Zana Fitriana Octavia
Program Studi Gizi, Fakultas Psikologi Dan Kesehatan, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN JUS DAUN UBI JALAR (Ipomoea batatas (L.) Lam) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN (Rattus norvegicus) YANG DIBERI PAKAN TINGGI LEMAK Octavia, Zana Fitriana; Widyastuti, Nurmasari
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.465 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6889

Abstract

Latar Belakang : Kadar trigliserida yang tinggi erat kaitannya dengan penyakit kardiovaskuler. Asupan makanan yang mengandung serat dan antioksidan dapat menangkal pembentukan plak yang menyebabkan timbulnya aterosklerosis yang berdampak pada penyakit kardiovaskuler. Daun ubi jalar mengandung beberapa zat gizi dan senyawa fitokimia seperti serat, vitamin C dan flavonoid  yang berperan dalam menurunkan kadar trigliserida dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus daun ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) terhadap kadar trigliserida tikus wistar jantan (Rattus norvegicus) yang diberi pakan tinggi lemak.Metode : Jenis penelitian ini adalah true-experimental dengan rancangan pre-post test with  control group design. Subjek penelitian yang digunakan adalah tikus wistar jantan  yang berusia 8-12 minggu dengan berat rata rata 150-200 gram dan kondisi sehat. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok dengan metode simple randomization, yang terdiri atas kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok terdiri dari 6 subjek. pada kelompok kontrol diberi pakan standar, sedangkan kelompok perlakuan diberi pakan standar dan jus daun ubi jalar dengan dosis 0,006 ml/ gr BB tikus selama 14 hari. Kadar trigliserida ditentukan secara enzimatik dengan metode GPO-PAP. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test dan independent t-test.Hasil : Kadar trigliserida pada kedua kelompok setelah intervensi mengalami peningkatan. Rerata peningkatan kadar trigliserida pada kelompok kontrol sebesar 12,28 mg/dl sedangkan pada kelompok perlakuan terjadi peningkatan rerata kadar trigliserida darah sebesar 2,15 mg/dl. Tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05) pada perubahan kadar trigliserida antar kelompok.Kesimpulan : Pemberian jus daun ubi jalar dengan dosis 0,006 ml/ gr BB tikus selama 14 hari kurang efektif dalam menurunkan kadar trigliserida pada tikus wistar jantan yang diberi pakan tinggi lemak tetapi berpotensi menghambat kenaikan kadar trigliserida.
FREKUENSI DAN KONTRIBUSI ENERGI DARI SARAPAN MENINGKATKAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI Zana Fitriana Octavia
JURNAL RISET GIZI Vol 8, No 1 (2020): Mei (2020)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v8i1.5749

Abstract

Background : Females adolescence are at high risk of chronic energy deficiency and iron-deficiency anemia, therefoe they require adequate energy for optimal growth and development. The common nutritional problem in adolescence are skipping breakfast and inadequate breakfast energy. The level of breakfast consumption for adolenscence in Indonesia was relatively low. Breakfast is useful to provide energy storage for activities in school. Irregular breakfast habits and inadequate breakfast energy could decrease productivity and nutritional status of adolescent.Objective: To determine the correlation between frequency of breakfast and contribution of breakfast energy with the nutritional status of females adolescence.Method: This study was a cross sectional design. The subjects were students on 8th and 9th grade in Madrasah Tsanawiyah aged 13-15 years. Frequency and contribution of breakfast energy were obtained from interviews with questionnaires. The nutritional status of females adolescent were obtained by using BMI z-scores according to age. The data were processed and analyzed using Gamma Sommers’ correlation test.Results: There was correlation between frequency of breakfast with the nutritional status of females adolescence (p = 0.033). There was correlation between contribution of breakfast energy with the nutritional status of females adolescence (p = 0.039).Conclusion: Frequency of breakfast was correlated with nutritional status of adolescence girls. The contribution of breakfast energy was also correlated with the nutritional status of females adolescence.
Pengaruh pemberian yogurt sinbiotik tepung pisang tanduk terhadap profil lipid tikus sindrom metabolik Zana Fitriana Octavia; Kis Djamiatun; Nyoman Suci
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 13, No 4 (2017): April
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.19369

Abstract

Background: The metabolic syndrome, which is characterized by hyperglycemia, obesity, dyslipidemia, hypertension, prothrombic and proinflamatory state, is a risk factor for cardiovascular disease and diabetes mellitus. The synbiotic yogurt of tanduk banana (Musa paradisiaca fa. corniculata) flour contains lactic acid bacteria, fructooligosaccarides, flavonoids, and vitamin C which all of them play role in improving the lipid profile.Objective: The aim of this study was to prove the effect of synbiotic yogurt of tanduk banana flour on lipid profile of metabolic syndrome rats.Method: This study was an true experimental with pre-post test  control group design. The subject of this study were 18 metabolic syndrome male Wistar rats divided into 3 groups,i.e control group (standart diet), intervention group I (standart diet and synbiotic yogurt of banana flour 0,009 ml/g weight/day), and intervention group II (standart diet and synbiotic yogurt of banana flour 0,018 ml/g weight/day). The intervention period was 2 weeks. Different test before and after intervention used paired t-test. The difference test between groups used One-Way ANOVA and Kruskal wallis.Results: The result showed that both of intervention group improved lipid profile significantly (p<0,05). The intervention group II showed more effective improvement of lipid profile significantly (p<0,05) than intervention group I. The intervention group II decreased triglycerides level 41,56%; total cholesterol level 41,39%; LDL-cholesterol level 57,5%; and increased HDL-cholesterol level 139,62%.Conclucion: The intervention of synbiotic yogurt of  tanduk banana flour can decrease triglyceride level, total cholesterol level, LDL-cholesterol level, and increase HDL-cholesterol level.
Hubungan antara Pengetahuan Gizi, Kebiasaan Jajan dan Status Gizi pada Anak Sekolah Dasar Lilik Rahmawati; Angga Hardinsyah; Zana Fitriana Octavia
Jurnal Gizi dan Kuliner (Journal of Nutrition and Culinary) Vol 3, No 1 (2023): EDISI FEBRUARI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jnc.v3i1.42427

Abstract

Anak usia sekolah merupakan salah satu kelompok rentan masalah gizi yang diakibatkan pola konsumsi makan yang salah, yaitu anak lebih suka konsumsi jajanan yang mengandung energi tinggi. Salah satu faktor yang mempengaruhi kebiasaan konsumsi jajanan pada anak adalah pengetahuan gizi, karena pengetahuan gizi merupakan landasan dalam menentukan konsumsi makanan seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi dan kebiasaan konsumsi jajanan tinggi energi dengan status gizi pada anak usia sekolah dasar. Jenis penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode stratified random sampling. Data yang diukur adalah pengetahuan gizi menggunakan kuesioner pengetahuan, kebiasaan konsumsi jajanan tinggi energi diukur menggunakan wawancara kuesioner semi kuantitatif FFQ, dan status gizi dari IMT/U. Pengolahan data menggunakan uji korelasi Gamma dengan taraf signifikansi =0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan gizi kurang (43,5%), memiliki kebiasaan konsumsi jajan sedang (52,9%), dan status gizi normal (56,5%). Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi dengan kebiasaan konsumsi jajanan tinggi energi dan terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan konsumsi jajanan tinggi energi dan status gizi dengan kekuatan hubungan yang sangat kuat.Kata kunci: Pengetahuan gizi, kebiasaan jajan, status gizi.
FREKUENSI DAN KONTRIBUSI ENERGI DARI SARAPAN MENINGKATKAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI Zana Fitriana Octavia
JURNAL RISET GIZI Vol 8, No 1 (2020): Mei (2020)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v8i1.5749

Abstract

Background : Females adolescence are at high risk of chronic energy deficiency and iron-deficiency anemia, therefoe they require adequate energy for optimal growth and development. The common nutritional problem in adolescence are skipping breakfast and inadequate breakfast energy. The level of breakfast consumption for adolenscence in Indonesia was relatively low. Breakfast is useful to provide energy storage for activities in school. Irregular breakfast habits and inadequate breakfast energy could decrease productivity and nutritional status of adolescent.Objective: To determine the correlation between frequency of breakfast and contribution of breakfast energy with the nutritional status of females adolescence.Method: This study was a cross sectional design. The subjects were students on 8th and 9th grade in Madrasah Tsanawiyah aged 13-15 years. Frequency and contribution of breakfast energy were obtained from interviews with questionnaires. The nutritional status of females adolescent were obtained by using BMI z-scores according to age. The data were processed and analyzed using Gamma Sommers’ correlation test.Results: There was correlation between frequency of breakfast with the nutritional status of females adolescence (p = 0.033). There was correlation between contribution of breakfast energy with the nutritional status of females adolescence (p = 0.039).Conclusion: Frequency of breakfast was correlated with nutritional status of adolescence girls. The contribution of breakfast energy was also correlated with the nutritional status of females adolescence.
The Relationship of Nutritional Status and Energy Adequacy with the Work Productivity of Class I Kedungpane Semarang Penitentiary Employees Nabila, Firda Ainun; Susilowati, Fitria; Octavia, Zana Fitriana
Jurnal Gizi dan Kuliner (Journal of Nutrition and Culinary) Vol 4, No 1 (2024): EDISI FEBRUARI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jnc.v4i1.51258

Abstract

Employee productivity is very important for a company. Employees who have good productivity will produce high-quality products or services. Nutritional status and energy adequacy are one of the factors that affect employee productivity. Energy intake will be the main source of energy for employees to do work. The more adequate energy intake will make the nutritional status close to normal. Determine the relationship between nutritional status and energy adequacy with the work productivity of employees of Class I Correctional Institution Kedungpane Semarang. This type of research uses observational analytics with a cross sectional approach. This research was conducted at the Class I Penitentiary Kedungpane Semarang. The sampling technique is consecutive sampling of 70 employees. The data measured are nutritional status with anthropometric measurements consisting of employee weight and height, energy adequacy with a 3x24 hour food recall instrument, and work productivity using a 3-day work time record. The results of bivariate tests using the Gamma test showed that there was a relationship between nutritional status and work productivity (p = 0.000), and there was a relationship between energy adequacy and work productivity (p = 0.024). There is a relationship between nutritional status and energy adequacy with the work productivity of Class I Kedungpane Semarang Penitentiary employees.
Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Gizi Makro dengan Tingkat Kegemukan pada Wanita yang Menggunakan Kontrasepsi Hormonal Octavia, Zana Fitriana; Azzhira, Nisrina Claudy
JURNAL RISET GIZI Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12704

Abstract

Latar Belakang: Permasalahan gizi yang banyak terjadi pada wanita usia subur adalah malnutrisi. Kejadian obesitas dapat disebabkan oleh asupan zat gizi makro yang berlebihan. Penggunaan kontasepsi hormonal pada wanita usia subur dalam jangka panjang memiliki efek samping obesitas.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat kecukupan zat gizi makro dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonalMetode: Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah 59 orang wanita usia subur berusia 30-35 tahun yang memiliki berat badan lebih dan mengggunakan kontrasepsi hormonal secara rutin. Tingkat kecukupan zat gizi makro diketahui melalui metode recall dan tingkat kegemukan dengan mengukur indeks massa tubuh. Perbedaan rerata antar kelompok dilakukan dengan uji Mann Whitney. Hubungan antar variabel diketahui melalui uji Sommers d’.Hasil: Terdapat perbedaan rerata persentase kecukupan zat gizi makro antara kelompok overweight dan obesitas (p0,05). Tingkat kecukupan karbohidrat berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (0,006) dan Tingkat kecukupan lemak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (0,013). Tingkat kecukupan protein tidak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (0,167).Kesimpulan: Tingkat kecukupan karbohidrat dan lemak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral. Sedangkan tingkat kecukupan protein tidak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal
Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Gizi Makro dengan Tingkat Kegemukan pada Wanita yang Menggunakan Kontrasepsi Hormonal Octavia, Zana Fitriana; Azzhira, Nisrina Claudy
JURNAL RISET GIZI Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12704

Abstract

Latar Belakang: Permasalahan gizi yang banyak terjadi pada wanita usia subur adalah malnutrisi. Kejadian obesitas dapat disebabkan oleh asupan zat gizi makro yang berlebihan. Penggunaan kontasepsi hormonal pada wanita usia subur dalam jangka panjang memiliki efek samping obesitas.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat kecukupan zat gizi makro dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonalMetode: Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah 59 orang wanita usia subur berusia 30-35 tahun yang memiliki berat badan lebih dan mengggunakan kontrasepsi hormonal secara rutin. Tingkat kecukupan zat gizi makro diketahui melalui metode recall dan tingkat kegemukan dengan mengukur indeks massa tubuh. Perbedaan rerata antar kelompok dilakukan dengan uji Mann Whitney. Hubungan antar variabel diketahui melalui uji Sommers d’.Hasil: Terdapat perbedaan rerata persentase kecukupan zat gizi makro antara kelompok overweight dan obesitas (p0,05). Tingkat kecukupan karbohidrat berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (0,006) dan Tingkat kecukupan lemak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (0,013). Tingkat kecukupan protein tidak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (0,167).Kesimpulan: Tingkat kecukupan karbohidrat dan lemak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral. Sedangkan tingkat kecukupan protein tidak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal
Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Gizi Makro dengan Tingkat Kegemukan pada Wanita yang Menggunakan Kontrasepsi Hormonal Octavia, Zana Fitriana; Azzhira, Nisrina Claudy
JURNAL RISET GIZI Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12704

Abstract

Latar Belakang: Permasalahan gizi yang banyak terjadi pada wanita usia subur adalah malnutrisi. Kejadian obesitas dapat disebabkan oleh asupan zat gizi makro yang berlebihan. Penggunaan kontasepsi hormonal pada wanita usia subur dalam jangka panjang memiliki efek samping obesitas.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat kecukupan zat gizi makro dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonalMetode: Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah 59 orang wanita usia subur berusia 30-35 tahun yang memiliki berat badan lebih dan mengggunakan kontrasepsi hormonal secara rutin. Tingkat kecukupan zat gizi makro diketahui melalui metode recall dan tingkat kegemukan dengan mengukur indeks massa tubuh. Perbedaan rerata antar kelompok dilakukan dengan uji Mann Whitney. Hubungan antar variabel diketahui melalui uji Sommers d’.Hasil: Terdapat perbedaan rerata persentase kecukupan zat gizi makro antara kelompok overweight dan obesitas (p0,05). Tingkat kecukupan karbohidrat berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (0,006) dan Tingkat kecukupan lemak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (0,013). Tingkat kecukupan protein tidak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (0,167).Kesimpulan: Tingkat kecukupan karbohidrat dan lemak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral. Sedangkan tingkat kecukupan protein tidak berhubungan dengan tingkat kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT ASUPAN PROTEIN, STATUS GIZI DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN USIA MENARCHE PADA SISWI SMP IT AL-IMAROH, KABUPATEN BEKASI Febriani, Elissa; Hayati, Nur; Octavia, Zana Fitriana
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.28781

Abstract

Menarche merupakan keluarnya darah dari dinding rahim melalui vagina pada pertama kali. Usia menarche yang normal terjadi di antara usia 11-13 tahun. Hasil riset mengenai usia menarche tingkat nasional terakhir kali dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan RI tahun 2010 yang menunjukan rata-rata usia menarche remaja putri 12,96 tahun dengan usia termuda mengalami menarche adalah kurang dari 9 tahun. Kejadian menarche yang semakin muda menimbulkan kekhawatiran karena dapat menyebabkan berbagai risiko kesehatan di antaranya depresi, anxiety, obesitas, kanker payudara, diabetes tipe 2, hipertensi serta menopause yang tertunda. Faktor penyebab menarche di antaranya seperti genetik, status gizi, aktivitas fisik, asupan makan, kualitas tidur dan paparan media massa dewasa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat asupan protein, status gizi dan aktivitas fisik terhadap usia menarche pada siswi di SMP IT Al-Imaroh, Kabupaten Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Pengambilan data menggunakan kuesioner SQ-FFQ dan PAQ-C. Analisis data pada penelitian ini menggunakan program SPSS 25.0 dengan melakukan uji korelasi Gamma. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki usia menarche normal (54,7%), tingkat asupan protein yang lebih (40%), status gizi normal (69,3%) dan aktivitas fisik yang tergolong ringan (72%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara tingkat asupan protein (p=0,000) dan status gizi (p=0,000) terhadap usia menarche, sedangkan tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan usia menarche (p= 0,984).