Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

DISCOURSE, POWER, AND IDENTITY: A FOUCAULDIAN READING OF MUHAMMADIYAH'S NARRATIVE AND PRACTICE: WACANA, KEKUASAAN, DAN IDENTITAS: PEMBACAAN FOUCAULDIAN ATAS NARASI DAN PRAKTIK MUHAMMADIYAH Tobroni; Damanik, Fritz Hotman Syahmahita; Sari, Afna Fitria; Saputro, Darmanto; Basri, La
SOSIOEDUKASI Vol 14 No 4 (2025): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v14i4.6365

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengungkap bagaimana Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern di Indonesia membentuk dan mempertahankan identitas keagamaannya melalui wacana yang diproduksi secara institusional, serta bagaimana mekanisme kekuasaan beroperasi dalam proses konstruksi identitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis dengan kerangka teoretis Michel Foucault, khususnya konsep arkeologi dan genealogi wacana, guna menelaah dokumen-dokumen resmi, pernyataan kebijakan, dan narasi publik yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah periode 2000-2020. Hasil analisis menunjukkan bahwa Muhammadiyah berhasil mengartikulasikan wacana keagamaan progresif yang mendukung demokrasi dan masyarakat sipil, sehingga mewujud kekuatan pendorong bagi perubahan sosial konstruktif. Salah satu wacana terpenting adalah “Islam Berkemajuan”, sebuah narasi yang memungkinkan Muhammadiyah melakukan penyesuaian terhadap modernitas sambil tetap mempertahankan prinsip-prinsip Islam yang fundamental. Secara spesifik, Muhammadiyah tampak mahir melakukan subjektivasi anggotanya agar mempunyai kesadaran kritis terhadap isu-isu sosial, sembari menciptakan ruang bagi partisipasi aktif dalam ranah publik melalui artikulasi narasi keagamaan nan transformatif.
MERARIQ TRADITION: NEGOTIATION COMMUNICATION OBTAINING A WALI NIKAH IN NORTH LOMBOK Tamrin, Andi; Ridho, Ali; Sari, Afna Fitria; Ilaihi, Wahyu
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3102

Abstract

Abstract: Merariq tradition is a sacred tradition to obtain a wali nikah in marriage for the people of Genggelang, North Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesian. In the process, it contains complicated negotiation communication between the two families of the prospective bride and groom. This research uses negotiation communication theory and the method applied is qualitative with a phenomenological approach. Data were obtained from interviews, observations, documentation and books and journals of national and international repute.  The formulation of the problems in this study are (1) why the Genggelang community conducts negotiation communication in the Merariq tradition; (2) how negotiation communication is carried out by the two families of the prospective bride to get a wali nikah. The result of the research is that in the implementation of the merariq tradition, a negotiation communication model is applied between the two families of the prospective bride and groom with the type of principled negotiation. Thus, the bargaining position of the two families of the bride and groom emphasizes the basis of kinship and togetherness. The use of integrative and distributive strategies to produce an agreement. Submission of ajikrama and pisuka as a sign that the bride and groom are getting married. However, the impact of compulsive negotiation communication causes ongoing conflict between the two families, this is contrary to the values of Islamic preaching. Keywords: Merariq, Tradition, Negotiation, CommunicationAbstrak: Tradisi Merariq adalah tradisi sakral untuk mendapatkan wali nikah dalam pernikahan bagi masyarakat Genggelang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Dalam prosesnya, terdapat komunikasi negosiasi yang rumit antara kedua keluarga calon mempelai. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi negosiasi dan metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dokumentasi dan buku-buku serta jurnal bereputasi nasional dan internasional.  Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) mengapa masyarakat Genggelang melakukan komunikasi negosiasi dalam tradisi Merariq; (2) bagaimana komunikasi negosiasi yang dilakukan oleh kedua keluarga calon mempelai untuk mendapatkan wali nikah. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa dalam pelaksanaan tradisi merariq diterapkan model komunikasi negosiasi antara kedua keluarga calon mempelai dengan jenis negosiasi berprinsip. Dengan demikian, posisi tawar kedua keluarga calon mempelai lebih mengedepankan asas kekeluargaan dan kebersamaan. Penggunaan strategi integratif dan distributif untuk menghasilkan kesepakatan. Penyerahan ajikrama dan pisuka sebagai tanda bahwa kedua mempelai akan menikah. Namun, dampak dari komunikasi negosiasi yang bersifat kompulsif menyebabkan konflik yang berkelanjutan antara kedua keluarga, hal ini bertentangan dengan nilai-nilai dakwah Islam.Kata Kunci : Merariq, Tradisi, Negosisasi, Komunikasi
Analisis Bentuk dan Strategi Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak dalam Perspektif Sosiologi Sari, Afna Fitria; Sukmana, Oman
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 9 No. 6 (2025): In Progress
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v9i6.7131

Abstract

Kekerasan terhadap anak masih saja terus terjadi, baik itu diruang publik ataupun privat. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan memaparkan bentuk kekerasan terhadap anak dan strategi yang melibatkan peran orang sekitar untuk mencegah atau menekan angka kekerasan terhadap anak. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian jenis Studi Pustaka melalui Pendekatan kualitatif. Analisa dari perspektif Sosiologi, kekerasan terhadap anak merupakan interaksi sosial yang salah dari pelaku. Berdasarkan Undang-Undang perlindungan anak, perlu adanya fungsi sosial dari Keluarga, Masyarakat, Pemerintah dan Lembaga terkait yang lebih tegas dalam membantu dan melindungi agar tidak terjadi tindakan kekerasan atau dapat memberikan perlindungan terhadap anak korban kekerasan. Seperti pemberdayaan yang memberikan Edukasi kepada masyarakat mengenai bentuk kekerasan terhadap anak yang mampu menembus semua lapisan masyarakat untuk dapat ikut andil sebagai strategi mengurangi tingkat kekerasan terhadap anak.