Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENGALAMAN TENAGA MEDIS, KESEHATAN, DAN NONKESEHATAN DALAM MENERAPKAN INTERPROFESSIONAL COLLABORATION BERBASIS INTEGRASI KEISLAMAN PADA LANSIA Eny Sutria; Aidah Fitriani; Patima Patima; Nur Azizah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i3.713

Abstract

Lansia yang berada pada tahap akhir kehidupan mengalami perubahan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang kompleks sehingga memerlukan pendekatan perawatan yang holistik dan terintegrasi. Interprofessional collaboration (IPC) menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan lansia, termasuk melalui integrasi nilai-nilai keislaman dalam praktik asuhan. Meskipun layanan terpadu telah diterapkan, implementasi IPC yang terstruktur dan kolaboratif antara tenaga kesehatan dan nonkesehatan belum sepenuhnya optimal. Tujuan Penelitian: Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman tenaga medis, kesehatan, dan nonkesehatan dalam penerapan IPC berbasis integrasi keislaman di Sentra Gau Mabaji Kab. Gowa. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan berjumlah sepuluh orang yang terdiri atas tenaga medis, kesehatan dan nonkesehatan, yang terlibat langsung dalam pelayanan lansia. Pengumpulan data dilakukan melalui focus group discussion (FGD) dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi metode, sumber, peneliti, dan teori. Hasil: Ada tiga tema yang teridentifikasi: 1) pentingnya pemeriksaan kapasitas fisik sebagai dasar kebutuhan intervensi pada lansia, 2) kolaborasi interprofesional melalui kejelasan peran dan fungsi dalam pelayanan lansia, dan 3) penerapan IPC berbasis intervensi spiritual dan motivasi. Diskusi: Pentingnya pemahaman oleh masing-masing profesi tentang praktik kolaborasi berdasarkan tugas dan fungsinya menjadi kunci keberhasilan penerapan IPC serta intervensi spiritual dan motivasi akan memberikan perasaan bermakna bagi diri lansia. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model IPC berbasis integrasi keislaman berkontribusi positif dalam mewujudkan pelayanan lansia yang holistik, bermakna, dan berpusat pada kebutuhan lansia. Penguatan kebijakan, pelatihan kolaboratif, dan sistem dokumentasi terintegrasi diperlukan untuk mengoptimalkan praktik IPC pada pelayanan lansia.Kata Kunci: integrasi, interprofessional kolaborasi, lansia, spiritual Experiences of Medical, Health, and Non-Health Personnel in Implementing Islamic Integration–Based Interprofessional Collaboration for Older AdultsABSTRACTOlder adults in the late stage of life experience complex physical, psychological, social, and spiritual changes that require a holistic and integrated approach to care. Interprofessional Collaboration (IPC) has become an important strategy to improve the quality of elderly care, including the integration of Islamic values in care practices. Although integrated services have been implemented, the structured and collaborative implementation of IPC among medical, health, and non-health personnel has not yet been fully optimized. Objective: This study explores the experiences of medical, health, and non-health personnel in implementing Islamic integration–based IPC at Sentra Gau Mabaji, Gowa Regency. Methods: This study used a qualitative approach with a phenomenological design. Ten participants were involved, consisting of medical, health, and non-health personnel who were directly engaged in elderly care services. Data were collected through Focus Group Discussions (FGDs) and analyzed using the Colaizzi method. Data credibility was maintained through triangulation of methods, sources, researchers, and theories. Results: Three main themes emerged from the analysis: (1) the importance of assessing physical capacity as the basis for determining intervention needs in older adults; (2) interprofessional collaboration through clear roles and responsibilities in elderly care services; and (3) the implementation of IPC through spiritual and motivational interventions. Discussion: A clear understanding among each profession regarding collaborative practice based on their respective roles and responsibilities is a key factor in the successful implementation of IPC. In addition, spiritual and motivational interventions provide older adults with a sense of meaning and psychological support. Conclusion: The findings indicate that the implementation of an Islamic integration–based IPC model contributes positively to the delivery of holistic, meaningful, and patient-centered care for older adults. Strengthening policies, collaborative training, and integrated documentation systems are necessary to optimize IPC practices in elderly care services.Keywords: integration, interprofessional collaboration, older adults, spiritual
Upaya Peningkatan Pelayanan Orientasi Pasien Baru di Rumah Sakit Melalui Pengembangan Media Edukasi Berbasis Video QR Code Rauf, Syamsiah; Patima; Amal, Andi Adriana; Abidin, Andi Mustika; Prasetya, Khoirunnisa Qurratul Aini
Omni Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Bantayang Omni Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65277/opm.v3i1.169

Abstract

Proses orientasi pasien yang masih manual dan tidak konsisten menjadi hambatan dalam pelayanan rumah sakit. Salah satu pendekatan inovatif yang dapat diterapkan adalah penggunaan video orientasi pasien berbasis QR code sebagai sarana informasi mandiri bagi pasien dan keluarga yang dapat diakses kapan saja, guna mengatasi keterbatasan komunikasi petugas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengimplementasikan media orientasi pasien baru berbasis video QR code dengan metode edukasi yang dievaluasi melalui observasi, wawancara, dan pengisian kuesioner pre-test dan post-test pada 12 orang pasien baru yang dirawat di ruang perawatan Pusat Jantung Terpadu Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa intervensi berupa video orientasi pasien baru terbukti efektif meningkatkan pemahaman pasien, dibuktikan oleh peningkatan signifikan skor dari pretest ke posttest. Berdasarkan hasil evaluasi kasus, dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi melalui media video berbasis QR code terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman pasien baru terkait orientasi penerimaan di rumah sakit. Disarankan agar rumah sakit mengimplementasikan secara berkelanjutan video orientasi pasien berbasis QR code sebagai bagian dari standar pelayanan, serta mengoptimalkan pemanfaatannya melalui pengembangan konten dan sosialisasi kepada tenaga kesehatan.
Pengaruh Implementasi Protokol Keperawatan terhadap Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Naomi Malaha; Wilma Wilma; Patima Patima; Erna Kadrianti; Harmawati Harmawati
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 3 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i3.668

Abstract

Keselamatan pasien merupakan salah satu indikator utama dalam kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Implementasi protokol keperawatan yang baik dapat membantu mencegah kesalahan medis dan meningkatkan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh implementasi protokol keperawatan terhadap keselamatan pasien di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian terdiri dari 40 perawat yang bekerja di ruang rawat inap rumah sakit dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai implementasi protokol keperawatan dan keselamatan pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat telah menerapkan protokol keperawatan dengan kategori baik. Selain itu, hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,002 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan implementasi protokol keperawatan terhadap keselamatan pasien di rumah sakit. Disimpulkan bahwa implementasi protokol keperawatan yang optimal dapat meningkatkan keselamatan pasien dan mengurangi risiko kejadian yang tidak diinginkan di rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kepatuhan tenaga keperawatan terhadap protokol pelayanan kesehatan.
Conflict Management and Performance of Multigenerational Nurses at Haji Makassar Hospital Patima; Marzah Genta Ramadhani; Syisnawati; Musdalifah; Syamsiah Rauf; Rahmi Damis; Aidah Fitriani; Rasdiyanah; Eny Sutria; Ani Auli Ilmi; Ilhamsyah; Ahmad J; Mariam Mohd Nasir
Journal Of Nursing Practice Vol. 9 No. 4 (2026): July
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jnp.v9i4.1169

Abstract

Background: Nurse performance plays a crucial role in the success of healthcare. However, nurses' performance can be affected by conflicts in the workplace, including intergenerational conflicts arising from differences in age, experience, and communication styles. Conflicts that are not managed properly have the potential to reduce teamwork and the quality of nursing services. Objective: This study aims to determine the relationship between conflict management and the performance of multigenerational nurses at Haji Makassar Hospital. Methods: This study used a quantitative research design with a cross-sectional approach. The variables in this study are: conflict management as an independent variable and nurse performance as a dependent variable. The sampling technique used was non-probability sampling with the total sampling method. The sample consisted of 80 nurses who met the inclusion criteria. Data were collected using a questionnaire on conflict management and nurse performance and analyzed using the Somers'D statistical test. Results: The results showed that most of the multigenerational nurses had good conflict management (62.5%), and most also showed good performance (73.8%). The Somers'D statistical test revealed a p value of 0.020 (p < 0.05), which showed a significant relationship between conflict management and the performance of multigenerational nurses at Haji Makassar Hospital. Conclusion: This study shows that effective conflict management contributes to improved performance of multigenerational nurses. Therefore, strengthening conflict management strategies through improved intergenerational communication and teamwork is needed to support the quality of nursing services.
Penilaian Mutu Pelayanan Kesehatan Menggunakan Dimensi Servqual Di Rumah Sakit Patima; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1525

Abstract

Latar Belakang: Mutu pelayanan kesehatan merupakan salah satu komponen penting dalam meningkatkan kepuasan pasien dan kinerja fasilitas pelayanan kesehatan. SERVQUAL merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai mutu pelayanan berdasarkan lima dimensi, yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai mutu pelayanan kesehatan menggunakan dimensi SERVQUAL di rumah sakit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 80 pasien rawat jalan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner SERVQUAL terstruktur yang mencakup lima dimensi, yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata untuk menggambarkan persepsi pasien terhadap mutu pelayanan kesehatan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 68 responden (85,0%) menilai mutu pelayanan kesehatan secara keseluruhan berada dalam kategori baik, sedangkan 12 responden (15,0%) menilai dalam kategori cukup. Dimensi dengan penilaian baik tertinggi adalah assurance sebesar 88,8%, diikuti empathy sebesar 87,5%, reliability sebesar 86,3%, tangibles sebesar 83,8%, dan responsiveness sebesar 78,8%. Dimensi responsiveness memperoleh penilaian paling rendah dibandingkan dimensi SERVQUAL lainnya. Kesimpulan: Mutu pelayanan kesehatan secara keseluruhan berada dalam kategori baik. Namun, dimensi responsiveness masih menjadi aspek yang perlu mendapatkan perhatian, terutama dalam hal kecepatan pelayanan, waktu tunggu, dan respons petugas terhadap kebutuhan pasien.