Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

HUBUNGAN MODULUS KEHALUSAN AGREGAT DENGAN KRITERIA MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL PANAS BERGRADASI SENJANG Musadi, Claufia Rafika; Manoppo, Mecky R. E.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 4 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Spesifikasi Teknik Bina Marga perencanaan campuran beton aspal, parameter modulus kehalusan tidak digunakan, namun dalam penelitian ini akan dilakukan suatu percobaan perancangan beton aspal dengan penentuan perkiraan kadar aspal menggunakan Modulus Kehalusan. Material yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari daerah Lansot, Kema. Minahasa Utara (PT. Marabunta Adi Perkasa). Penelitian dilakukan untuk menentukan perkiraan kadar aspal dengan menganalisis hubungan Modulus Kehalusan dengan besaran kriteria Marshall pada campuran aspal panas bergradasi senjang, dan untuk melihat pengaruh Modulus Kehalusan dengan kriteria Marshall pada campuran HRS-WC bergradasi senjang. Langkah awal penelitian adalah membuat membuat benda uji dari tiga variasi gradasi campuran HRS-WC dan dihitung nilai Modulus Kehalusan.  Kemudian,  nilai Modulus Kehalusan akan dihubungkan dengan besaran kriteria Marshall yang telah diperoleh dari masing-masing variasi gradasi.Hasil penelitian menunjukkan, semakin besar nilai modulus kehalusan, jumlah agregat kasar relatif lebih banyak dari agregat halus. Dari hasil perhitungan Modulus Kehalusan, nilai yang didapatkan adalah 4.829 untuk gradasi batas atas, 5.332 untuk gradai batas tengah, dan 5.763 untuk gradasi batas bawah. Dari hasil uji Marshall didapatkan kadar aspal terbaik, yaitu 8.9% untuk gradasi batas atas, 7.6% untuk gradasi batas tengah, dan 7.7% untuk gradasi batas bawah. Hasil uji Marshall dari ketiga variasi gradasi dengan campuran HRS-WC (gradasi senjang) masuk dalam spesifikasi Teknik Bina Marga. Berdasarkan grafik hubungan Modulus Kehalusan dengan besaran kriteria Marshall, campuran HRS-WC bergradasi senjang dapat menentukan perkiraan kadar aspal, namun hasilnya tidak terlalu tepat. Hubungan Modulus Kehalusan dengan kriteria Marshall menggunakan campuran HRS-WC bergradasi senjang memperoleh hasil kadar aspal yang naik turun (tidak konsisten). Dari hasil yang diperoleh, nilai Modulus Kehalusan yang gradasi tengah adalah nilai Modulus Kehalusan yang paling baik untuk digunakan, karena nilai Modulus Kehalusan yang lebih besar atau lebih kecil dari ± 5.332 nilai kadar aspalnya akan semakin besar. Nilai kadar aspal yang gradasi tengah adalah nilai kadar aspal yang paling kecil, sehingga bisa menghemat pengunaan bahan pengikat (aspal). Kata kunci: Modulus Kehalusan (Fineness Modulus), Marshall, HRS-WC
KETAHANAN TARIK CAMPURAN CTRB YANG MENGANDUNG 40% RAP DAN 60% RAM DENGAN SUBSTITUSI MATERIAL POZOLAN TERHADAP SEMEN Tumbelaka, Inrico; Waani, Joice E.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 5 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan material baru secara terus-menerus dapat mengakibatkan kelangkaan material. Oleh karena itu metode daur ulang dikembangkan untuk mengurangi pemakaian material baru dan mengurangi sampah padat hasil garukan jalan lama. CTRB (Cement Treated Recycling Base) merupakan salah satu teknologi daur ulang untuk rekonstruksi lapis pondasi jalan dengan memanfaatkan material hasil garukan jalan lama yang telah rusak dan digunakan kembali sebagai material dalam campuran perkerasan dengan menggunakan semen sebagai bahan pengikat. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental di laboratorium. Komposisi campuran 40% RAP: 60% RAM dengan variasi kadar semen 0%, 2%, 4% dan 6% terhadap berat RAP: RAM dan substitusi pozolan 0%, 15%, dan 30% terhadap masing – masing variasi kadar semen. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian Indirect Tensile Strength untuk mengetahui seberapa besar campuran dapat menahan gaya tarik jika semen disubstitusi dengan material pozolan alam (tras). Hasil dari pengujian menunjukkan bahwa substitusi tras membuat kekuatan campuran cenderung meningkat yaitu campuran dengan substitusi tras 15% terhadap 2% - 4% kadar semen tetapi kekuatan campuran cenderung menurun pada substitusi 30% tras. Pada campuran dengan kadar semen 6%, subtitusi tras memberikan pengaruh baik pada substitusi 15% - 30% tras. Disimpulkan bahwa campuran CTRB dengan proporsi 40% RAP : 60% RAM dimana gradasi gabungan yang tidak memenuhi standar spesifikasi, namun masih memenuhi syarat kekuatan tarik yaitu 250 kPa. Pada kadar semen 6% dan disubstitusi tras 15% dan 30% nilai ITS memenuhi syarat kekuatan tarik yaitu 303,5 kPa, 270,4 kPa, dan 286,9 kPa. Kata Kunci : CTRB, ITS, RAP, RAM, Daur Ulang
KAJIAN PENGARUH FLUKTUASI GRADASI TERHADAP PENGGUNAAN KADAR SEMEN PADA CAMPURAN CEMENT TREATED BASE (CTB) Lonteng, Fani Oktavian; Kaseke, Oscar H.; Manoppo, Mecky R. E.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 5 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini akan mengkaji dampak yang disebabkan oleh fluktuasi gradasi agregat terhadap penggunaan kadar semen pada campuran CTB serta mengetahui penggunaan kadar semen akibat dari fluktuasi gradasi yang terjadi karena pada proses pencampuran agregat di lapangan kemungkinan fluktuasi gradasi agregat dapat saja terjadi.Metode penelitian bersifat research di laboratorium, serta berpedoman pada rujukan yang dibuat oleh PUSLITBANG Jalan dan Jembatan SNI 8141: 2015 (Spesifikasi Lapis Fondasi Agregat Semen-LFAS). Adapun pengujian terhadap agregat seperti keausan agregat, berat jenis agregat, analisa saringan, batas cair, batas plastis, serta nilai indeks plastis. Pengujian terhadap campuran CTB dilakukan pengujian UCS (unconfined compressive strength) dan CBR (california bearing ratio) di laboratorium (menggunakan semen dan tidak menggunakan).Berdasarkan komposisi perbandingan agregat kasar dan agregat halus pada masing-masing gradasi agregat, diperoleh gradasi (satu) dengan perbandingan 48% dan 52%, gradasi (dua) 63% dan 37%, gradasi (tiga) 77% dan 23%. Hasil pengujian pemadatan berat (modified Proctor test) di laboratorium masing-masing komposisi gradasi agregat diperoleh nilai kadar air optimum (Wopt) dan berat isi kering maksimum (γdmaks) pada gradasi (satu) 8,50% dan 1,981 gr/cm³, gradasi (dua) 7,80% dan 2,009 gr/cm³, gradasi (tiga) 7,20% dan 1,992 gr/cm³. Masing-masing gradasi agregat dibuat komposisi campuran CTB menggunakan 5 variasi kadar (3% - 5%). Pengujian UCS ditinjau pada tegangan 50 kg/cm², diperoleh kadar semen pada gradasi (satu) 4,85%, gradasi (dua) 3,55%, gradasi (tiga) 4,50%. Pengujian CBR di laboratorium (tidak menggunakan semen) menunjukan penurunan nilai daya dukung apabila perbandingan agregat halus lebih banyak dari agregat kasar, setelah (menggunakan semen) terjadi peningkatan nilai daya dukung campuran diperoleh hasil gradasi (satu) 75,29% menjadi 141,04%, gradasi (dua) 99,11% menjadi 214,43%, gradasi (tiga) 105,78% menjadi 251,59%.Fluktuasi gradasi agregat menyebabkan bertambahnya penggunaan kadar semen pada campuran CTB yang berada pada 0,95% - 1,30%. Fluktuasi gradasi agregat juga berpengaruh pada daya dukung agregat itu sendiri, jika perbandingan persentase agregat halus lebih banyak terhadap agregat kasar akan memberikan daya dukung yang semakin rendah. Kata kunci : CTB, Fluktuasi, gradasi, agregat.
PENGARUH HAMBATAN SAMPING TERHADAP KINERJA RUAS JALAN RAYA KOTA TOMOHON (STUDI KASUS: PERSIMPANGAN JL. PESANGGRAHAN – PERSIMPANGAN JL. PASUWENGAN) Senduk, Theresia Kezia; Rumayar, Audie L. E.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 6, No 7 (2018): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertambahan jumlah penduduk membuat kebutuhan masyarakat terhadap kepemilikan alat transportasi meningkat pula. Hal ini berbanding terbalik dengan kapasitas jalan yang semakin terbatas. Pada kondisi inilah kemacetan terjadi. Kinerja arus lalu lintas di daerah komersial berkurang, akibat berbagai faktor yang terjadi pada sisi jalan. Salah satu faktor yang teramati adalah aktifitas pada sisi jalan atau hambatan samping seperti kendaraan keluar masuk, kendaraan berhenti, kendaraan parkir dan penyeberang jalan.Jalan Raya Kota Tomohon khususnya sepanjang persimpangan Jl. Pesanggrahan – persimpangan Jl. Pasuwengan dipilih sebagai lokasi penelitian karena pada ruas jalan ini sering terjadi kemacetan yang diakibatkan oleh tingginya aktifitas sisi jalan berupa kendaraan yang masuk keluar sisi jalan, kedaraan yang sering berhenti dan parkir di badan jalan, serta penyeberang jalan yang akhirnya berpengaruh terhadap kinerja di ruas jalan ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penyebab utama terjadinya kemacetan karena aktifitas di sisi jalan dengan menggunakan panduan dari Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997). Penelitian dilakukan selama 4 hari, yaitu pada hari Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Pengambilan data dilakukan secara langsung dilapangan untuk volume lalu lintas, kecepatan kendaraan dan hambatan samping yang dibagi per 15 menit. Selanjutnya dilakukan analisis data yang dibagi dalam dua bagian yaitu analisis volume lalu lintas, kecepatan, dan kapasitas jalan menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) Tahun 1997, sedangkan untuk pengaruh hambatan samping terhadap kecepatan dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan Microsoft Excel. Dari penelitian ini didapat kapasitas 2320,812 smp/jam, volume jam puncak berkisar antara 728 smp/jam - 1070,1 smp/jam, kecepatan terendah berkisar antara 8,125 km/jam – 11,412 km/jam dan tingkat pelayanan jalan C pada jam puncak dan kecepatan arus bebas 32,643 km/jam. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda besar kontribusi hambatan samping terhadap kecepatan adalah sebesar 85,39% untuk jalan arah Manado dengan persamaan Y = 41.7734682 + 0.006007911X1 – 0.216985814X2 – 0.0216503395X3 dan 47,55% untuk jalan arah Tomohon dengan persamaan Y = 30.78238787 - 0.03945072X1 + 0.01810109X2 – 0.08137297X3. Faktor utama yang mempengaruhi kecepatan adalah kendaraan parkir dan berhenti. Oleh karena itu perlu adanya pemasangan rambu dilarang parkir pada kedua sisi jalan serta pos penjagaan polisi untuk mengatur serta menjaga aturan-aturan rambu-rambu yang ada, ataupun perlu dibuatnya peraturan pemerintah terhadap kepemilikan lahan parkir pribadi untuk setiap bangunan yang berada di depan jalan raya. Kata kunci: kinerja lalu lintas, hambatan samping, kecepatan
PEMODELAN MATEMATIS KEJADIAN KECELAKAAN DI RUAS JALAN A. A. MARAMIS KOTA MANADO Palenewen, Steve Ch. N.; Timboeleng, James A.; Jansen, Freddy
JURNAL ILMIAH MEDIA ENGINEERING Vol 4, No 4 (2014): JURNAL ILMIAH MEDIA ENGINEERING
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecelakaan lalu lintas di jalan raya dipahami oleh sebagian besar orang sebagai hal yang sudah takdir atau kehendak yang Maha Kuasa. Namun demikian ada hal-hal lain yang dapat menyebabkan kecelakaan di jalan raya. Kejadian kecelakaan di jalan raya merupakan interaksi antara pengguna jalan raya dengan fasilitas infrastruktur jalan. Di dalam pembangunan infrastruktur jalan diperlukan suatu perencanaan yang baik melalui ilmu Teknik Sipil agar pembangunan jalan sesuai dengan keadaan parameter maximum yang sudah ditetapkan sejak awal perencanaan pembuatan jalan serta kelas jalan yang ditetapkan. Tetapi seringkali di lapangan dapat ditemui pembuatan jalan yang sudah tidak standar yang ditetapkan dalam perencanaan. Untuk itu perlu ditinjau penyimpangan parameter geometrik jalan seperti radius tikungan, elevasi bahu jalan terhadap tepi perkerasan, lebar bahu jalan dan lain-lain. Untuk itu pengambilan sampel lokasi harus terdapat angka kejadian kecelakaan yang tinggi sehingga mengindikasikan atau dicurigai ada penyebab sering terjadinya kecelakaan. Data analisis yang digunakan adalah hasil ukur dan pengamatan defisiensi keselamatan infrastuktur jalan di lokasi penelitian serta data anatomi kecelakaan yang dikeluarkan Polresta Manado. Kata-kata Kunci: Kecelakaan, jalan, keselamatan, defisiensi
KAJIAN TARIF ANGKUTAN UMUM PENUMPANG DI PULAU KARAKELANG Gareda, Dona; Pandey, Sisca V.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 6, No 10 (2018): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angkutan Umum adalah salah satu moda transportasi yang menghubungkan kawasan yang satu dengan yang lain. Hal ini menjadikan angkutan umum urat nadi dalam suatu pembangunan daerah. Angkutan umum yang terintegrasi, aman, nyaman dan murah menjadi primadona masyarakat yang menggunakannya. Pemerintah sebagai regulator dituntut untuk bisa menghadirkan jasa angkutan yang aman, nyaman dan murah. Masyarakat di Pulau Karakelang mengenal angkutan umum dengan sebutan angkutan desa. Angkutan desa sangat membantu masyarakat dalam melakukan perjalanan, baik internal maupun eksternal kota yang berada di Pulau Karakelang.Jenis angkutan desa sebagai sarana tranpostasi meliputi kendaraan  Bus, mini Bus (Xenia, Avanza, Gran Max) dan pick up (Mitsubshi L300). Adanya Mitsubshi L300 sebagai angkutan pedesaan atau yang disebut di Talaud mobil Pato-Pato sangat membantu masyarakat dalam melakukan perjalanan ke kota kecamatan, barang bisa dimuat bersama penumpang sehingga dianggap sangat praktis dan biaya tarif juga lebih murah.Penentuan besaran tarif angkutan umum oleh dinas terkait menjadi titik vital agar pengguna angkutan tidak merasa dirugikan dan pemilik angkutan umum tidak merugi. Metode Forum Studi Transportasi Perguruan Tinggi (FSTPT) dan Metode Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) merupakan metode untuk menganalisa besaran Biaya Operasi Kendaraan (BOK) yang meliputi beberapa komponen biaya antara lain biaya bahan bakar, oli dan suku cadang yang harus dikeluarkan oleh pemilik angkutan dan bisa menentukan besaran tarif yang sesuai.Penelitian ini mengkaji tarif angkutan umum penumpang yang beroperasi di Pulau Karakelang dengan metode DLLAJ dan FSTPT. Saat ini tarif yang berlaku untuk angkutan umum penumpang di Pulau Karakelang dipengaruhi oleh jarak tempuhnya. Tarif yang diberlakukan saat ini untuk  Essang-Beo Rp. 39.700; Pulutan-Beo Rp. 21.700;dan trayek Rainis-Beo Rp. 12.500. Analisa tarif dengan metode FSTPT didapat rata-rata untuk trayek Essang-Beo Rp. 25.773; Pulutan-Beo Rp 21.188; dan trayek Rainis-Beo Rp. 6.568. Sedang dari analisa tarif dengan metode DLLAJ didapat rata-rata untuk trayek Essang-Beo Rp. 37.917; Pulutan-Beo Rp. 20.157; dan trayek Rainis-Beo Rp. 7.930. Selisih tarif eksisting dengan Metode FSTPT trayek Essang-Beo Rp. 13.927; trayek Pulutan-Beo Rp. 512; dan trayek Rainis-Beo Rp. 5.932. Sedang selisih tarif eksisting dengan Metode DLLAJ trayek Essang-Beo Rp. 1.783; trayek Pulutan-Beo Rp. 1.534; dan trayek Rainis-Beo Rp. 4.570. Tarif menurut SK Bupati no 37 tahun 2014 sama dengan tarif Metode DLLAJ karena memperhitungkan biaya yang berkaitan langsung dengan kendaraan,Dari hasil penelitian didapat bahwa tarif yang berlaku di Pulau Karakelang sudah sesuai dengan metode DLLAJ dan FSTPT untuk angkutan umum penumpang. Kata Kunci: Pulau Karakelang, tarif, angkutan umum, moda transportasi, trayek
DAMPAK FASILITAS PARKIR DI BADAN JALAN TERHADAP KINERJA JALAN (STUDI KASUS: JALAN SATSUIT TUBUN) Adam, Fadel; Rompis, Semuel Y. R.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 6, No 12 (2018): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan volume lalu lintas akan menyebabkan berubahnya perilaku lalu lintas pada suatu ruas jalan. Jalan Satsuit Tubun merupakan jalan lokal primer di kota Manado yang memiliki volume kendaraan yang cukup tinggi setiap hari. Dimana ruas jalan ini tidak pernah sepi dari kendaraan yang setiap harinya beroperasi. Ruas jalan Satsuit Tubun juga terdapat parkir yang berada pada badan jalan (parking on street) yang mengakibatkan kapasitas jalan berubah sehingga kinerja jalan juga berubah.Tujuan penelitian ini adalah mencari kapasitas ruas jalan akibat penggunaan badan jalan sebagai lahan parkir dengan menggunakan model hubungan matematis antara Volume, Kecepatan dan Kepadatan dan mendapatkan tingkat pelayanan/kinerja jalan akibat lokasi penelitian dengan adanya parking on street.Kapasitas didapatkan dengan menggunakan Model Linear Greenshields, Model Logaritmik Greenberg dan Model Eksponensial Underwood yang mempunyai koefisien regresi terbesar sedangkan derajat kejenuhan dan tingkat pelayanan dari ruas jalan tersebut dengan menggunakan pedoman MKJI’1997.Kapasitas ruas Jalan Satsuit Tubun akibat adanya parkir dipinggir jalan berdasarkan model linear Greenshields didapatkan hasil sebesar 1989 smp/jam, berbeda dengan tanpa adanya parkir di pinggir jalan didapatkan hasil sebesar 2517 smp/jam. Membuat kapasitas ruas jalan menurun sebesar 21% sehingga mengurangi nilai dari kapasitas jalan. Tingkat pelayanan secara keseluruhan untuk ruas Jalan Satsuit Tubun dengan adanya parkir adalah Level          of Service F yang berarti terjadi kemacetan, kecepatan rendah, arus kedatangan melebihi kapasitas, antrian panjang dan terjadi hambatan-hambatan yang besar. Dibandingkan tanpa adanya parkir kinerja jalan menjadi Level of Service C yang berarti arus stabil, kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan, nilai derajat kejenuhan masih dapat ditolerir < 0,77.Kata Kunci: Parkir di Badan Jalan, Tingkat Pelayanan, Kapasitas
PENGARUH MODULUS KEHALUSAN AGREGAT TERHADAP PENENTUAN KADAR ASPAL PADA CAMPURAN JENIS AC-WC Besouw, Gabrielia Venisia; Manoppo, Mecky R. E.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 4 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modulus Kehalusan (Fineness Modulus) butir agregat didefinisikan sebagai jumlah persen kumulatif dari butir-butir agregat yang tertinggal diatas suatu set ayakan dan kemudian dibagi dengan seratus, oleh karena itu Fineness Modulus menggambarkan distribusi besaran atau jumlah presentase butiran baik agregat halus maupun agregat kasar. Semakin besar Modulus Kehalusan maka semakin kecil luas permukaan agregat yang perlu diselimuti aspal, sehingga Modulus Kehalusan menentukkan besarnya aspal yang dibutuhkan dalam suatu campuran yang pada akhirnya akan mempengaruhi kekuatan campuranPada penelitian ini telah dilakukan percobaan dilaboratorium dengan menggunakan Fineness Modulus sebagai salah satu faktor penentu kadar aspal dan juga untuk melihat pengaruh kondisi gradasi menerus dengan Fineness Modulus. Dalam perencanaan ini akan dibuat tiga variasi gradasi untuk melihat pengaruh Modulus Kehalusan dari masing-masing gradasi.Metode pelaksanaan yang digunakan untuk melihat pengaruh Fineness Modulus sebagai penentuan kadar aspal pada campuran jenis AC-WC (Asphalt Concrete – Wearing Course) yaitu akan diperiksa berdasarkan gradasi yang ada kemudian akan dihitung nilai FM-nya setelah itu akan dibuat campuran dan dievaluasi dengan Kriteria Marshall dari masing-masing gradasi. Setelah itu akan diambil sampel hasil perancangan dari masing-masing gradasi untuk pemeriksaan Marshall guna mendapatkan hasil kadar aspal terbaik yang akan dihubungkan dengan nilai Fineness Modulus.Hasil Uji Marshall dari ke 3 gradasi dengan campuran AC-WC masuk dalam spesifikasi umum bidang jalan dan jembatan, divisi VI Revisi III Perkerasan beraspal, Dep. PU, Edisi 2010. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut, nilai Fineness Modulus 5,01 dengan kadar aspal terbaik 7,2% untuk gradasi batas atas, FM 5,44 dengan kadar aspal terbaik 6,8% untuk gradasi batas tengah dan FM 5,63 dengan kadar aspal terbaik 6,4% untuk gradasi batas bawah. Adapun data-data hubungan FM dengan kriteria Marshall untuk nilai Stability didapatkan grafik yang berfluktuasi sesuai dengan batas-batas kriteria Marshall berdasarkan spesifikasi, untuk Kriteria Marshall: Flow, VMA, VFB dan Ratio Filler diperoleh hasil semakin besar Fineness Moduus maka semakin kecil hasil kriteria Marshall tersebut. Dan untuk kriteria Marshall: Density dan VIM diperoleh hasil semakin besar Fineness Modulus maka semakin besar hasil kriteria Marshall tersebut. Dapat disimpulkan penggunaan Modulus Kehalusan pada penentuan kadar aspal mempunyai pengaruh yakni semakin besar Modulus Kehalusan maka semakin kecil kadar aspal yang diperlukan sehingga Modulus Kehalusan dapat digunakan sebagai penentuan kadar aspal campuran AC-WC. Dan disarankan untuk pelaksanaan pembuatan konstruksi jalan menggunakan nilai Modulus Kehalusan yang besar sehingga kadar aspal yang akan digunakan sedikit akan tetapi tetap masuk dalam spesifikasi yang telah ditentukan. Kata kunci: Aspal, Agregat, Modulus Kehalusan, Marshall, AC-WC
PERENCANAAN LAMPU PENGATUR LALU LINTAS PADA PERSIMPANGAN JALAN A.A. MARAMIS DAN JALAN RING-ROAD II MENGGUNAKAN METODE MKJI 1997 Tuda, Fadly Andre; Timboeleng, James A.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 6, No 10 (2018): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persimpangan merupakan sumber konflik lalu lintas dimana arus lalulintas bertemu dan berpotongan. Persimpangan empat lengan di jalan A.A. Maramis dan jalan Ring Road II merupakan salah satu lokasi dengan banyak intensitas kendaraan akibat perpotongan arus lalu lintas yang tidak teratur karena tidak terdapatnya lampu pengatur lalu lintas serta rambu-rambu lalu lintas sehingga di lokasi persimpangan sering terjadi antrian dan tundaan pada tiap lengan persimpangan. Tujuan penelitian ini antara lain untuk mengetahui besarnya volume arus lalu lintas untuk setiap arah dari semua pendekat, serta situasi dan kondisi lalu lintas tanpa sinyal pada persimpangan sebelum dilakukan perencanaan pengaturan fase sinyal yang sesuai kondisi geometri, arus lalu lintas dan lingkungan persimpangan. Penelitian dimulai dengan pengukuran awal data geometrik lengan persimpangan kemudian mengambil data volume lalu lintas dengan melakukan survey selama 6 hari pada tanggal 13,16, 20, 23, 25 dan 27 November 2017 dari jam 08.00 – 20.00.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting didapat data arus lalu lintas (Q) = 4288 smp/jam, nilai DS 1,064, tundaan lalu lintas simpang 18,59, dengan tipe simpang 444. Setelah dilakukan perencanaan lampu dengan 4 fase sinyal di mana terdapat LTOR untuk semua arah lengan simpang. Fase 1 dimulai pada Pendekat Bandara, Fase 2 pada Pendekat Ring Road, Fase 3 pada pendekat Kairagi dan pendekat Pandu Fase 4. Didapat waktu siklus 131 detik, waktu hijau Fase 1 (44 detik), Fase 2 (15 detik), Fase 3 (48 detik), Fase 4 (6 detik) dengan nilai DS 0.876, kendaraan henti rata-rata 0,706 stop/smp serta tundaan simpang rata–rata 50,24 det/smp. Dari hasil analisa nilai DS telah melebihi angka 0,75 artinya tidak terlalu efektif dan sering terjadi kemacetan sehingga didapat tundaan yang besar pada simpang dan untuk mengatasinya dilakukan pelebaran jalan pada semua arah lengan simpang dengan menambahkan jalur khusus untuk belok kiri langsung sebesar 2,5 m. Untuk pengaturan fase sinyal sama seperti sebelumnya sehingga di dapat waktu siklus 73 detik dengan waktu hijau fase 1 (21 detik), fase 2 (7 detik), fase 3 (23 detik) dan fase 4 (3 detik). Untuk nilai DS menjadi 0,745 dengan tundaan simpang rata–rata 28,25 det/smp serta tundaan simpang rata-rata 0,597 stop/smp. Kata Kunci :Derajat Kejenuhan, Tundaan Simpang, Peluang Antrian
PERENCANAAN PENGEMBANGAN BANDAR UDARA STEVANUS RUMBEWAS DI KOTA SERUI KABUPATEN KEPULAUAN YAPEN Kafiar, Rima Pauline; Palenewen, Steve Ch. N.; Jansen, Freddy
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 1 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Kepulauan Yapen merupakan Kabupaten yang dahulunya di mekarkan dari Kabupaten Kepulauan Yapen Waropen dan saat ini sedang giat-giatnya membenahi dan meningkatkan sarana infrastruktur yang ada terutama di ibukota Serui. Kabupaten Kep. Yapen merupakan daerah yang sangat tergantung pada transportasi udara untuk kegiatan perekonomiannya, khususnya untuk sektor pariwisata. Bandar udara Stevanus Rumbewas merupakan bandara utama di kabupaten ini yang memiliki panjang runway 1200m x 30m, luas terminal 120m2, luas halaman parkir 4800m2 belum cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan daerah ini. Untuk menunjang pertumbuhan aktifitas disektor pariwisata, maka Bandar udaranya harus didukung dengan penyediaan fasilitas-fasilitas penunjang transportasi, misalnya pengembangan Bandar udara.Dalam merencanakan pengembangan suatu bandar udara harus memperkirakan arus lalu lintas di masa yang akan datang. Dengan menganalisa data lima tahun jumlah penumpang, bagasi dan cargo menggunakan analisa regresi dapat diramalkan arus lalu lintas dimasa yang akan datang sehingga pengembangan bandar udara diaggap perlu dilakukan. Data-data yang digunakan sebagai acuan perencanaan pengembangan bandara didasarkan pada data-data primer yang diperoleh dari bandara seperti data klimatologi, data karakteristik pesawat, data tanah, keadaan Topografi dan data existing lainnya dibandara.Untuk pengembangan bandar udara Stevanus Rumbewas yang akan direncanakan adalah Runway, Taxiway, Apron, Terminal penumpang, Gudang dan Parkir kendaraan.  Berdasarkan hasil perhitungan yang mengacu pada standar Internasional Civil Aviation organization (ICAO) dengan pesawat rencana ATR 72-600 maka dibutuhkan panjang landasan 1.600 meter lebar 30 meter dan jarak antara sumbu landasan pacu dan sumbu landasan hubung adalah 175 meter lebar total taxiway 25 meter dengan tebal perkerasan lentur 43 Cm, luas apron 121 × 72 = 8712 m2, tebal perkerasan rigid pada apron Metode Federal Aviation Administration (FAA) = 20 Cm sedangkan dengan metode Portland Cemen Asosiation (PCA) = 18 Cm, luas terminal penumpang 2475 m2, luas gudang 375m2 dan luas pelataran parkir 76584 m2.  Kata kunci: Kabupaten Kepulauan Yapen, Pengembangan Bandar Udara, Runway, Taxiway, Apron.