Claim Missing Document
Check
Articles

DETERMINAN TINGKAT SUKU BUNGA PINJAMAN PERBANKAN DI INDONESIA (PERIODE JULI 2005 – DESEMBER 2011) Waljianah, Riza; Wulandari, Farah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol. 1 No. 1
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This  paper describes the effect of monetary instruments BI rate in order to influence the movement of the loan interest rate through deposit interest rate and also explained the macroeconomic factors thought to affect the movement of the loan interest rate are interbank rates, inflation, as well as the variables associated with international financial interaction are exchange rate and foreign interest rate SIBOR. The analysis used multiple regression analysis incrementally with the study period July 2005  - December 2011.Empirical test  results prove that the policy  interest rate BI rate has a major impact or influence the development of interest rate loan through an interest rate of deposits. Interbank rates and SIBOR have the opposite effect in influencing the direction of loan interest rate through deposit interest rate.  Inflation    has no  significant contribution in the movement of the  loan interest rate. And exchange rate has little contribution with unidirectional movement in influencing of loan interest rate through interest rates on deposits. Keywords: BI Rate, interbank rates, inflation, exchange rates, SIBOR, loan interest rate.
ANALISIS PERSISTENSI INFLASI JAWA TIMUR : SUATU PENDEKATAN SISI PENAWARAN Hidayati, Fatimah; P, Farah Wulandari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol. 1 No. 2
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inflasi adalah proses meningkatnya harga-harga barang secara umum dan terus menerus. Inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai  mata uang  secara terus-menerus. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Perilaku dari inflasi dapat dipelajari melalui persistensi inflasi.  Persistensi inflasi merupakan perilaku yang sering ditemukan di banyak negara maupun wilayah tertentu, tidak terkecuali di Indonesia dan provinsi-provinsinya. Persistensi inflasi merupakan cepat lambatnya inflasi untuk kembali ke nilai alamiahnya ketika terjadi guncangan (shock) yang menyebabkan inflasi menjauh dari nilai alamiahnya tersebut. Derajat persistensi yang tinggi menunjukkan lambatnya tingkat inflasi ke tingkat alamiahnya. Sebaliknya derajat persistensi yang rendah menunjukkan cepatnya tingkat inflasi untuk kembali ke tingkat alamiahnya. Shock dimaksud antara lain dapat berupa kebijakan pemerintah, gangguan distribusi, bencana alam dan perubahan cuaca.  Penelitian ini bertujuan untuk mengukur derajat persistensi inflasi di Jawa Timur dan juga untuk mengetahui sumber-sumber dari persistensi inflasi tersebut terutama dari sisi penawaran. Pada penelitian ini juga akan membahas tentang pengendalian inflasi dari sisi penawaran yang dilakukan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).  Penelitian ini menggunakan model  univariate yaitu model autoregressive (AR) time series untuk mengestimasi derajat persistensi inflasi.  Dengan menggunakan data bulanan dalam masa pengamatan 2006-2012, penelitian menemukan derajad persistensi inflasi di Jawa Timur masih tinggi. Sumber utama penyebab munculnya persistensi inflasi terkait shock yang terjadi pada komponen administered price yang diwakili oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar dan juga pada kelompok volatile foods yang diwakili oleh kelompok bahan makanan. Penelitian ini juga menemukan bahwa jangka waktu yang dibutuhkan oleh kelompok pengeluaran untuk kembali kenilai alamiahnya selama 8 hingga 16 bulan. Sedangkan untuk adanya pembentukan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) telah memberikan pengaruh yang baik bagi persistensi inflasi Jawa Timur. Setelah dibentuknya TPID, persistensi inflasi Jawa Timur cenderung mengalami penurunan.  Implikasi dari temuan di atas yaitu dapat menjadi acuan dalam menentukan timing dalam menentukan kebijakan oleh pemerintah. Disamping itu untuk mengendalikan inflasi yang disebabkan oleh anomaly cuaca, TPID dapat menjalin kerjasama dengan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk memantau cuaca  serta melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dalam  rangka pemanfaatan teknologi untuk mengurangi dampak dari perubahan cuaca.   Kata Kunci:  Persistensi Inflasi, Administered Price, Volatile Foods, Tim Pengendali Inflasi Daerah, Autoregressive.
PREFERENSI KONSUMSI MASYARAKAT TERHADAP ENERGI TERBARUKAN (BIOFUEL) (Studi Kasus Pada Komplek Perumahan Tambak Rejo Indah, Waru, Sidoarjo) Khoiriyah, Nurul; Wulandari, Farah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol. 1 No. 2
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lemahnya perekonomian masyarakat sehubungan dengan kelangkaan dan menipisnya cadangan energi BBM sebagai sumber daya alam tak terbaharukan. Penelitian ini untuk bertujuan untuk mengetahui preferensi konsumsi masyarakat terhadap energi terbarukan (biofuel), serta efek substitusi dan efek pendapatan, pada konsumsi energi terbarukan, tujuan lain yang ingin dicapai adalah mengetahui kendala pengunaan energi terbarukan (biofuel). Untuk melihat seberapa tingkat preferensi konsumsi masyarakat terhadap energi terbarukan, melihat terjadinya efek substitusi dan efek pendapatan, serta kendala penggunaan energi terbarukan, dengan melakukan survei dan analisis deskriptif. Dari hasil survei dapat dikatakan bahwa tingkat konsumsi masyarakat terhadap energi terbarukan dipengaruhi oleh tingkat konsumsi energi lain. Dari analisis deskriptif, dengan mengkonsumsi energi terbarukan masyarakat mendapatkan utilitas yang tinggi dibandingkan dengan mengkonsumsi energi lain, karena selain memiliki kesamaan harga dan tidak menimbulkan polusi udara, biofuel merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui. Setelah terjadinya pembatasan penggunaan BBM bersubsidi, energi biofuel menjadi substitusi bahan bakar kendaraan dalam masyarakat dan sebagai solusi untuk mengatasi masalah polusi udara disekitar mereka, serta dapat menghemat cadangan energi fosil yang kita miliki dan mengurangi subsidi BBM. Dalam pemanfaatan biofuel, masyarakat masih ada yang menemui kendala secara teknis.   Kata kunci: Biofuel, Preferensi, Konsumsi, Substitusi, Subsidi
TELAAH KRITIS PEMISAHAN WEWENANG PENGAWASAN BANK PADA MASA TRANSISI BANK INDONESIA DAN OTORITAS JASA KEUANGAN Annisa, Fauza Dwi; Pangestuty, Farah Wulandari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol. 2 No. 2
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis perekonomian di tahun 1997, krisis ekonomi dan keuangan global di tahun 2008 dan kasus Bank Century di tahun 2008 merupakan beberapa  permasalahan  yang  menunjukan bahwa efektifitas Bank Indonesia dalam melaksanakan tanggung jawabnya terutama sebagai pengatur dan pengawas bank dinilai gagal.  Akibat kegagalan  tersebut, pemerintah Indonesia memberikan perhatiannya dengan membentuk suatu sistem pengawasan baru yang independen yang bertujuan untuk melindungi konsumen dan meningkatkan efisiensi lembaga keuangan. Lembaga pengawasan independen ini adalah Otoritas Jasa Keuangan yang selanjutnya disebut OJK. Adanya OJK  secara otomatis memisahkan wewenang pengawasan secara makro (makroprudensial) dan pengawasan secara mikro (mikroprudensial). Peneliti akan mengamati apa implikasi dari adanya pemisahan wewenang pengawasan bank pada masa transisi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Dengan menggunakan analisis kualitatif dan pendekatan  kualitatif fenomenologis sehingga dapat menjawab rumusan masalah pada penelitian. Dari hasil penelitian ini, diketahui bahwa  pemisahan wewenang pengawasan bank menimbulkan banyak kekhawatiran diantaranya munculnya konflik kepentingan antar lembaga, resiko sistemmik sabilitas keuangan dan kesulitan dalam melaksanakan survey lembaga keuangan. Namun dibalik kekhawatiran potensi konflik tersebut, pemisahan lembaga pengawasan menjadi perlu bila melihat perkembangan pesat sistem keuangan dan teknologi informasi serta inovasi finansial yang mampu membuat sistem keuangan yang semakin kompleks, dinamis, dan saling terkait satu sama lain antar subsektor keuangan dan lembaga keuangan serta melihat tingginya jumlah konglomerasi keuangan di Indonesia.   Kata kunci: Wewenang pengawasan bank, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan
THE DETERMINANT OF FACTORS THAT INFLUENCE THE DEMAND OF MORTGAGE LOAN (A Case Study in Bank Tabungan Negara (BTN) University of Brawijaya Branch office malang in 2008 – 2012) Ratuningtyas, Aulia; Pangestuty, Farah Wulandari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol. 2 No. 2
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

By using secondary data obtained from BTN University of Brawijaya Branch Office Malang  and Central Bureau of Statistics (BPS) Malang  in 2008 to 2012 and multiple regression analysis, this study  is aimed to analyze  the factors that influence the demand of mortgage loan in BTN University of Brawijaya Branch Office Malang from 2008 to 2012. BTN is the biggest bank in Indonesia that provides mortgage loan as the main product. The results of multiple regression analysis show that the factors include  lending rate, inflation,  income, and exchange rate  are simultaneously influence the demand of mortgage loan. Inflation and income have  significant influence  towards  the demand of mortgage loan, but lending rate and exchange rate has insignificant influence towards the demand of mortgage loan.Keywords:  The demand of  mortgage loan, lending rate, inflation,  income, exchange rate
ANALISIS PENGARUH KINERJA KEUANGAN DAN MAKROEKONOMI TERHADAP NPL KPR (Studi Kasus Pada Bank Umum Periode 2010-2013) Setifandy, Tegar; Pangestuty, Farah Wulandari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol. 2 No. 2
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kredit merupakan usaha pokok dari Lembaga Keuangan Bank, semakin besar volume kredit yang diterima bank maka semakin besar kemungkinan laba yang akan diperoleh. Non-Performing Loan merupakan salah satu indikator dalam menilai kinerja fungsi bank, dimana fungsi bank adalah sebagai lembaga intermediasi. Semakin rendah rasio NPL maka  akan  semakin  rendah  tingkat  kredit  bermasalah  yang  terjadi  yang  berarti semakin baik kondisi dari bank tersebut. Berbicara tentang jenis-jenis kredit, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merupakan  salah  satu  jenis  kredit  yang  cukup  populer.  Prediksi terjadinya Non-Performing Loan (NPL) dapat dilihat dari beberapa faktor diantaranya yang tercermin dalam rasio kinerja keuangan seperti Bank Size, Loan Deposit Ratio (LDR), dan Capital Adequacy Ratio (CAR), serta faktor makroekonomi seperti rasio pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) dan Inflasi. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui bagaimana pengaruh kinerja keuangan dan variabel makroekonomi terhadap  NPL KPR pada bank umum selama periode tahun 2010-2013. Penelitian yang dilakukan termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik analisa regresi berganda. Hasil penelitian membuktikan bahwa Hasil analisis pengaruh kinerja keuangan dan makroekonomi terhadap NPL KPR dapat diketahui bahwa  variabel bebas yang tercermin didalam kinerja keuangan yang meliputi Bank Size, LDR, CAR, dan makroekonomi yang meliputi GDP, Inflasi secara bersama-sama  mempunyai pengaruh yang  kuat  terhadap rasio NPL KPR Bank Umum selama periode tahun 2010-2013.   Kata Kunci:Kinerja keuangan(Bank Size,LDR,CAR), Makroekonomi(GDP,Inflasi),dan Non-perfoming loan /NPL.