exercise habits and nurses who worked with high vibration equipment. The result of this research were the gender characteristics of 67 female nurses (78%) and 19 male nurses (22%). Characteristics of nurses based on age 27 – 35 years 47 people (55%), age 36 – 45 years 28 people (33%), and 46 – 55 years 11 people (12%). Characteristics of the type of work is injecting 53 people (61%), pushing patient 11 people (13%), changing dressings 12 people (14%), changing IV fluid 4 people (5%), lifting patient 2 people (2%), and installing infusion 4 people (5%). Abstrak. Perawat rawat inap memiliki kegiatan seperti, mengangkat, duduk, dan bungkuk. Keluhan dapat terjadi pada area tangan, siku, leher, pinggang, dan bahu. Kenyataannya banyak terjadi gangguan pada kesehatan yang dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan pekerja tentang bahaya kerja yang berada di lingkungan pekerja, termasuk rumah sakit. Untuk melihat gambaran usia, jenis kelamin, dan jenis pekerjaan pada Perawat Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Karawang Periode Mei – November 2023. Dengan memilah kriteria inklusi yaitu perawat yang bekerja lebih dari 1 tahun, perawat yang aktif bekerja di instalasi rawat inap RSUD Karawang, dan mengisi kuesioner lengkap. Kriteria ekslusi yaitu perawat yang memiliki trauma musculoskeletal, memiliki kebiasaan olahraga berat dan perawat yang bekerja dengan alat getaran yang tinggi. Hasil penelitian ini adalah karakteristik jenis kelamin perawat perempuan 67 orang (78%), dan perawat laki – laki 19 orang (22%). Karakteristik perawat berdasarkan usia 27 – 35 tahun 47 orang (55%), usia 36 – 45 tahun 28 orang (33%), dan 46 – 55 orang 11 orang (12%). Karakteristik jenis pekerjaan menyuntik 53 orang (61%), mendorong pasien 11 orang (13%), ganti balut 12 orang (14%), ganti cairan infus 4 orang (5%), mengangkat pasien 2 orang (2%), dan pasang infus 4 orang (5%).
Gambaran Burnout pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2022-2023 Levie Rachmah Zannati; Eka Nurhayati; Tryando Bhatara
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10481

Abstract

Abstract. Burnout is a long-term response to chronic emotional and interpersonal stress. Burnout had three dimensions including exhaustion, cynicism, and decreased academic performance. Several study in Indonesia shown that medical students experience burnout more than 50% which could cause decrease their performance index. Research about burnout is still rarely conducted to medical students in West Java. The purpose of this research is to determine the description of burnout in first to third year student Faculty of Medicine at Bandung Islamic University for the 2022/2023 academic year. The research was descriptive study with using simple random sampling for 113 respondents from each grade. The data shows that the highest number of burnout are female among all respondents and the highest prevalence of burnout is in the moderate burnout category at 89.2% for first year, 95% for second year, and 88.9% for third year students. This happens because daily life is complex, there is a lot of competition, more time study, frequent tensions in the lecture environment, and lack of free time and rest. Abstrak. Burnout merupakan respons jangka panjang terhadap stres emosional dan interpersonal yang kronis. Burnout memiliki tiga dimensi diantaranya exhaustion, sinisme, dan penurunan pencapaian prestasi akademik. Penelitian di Indonesia mencatat bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran mengalami burnout lebih dari 50% yang dapat menyebabkan penurunan indeks prestasi. Penelitian tentang Burnout masih jarang dilakukan pada mahasiswa kedokteran di Jawa Barat. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui gambaran burnout pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun akademik 2022/2023. Penelitian yang digunakan merupakan penelitian deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling yaitu peneliti mengambil 113 responden secara acak dari masing-masing angkatan. Data yang diperoleh menunjukkan jumlah burnout terbanyak pada perempuan dari seluruh total responden dan prevalensi burnout tertinggi pada kategori burnout sedang sebanyak 89,2% untuk mahasiswa tingkat satu, 95% pada mahasiswa tingkat dua dan 88,9% pada mahasiswa tingkat tiga. Hal tersebut terjadi karena kehidupan sehari – hari yang komplek, banyaknya persaingan, waktu pembelajaran lebih banyak, sering mengalami ketegangan di lingkungan perkuliahan, serta kurangnya waktu luang dan istirahat.