Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : SARGA

Place Attachment pada Gedung Juang 45 Pati sebagai Bangunan Bersejarah dan Ruang Publik Aldin Bimo Wicaksono; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 16 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.464 KB) | DOI: 10.56444/sarga.v16i1.120

Abstract

Public space in the city center is an area that is very prominent in its growth, this is driven by various activities including: trade, entertainment/recreation, culture and government. Emotional attachment to a place or place attachment is important to understand, especially because of its potential role in developing public facilities, special places, and communities that work in those places, and also to anticipate conflicts that arise in the management of a place. The building, which was formerly known as Societeit Soekarame, was built during the Dutch government in the 1930s and was used as a place for the elite of Dutch colonialism to gather. During the war of independence, around 1947- 1948, Societeit Soekarame changed its name to Gedung Juang 45. Along with the times, Gedung Juang 45 was renovated with a concept that had been determined to become a Diorama Museumor an educational gallery entitled "Galeri Pati Mbiyen". This study shows that there are two factors driving place attachment in the Juan 45 Pati Building, namely the historical value attached to the building and the social value of society that grows in conjunction with space utilization activities 
Aspek Signifikan Langgam Kolonial Pada Bangunan Lawang Sewu Di Kota Semarang: Significant Aspects of Colonial Style in Lawang Sewu Building in Semarang City Choirul Amin; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 17 No. 1 (2023): January 2023
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v17i1.413

Abstract

Lawang Sewu merupakan suatu bangunan monumental yang ikonik di Kota Semarang, dimana keberadaannya tidak lepas dari perkembangan Kota Semarang, yakni keterkaitan dengan periode waktu pembangunannya pada waktu pendudukan Belanda di Indonesia, serta fungsinya pada waktu itu sebagai sebuah kantor perusahaan kereta api, dan juga letaknya yang stategis di jantung Kota Semarang. Berkaitan dengan periode waktu pembangunan, fungsinya dan juga letaknya, ditengarai sebagai dugaan awal gaya bangunan lawang sewu merupakan perpaduan antara bangunan klasik eropa yang telah disesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia yang kemudian kita kenal dengan langgam kolonial. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan seberapa dalam aspek signifikan sebuah langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu. Ruang lingkup obyek material penelitian ini adalah bangunan lawang sewu, sedangkan ruang lingkup formal penelitian ini adalah pembuktian seberapa dalam langgam kolonial signifikan pada bangunan Lawang Sewu. Hasil dari penelitian ini adalah bukti kedalaman atau signifikansi langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu.
Place Attachment pada Gedung Juang 45 Pati sebagai Bangunan Bersejarah dan Ruang Publik Aldin Bimo Wicaksono; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 16 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v16i1.120

Abstract

Public space in the city center is an area that is very prominent in its growth, this is driven by various activities including: trade, entertainment/recreation, culture and government. Emotional attachment to a place or place attachment is important to understand, especially because of its potential role in developing public facilities, special places, and communities that work in those places, and also to anticipate conflicts that arise in the management of a place. The building, which was formerly known as Societeit Soekarame, was built during the Dutch government in the 1930s and was used as a place for the elite of Dutch colonialism to gather. During the war of independence, around 1947- 1948, Societeit Soekarame changed its name to Gedung Juang 45. Along with the times, Gedung Juang 45 was renovated with a concept that had been determined to become a Diorama Museumor an educational gallery entitled "Galeri Pati Mbiyen". This study shows that there are two factors driving place attachment in the Juan 45 Pati Building, namely the historical value attached to the building and the social value of society that grows in conjunction with space utilization activities 
Aspek Signifikan Langgam Kolonial Pada Bangunan Lawang Sewu Di Kota Semarang: Significant Aspects of Colonial Style in Lawang Sewu Building in Semarang City Choirul Amin; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 17 No. 1 (2023): January 2023
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v17i1.413

Abstract

Lawang Sewu merupakan suatu bangunan monumental yang ikonik di Kota Semarang, dimana keberadaannya tidak lepas dari perkembangan Kota Semarang, yakni keterkaitan dengan periode waktu pembangunannya pada waktu pendudukan Belanda di Indonesia, serta fungsinya pada waktu itu sebagai sebuah kantor perusahaan kereta api, dan juga letaknya yang stategis di jantung Kota Semarang. Berkaitan dengan periode waktu pembangunan, fungsinya dan juga letaknya, ditengarai sebagai dugaan awal gaya bangunan lawang sewu merupakan perpaduan antara bangunan klasik eropa yang telah disesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia yang kemudian kita kenal dengan langgam kolonial. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan seberapa dalam aspek signifikan sebuah langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu. Ruang lingkup obyek material penelitian ini adalah bangunan lawang sewu, sedangkan ruang lingkup formal penelitian ini adalah pembuktian seberapa dalam langgam kolonial signifikan pada bangunan Lawang Sewu. Hasil dari penelitian ini adalah bukti kedalaman atau signifikansi langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu.
Penerapan Konsep Aerotropolis pada Pengembangan Bandar Udara: Application of Aerotropolis Concept in Airport Development Mutia Mandaka; Abdul Hafidz Al Rasyid; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 17 No. 2 (2023): July 2023
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v17i2.567

Abstract

Aerotropolis memberikan konsep bisnis yang mana tempatnya berlokasi pada kawasan bandar udara. Penerapan aerotropolis juga bisa dijadikan sebagai alat dalam memanfaatkan lahan untuk kegiatan komersil secara bersamaan, agar tidak tertinggal dengan wilayah-wilayah lainnya. Tujuan konsep ini adalah untuk memperoleh manfaat untuk bandar udara tersebut, wilayah yang ada di sekitar bandar udara, ataupun secara skala nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran terkait dengan konsep aerotropolis di Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kuala Lumpur International Airport, dan Singapore Changi Airport. Dengan menggunakan metode studi komparatif didapatkan hasil yaitu hanya Kuala Lumpur International Airport dan Singapore Changi Airport yang sangat baik dalam menerapkan konsep aerotropolis. Untuk Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto sendiri masih banyak memiliki kekurangan dan keterbatasan dalam memenuhi prinsip-prinsip aerotropolis seperti prinsip struktur tata ruang wilayah, prinsip tata guna lahan, prinsip peruntukan utama dari fungsi suatu kawasan, prinsip penyediaan kawasan bisnis, serta prinsip konektivitas transportasi.
Penerapan Konsep Aerotropolis pada Pengembangan Bandar Udara: Application of Aerotropolis Concept in Airport Development Mutia Mandaka; Abdul Hafidz Al Rasyid; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 17 No. 2 (2023): July 2023
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v17i2.567

Abstract

Aerotropolis memberikan konsep bisnis yang mana tempatnya berlokasi pada kawasan bandar udara. Penerapan aerotropolis juga bisa dijadikan sebagai alat dalam memanfaatkan lahan untuk kegiatan komersil secara bersamaan, agar tidak tertinggal dengan wilayah-wilayah lainnya. Tujuan konsep ini adalah untuk memperoleh manfaat untuk bandar udara tersebut, wilayah yang ada di sekitar bandar udara, ataupun secara skala nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran terkait dengan konsep aerotropolis di Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kuala Lumpur International Airport, dan Singapore Changi Airport. Dengan menggunakan metode studi komparatif didapatkan hasil yaitu hanya Kuala Lumpur International Airport dan Singapore Changi Airport yang sangat baik dalam menerapkan konsep aerotropolis. Untuk Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto sendiri masih banyak memiliki kekurangan dan keterbatasan dalam memenuhi prinsip-prinsip aerotropolis seperti prinsip struktur tata ruang wilayah, prinsip tata guna lahan, prinsip peruntukan utama dari fungsi suatu kawasan, prinsip penyediaan kawasan bisnis, serta prinsip konektivitas transportasi.