Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENGARUH ENERGI PEMADATAN BENDA UJI TERHADAP BESARAN MARSHALL CAMPURAN BERASPAL PANAS BERGRADASI SENJANG Rumagit, Stevan Estevanus Rein; Kaseke, Oscar H.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 5, No 8 (2017): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengujian mutu campuran beraspal panas yang digunakan untuk lapis perkerasan sampai saat ini masih menggunakan metode Marshall. Proses pemadatan benda uji Marshall di laboratorium merupakan interpretasi dari kondisi di lapangan yang dibuatkan dalam skala kecil. Di lapangan pemadatan dilakukan dengan mesin gilas, di laboratorium dilakukan pemadatan dengan cara menumbuk benda uji dalam cetakan.Dalam spesifikasi Teknik Bina Marga telah ditetapkan batasan – batasan untuk kriteria Marshall pada pembuatan benda uji campuran bergradasi senjang. Pengaruh energi pemadatan benda uji terhadap kriteria Marshall yang akan diangkat dalam penelitian ini.  Benda uji yang akan dibuat bersumber dari desa Lolan Kabupaten Bolaang Mongondow   serta menggunakan Aspal penetrasi 60/70 ex. Pertamina yang menjadi campuran aspal panas. Setelah mendapatkan komposisi kadar aspal terbaik lalu akan dibuat benda uji untuk variasi jumlah tumbukan per bidang yaitu 25, 50, 75, 100, 150, 200, 300, 400 kemudian dianalisis hubungan antara variasi jumlah tumbukan terhadap besaran-besaran Marshall pada jenis campuran Hot Rolled Sheet (HRS). Jumlah tumbukan tersebut yang nantinya dikonversikan kedalam energi pemadatan dengan satuan kJ/m3. Untuk 1 ft-lb = 0,0013558 kilojoule, berat penumbuk yang dipakai 10 lb, tinggi jatuh 18 inch = 1,499 ft, diameter cetakan 4 inch = 0,333 ft serta tinggi benda uji 2,5 inch = 0,2083 ft setara volume 0,01817 ft3  dan untuk 1 ft3 = 0,028317 m3. Sehingga untuk 1 tumbukan per bidang didapat energi pemadatan 79,047 kJ/m3.Dari hasil pengujian menunjukan kadar aspal terbaik pada campuran HRS-WC 7 % dan campuran HRS-Base 6,75 %. Pengaruh energi pemadatan untuk campuran HRS-WC ditentukan dari batasan nilai VIM dengan rentang batasan tumbukan 30-120 kali setara 2371,434-9485,737 kJ/m3, serta untuk jenis campuran HRS-Base pengaruh energi pemadatan ditentukan dari nilai VIM dan VMA dengan rentang tumbukan 40-135 setara 3161,912-11066,69 kJ/m3. Didapatkan hasil pemadatan terbaik dari  campuran HRS-WC adalah 75 tumbukan dan campuran HRS-Base 87 tumbukan atau 5928,586 kJ/m3 untuk HRS-WC dan 6877,159 kJ/m3 untuk HRS-Base. Disarankan mestinya pada pemadatan   campuran HRS-Base yang nantinya dilakukan di lapangan jumlah lintasan pemadatan harus lebih banyak dibandingkan dengan campuran HRS-WC karena hasil energi pemadatan yang didapat dalam penelitian untuk campuran HRS-Base 16 % lebih besar dari campuran HRS-WC.  Kata Kunci : Energi Pemadatan, Besaran Marshall, HRS-WC, HRS-Base
RENCANA PENGEMBANGAN BANDAR UDARA NAHA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA Kiding Allo, Agatha Desiwanty; Sendow, Theo K.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 5, No 9 (2017): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Kabupaten ini adalah pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000. Wilayah Kepulauan Sangihe memiliki produksi domestik dari perikanan laut, pertanian dan perkebunan yang sangat meningkat dan juga memiliki destinasi wisata yang dapat dikunjungi. Untuk itu pemerintah setempat terus berupaya meningkatkan investasi dari segala aspek. Bandar Udara Naha saat ini tergolong sebagai bandara perintis dengan jenis pesawat yang beroperasi ATR72-600. Guna mengimbangi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata ini diharapkan juga diikuti dengan pertumbuhan dan perbaikan infrastuktur yang ada, salah satunya adalah bandara.Perencanaan ini dilakukan menggunakan data sekunder dan data ramalan selama 20 tahun kedepan dengan menggunakan 3 metode, yaitu trend linier, logaritma, dan eksponensial. Data yang diperlukan antara lain data Klimatologi, Data Penumpang, Data Bagasi. Selanjutnya menghitung ukuran runway, taxiway, dan apron dengan menggunakan data ramalan yang ada dan data pesawat rencana yaitu B737-900ER. Perencanaanya mengacu pada standar ICAO, Perencanaan ini meliputi perencanaan Runway, Taxiway, dan Apron. Untuk bagian sisi darat seperti terminal penumpang, gudang, dan parkir kendaraan hanya akan dihitung luasannya.Berdasarkan hasil perhitungan yang mengacu pada standar yang dikeluarkan International Civil Aviation Organitation (ICAO), maka dibutuhkan ukuran runway 2.724 x 60 meter, taxiway 168 x 25 meter, dan apron 93 x 98 meter, luas gedung terminal 17000m2, luas gudang 43m2, dan luas pelataran parkir adalah 2000m2. Kata kunci: Bandar Udara Naha, Rencana Pengembangan Bandar Udara, Runway, Taxiway, Apron, Terminal Penumpang.
Perbedaan Penggunaan Campuran Fly Ash Dan Bottom Ash Batu Bara Sebagai Filler Pada Campuran Beraspal Panas Jenis Lapis Tipis Aspal Beton – Hot Rolled Sheet Wearing Course (HRS-WC) Kalangie, Bryant V. J.; Palenewen, Steve Ch. N.; Lalamentik, Lucia G. J.
TEKNO Vol. 22 No. 90 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i90.58939

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbandingan subtitusi filler fly ash dan bottom ash pada campuran HRS-WC melalui pengujian Marshall. Penambahan fly ash dan bottom ash sebagai filler pada penelitian ini menggunakan kadar variasi 25%, 50%, 75% dan 100% terhadap berat filler dengan menggunakan kadar aspal optimum (KAO) sebesar 7.45%. Hasil dari pengujian karakteristik Marshall pada campuran lataston HRS-WC didapatkan nilai stabilitas untuk kadar fly ash 25% 1065.59 kg; 50% 812.33 kg; 75% 784.48 kg; 100% 716.14 kg. Nilai Flow untuk kadar fly ash 25% 4.48 mm; 50% 4.33 mm; 75% 4.16 mm; 100% 3.95 mm. Nilai VMA untuk kadar fly ash 25% 20.105%; 50% 22.43%; 75% 21.687%; 100% 23.650%. Nilai VIM untuk kadar fly ash 25% 6.348%; 50% 9.077%; 75% 8.203%; 100% 10.503%. Nilai VFB untuk kadar fly ash 25% 68.440%; 50% 59.682%; 75% 62.197%; 100% 55.590. Sedangkan untuk Bottom ash didapatkan Nilai Stabilitas untuk kadar Bottom Ash 25% 973.05kg; 50% 800.50kg; 75% 930.57kg; 100% 912.34kg. Nilai flow untuk kadar bottom ash 25% 3.86mm; 50% 3.49mm; 75% 3.19mm; 100% 3.89mm. Nilai VMA untuk kadar bottom ash 25% 18.736%; 50% 17.579%; 75% 16.239%; 100% 16.345%. Nilai VIM untuk kadar bottom ash 25% 4.743%; 50% 6.629%; 75% 1.816%; 100%1.940%. Nilai VFB untuk kadar bottom ash 25% 75.097%; 50% 80.927%; 75% 88.879%; 100% 88.132%. Dari hasil pengujian terdapat nilai karakteristik yang berbeda sehingga dapat di bandingan kualitasnya mana yang lebih baik. Kata kunci: filler, fly ash, bottom ash, HRS-WC, uji Marshall
Karakteristik Campuran Lapisan Stone Mastic Asphalt (SMA) Memanfaatkan Quary Kakaskasen Kamagi, Angelica R.; Palenewen, Steve Ch. N.; Manoppo, Mecky R. E.
TEKNO Vol. 22 No. 90 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i90.59116

Abstract

Penelitian ini perlu dilakukan agar dapat menganalisa campuran SMA sehingga mendapatkan hasil yang tepat dan dapat menjadi acuan untuk pengembangan campuran SMA. Kadar aspal yang didapati dari campuran lapis SMA Quary Kakaskasen didapati sebesar 7,55% berasal dari karakteristik aspal VMA terendah yaitu 18.061%, VIM menunjukan kadar aspal 7% dengan nilai 5.261% serta 8% dengan nilai 3.962% yang memenuhi spesifikasi batas bawah dan batas atas, begitu juga untuk VCAmix yang setiap kadar aspalnya memenuhi spesifikasi dengan nilai terendah 0.379 pada kadar 8%, untuk nilai draindown mengalami peningkatan dengan hasil tertinggi pada 8% dengan nilai 0.251%, presentase VFB seiring meningkatnya kadar aspal maka meningkat pula dilihat dari nilai tertinggi ada pada kadar 8% dengan nilai 81.103%. Sedangkan Quary Kema didapati hasil VMA yang terendah 20.509% berada dikadar 8% untuk tertinggi 27.309% berada dikadar aspal 4%, hasil VIM menunjukan kadar aspal yang memenuhi batas atas dan batas bawah berada pada kadar 8% yakni 3.159%, hasil rasio VCAmix memenuhi spesifikasi yang ada dan mengalami peningkatan berdasarkan penelitian didapat yang terendah 0.421, kadar aspal dengan VFB meningkat dan untuk nilai tertinggi yang didapat 84.599 pada kadar aspal 8%, serta hasil draindown berada pada 0.297% pada kadar 8%. Kadar Aspal Optimum Quary Kema didapati sebesar 7,8%. Kata kunci: Stone Mastic Asphalt, quarry, uji Marshall
Pemanfaatan Agregat Batu Gunung Karangetang Kabupaten Kepulauan Sitaro Pada Campuran AC-WC Tolip, Vierihard A.; Palenewen, Steve Ch. N.; Manoppo, Mecky R. E.
TEKNO Vol. 22 No. 90 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i90.59485

Abstract

Kabupaten Sitaro, khususnya pulau Siau adalah salah satu daerah yang berpotensi memiliki sumber material berupa agregat batu gunung. Namun meskipun berpotensi, pemanfaatan agregat batu gunung Karangetang dalam konstruksi jalan masih terbatas, dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai karakteristik fisik, mekanik, dan teknis dari agregat tersebut. Sehingga untuk menopang agregat ini akan dilakukan penambahan ataupun penggabungan (mix) dengan agregat dari Kema yang telah diketahui memiliki kualitas yang baik, dan dinilai mampu mengimbangi agregat Karangetang. Hasil pemeriksaan material dan sifat fisik agregat dari material yang diambil dari batuan gunung Karangetang Kabupaten Kepulauan Sitaro tidak memenuhi standar spesifikasi dikarenakan nilai rata-rata keausan mencapai 61,41%, sehingga dilakukan penggabungan (mix) material agregat dari Kema dan didapatkan hasil rata-rata 36,42%; untuk agregat kasar berat jenis bulk yaitu 2,4%, berat jenis SSD 2,5%, berat jenis semu 2,7% dan penyerapan air yaitu 4,4%. Untuk agregat sedang berat jenis bulk yaitu 2,3%, berat jenis SSD 2,4%, berat jenis semu 2,7% dan penyerapan air yaitu 6,1%. Sedangkan untuk agregat halus berat jenis bulk yaitu 2,7%, berat jenis SSD 2,8%, berat jenis semu 2,9% dan penyerapan air yaitu 1,6%. Untuk nilai karakteristik Marshall yang memenuhi spesifikasi didapatkan nilai-nilai sebagai berikut. Kombinasi Variasi Gradasi Agregat mendekati Batas Atas; Nilai Stabilitas: 1530,84 kg;Nilai Flow: 3,38 mm; Nilai VMA: 15,161%; Nilai VIM: 3,271%; Nilai VFB: 78,458%; Nilai FF/Kadar Aspal Efektif: 1,342; Kepadatan: 2,357gr/cc, pada Kadar Aspal Optimum (KAO) 6,85%. Kombinasi Variasi Gradasi Agregat mendekati Batas Tengah; Nilai Stabilitas: 1439,64 kg;Nilai Flow: 3,44 mm; Nilai VMA: 15,161%; Nilai VIM: 3,791%; Nilai VFB: 74,997%; Nilai FF/Kadar Aspal Efektif: 1,201; Kepadatan: 2,329gr/cc, pada Kadar Aspal Optimum (KAO) 6,82%. Kombinasi Variasi Gradasi Agregat mendekati Batas Bawah; Nilai Stabilitas: 1331,21 kg;Nilai Flow: 3,16 mm; Nilai VMA: 15,160%; Nilai VIM: 4,347%; Nilai VFB: 71,339%; Nilai FF/Kadar Aspal Efektif: 1,153; Kepadatan: 2,300gr/cc, pada Kadar Aspal Optimum (KAO) 6,77%. Kata kunci: Karangetang, AC-WC, mix, Uji Marshall
Dampak Substitusi Limbah Plastik LDPE (Low Density Polyethylene) Terhadap Aspal Pada Campuran AC-WC Nio, Aditya L.; Palenewen, Steve Ch. N.; Lalamentik, Lucia G. J.
TEKNO Vol. 22 No. 90 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i90.60251

Abstract

Tumpukan limbah plastik yang tidak terpakai dapat menimbulkan masalah lingkungan, karena sebagian besar tidak bisa didaur ulang. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini digunakan limbah plastik jenis LDPE (Low Density Polyethylene) yang banyak dipakai oleh masyarakat, sebagai bahan substitusi sebagian aspal. Lapisan aspal yang digunakan merupakan Laston Lapis Aus AC-WC, yang menggunakan material dari kakaskasen dan menggunakan aspla pertemina penetrasi 60/70. Digunakan variasi kadar limbah plastik yaitu 2%, 4%, 6%, dan 8% dari total berat aspal rencana. Kemudian digunakan 2 cara untuk melakukan perbandingan yaitu analisa saringan dan fuller, serta pencampuran yang dilakukan adalah cara basah (Wet Process) sebagai metode pencampuran limbah plastik terhadap aspal. Hasil dari pengujian karakteristik marshall setelah disubstitusi limbah plastik dengan cara Analisa Saringan didapatkan nilai tertinggi dan masuk dalam spesifikasi yaitu, Stabilitas pada kadar 4% 1546,00 Kg, Flow pada kadar 8% 3,58 mm, VMA pada kadar 8% 17,731%, VIM pada kadar 4% 4,941%, VFB pada kadar 4% 69,878%, Kepadatan pada kadar 4% 2,134 gr/cc, MQ 444,68. Sedangkan pada cara Fuller didapatkan nilai Stabilitas pada kadar 8% 1838,98 Kg, Flow pada kadar 2% 3,70 mm, VMA pada kadar 14,167% namun tidak masuk dalam spesifikasi, VIM pada kadar 2% 4,768%, VFB pada kadar 68,539%, Kepadatan 8% 2,126 gr/cc, MQ 547,15. Pada 2 cara ini, dapat disimpulkan bahwa substitusi limbah plastik LDPE ini mempengaruhi setiap nilai parameter yang ada. Terlihat pada Stabilitas, Flow, Marshall Quotient yang mengalami peningkatan dan penurunan yang tidak stabil, begitu pula dengan VMA, VIM dan VFB. Cara analisa saringan pada penelitian ini lebih memiliki nilai karakteristik marshall yang baik dibandingkan dengan cara fuller, dan diidentifikasi campuran yang baik pada kadar plastik 4% - 4,4. Kata kunci: Low Density Polyethylene (LDPE), cara basah (Wet Process), AC-WC
Evaluasi Geometrik Jalan Pada Ruas Jalan Suluan-Rumengkor Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara STA 0+000 Sampai 3+000 Kalumata, Jonea S.; Palenewen, Steve Ch. N.; Lalamentik, Lucia G. J.
TEKNO Vol. 23 No. 94 (2025): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v23i94.65246

Abstract

Ruas jalan Suluan – Rumengkor merupakan salah satu jalan yang menghubungkan Kota Tondano dengan Kota Manado. Namun kondisi geometrik ruas jalan ini masih belum memenuhi standar geometric jalan untuk jalan kolektor primer dengan kecepatan 40-60 km/jam. Pada ruas jalan ini masih banyak tikungan yang berdekatan dan memiliki radius kecil sehingga membuat ketidaknyamanan pengguna jalan, sehingga perlu perbaikan geometric.Penelitian ini bertujun untuk menyajikan data geometrik berdasarkan desain perencanaan berupa alinyemen horizontal dan vertical serta volume tanah (galian dan timbunan) pada ruas jalan sepanjang 3km yang dilakukan melalui pengambilan data kondisi geometrik menggunakan alat ukur total station. Data pengukuran dilapangan selanjutnya diolah menggunakan Microsoft excel, kemudian divisualisasikan menggunakan program autocad Civil 3D 2021 dengan mengacu pada Pedoman Desain Geometrik Jalan No.20/SE/Db/2021.Hasil evaluasi menunjukan ruas jalan Suluan – Rumengkor dengan Panjang 3km memiliki 31 tikungan dengan 24 tikungan yang belum memenuhi syarat jari-jari minimum sesuai standar Bina Marga untuk jalan kolektor pripmer dengan kecepatan rencana 60km/jam yaitu 130m. Parameter yang lain juga seperti jarak pandang, kelandaian, jarak antar lengkung dan superelevasi belum memenuhi syarat. Hasil perencanaan trase jalan yang baru menghasilkan 8 lengkung horizontal dan 3 lengkung vertikal. Kata kunci: geometrik jalan, alinyemen horizontal, alinyemen vertikal, volume