Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Biohole Effectiveness Analysis Through The Distribution Pattern of Microbes at Each Depth In Real Time On Coastal Sand Nugroho Widiasmadi; Djoko Suwarno
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1452.547 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i6.7752

Abstract

This research was conducted on coastal sand, especially for plantations, with the aim of not only restoring the health and fertility of the soil due to the use of chemical fertilizers and pesticides as well as seeing the pattern of EC distribution at each depth from the center of the biohole based on the time of observation. Through controlled microbial activity, its spread through two types of biohole, namely horizontal and vertical biohole. This research observes in real time through soil parameter sensors connected to the micro controller to changes in soil acidity, infiltration rate, conductivity electrolyte level and porosity level through soil infiltration rate. Through simulations with 2 types of biohole, it can be seen the increase in EC in each depth to the time of observation in real time. From the observations of graphs and EC standards, it can be seen that the ability of the soil to provide nutrients in the root growth zone to support the schedule and distribution patterns of planting both during vegetative growth and generative growth periods. So that we will know the proper biohole distance and spacing in order to be able to provide vegetative and generative mass nutrition based on nutrient values monitored through sensors that change the analog parameters in the micro posesor into digital information transmitted by wifi in real time. Sand coastal soil fertility simulation based on the number of microbial populations = 10 8 / cfu with Variable 1: Soil Fertility Value or Electrolyte Conductivity / EC at a depth of 26 cm from 550 uS / cm to 1238 uS / cm on day 35 and from 1238 uS / cm down to 990 uS / cm on day 40. Varibale 2: Soil Fertility Value or Electrolyte Conductivity / EC at a depth of 24 cm from 550 uS / cm up to 968 uS / cm on day 35 & from 968 uS / cm down to 842 uS / cm on day 40.
Analisis Sempadan Sungai Pepe Kota Surakarta Satria Dinda Pradana; Budi Santosa; Djoko Suwarno
G-SMART Vol 7, No 1: Juni 2023
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/gsmart.v7i1.5992

Abstract

Sungai Pepe yang berada di Kota Surakarta, adalah salah satu sungai yang sebagian daerah sempadan sungainya saat ini telah mengalami alih fungsi. Pencemaran akibat aktifitas masyarakat yang berada disekitar wilayah sempadan sungai Pepe telah mengakibatkan terjadinya pencemaran air di sungai tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang sempadan yang sesuai dan tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 38 tahun 2011. Penelitian ini memanfaatkan program ArcGIS dan peta citra Kota Surakarta untuk menentukan garis sempadan sungai sesuai dengan aturan  Peraturan Pemerintah no 38 Tahun 2011. Hasil dari penelitian menunjukkan semua sungai bertanggul sesuai dengan aturan yang berlaku dan untuk sungai tidak bertanggul ada yang tidak sesuai dengan peraturan yaitu Kelurahan Kepatihan Wetan, Kelurahan Kampung Baru, Kelurahan Sudiroprajan, Kelurahan Kedung Lumbu, dan Kelurahan Gandekan. Maka Perlu dilakukan peninjauan kembali oleh pemerintah terhadap pemukiman yang berada di sempadan sungai agar pemanfaatan daerah sempadan sungai sesuai dengan peraturan yang ada dan segera dilakukan perencanaan dan pelaksanaan penataan sempadan Sungai Pepe agar dapat berfungsi kembali sesuai dengan peruntukannya.Sungai Pepe yang berada di Kota Surakarta, adalah salah satu sungai yang sebagian daerah sempadan sungainya saat ini telah mengalami alih fungsi. Pencemaran akibat aktifitas masyarakat yang berada disekitar wilayah sempadan sungai Pepe telah mengakibatkan terjadinya pencemaran air di sungai tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang sempadan yang sesuai dan tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 38 tahun 2011. Penelitian ini memanfaatkan program ArcGIS dan peta citra Kota Surakarta untuk menentukan garis sempadan sungai sesuai dengan aturan  Peraturan Pemerintah no 38 Tahun 2011. Hasil dari penelitian menunjukkan semua sungai bertanggul sesuai dengan aturan yang berlaku dan untuk sungai tidak bertanggul ada yang tidak sesuai dengan peraturan yaitu Kelurahan Kepatihan Wetan, Kelurahan Kampung Baru, Kelurahan Sudiroprajan, Kelurahan Kedung Lumbu, dan Kelurahan Gandekan. Maka Perlu dilakukan peninjauan kembali oleh pemerintah terhadap pemukiman yang berada di sempadan sungai agar pemanfaatan daerah sempadan sungai sesuai dengan peraturan yang ada dan segera dilakukan perencanaan dan pelaksanaan penataan sempadan Sungai Pepe agar dapat berfungsi kembali sesuai dengan peruntukannya
Potensi Penurunan Debit Banjir Di Sungai Jragung Akibat Pembangunan Bendungan Jragung Guntoro Riki Wibisono; Avin Ananta Paranindya; Budi Santosa; Djoko Suwarno
G-SMART Vol 7, No 1: Juni 2023
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/gsmart.v7i1.10079

Abstract

Daerah Aliran Sungai Jragung pada saat debit banjir yang mengalir cukup besar menyebabkan daerah tengah dan hilir dilanda banjir setiap tahun, bahkan banjir besar di beberapa daerah salah satunya di Bendung Guntur dapat terjadi dua kali dalam setahun, kondisi Daerah Aliran Sungai Jragung sudah sebagian besar terbuka karena hampir 70% berupa kebun dan ladang, tetapi dengan kondisi tersebut masih terdapat oknum yang melakukan kegiatan pembukaan lahan dan illegal logging sehingga pemerintah membuat Bendungan Jragung untuk mereduksi banjir pada aliran Sungai Jragung. Penelitian ini berguna untuk mengetahui debit banjir sebelum ada Bendungan Jragung dan setelah ada Bendungan Jragung sehingga dapat diketahui angka reduksi dari debit banjir pada Sungai Jragung untuk kala ulang 2, 5,1 0, 20, 50, 100, 200, 500, dan 1000 Tahun. Untuk menganalisis pengaruh pembangunan Bendungan Jragung terhadap potensi penurunan debit banjir Sungai Jragung pada penelitian ini digunakan analisis Hidrograf Satuan Sintetik dan debit melalui waduk. Penelitian ini menggunakan Hidrograf Satuan Sintetik Snyder dan debit melalui waduk menggunakan metode level pool routing. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah curah hujan peta Daerah Aliran Sungai Jragung, data parameter bendungan, data parameter Daerah Aliran Sungai, dan debit aliran Sungai Jragung. Dari hasil penelitian dapat diketahui debit sebelum ada bendungan yaitu sebagai aliran inflow untuk kala ulang 2, 5, 10, 20, 50, 100, 200, 500, dan 1000 tahun sebesar sebesar 26,79 m3/det, 36,80 m3/det, 43,46 m3/det, 49,79 m3/det, 58,14 m3/det, 64,53 m3/det, 71,03 m3/det, 79,56 m3/det dan 86,13 m3/det. Untuk hasil penelitian debit setelah ada bendungan sebagai outflow untuk kala ulang 2, 5, 10, 20, 50, 100, 200, 500, dan 1000 tahun sebesar 24,41 m3/det, 33,46 m3/det, 39,46 m3/det, 45,19 m3/det, 52,90 m3/det, 58,84 m3/det, 64,61 m3/det, 72,30 m3/det, dan 78,22 m3/det. Berdasarkan hasil debit banjir sebelum ada bendungan dan setelah ada bendungan dapat diketahui potensi penurunan debit banjir pada Sungai Jragung untuk kala ulang 2, 5, 10, 20, 50, 100, 200, 500, dan 1000 tahun sebesar 8,88%, 9,06%, 9,18%, 9,25%, 9,01%, 8,95%, 9,04%, 9,12% dan 9,18%.Kata kunci: debit banjir, hidrograf satuan sintetik snyder, debit melalui waduk.
Analisis Potensi Pemanenan Air Hujan (Studi Kasus Kampus Bendan Unika Soegijapranata) Eko Erfianto; Djoko Suwarno; Daniel Hartanto
G-SMART Vol 7, No 2: Desember 2023
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/gsmart.v7i2.10569

Abstract

Kota Semarang sering dilanda banjir, baik banjir harian akibat rob ataupun banjir sungai yang datang tiap musim  hujan. Perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi areal pemukiman/real estate mengakibatkan kenaikan debit puncak menjadi 5-20 kali. Alih fungsi lahan mengakibatkan bencana alam karena air hujan yang seharusnya menyerap (infiltrasi) ke dalam tanah tetapi tidak bisa (terjadi runoff) karena terhalang material seperti beton, aspal serta material lainnya. Salah satu alternatif guna mengurangi laju runoff air hujan adalah dengan membentuk resapan dan menggunakan sistem pemanenan air hujan atau sering disebut rain harvesting. Pemanenan air hujan atau yang biasa dikenal dengan istilah rain harvesting merupakan sumber daya alternatif yang pemanfaatnnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku. Sistem pemanenan air hujan yang dilakukan pada daerah hulu dapat menjadi penghambat banjir di wilayah hilir karena air yang seharusnya mengalir (runoff) akan masuk ke tampungan-tampungan pada sistem pemanenan air hujan ini (pengurangan debit air yang langsung menuju hulu). Pemilihan objek penelitian pada kampus bendan Universitas Katolik Soegijapranata karena lokasinya yang berada pada daerah Kota Semarang atas sehingga dinilai tepat jika menerapkan kebutuhan air dengan menggunakan sistem pemanenan air hujan agar mengurangi aliran permukaan (runoff) pada daerah Kota Semarang bawah. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data umum dan data teknis lokasi penelitian, kemudian dianalisis menggunakan acuan SNI 03-6481 Tahun 2000 dan SNI 03-7065 Tahun 2005 tentang Sistem Plumbing. Hasil penelitian ini adalah jumlah air hujan yang dapat ditampung dan kebutuhan sehari-hari Civitas Academica Universitas Katolik Soegijapranata Semarang