Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

THE EFFECT OF SOCIAL SUPPORT ON THE PSYCHOLOGICAL WELL-BEING OF ADOLESCENTS IN ORPHANAGES Yuli Rahmawati; Nanik Kholifah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11391

Abstract

ABSTRACT Adolescents living in orphanages often experience limited parental affection, low emotional support, and difficulties in adapting to institutional caregiving environments, which may negatively affect their psychological well-being. This study aimed to examine the effect of social support on the psychological well-being of adolescents residing in orphanages. A quantitative correlational design was employed involving 120 adolescents aged 13–18 years as participants. Data were collected using validated and reliable scales measuring social support and psychological well-being. The data were analyzed using simple linear regression. The results indicated a significant positive relationship between social support and psychological well-being (r = 0.344; p = 0.000). Furthermore, social support contributed 11.8% to psychological well-being (R² = 0.118). These findings suggest that higher levels of social support are associated with better psychological well-being among adolescents in orphanages. Therefore, social support plays an important role in enhancing adolescents’ psychological well-being, highlighting the importance of fostering supportive social environments in orphanage settings. ABSTRAK Remaja yang tinggal di panti asuhan sering menghadapi keterbatasan kasih sayang orang tua, dukungan emosional yang kurang, serta tantangan dalam beradaptasi dengan lingkungan pengasuhan institusional. Kondisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis mereka, seperti munculnya perasaan kesepian, rasa tidak aman, rendahnya harga diri, serta kesulitan dalam menghadapi stres kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis remaja yang tinggal di panti asuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 120 remaja berusia 13–18 tahun yang dipilih sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan menggunakan skala dukungan sosial dan skala kesejahteraan psikologis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis (r = 0,344; p = 0,000). Selain itu, dukungan sosial memberikan kontribusi sebesar 11,8% terhadap kesejahteraan psikologis (R² = 0,118). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima remaja, maka semakin baik pula kesejahteraan psikologis mereka. Dengan demikian, dukungan sosial merupakan faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja di panti asuhan, sehingga lingkungan sosial yang suportif perlu terus dioptimalkan.
EKSPLORASI STRATEGI REGULASI EMOSI REMAJA MUSLIM MELALUI AKTIVITAS KEAGAMAAN DI MUSLIMEEN SUKSA SCHOOL: Pendidikan berlatar keagamaan Nokia Aisy; Nanik Kholifah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11627

Abstract

ABSTRACT Adolescents aged 13–16 years are in a complex developmental phase characterized by biological, cognitive, and social changes that often lead to academic and social pressures, particularly in religion-based educational environments that integrate academic demands with religious activities. This study aims to understand adolescents’ subjective experiences in regulating emotions when facing academic and social pressures in a religion-based educational institution. The study employed a qualitative descriptive approach using observation, in-depth interviews, and documentation techniques involving adolescents at Muslimmeen Suksa School, Southern Thailand. The data were analyzed using thematic analysis to identify emotional experiences and emotion regulation strategies used by students. The findings revealed that formal and nonformal religious activities, such as religious learning, Qur’an memorization, and routine worship, played an important role in reducing stress, improving self-control, and fostering emotional calmness among adolescents. The emotion regulation that developed was integrative in nature through the combination of spiritual strategies and nonreligious personal coping strategies. This study concludes that the integration of academic and religious education plays an important role in supporting the emotional balance of Muslim adolescents and can serve as a basis for developing educational and emotional assistance programs in integrated educational environments. ABSTRAK Remaja usia 13–16 tahun berada pada fase perkembangan yang kompleks dengan berbagai perubahan biologis, kognitif, dan sosial yang sering kali memunculkan tekanan akademik maupun sosial, terutama dalam lingkungan pendidikan berbasis agama yang memadukan tuntutan akademik dan aktivitas keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman subjektif remaja dalam meregulasi emosi ketika menghadapi tekanan akademik dan sosial di lembaga pendidikan berbasis agama. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap remaja di Muslimmeen Suksa School, Thailand Selatan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pengalaman emosional dan strategi regulasi emosi yang digunakan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan formal dan nonformal, seperti pembelajaran agama, hafalan Al-Qur’an, dan ibadah rutin, berperan dalam membantu remaja mengurangi stres, meningkatkan kontrol diri, serta menciptakan ketenangan emosional. Regulasi emosi yang berkembang bersifat integratif melalui perpaduan strategi spiritual dan coping personal nonreligius. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi pendidikan akademik dan keagamaan memiliki peran penting dalam mendukung keseimbangan emosi remaja Muslim serta dapat menjadi dasar pengembangan program pendidikan dan pendampingan emosional di lingkungan pendidikan terpadu.