Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

POLA RELASI GENDER DI KALANGAN PEKERJA MIGRAN INDONESIA: STUDI KASUS KELUARGA PEKERJA MADURA DI MALAYSIA Bahdatul Nur Laili; Holid, Muhammad; Wahono Suryo Alam, Dody
ASA Vol 6 No 2 (2024): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58293/asa.v6i2.109

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang relasi gender dalam konteks keluarga di mana istri memiliki peran ganda sebagai pekerja dan ibu rumah tangga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mendalami dinamika hubungan suami istri dalam kondisi tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap tiga pasangan suami istri yang bekerja di Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal memainkan peran sentral dalam menjaga keharmonisan rumah tangga di tengah peran ganda istri. Pasangan suami istri menunjukkan kemampuan untuk saling mendukung dan berkolaborasi dalam menghadapi tantangan, seperti keterbatasan waktu bersama akibat jadwal kerja yang berbeda. Kesetaraan gender tercermin dalam bagaimana pasangan menghargai dan mendukung peran masing-masing, tanpa terpengaruh oleh pendapatan atau karier istri yang lebih baik. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan dalam dunia kerja dan pengakuan terhadap peran ganda istri dalam keluarga adalah aspek penting dalam mencapai kesetaraan gender. Implikasi dari penelitian ini juga merangsang pemikiran tentang inklusivitas gender dalam hubungan suami istri, yang dapat berdampak pada norma sosial yang lebih inklusif dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kerjasama dan dukungan dalam keluarga.Top of Form Kata Kunci : Relasi Gender, Pekerja Migran Indonesia, Tenaga Kerja Indonesia   Abstract This research discusses gender relations within the context of families where wives have dual roles as both workers and homemakers. The study employs a qualitative approach using a case study method to delve into the dynamics of husband-wife relationships under these conditions. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation studies of three couples where both spouses work at Malaysia. The research findings indicate that interpersonal communication plays a central role in maintaining household harmony amidst the wife's dual roles. Husband-wife pairs demonstrate the ability to support and collaborate with each other in facing challenges, such as limited time together due to differing work schedules. Gender equality is reflected in how couples value and support each other's roles, irrespective of the wife's higher income or career achievements. The conclusion of this study emphasizes that empowering women in the workplace and recognizing the wife's dual role in the family are crucial aspects in achieving gender equality. The implications of this research also stimulate thinking about gender inclusivity within husband-wife relationships, which can influence more inclusive social norms and societal awareness of the importance of cooperation and support within families. Keywords: Gender Relations, International Migrant Workers, Indonesian Migrant Workers
PENDEKATAN HIBRIDA DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERKAWINAN: (SINERGI ANTARA ADVOKASI HUKUM DAN MEDIASI) Miftahul Qodril R; Selvi Yulianti; Dody Wahono Suryo Alam
ASA Vol 7 No 2 (2025): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58293/asa.v7i2.152

Abstract

Angka perceraian yang terus meningkat di Indonesia menunjukkan adanya krisis dalam penyelesaian sengketa perkawinan yang tidak cukup ditangani melalui pendekatan litigatif semata. Artikel ini mengeksplorasi pendekatan hibrida dalam penyelesaian sengketa keluarga dengan memadukan peran advokat dan mekanisme mediasi berbasis komunitas. Dengan menelaah data empiris dan praktik peradilan agama serta komunitas lokal, studi ini menemukan bahwa integrasi peran advokat sebagai fasilitator damai dan tokoh agama sebagai mediator dapat memperkuat keadilan substantif dan mendorong rekonsiliasi yang lebih berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya menekan dampak sosial dan psikologis pasca perceraian, tetapi juga memperkuat legitimasi penyelesaian sengketa melalui nilai-nilai keagamaan dan kultural. Artikel ini merekomendasikan reformasi pendekatan advokasi hukum keluarga menuju model penyelesaian yang lebih kontekstual, humanistik, dan inklusif.