Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

SPEKTRUM RESPONS MAHASISWA PADA MASALAH PERSAMAAN DIFERENSIAL Nendi, Fransiskus; Tamur, Maximus; Jehadus, Emilianus; Pantaleon, Kristianus Viktor; Murni, Viviana
Jurnal Silogisme : Kajian Ilmu Matematika dan Pembelajarannya Vol 6, No 1 (2021): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/silogisme.v6i1.3688

Abstract

Mahasiswa pada umumnya memiliki respons bervariasi terhadap masalah persamaan diferensial (PD) koefisien konstan non homogen. Spektrum respons diperlukan untuk mengetahui level pemahaman mahasiswa pada suatu masalah PD non homogen. Dalam literatur telah dijelaskan bahwa spektrum respon siswa dapat dipahami dengan berbagai cara. Meski demikian, penggunaan Taksonomi SOLO untuk memahami spektrum respon mahasiswa belum banyak dijelajahi. Sebagai upaya mengisi kesenjangan ini maka kami melakukan penelitian deskriptif kualitatif ini untuk mendeskripsikan spektrum respons mahasiswa terhadap masalah persamaan diferensial (PD) koefisien kontan non homogen berbasis taksonomi SOLO. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa program studi pendidikan matematika yang memprogramkan mata kuliah persamaan diferensial (PD) tahun akademik 2020/2021. Seluruh subjek penelitian ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan yang setara pada mata kuliah ini. Masalah PD yang diberikan kepada subyek penelitian tentang PD non homogeny yang diselesaikan menggunakan metode koefisien tak tentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spektrum respons mahasiswa terhadap masalah persamaan diferensial (PD) koefisien kontan non homogen berbasis taksonomi SOLO, antara lain: mahasiswa menjelaskan masalah menggunakan kalimat sendiri tanpa mengubah arti, menggunakan beberapa informasi yang didapat melalui pembentuk solusi partikular, kemudian informasi tersebut untuk menyelesaikan masalah, memadukan penggalan-penggalan informasi yang terpisah untuk menghasilkan penyelesaian dari suatu masalah, memecahkan masalah secara bertahap, dan memberikan solusi masalah dengan benar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa respons mahasiswa  terhadap masalah PD koefisien kontan non homogen berada pada tingkat relational
Dampak Self-regulation dan Self-efficacy Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Bedilius Gunur; Apolonia Hendrice Ramda; Gabariela Purnama Ningsi; Kristianus Viktor Pantaleon; Lana Sugiarti
RANGE: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 1 (2023): RANGE Juli 2023
Publisher : Pendidikan Matematika UNIMOR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jpm.v5i1.4763

Abstract

Kemampuan komunikasi matematis sangat penting bagi siswa untuk dapat mengungkapkan ide atau pemikirannya terhadap masalah matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kemampuan komunikasi matematis siswa SMP dengan self-regulation dan self-efficacy siswa tersebut. Populasinya adalah 120 siswa kelas VIII. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling dan diperoleh sampel sebanyak 60 siswa di SMP Fransiskus Xaverius Ruteng. Instrumen yang digunakan adalah tes untuk mengukur kemampuan komunikasi matematis dan angket untuk mengukur self-regulation dan self-efficacy siswa. Ketiga instrumen tersebut sebelumnya telah dibuktikan validitas dengan uji Pearson Product Moment dan reliabilitasnya dengan uji Alpha Cronbach. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa self-regulation dan self-efficacy secara simultan memiliki hubungan yang signifikan terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa. Analisis menunjukkan bahwa secara simultan kontribusi self-regulation dan self-efficacy terhadap kemampuan komunikasi matematis sebesar 24,6016% sedangkan sisanya sebesar 75,3984% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti oleh peneliti. Nilai signifikansi antara self-regulation dan self-efficacy secara simultan pada kemampuan komunikasi matematis adalah 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara self-regulation dan self-efficacy secara simultan dengan kemampuan komunikasi matematis siswa. Hal ini menyimpulkan bahwa siswa yang memiliki self-regulation dan/atau self-efficacy yang baik akan berdampak positif pada kemampuan komunikasi matematisnya.
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA Lana Sugiarti; Kristianus Viktor Pantaleon; Ananias Erlita Mamu
JP2MS Vol 10 No 2 (2026): Agustus
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jp2ms.10.2.239-247

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki siswa untuk melatih agar terbiasa menghadapi berbagai permasalahan, baik masalah dalam matematika, masalah dalam bidang studi lain ataupun masalah dalam kehidupan sehari-hari yang semakin kompleks. Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian ini termasuk dalam quasi experimental design dengan rancangan penelitian posttest only control group design dan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada kelas ekperimen dan model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. Penelitian ini dilakukan di SMPK St. Fransiskus Xaverius Ruteng yang memperoleh mata pelajaran matematika. Teknik pengumpulan data pada penelitian menggunakanpPosttest yang berupa soal uraian. Sedangkan teknik analisis data dengan menggunakan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Pada hasil uji prasyarat menyatakan bahwa data pada penelitian ini berdistribusi normal dan homogen. Sedangkan untuk hasil uji hipotesis dengan menggunakan rumus uji-t menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Temuan ini memperkuat teori pembelajaran konstruktivis dan pembelajaran kooperatif yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial, diskusi kelompok, dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Melalui kerja kelompok yang terstruktur, siswa memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, bertukar ide, menjelaskan konsep kepada teman, dan menyelesaikan masalah secara kolaboratif.
KESULITAN KONSEPTUAL DAN PERAN AKTIVITAS EKSPERIMEN DALAM PEMBELAJARAN PELUANG: PERSPEKTIF GURU DAN REFLEKSI SISWA Kristianus Viktor Pantaleon; Patrisius Aryanto Wesa; Maria Angelina Sutardi; Maria Yuyanti Sumarni; Prisilia Karista Pajo; Laurensia O. Rohana
JP2MS Vol 10 No 2 (2026): Agustus
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jp2ms.10.2.248-257

Abstract

Pembelajaran peluang menuntut siswa menghubungkan intuisi tentang kejadian acak dengan representasi dan aturan formal, tetapi proses ini sering terganggu oleh pemahaman prosedural dan miskonsepsi probabilistik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesulitan konseptual dan miskonsepsi dalam pembelajaran peluang serta menganalisis bagaimana siswa memaknai peran aktivitas eksperimen dalam memahami hubungan peluang empiris dan teoretis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data berasal dari wawancara semi-terstruktur dengan empat guru matematika sekolah menengah dan angket refleksi pascaeksperimen dari tiga pasangan respons yang melibatkan enam siswa kelas X pada satu sekolah. Siswa telah melakukan eksperimen pelemparan koin dan dadu. Instrumen wawancara dan angket telah melalui validasi isi oleh tiga dosen matematika sebelum digunakan. Data dianalisis melalui reduksi, kategorisasi, perbandingan lintas-sumber, dan interpretasi. Hasil menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, kesulitan siswa terutama muncul ketika harus mentransfer rumus ke konteks baru, terutama pada kombinasi dan permutasi, sehingga pemahaman tampak lebih prosedural daripada konseptual. Kedua, data guru dan refleksi siswa memperlihatkan jejak miskonsepsi tentang keacakan dan independensi kejadian. Ketiga, eksperimen membantu siswa menjelaskan peluang empiris secara lebih konkret dan membedakannya dari peluang teoretis, tetapi siswa tetap membutuhkan penjelasan konseptual dan latihan terstruktur. Temuan menegaskan bahwa pengalaman empiris berpotensi menjadi jembatan menuju formalisasi, bukan pengganti penguatan konsep.