Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PENGARUH JENIS DESINFEKTAN TERHADAP INFEKSI CENDAWAN PADA BENIH JAGUNG (Zea mays) PEMASUKAN DARI BEBERAPA DAERAH Fatimah Nabila Zahra; Arika Purnawati; Herry Nirwanto
Agrienvi: Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 16 No. 1 (2022): Agrienvi : Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Agrienvi: Jurnal Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung (Zea mays) merupakan salah satu bahan pangan penting di Indonesia karena merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras, sebagai bahan baku industri dan pakan ternak sehingga penting untuk menjaga kualitas benih utamanya terhadap keberadaan cendawan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis desinfektan terhadap infeksi cendawan patogen terbawa benih jagung. Deteksi cendawan patogen pada benih jagung dilakukan menggunakan metode standar pengujian kesehatan benih International Seed Testing Association (ISTA 1996) yaitu metode blotter test. Sterilisasi permukaan dilakukan menggunakan 3 desinfektan yaitu sodium hipoklorit (NaOCl) 1% (10 menit), alkohol 70% (10 menit), dan campuran sodium hipoklorit (NaOCl) 1% dengan alkohol 70% (10 menit). Metode penelitian adalah melakukan pembandingan efektivitas penggunaan desinfektan, dan setiap sampel menggunakan ±200 butir benih. Pengamatan dilakukan terhadap homogenitas jumlah benih terinfeksi dan indeks keragaman cendawan. Hasil menunjukkan bahwa semua perlakuan desinfektan menekan infeksi cendawan patogen pada benih jagung yaitu masing-masing NaOCl 1% sebesar 84%, alkohol 70% sebesar 64%, campuran NaOCl 1% dengan alkohol 70% sebesar 61%, indeks keragaman cendawan yaitu masing-masing NaOCl 1% (1,15 temasuk sedang), alkohol 70% (0,62 termasuk rendah), campuran NaOCl 1% dengan alkohol 70% (0,55 termasuk rendah).
Effectiveness of Lettuce Seed Encapsulation Containing Trichoderma Sp. in Control of Damping-off Disease Sarah Hikmah Marieska; Sri Wiyatiningsih; Herry Nirwanto
Journal of Applied Agricultural Science and Technology Vol. 6 No. 2 (2022): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.682 KB) | DOI: 10.55043/jaast.v6i2.66

Abstract

Utilization of the antagonist fungus Trichoderma sp. in suppressing damping-off disease caused by Rhizoctonia solani can be done in various ways. One of them is through coating the seeds or encapsulation. This study aims to determine the effectiveness of lettuce seeds encapsulation containing Trichoderma sp. in suppressing damping-off disease through storage time of up to 12 weeks. The results showed that the use of talc and kaolin as a material carrier in encapsulation with 1 week of storage had the highest germination rate of 96%, while the lowest germination was at 12 weeks of storage, which was only 0-5%. The use of talc carrier showed a low percentage of infected seedlings, starting from storage time of 0 to 8 weeks. At 8 weeks of storage, the provision of carrier material in the form of talc showed the lowest percentage of infected seedlings, which was 40% on the last day of observation and had the highest value of effectiveness in controlling Rhizoctonia solani damping-off disease, which was 60%. Thus, seed encapsulation using a talc carrier was the most effective in suppressing damping-off disease up to 8 weeks of storage
VIABILITAS TRICHODERMA SP. PADA ENKAPSULASI BENIH SELADA DALAM BEBERAPA MASA PENYIMPANAN Sarah Hikmah Marieska; Sri Wiyatiningsih; Herry Nirwanto
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 7, No 3 (2022): JURNAL AGROHITA
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v7i3.7012

Abstract

Trichoderma sp. diketahui memiliki spektrum pengendalian yang luas, serta memiliki sifat antagonistik yang kuat dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen. Enkapsulasi benih merupakan teknik pelapisan benih yang dapat diterapkan untuk spora jamur dan sel bakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bahan pembawa yang paling baik dalam meningkatkan kemampuan antagonis jamur Trichoderma sp. melalui beberapa masa penyimpanan. Hasil pengujian in vitro berdasarkan pengukuran diameter koloni menunjukkan bahwa Trichoderma sp. pada semua perlakuan enkapsulasi yang diujikan rata-rata memiliki viabilitas yang tinggi. Berdasarkan pengamatan jumlah spora, terdapat pengaruh yang berbeda nyata pada tiap perlakuan. Kerapatan spora tertinggi terdapat pada perlakuan bahan pembawa biochar dengan penyimpanan 4 minggu dan 8 minggu. Sementara kerapatan spora terkecil terdapat pada perlakuan bahan pembawa kaolin dengan lama penyimpanan 12 dan bahan pembawa talc dengan lama penyimpana 0 minggu. Dengan demikian, penggunaan bahan pembawa biochar mampu menambah viabilitas Trichoderma sp. hingga waktu penyimpanan 8 minggu.
Selection and Formulation of Endophytic Bacteria as Plant Resistance Elicitor against Wilt Disease of Tomato Arika Purnawati; Wiwik Harjani; Herry Nirwanto
Agrotechnology Research Journal Vol 3, No 2 (2019): Agrotechnology Research Journal
Publisher : Perkumpulan Agroteknologi/Agroekoteknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.264 KB) | DOI: 10.20961/agrotechresj.v3i2.33866

Abstract

Wilt disease of Solanaceae caused by Ralstonia solanacearum reduce the crop quality and negatively affect the crop product. The objective of this research was to discover of endophytic bacteria formulation that effectively decreases bacterial which cause wilt disease on Solanaceae. The research consisted of purification of Ralstonia solanacearum, endophytic bacteria were obtained from the sample and the screening of endophytic bacteria using this following assay: antagonist assay, seedling assay and in planta assay. The results showed that in antagonist assay, the bacterial isolate code PS1, PS2, and PS8 could inhibit growth of R. solanacearum. From the seedling assay, it obtained that all of the isolates increased of percentage of germination, seed coating and powder formulation can decrease disease incidence of bacterial wilt disease.
Deteksi Pola Sebaran Penyakit Virus Kuning pada Tanaman Cabai Rawit Berbasis Analisis Geostatistika Nabila Alysia Multazam; Herry Nirwanto; Sri Wiyatiningsih
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1202

Abstract

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan dapat mempengaruhi inflasi di Indonesia. Virus kuning merupakan penyakit yang sering menyerang tanaman cabai rawit, mengakibatkan daun tanaman menguning, keriting dan, berukuran kecil serta bunganya bunganya rontok. Penelitian ini bertujuan untuk  mendeteksi dan mengetahui pola sebaran penyakit virus kuning menggunakan analisis geostatistika. Penelitian ini menggunakan data analisis deskriptif dan diolah menggunakan program Excel 2010 dan software SGEMS. Hasil penelitian analisis geospasial menunjukkan terdapat adanya pola sebaran penyakit dan hasil interpolasi menggunakan metode Kriging Kriging yang menunjukkan adanya foki berwarna kuning hingga merah yang menandakan insidensi penyakit dengan nilai tertinggi terlihat cukup luas atau menyebar sehingga sebaran penyakit virus kuning semakin heterogen pada lokasi tertentu.
MODEL PERKEMBANGAN PENYAKIT BULAI PADA BERBAGAI VARIETAS DI KABUPATEN MOJOKERTO Khansa Amara; Herry Nirwanto; Wiwik Sri Harijani; Latief Imanadi
Plumula : Berkala Ilmiah Agroteknologi Vol. 8 No. 1 (2020): Plumula : Berkala Ilmiah Agroteknologi
Publisher : Agrotechnology Study Program, UPN "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jamur Peronosclerospora spp. penyebab bulai merupakan salah satu kendala dalam kegiatan budidaya tanaman jagung di Indonesia. Kerusakan yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora spp. dapat mencapai 90-100% terutama pada varietas rentan. Kondisi lingkungan abiotik seperti suhu rendah dan kelembaban tinggi disertai adanya lapisan air pada permukaan daun dapat meningkatkan keterjadian penyakit. Teknik pengelolaan penyakit masih didominasi dengan aplikasi fungisida sintetis yang memiliki beberapa dampak negatif, seperti mematikan organisme non target, meningkatkan resistensi patogen serta pencemaran lingkungan. Akan tetapi, dampak tersebut dapat diminimalisir melalui kegiatan monitoring yang berperan sebagai kunci utama program pengelolaan penyakit terpadu. Kegiatan monitoring memudahkan proses analisis epidemiologi melalui pendekatan model matematika sehingga dapat diketahui pola perkembangan penyakit tanaman dan laju infeksinya sebagai dasar dalam menyusun strategi pengelolaan penyakit. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai model perkembangan penyakit bulai berdasarkan perbedaan varietas tanaman jagung dalam rangka mengevaluasi ketahanan tanaman jagung di Kabupaten Mojokerto. Hasil penelitian menunjukkan model yang mampu mewakili perkembangan penyakit bulai di Mojokerto adalah monit. Laju infeksi tertinggi dimiliki pada lahan yang menggunakan varietas P35 daripada lahan lain yang menggunakan varietas NK 6172.
MODEL PERKEMBANGAN PENYAKIT BULAI DENGAN VARIABEL BUDIDAYA DI KECAMATAN PURI KABUPATEN MOJOKERTO Nindias O. Wulandari; Herry Nirwanto; Wiwik Sri Harijani; Latief Imanadi
Plumula : Berkala Ilmiah Agroteknologi Vol. 8 No. 1 (2020): Plumula : Berkala Ilmiah Agroteknologi
Publisher : Agrotechnology Study Program, UPN "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung di Indonesia. Dilaporkan bahwa kehilangan hasil akibat penyakit bulai berkisar antara 50%-80% di beberapa wilayah sentra produksi jagung. Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit bulai yaitu dengan melakukan pengolahan tanah, pergiliran tanaman, tumpangsari, penggunaan varietas tahan, tanam tepat waktu, sanitasi sisa tanaman jagung dan serealia, pengunaan fungisida, dan pengairan berpengaruh terhadap perkembangan penyakit bulai. Oleh karena itu usaha untuk mengetahui pengendalian penyakit bulai yang paling efektif perlu dilakukan penelitian yang lebih banyak, salah satunya yaitu dengan melihat model perkembangan penyakit bulai berdasarkan variabel budidaya yang berbeda yang bertujuan untuk mengetahui variabel yang berperan dalam tinggi rendahnya insidensi penyakit bulai pada tanaman jagung di Mojokerto. Hasil penelitian menujukkan bahwa model yang mampu mewakili perkembangan penyakit bulai di Mojokerto adalah model monomolekular. Insidensi penyakit yang menggunakan varietas P35, NK 7328, NK 6172, NK 212 menunjukkan kategori serangan ringan dan pada varietas Bisi 18 kategori serangan sedang. Pengolahan tanah merupakan variabel budidaya yang berpengaruh terhadap rendahnya insidensi dan laju infeksi penyakit bulai di Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.
POTENSI BAKTERI Bacillus spp. DALAM MENGHAMBAT Colletotrichum capsici PENYEBAB ANTRAKNOSA PADA CABAI MERAH SECARA IN VITRO Sasiska Rani; Endang Triwahyu Prasetyawati; Herry Nirwanto
Plumula : Berkala Ilmiah Agroteknologi Vol. 10 No. 1 (2022): Plumula : Berkala Ilmiah Agroteknologi
Publisher : Agrotechnology Study Program, UPN "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Colletotrichum capsici merupakan jamur patogen penting penyebab penyakit antraknosa pada cabai merah. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan ini yaitu dengan penggunaan agens hayati bakteri Bacillus spp.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi lima isolat bakteri Bacillus spp. yaitu Ba-6, Ba-9, Ba-12, Ba-15, dan Ba-17 dalam menghambat patogen C. capsici Penelitian laboratorium dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 ulangan. Pengujian in vitro dilakukan dengan teknik dual culture pada media PDA dan detach fruit test pada buah cabai.Hasil penelitian menunjukkan efektifitas perhambatan C. capsici paling baik pada pengujian in vitro media PDA yaitu Bacillus sp. isolat Ba-9 dengan penghambatan sebesar 23,04%. Selanjutnya dalam uji detach fruit, Bacillus sp. isolat Ba-9 mampu menekan pertumbuhan C. capsici sebesar 21,25% dibandingkan kontrol.
POLA DISTRIBUSI PENYAKIT KRESEK PADA PERTANAMAN PADI DI LAHAN DENGAN TINGKAT KEASAMAN BERBEDA BERBASIS CITRA FOTO UDARA Maria Rodhya Alfa; Herry Nirwanto; Arika Purnawati
Plumula : Berkala Ilmiah Agroteknologi Vol. 10 No. 2 (2022): Plumula : Berkala Ilmiah Agroteknologi
Publisher : Agrotechnology Study Program, UPN "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman pangan paling penting di dunia setelah jagung dan gandum. Produksi padi mengalami penurunan dikarenakan salah faktor pembatasnya yaitu hawar daun bakteri (HDB) / kresek. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh derajat keasaman/kebasaan(pH) tanah pada pola sebaran penyakit kresek dan pada lahan pertanaman padi di Sidoarjo melalui pengamatan langsung pada tanaman dan pengamatan melalui foto udara. Penelitian dilakukan dengan mengamati pertanaman padi yang terserang penyakit bakteri pada lahan seluas 800 m2. Pengamatan langsung dilakukan untuk mendapatkan insidensi penyakit dan faktor edafik nilai pH genangan air. Pengamatan melalui foto udara dilakukan untuk memperoleh citra digital lahan padi yang berpenyakit kresek. Data insidensi penyakit diolah secara deskriptif, data nilai pH dibandingkan dengan data pola sebaran, sedangkan citra digital diolah menggunakan metode RGB dengan aplikasi MATLAB R2018a. Pola sebaran penyakit kresek berdasarkan pengamatan langsung di darat dan melalui foto udara adalah mengelompok pada minggu 1 dan 2, lalu acak pada minggu 4 hingga 6. Minggu 3 terdeteksi acak pada pengamatan langsung namun terdeteksi mengelompok pada pengamatan melalui foto udara. Pengamatan melalui foto udara dinilai lebih tinggi validitasnya daripada pengamatan langsung di darat. Pola sebaran penyakit bakteri pada lahan padi tidak dipengaruhi nilai pH.
Pemetaan Serangan Hama Penggerek Pucuk Tebu dengan Geostatistika Putra, Dandi Rahmansyah; Nirwanto, Hery; Ramadhini, Noni
Biofarm : Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 20, No 1 (2024): BIOFARM JURNAL ILMIAH PERTANIAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/biofarm.v20i1.4509

Abstract

Produktivitas tanaman tebu (Saccharum officinarum) dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah serangan hama penggerek pucuk yang disebabkan oleh (Scirpophaga excerptalis). Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya untuk menekan kerusakan tanaman melalui Pengendalian Hama Tanaman Terpadu sehingga membutuhkan informasi monitoring yang tepat. Pemetaan menggunakan Geostatistika pada beberapa tahun terakhir mendukung peningkatan akurasi dan efisiensi monitoring melalui aerial monitoring pada bidang pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemetaan Geostatistika dalam mendeteksi gejala beserta pola serangan hama penggerep pucuk pada tanaman tebu melalui analisis ground monitoring lalu dipetakan, Penelitian ini dilaksanakan di kebun pertanaman tebu rakyat di Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Indonesia pada bulan Februari hingga Maret 2023. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode survey sesuai sasaran hama dengan menggunakan dua jenis pengamatan yaitu pengamatan secara konvensional (ground monitoring). Berdasarkan analisis data dengan membandingkan pemetaan dilapang dengan hasil pemetaan digital yang diolah dengan pendekatan geostatistik, didapatkan bahwa pemetaan secara geostatistik berpotensi untuk mendeteksi gejala dan pola sebaran hama penggerek pucuk. Hasil pengamatan selama 6 minggu menunjukkan pola sebaran terjadi secara mengelompok dibagian barat laut serta bagian timur.Kata kunci: geostatistika, kriging, penggerek pucuk,tebu,variogram