Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan Pendidikan Universitas Tadulako melalui Pemanfaatan Lahan Kosong Menjadi Kebun Bibit Desa Edha Zulkaidhah; Abdul Hapid; Rukmi Rukmi; Hamka Hamka; Dewi Wahyuni; Erniwati Erniwati; Muthmainnah Muthmainnah
Jurnal Mitra Prima Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Mitra Prima
Publisher : Mitra prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan Pendidikan Universitas Tadulako ditetapkan sebagai hutan dengan tujuan khusus pada kawasan hutan produksi terbatas yang terletak di Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah seluas ± 1.813 hektar sebagai hutan pendidikan dan pelatihan sejak tanggal 26 Agustus 2016. Lokasinya berbatasan langsung dengan Desa Wombo Kalonggo Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Keberadaan masyarakat di sekitar Hutan Pendidikan pada umumnya menggantungkan hidupnya pada hasil-hasil hutan sebagai sumber perekonomian keluarga yang mengakibatkan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan hutan masih sangat tinggi. Salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan menggalakkan Kebun Bibit Desa (KBD). KBD dianggap bisa menjadi solusi untuk rehabilitasi hutan dan lahan melalui pemberdayaan masyarakat. Tujuan yang ingin dicapai dalam program pengabdian ini adalah Peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan lahan kosong menjadi Kebun Bibit Desa. Metode yang digunakan adalah penerapan IPTEKS seperti penyuluhan, pelatihan dan pendampingan. Pendekatan metode melalui persuasif-edukatif-komunikatif-partisipatif. Penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan diantaranya akan menjelaskan tentang: pengelolaan KBD melalui teknik pembibitan tanaman kehutanan dan tanaman MPTS yang baik sehingga bisa menghasilkan bibit yang berkualitas, pembibitan dengan menggunakan benih yang berkualitas dan terseleksi, penggunaan media tanam yang baik dan Teknik sambung pucuk serta cara pengolahan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik. Hasil pengabdian ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Hutan Pendidikan melalui kegiatan pengelolaan Kebun Bibit Desa (KBD). Luaran yang akan dicapai adalah satu artikel ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi Sinta serta peningkatan keberdayaan mitra sasaran dalam pengetahuan, keterampilan, produk dan pendapatan mereka.
SPATIAL-TEMPORAL ANALYSIS OF FOREST DEFORESTATION IN LORE-LINDU NATIONAL PARK Adam Malik; Nitya Ade Santi; Misra Misra; Hamka Hamka
AGROLAND The Agricultural Sciences Journal (e-Journal) Vol 10 No 1 (2023): june
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agroland.v10i1.1750

Abstract

Indonesia is listed as one of the countries with a high rate of deforestation. This deforestation occurs in almost all islands in Indonesia, including Sulawesi. Deforestation analysis needs to be carried out to determine the rate of change in forest cover and the factors that cause it, so that forms of forest management can be planned to achieve sustainable forest management This analysis is expected to fulfill the need for information on how the vulnerability of deforestation occurs spatially, where the locations of deforestation occur and what factors encourage deforestation and forest degradation. The study found that the rate of forest decrease from 1990 to 2020 was 328 hectares/year with the highest rate was from 1990 to 2000 with rate of forest decrease 690 hectares/year. The deforestation located in four area that has difference land cover change. Area 1 changed to settlement and dry land agriculture, area 2 changed to cocoa plantation by the local community planted in 2000s, area 3 changed to cocoa plantation by the local community planted in 2010s. Area 4 changed to open area/bareland indicated after ilegal logging occurred since 2000.
Application The Optimal Value Of Ordering Rattan Craft Raw Materials Hendra Pribadi; Syukur Umar; Abdul Rahman; Hamka Hamka
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 3 No. 02 (2023): May, Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Weaving is a hereditary culture passed down by people in Indonesia and various types of its crafts produce higher economic value. Therefore, this study aims to measure whether the rattan craftsmen have achieved optimal orders and products by calculating the period of the order quantity (POQ) and Economic Production Amount (EPQ) for six months. The average value of ordering raw materials from actual data and analysis results was 918 kg. The results also showed that the production needs to be increased by 40%, but after this analysis was applied to the craftsmen, they cannot increase revenues. However, they can reduce costs in ordering raw materials. This indicates that the solution from this study cannot be applied optimally because the craftsmen do not want to take the risk of making more products but only based on orders.
The Role of Stakeholders in Natural Tourism Management of Kapopo Forest Park, Central Sulawesi Arman Maiwa; Abdul Rahman; Hendra Pribadi; Hamka Hamka; Rhamdani Fitrah Baharuddin; Gerry Jardan
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 5, No 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v5i2.2453

Abstract

The main challenge in managing Kapopo natural tourism is the participation of stakeholders who have an interest in its management. The importance of understanding and involvement of stakeholders in the management of Kapopo natural tourism can be seen from the achievement of sustainability in Kapopo natural tourism, which cannot be achieved optimally without effective cooperation between all parties involved. So instruments are needed to involve every stakeholder as the key to the success of Kapopo natural tourism. This research examines the role of stakeholders who have an interest and influence in supporting the successful management of Kapopo Nature Tourism in Central Sulawesi. The method uses qualitative descriptive analysis to see the role of stakeholders, as well as influence and interest analysis to see the influence and interests of each stakeholder in managing Kapopo natural tourism. The results of this research identified 13 stakeholders who have various roles, of which the Forestry Service and the Grand Forest Park Manager are key stakeholders in the management of Kapopo natural tourism. In this research, it was also found that in general the relationship between stakeholders was good, but there were several stakeholders who had different views which had the potential for conflict and could influence the management of Kapopo natural tourism.
Kinerja Lembaga Pengelola Konservasi Desa Kapiroe Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah Hamka; Asgar Taiyeb; Abdul Hapid
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.219

Abstract

Keberadaan lembaga pengelola konservasi desa dinilai penting dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan pelestarian kawasan hutan. Paradigma pengelolaan hutan konservasi sudah berubah dimana pengelolaan melibatkan para pihak yang berkepentingan. Tujuan penelitian ini menganalisis kinerja lembaga pengelola konservasi desa kapiroe dari aspek kelembagaan, kawasan dan usaha. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi metode wawancara menggunakan kuesioner kepada anggota dan pengurus LPKD, wawancara mendalam kepada pengurus inti LPKD, observasi dan studi dokumen terkait dengan kinerja lembaga pengelola kemitraan desa menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja LPKD Kapiroe cukup baik, hal ini berdasarkan 3 aspek yang dinilai aspek kelembagaan, kelola kawasan dan kinerja jejaring dan kerjasama usaha. Kinerja kelembagaan LPKD dari aspek kelola kelembagaan dikategorikan tinggi berdasarkan legalitas pengurus, keterlibatan pengurus dan anggota dalam pertemuan rutin dan peningkatan kapasitas, pengurus melakukan kegiatan konservasi yaitu penanaman batas hidup dan kegiatan pemulihan ekosistem, namun pada aspek kinerja jejaring dan kerjasama usaha belum mencapai hasil yang optimal karena tidak adanya kerjasama usaha.