Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Karakteristik Kejadian Gagal Jantung Kongesti (GJK) pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 (DM tipe 2) di RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2019-2020 Muhammad Rifqi Khairul Ummam; Sadiah Achmad; Ratna Dewi Indiastuti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.670

Abstract

Abstract. Congestive heart failure (CHF) is a functional or structural heart disorder that interferes with ventricular filling or ejection of blood into the systemic circulation. The risk factors for CHF are age and gender. The purpose of this study was to analyze the incidence of congestive heart failure in type 2 DM patients at the outpatient polyclinic of Al-Ihsan Hospital, Bandung. This study is an analytic observational with a cross-sectional approach. The sampling technique used was purposive sampling from medical record data with a total sample of 80 people who entered the inclusive criteria. Data analysis using Chi-square test. The results of the study described CHF patients as 22.5%. Type 2 DM patients experienced CHF 16.25%, and male 6.25%. The age of type 2 DM patients who experienced the most CHF was in the range of 55-64 as much as 10.00%. From this study, it was concluded that the characteristics of type 2 DM patients at the Al-Ihsan outpatient polyclinic who experienced CHF were women experiencing CHF more than men and the age of type 2 DM patients who experienced CHF was mostly in the range of 55-64 years. Abstrak. Gagal jantung kongesti (GJK) adalah gangguan fungsional atau struktural jantung yang mengganggu pengisian ventrikel atau ejeksi darah ke sirkulasi sistemik. Faktor risiko terjadinya GJK adalah usia dan jenis kelamin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kejadian gagal jantung kongesti pada pasien DM tipe 2 di poliklinik rawat jalan RSUD Al-Ihsan, Bandung. Penelitian ini merupakan observasinal analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling dari data rekam medik dengan jumlah sampel sebanyak 80 orang yang masuk kriteria inklusif. Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menggambarkan pasien GJK 22.5%. Pasien DM tipe 2 perempuan yang mengalami GJK 16.25%, dan laki-laki 6.25%. Usia pasien DM tipe 2 yang terbanyakmmengalami GJK pada rentang 55-64 sebanyak 10.00%. Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa karakteristik pasien DM tipe 2 di poliklinik rawat jalan Al-Ihsan yang mengalami GJK adalah perempuan lebih banyak mengalami GJK daripada laki-laki dan usia penderita DM tipe 2 yang mengalami GJK terbanyak pada rentang 55-64 tahun.
Hubungan Positif COVID-19 pada Wanita Hamil dengan Kejadian Persalinan Bayi Prematur di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Jawa Barat Yora Ordellia Budiawati; Sadiah Achmad; Ferry Achmad Firdaus Mansoer
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1187

Abstract

Abstract. Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) is an infectious disease caused by the virus SARS COV-2. This disease spreads very quickly and brings its concerns to pregnant women because it can cause very serious complications, among others is premature delivery, This study aims to see whether there is a relationship between COVID-19 and preterm labor. The research design used is a Cross-Sectional Comparative design, using secondary data from medical records with a total of 196 mothers giving birth and the data were tested by Chi-Square test. This study showed that 20.41% of COVID-19 positive pregnant women gave birth to premature babies while COVID-19 negative pregnant women gave birth to 12.24% of premature babies with a P-Value of 0.164 (P>0.05). There is no relationship between COVID-19 and preterm labor in pregnant women at Al-Ihsan Hospital West Java. This result was obtained because many maternity mothers chose to give birth outside the hospital such as independent practice midwives or maternity clinics as well as PONED and other primary health facilities. Abstrak. Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit infeksi yang diakibatkan oleh virus SARS COV-2. Penyakit ini menyebar luas dengan sangat cepat dan membawa kekhawatiran tersendiri bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius antara lain persalinan prematur. Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara COVID-19 dengan persalinan prematur. Rancangan penelitian yang digunakan adalah disain Cross Sectional Comparative, data yang digunakan adalah data sekunder dari rekam medik dengan total 196 ibu bersalin dan data diuji dengan uji Chi Square. Di dapatkan wanita hamil COVID-19 positif melahirkan sebanyak 20.41% bayi prematur sedangkan wanita hamil negatif COVID-19 melahirkan sebanyak 12.24% bayi prematur dengan hasil P Value 0,164 (P>0,05). Tidak terdapat hubungan antara COVID-19 dengan persalinan prematur pada wanita hamil di RSUD Al-Ihsan Jawa Barat. Hasil ini didapatkan karena banyak ibu bersalin yang memilih untuk bersalin di luar RS seperti bidan praktik mandiri atau klinik bersalin maupun PONED serta fasilitas Kesehatan primer yang lain.
Pengaruh Kepatuhan Minum Obat Kelasi Besi dengan Kadar Ferritin pada Pasien Thalassemia di RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2021/2022 Raihan Saparizki; Agung Firmansyah Sumantri; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5824

Abstract

Abstract. Thalassemia is a hereditary blood disorder that is commonly found in the world. One of the reasons for the decreased quality of life of patients is the high level of serum ferritin in the body. Ferritin levels can affect various things, one of which is patient compliance with taking iron chelation drugs. This study aims to determine the relationship between the level of compliance with iron chelation drug consumption and serum ferritin levels in thalassemia patients at Al-Ihsan Hospital, Bandung. The sample in this study was 59 patients with thalassemia children to adolescents aged 1 to 18 years. This study used a purposive sampling technique and an analytic observational method with a cross-sectional study design. Adherence level data were measured using the MMAS 8 questionnaire, while data on serum ferritin levels were obtained from the patient's medical record. Data collection was carried out in 2021 – 2022. The results of this study indicate that the majority of thalassemia patients (58%) have a low level of adherence to taking iron chelating drugs and most have serum ferritin levels >2,500 ng/mL (56%). There was a statistically significant relationship between the level of adherence to taking iron-chelating drugs and serum ferritin levels in thalassemia patients at Al-Ihsan Hospital in Bandung (p=0.00). In this study there was a moderate level of compliance with ferritin levels > 2,500 because there were other factors that affected ferritin levels, therefore future researchers are expected to be able to study other factors that affect ferritin levels. Abstrak. Thalasemia merupakan kelainan darah herediter yang banyak ditemukan di dunia. Salah satu alasan menurunnya kualitas hidup pasien ialah tingginya kadar feritin serum pada tubuh. Kadar feritin tersebut dapat dipengaruhi berbagai hal, salah satunya ialah kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat kelasi besi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan konsumsi obat kelasi besi dengan kadar feritin serum pada penderita thalassemia di RSUD Al – Ihsan Bandung. Sampel pada penelitian ini adalah pasien thalassemia anak sampai remaja berusia 1 sampai 18 tahun sebanyak 59 pasien. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan metode analitik observasional dengan design penelitian cross-sectional. Data tingkat kepatuhan diukur dengan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) yang diisi dipandu oleh peneliti, sedangkan data kadar feritin serum didapatkan dari rekam medis pasien. Pengambilan data dilakukan pada tahun 2021 – 2022, Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan langsung, menggunakan uji chi – square, dan dianalisis dengan software SPSS. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mayoritas penderita thalassemia di RSUD Al – Ihsan Bandung (58%) memiliki tingkat kepatuhan rendah dalam konsumsi obat kelasi besi dan sebagian besar memiliki kadar feritin serum >2.500 ng/mL (56%). Terdapat hubungan bermakna secara statistik antara tingkat kepatuhan konsumsi obat kelasi besi dan kadar feritin serum pada penderita talasemia di RSUD Al-Ihsan Bandung (p=0,00). Pada penelitian ini terdapat tingkat kepatuhan sedang dengan kadar feritin >2.500 karena hal tersebut terdapat faktor faktor lain yang mempengaruhi kadar feritin, oleh karena itu peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti faktor faktor lain yang mempengaruhi kadar feritin.
Diabetes Melitus sebagai Komorbiditas Utama terhadap Mortalitas Pasien COVID-19 Zahra Salsabila; Yani Triyani; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6721

Abstract

Abstract. Cases of COVID-19 are rapidly increasing and spreading throughout Indonesia and have an impact on the degree of severity and the number of deaths in the population that are affected by the presence of comorbidities. The purpose of this study was to analyze the relationship between comorbidities and mortality in COVID-19 patients. This study uses analytic methods with a cross-sectional research design. Data were obtained from the medical records of inpatients with confirmed COVID-19 at Al-Islam Hospital Bandung for the 2021 period. The statistical test used a univariate data test by looking at the characteristics of COVID-19 patients based on age, sex, and length of stay and using the Chi test -Square to analyze whether there is a relationship between the independent and dependent variables. The number of respondents in this study was 2,047 people, with the most age being ≥60 years (39.5%), male sex (51.3%), with the highest comorbidity diabetes mellitus (41.9%), followed by hypertension (35.7%) and renal disease (12.4%) which have CFR values of 10.1%, 5.9%, and 5.2% respectively. Patients with comorbid diseases have a decreased immune response and the location of ACE-2 receptors is found not only in the respiratory tract but also in other organs such as the pancreas and kidneys. The conclusion shows that there is a relationship between comorbidities and mortality of COVID-19 patients at Al-Islam Hospital Bandung in 2021 with a p-value <0.001 (p <0.05) Abstrak. Kasus COVID-19 dengan cepat meningkat dan menyebar ke seluruh Indonesia serta berdampak pada derajat keparahan dan jumlah kematian populasi yang dipengaruhi oleh adanya komorbiditas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan komorbiditas dengan mortalitas pasien COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Data diperoleh dari rekam medis pasien rawat inap yang terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Al-Islam Bandung Periode 2021. Uji Statistik menggunakan uji data univariat dengan melihat karakteristik pasien COVID-19 berdasarkan usia, jenis kelamin, dan lama rawat inap serta menggunakan uji Chi-Square untuk menganalisis ada tidaknya hubungan antara variable bebas dan terikat. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 2.047 orang, dengan usia yang paling banyak ≥60 tahun (39,5%), jenis kelamin laki-laki (51,3%), dengan komorbiditas tertinggi diabetes melitus (41,9%), disusul dengan hipertensi (35,7%) dan renal disease (12,4%) yang memiliki nilai CFR berturut-turut 10,1%, 5,9%, dan 5,2%. Pasien dengan penyakit komorbid berada dalam penurunan respon imun serta lokasi reseptor ACE-2 yang ditemukan tidak hanya di saluran respirasi, tetapi juga didapatkan di organ lain seperti pankreas dan ginjal. Kesimpulan menunjukkan terdapat hubungan komorbiditas dengan mortalitas pasien COVID-19 di RS Al-Islam Bandung tahun 2021 dengan nilai p <0.001 (p<0.05)
Hubungan Penyakit Ginjal Kronik dengan Derajat Klinis Covid-19 di Ruang Rawat Inap RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2021 Tasya Sherina; Yuke Andriane; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6710

Abstract

Abstract. Chronic kidney disease can increase the risk of death due to COVID-19 infection. It is caused by changes in the immune system, including persistent systemic inflammation and immunosuppression. Apart from respiratory cells, SARS-Cov-2 also attacks other organs, including the kidney where there are proximal renal tubular epithelial cells, glomerular mesangial cells, and podocytes that express ACE2 receptors on their surface which are the targets of COVID-19. This study uses an observational analytic design through a cross-sectional approach. The sampling technique used simple random sampling which met the inclusion and exclusion criteria, with a total sample of 60 taken from secondary data in the form of inpatient medical records. Bivariate analysis was carried out to analyze the relationship between chronic kidney disease and the clinical degree of COVID-19 using the chi-square test. Univariate data analysis showed that the number of Covid-19 sufferers who experienced chronic kidney disease was 30 people (50.0%), Covid-19 sufferers who did not experience chronic kidney disease were 30 people (50.0%) and the clinical degree of Covid-19 was without symptoms and mild symptoms none (0%), moderate symptoms 37 people (61.7%), severe symptoms 9 people (15.0%) and critical symptoms 14 people (23.3%). The results of bivariate data analysis obtained 0.596 (p> 0.05) so that it can be concluded that there is no relationship between chronic kidney disease and the degree of clinical symptoms in Covid-19 patients at Al Ihsan Hospital in Bandung. Abstrak. Penyakit ginjal kronik dapat meningkatkan risiko kematian karena infeksi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh perubahan sistem kekebalan, termasuk inflamasi sistemik persisten dan terjadi imunosupresi. Selain sel pernapasan, SARS-Cov-2 juga menyerang organ lain, termasuk ginjal yang dimana terdapat sel epitel tubulus ginjal proksimal, sel mesangial glomerulus, dan podosit yang mengekspresikan reseptor ACE2 pada permukaannya yang menjadi target COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional melalui pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan jumlah sampel 60 yang di ambil dari data sekunder berupa rekam medis pasien rawat inap. Analisis bivariat di lakukan untuk menganalisis hubungan penyakit ginjal kronik dengan derajat klinis COVID-19 menggunakan uji chi-square. Analisis data univariat menunjukan jumlah penderita Covid-19 yang mengalami penyakit ginjal kronik sebanyak 30 orang (50.0%), penderita Covid-19 yang tidak mengalami penyakit ginjal kronik sebanyak 30 orang (50.0%) dan derajat klinis Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan tidak ada (0%), gejala sedang 37 orang (61.7%), gejala berat 9 orang (15.0%) dan gejala kritis 14 orang (23.3%). Hasil analisis data bivariat diperoleh 0.596 (p>0,05) sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara penyakit ginjal kronik dengan derajat gejala klinis pada pasien covid-19 di RSUD Al Ihsan Bandung.
Pengaruh Tingkat Stres terhadap Kejadian Emotional Eating pada Mahasiswi Kedokteran Tingkat 1 Unisba Siska Firdayanti; Nuzirwan Acang; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6914

Abstract

Abstract. Stress is a person's reaction both physically and emotionally that can occur due to negative thoughts or feelings about oneself. Negative emotions can cause a response in the form of emotional eating. Emotional eating is a form of coping strategy to deal with stress and anxiety. Based on this phenomenon, the problems in this study are formulated as follows: (1) What is the description of the stress level of Unisba level one medical students? (2) What is the description of the emotional eating behavior of Unisba first year medical faculty students? (3) Is there a relationship between stress and emotional eating behavior in first year students at Unisba? Researchers used the method of observational analysis with a cross sectional approach. The population selected in this study were first-level medical students at Unisba, totaling 172 female students. With the sampling technique, namely simple random sampling, the number of research samples was obtained as many as 90 female students. Data collection techniques used in this study were questionnaires. The data collection technique used in this study was a questionnaire. The data analysis technique was carried out using univariate and bivariate methods with the Chi-Square test. The results of this study are: There is no relationship between stress and emotional eating in level 1 female students at Unisba. Abstrak. Stres adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional yang dapat terjadi karena pikiran atau perasaan negatif tentang diri sendiri. Emosi negatif dapat menimbulkan respon berupa emotional eating. Emotional eating merupakan bentuk coping strategy untuk mengatasi stres dan kecemasan. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana gambaran tingkat stres mahasiswi fakultas kedokteran tingkat satu Unisba? (2) Bagaimana gambaran perilaku emotional eating mahasiswi fakultas kedokteran tingkat satu Unisba? (3) Apakah terdapat hubungan antara stres dan perilaku emotional eating pada mahasiswi tingkat satu Unisba?. Peneliti menggunakan metode analisis observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah mahasiswi fakultas kedokteran tingkat satu Unisba yang berjumlah 172 mahasiswi. Dengan teknik pengambilan sample yaitu simple random sampling diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 90 mahasiswi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Adapun teknik analisis data dilakukan dengan cara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil dari penelitian ini adalah: Tidak terdapat hubungan antara stres dengan emotional eating pada mahasiswi tingkat 1 Unisba.
Hubungan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Berdasarkan 6 Minute Walk Test M. Azhari Hakim; Rizky Suganda Prawiradilaga; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.11254

Abstract

Abstract. Physical fitness is a person's ability to carry out their daily activities efficiently without producing significant fatigue. Physical fitness is important for medical students to carry out their daily activities that have a busy schedule. This study aims to determine the relationship between nutritional status with fitness level. This study used observational analytic quantitative research with a cross-sectional design. The subjects in this study were active students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung in the academic year 2022-2023 as many as 87 people aged 20 to 29 years. Nutritional status data were obtained from anthropometric measurements in the form of body mass indeks and measuring fitness levels using the six minute walk test. Statistical tests used the Spearman correlation test. The results showed that there was a statistically significant relationship between body mass index and fitness level (p=0.013). This result may be due to many other factors that can affect fitness levels such as adequate rest, smoking status, health status, and so on. Abstrak. Kebugaran jasmani ialah kemampuan seseorang dalam melaksanakan aktivitas hariannya dengan efisien tanpa menghasilkan kelelahan yang berarti. Kebugaran jasmani penting bagi mahasiswa kedokteran untuk menjalankan aktivitas hariannya yang memiliki jadwal yang padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan tingkat kebugaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Subjek pada penelitian ini mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2022-2023 sebanyak 87 orang berusia 20 sampai 29 tahun. Data status gizi diperoleh dari pengukuran antropometri berupa indeks massa tubuh dan pengukuran tingkat kebugaran menggunakan six minute walk test. Uji statistik menggunakan uji spearman correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara indeks massa tubuh dengan tingkat kebugaran (p=0.013). Hasil ini dapat disebabkan karena banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran seperti kecukupan istirahat, status merokok, status kesehatan, dan sebagainya.
Gangguan Kognitif sebagai Efek Samping Penggunaan Steroid Anabolik Androgenik Athar Fathur Rafi; Sadiah Achmad; Lelly Yuniarti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.11993

Abstract

Abstract. Adolescent and adult men are relatively satisfied with a muscular body shape. Efforts to increase muscle mass are the main strategy for achieving your dream body shape. One method used to increase muscle mass is using anabolic-androgenic steroids. However, androgenic anabolic steroids have side effects that can harm several body organs. This study aimed to explore and analyze the side effects of using anabolic-androgenic steroids as a supplement to increase muscle mass in adult men. This research is a systematic review to identify and analyze articles using ScienceDirect, PubMed, and Taylor and Francis, Proquest, and SpringerLink database sources. The eligibility criteria used are Population (adult men who use anabolic-androgenic steroids or their derivatives), Exposure (anabolic-androgenic steroids or their derivatives), Comparison (individuals who do not use anabolic-androgenic steroids or their derivatives), Outcome (side effects related to use anabolic-androgenic steroids or their derivatives), Study (cohort, case-control, cross-sectional study). Critical review was carried out using JBI critical appraisal, the PRISMA diagram method was used in this research and resulted in sixteen articles that met the inclusion and eligibility criteria. From 5 databases, 1,153 articles were obtained that met the inclusion criteria, and 16 articles were produced that met the eligibility criteria. Based on the results of the analysis of sixteen articles, thirteen articles were found which stated that supplementation with androgenic anabolic steroids had significant side effects on several body organs in adult men, while three other studies concluded that there were no significant differences or side effects. Based on the results of the analysis and discussion of the descriptions of the research articles reviewed, it can be concluded that the use of androgenic anabolic steroids has side effects on various organs in adult men such as organs in the nervous system, heart, kidneys, reproductive organs and periodontal. Abstrak. Pria remaja dan dewasa relatif memiliki kepuasaan terhadap bentuk tubuh yang berotot. Upaya meningkatkan masa otot merupakan strategi utama untuk memperoleh bentuk tubuh idaman. Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan masa otot adalah menggunakan steroid anabolik-androgenik. Namun, steroid anabolik androgenik memiliki efek samping yang dapat membahayakan beberapa organ tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisis efek samping penggunaan steroid anabolik-androgenik sebagai suplementasi penambah masa otot pada laki-laki dewasa. Penelitian ini merupakan systematic review untuk mengidentifikasi dan menganalisis artikel melalui sumber database ScienceDirect, PubMed, dan Taylor and Francis,Proquest, dan Springerlink. Kriteria kelayakan yang digunakan yaitu Populasi (pria dewasa pengguna steroid anabolik-androgenik atau turunannya), Exposure (steroid anabolik-androgenik atau turunannya), Comparison (individu yang tidak menggunakan steroid anabolik-androgenik atau turunannya), Outcome (efek samping yang berhubungan dengan penggunaan steroid anabolik-androgenik atau turunannya), Study (cohort, case-control, cross-sectional study). Telaah kritis dilakukan dengan menggunakan JBI critical appraisal, Metode diagram PRISMA digunakan dalam penelitian ini dan menghasilkan enam belas artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan kelayakan. Dari 5 database didapatkan 1.153 artikel sesuai dengan kriteria inklusi, dan dihasilkan 16 artikel yang memenuhi kriteria kelayakan. Berdasarkan hasil analisis dari enam belas artikel, didapatkan tiga belas artikel yang menyebutkan pemberian suplementasi steroid anabolik androgenik memiliki efek samping signifikan terhadap beberapa organ tubuh pada laki-laki dewasa, sedangkan tiga penelitian lainnya menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan atau efek samping yang signifikan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari uraian artikel penelitian yang di-review, dapat disimpulkan bahwa penggunaan steroid anabolik androgenik memiliki efek samping terhadap berbagai macam organ pada pria dewasa seperti organ pada sistem saraf, jantung, ginjal, organ reproduksi, dan periodontal.
Analisis Penyalahgunaan Zat sebagai Faktor Risiko Kejadian Gangguan Bipolar pada Orang Dewasa Nadiya Amalia; Lelly Yuniarti; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12024

Abstract

Abstract. Bipolar disorder is an emotional disorder with recurrent episodes of mood swings and depression, followed by changes in activity or energy and associated with characteristic cognitive, physical, and behavioral symptoms. Age, genetics, psychology, environment, and substance and alcohol abuse are risk factors for bipolar disorder. This study aimed to explore and analyze articles regarding substance abuse as a risk factor for bipolar disorder in adults. This research uses the Systematic Review method to identify and analyze articles regarding substance abuse as a risk factor for bipolar disorder in adults. The databases used were Pubmed, SpringerLink, ScienceDirect and Taylor and Francis, the PRISMA diagram method was used in this research. The PICOS suitability used in this study is Population (adults), Exposure (substance abuse (alcohol, cannabis, nicotine)), Comparison (control group or group that does not abuse substances), Outcome (incidence of bipolar disorder, manic episodes, depressive episodes, or mixed episode), Study (observational (cohort, case-control, or cross-sectional)), and critical review were carried out using the JBI checklist. From 5 databases, 5,493 articles were obtained that met the inclusion criteria and after conducting a feasibility test, 5 articles were suitable. Based on the results of the analysis, 4 articles state that substance abuse is a risk factor for bipolar disorder in adults. Marijuana and alcohol abuse are the substances that are most often risk factors for bipolar disorder in adults, and marijuana abuse carries a higher risk of developing bipolar disorder than abuse of other substances. Substance abuse influences the age at which manic, depressive and psychotic symptoms first appear. Abstrak. Gangguan bipolar adalah gangguan emosi dengan episode berulang pada perubahan suasana hati dan depresi, yang diikuti dengan adanya perubahan aktivitas atau energi dan berhubungan dengan karakteristik gejala kognitif, fisik, dan perilaku. Usia, genetik, psikologis, lingkungan, penyalahgunaan zat dan alkohol merupakan faktor risiko terjadinya gangguan bipolar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisis artikel mengenai penyalahgunaan zat sebagai faktor risiko gangguan bipolar pada orang dewasa. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Review untuk mengidentifikasi dan menganalisis artikel mengenai penyalahgunaan zat sebagai faktor risiko kejadian gangguan bipolar pada orang dewasa. Database yang digunakan Pubmed, SpringerLink, ScienceDirect dan Taylor and Francis, metode diagram PRISMA digunakan dalam penelitian ini. Kesesuaian PICOS yang digunakan pada penelitian ini adalah Population (orang dewasa), Exposure (penyalahgunaan zat (alcohol, cannabis, nicotine)), Comparison (kelompok kontrol atau kelompok yang tidak menyalahgunakan zat), Outcome (kejadian bipolar disorder, manic episode, depressive episode, atau mixed episode), Study (observational (cohort, case-control, atau cross-sectional)), dan telaah kritis dilakukan menggunakan checklist JBI. Dari 5 database didapatkan 5.493 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan setelah dilakukan uji kelayakan terdapat 5 artikel yang sesuai. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 4 artikel yang menyatakan bahwa penyalahgunaan zat merupakan faktor risiko kejadian gangguan bipolar pada orang dewasa. Penyalahgunaan ganja dan alkohol merupakan zat yang paling sering menjadi faktor risiko terjadinya gangguan bipolar pada orang dewasa, dan penyalahgunaan ganja beresiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi gangguan bipolar dibanding dengan penyalahgunaan zat lain. Penyalahgunaan zat memengaruhi usia pertama kali timbulnya gejala manik, depresif dan psikosis yang timbul.