Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PENGALAMAN TENAGA MEDIS, KESEHATAN, DAN NONKESEHATAN DALAM MENERAPKAN INTERPROFESSIONAL COLLABORATION BERBASIS INTEGRASI KEISLAMAN PADA LANSIA Eny Sutria; Aidah Fitriani; Patima Patima; Nur Azizah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i3.713

Abstract

Lansia yang berada pada tahap akhir kehidupan mengalami perubahan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang kompleks sehingga memerlukan pendekatan perawatan yang holistik dan terintegrasi. Interprofessional collaboration (IPC) menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan lansia, termasuk melalui integrasi nilai-nilai keislaman dalam praktik asuhan. Meskipun layanan terpadu telah diterapkan, implementasi IPC yang terstruktur dan kolaboratif antara tenaga kesehatan dan nonkesehatan belum sepenuhnya optimal. Tujuan Penelitian: Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman tenaga medis, kesehatan, dan nonkesehatan dalam penerapan IPC berbasis integrasi keislaman di Sentra Gau Mabaji Kab. Gowa. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan berjumlah sepuluh orang yang terdiri atas tenaga medis, kesehatan dan nonkesehatan, yang terlibat langsung dalam pelayanan lansia. Pengumpulan data dilakukan melalui focus group discussion (FGD) dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi metode, sumber, peneliti, dan teori. Hasil: Ada tiga tema yang teridentifikasi: 1) pentingnya pemeriksaan kapasitas fisik sebagai dasar kebutuhan intervensi pada lansia, 2) kolaborasi interprofesional melalui kejelasan peran dan fungsi dalam pelayanan lansia, dan 3) penerapan IPC berbasis intervensi spiritual dan motivasi. Diskusi: Pentingnya pemahaman oleh masing-masing profesi tentang praktik kolaborasi berdasarkan tugas dan fungsinya menjadi kunci keberhasilan penerapan IPC serta intervensi spiritual dan motivasi akan memberikan perasaan bermakna bagi diri lansia. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model IPC berbasis integrasi keislaman berkontribusi positif dalam mewujudkan pelayanan lansia yang holistik, bermakna, dan berpusat pada kebutuhan lansia. Penguatan kebijakan, pelatihan kolaboratif, dan sistem dokumentasi terintegrasi diperlukan untuk mengoptimalkan praktik IPC pada pelayanan lansia.Kata Kunci: integrasi, interprofessional kolaborasi, lansia, spiritual Experiences of Medical, Health, and Non-Health Personnel in Implementing Islamic Integration–Based Interprofessional Collaboration for Older AdultsABSTRACTOlder adults in the late stage of life experience complex physical, psychological, social, and spiritual changes that require a holistic and integrated approach to care. Interprofessional Collaboration (IPC) has become an important strategy to improve the quality of elderly care, including the integration of Islamic values in care practices. Although integrated services have been implemented, the structured and collaborative implementation of IPC among medical, health, and non-health personnel has not yet been fully optimized. Objective: This study explores the experiences of medical, health, and non-health personnel in implementing Islamic integration–based IPC at Sentra Gau Mabaji, Gowa Regency. Methods: This study used a qualitative approach with a phenomenological design. Ten participants were involved, consisting of medical, health, and non-health personnel who were directly engaged in elderly care services. Data were collected through Focus Group Discussions (FGDs) and analyzed using the Colaizzi method. Data credibility was maintained through triangulation of methods, sources, researchers, and theories. Results: Three main themes emerged from the analysis: (1) the importance of assessing physical capacity as the basis for determining intervention needs in older adults; (2) interprofessional collaboration through clear roles and responsibilities in elderly care services; and (3) the implementation of IPC through spiritual and motivational interventions. Discussion: A clear understanding among each profession regarding collaborative practice based on their respective roles and responsibilities is a key factor in the successful implementation of IPC. In addition, spiritual and motivational interventions provide older adults with a sense of meaning and psychological support. Conclusion: The findings indicate that the implementation of an Islamic integration–based IPC model contributes positively to the delivery of holistic, meaningful, and patient-centered care for older adults. Strengthening policies, collaborative training, and integrated documentation systems are necessary to optimize IPC practices in elderly care services.Keywords: integration, interprofessional collaboration, older adults, spiritual
Upaya Peningkatan Pelayanan Orientasi Pasien Baru di Rumah Sakit Melalui Pengembangan Media Edukasi Berbasis Video QR Code Rauf, Syamsiah; Patima; Amal, Andi Adriana; Abidin, Andi Mustika; Prasetya, Khoirunnisa Qurratul Aini
Omni Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Bantayang Omni Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65277/opm.v3i1.169

Abstract

Proses orientasi pasien yang masih manual dan tidak konsisten menjadi hambatan dalam pelayanan rumah sakit. Salah satu pendekatan inovatif yang dapat diterapkan adalah penggunaan video orientasi pasien berbasis QR code sebagai sarana informasi mandiri bagi pasien dan keluarga yang dapat diakses kapan saja, guna mengatasi keterbatasan komunikasi petugas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengimplementasikan media orientasi pasien baru berbasis video QR code dengan metode edukasi yang dievaluasi melalui observasi, wawancara, dan pengisian kuesioner pre-test dan post-test pada 12 orang pasien baru yang dirawat di ruang perawatan Pusat Jantung Terpadu Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa intervensi berupa video orientasi pasien baru terbukti efektif meningkatkan pemahaman pasien, dibuktikan oleh peningkatan signifikan skor dari pretest ke posttest. Berdasarkan hasil evaluasi kasus, dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi melalui media video berbasis QR code terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman pasien baru terkait orientasi penerimaan di rumah sakit. Disarankan agar rumah sakit mengimplementasikan secara berkelanjutan video orientasi pasien berbasis QR code sebagai bagian dari standar pelayanan, serta mengoptimalkan pemanfaatannya melalui pengembangan konten dan sosialisasi kepada tenaga kesehatan.