Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Literatus

Analisis Perubahan Bunyi Fonem pada Puisi Karya Chairil Anwar Abd Rozak; Irwan Siagian
LITERATUS Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Internasional Sosial dan Budaya
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/lit.v4i1.681

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis perubahan bunyi fonem yang terdapat dalam puisi-puisi karya Chairil Anwar. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif. Objek penelitian ini adalah perubahan bunyi fonem pada puisi-puisi karya Chairil Anwar. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah puisi-puisi karya Chairil Anwar. Sumber data berasal dari kumpulan puisi karya Chairil Anwar. Metode penyediaan data yaitu analisis dokumen. Perubahan bunyi fonem disebabkan oleh berbagai hal yaitu sistem morfologi bahasa, budaya pengucapan bahasa, dan konsep sistem alfabet bahasa itu sendiri. Puisi merupakan karya sastra yang di dalamnya terdapat irama, matra, rima, serta tersusun larik dan bait. Chairil Anwar ialah seorang pemuda yang lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922, Chairil Anwar dinobatkan sebagai pelopor Angkatan ’45.  Hasil analisis data menyimpulkan bahwa dari 11 puisi karya Chairil Anwar terdapat 6 jenis perubahan bunyi fonem di antaranya yaitu asimilasi, disimilasi, netralisasi, zeroisasi, anaptiksis dan monoftongisasi  serta 19 kata yang merupakan perubahan bunyi fonem.
Perbedaan dan Persamaan Fonem antara Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia Tiara Permatasari; Irwan Siagian
LITERATUS Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Internasional Sosial dan Budaya
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/lit.v4i1.684

Abstract

Penggunaan bahasa daerah merupakan bahasa yang lebih dulu digunakan daripada bahasa Indonesia. Terdapat ilmu fonologi yang mempelajari distribusi fonem yang terbagi menjadi vokal dan konsonan. Di dalam pembelajaran fonem mengkaji perbendaharaan bunyi fonem tersebut. Di dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan persamaan mendasar dari fonem di dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualitatif. Hasil penelitian didapatkan dari kegiatan wawancara dan dikaitkan dengan sumber studi literatur yang didapatkan dari internet. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan di dalam fonem vokal dan konsonan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda. Di dalam bahasa Sunda terdapat fonem tambahan /é/ selain dari lima fonem vokal di dalam bahasa Indonesia. Selain itu terdapat perbedaan fonem konsonan yang di dalam bahasa Sunda hanya terdiri dari 18 fonem sedangkan di dalam bahasa Indonesia terdiri dari 21 fonem konsonan.
Kajian Fonetik: Persamaan dan Perbedaan Arti Kata Bahasa Jawa dan Sunda dalam Bahasa Indonesia Hisam Alimahmudi; Irwan Siagian
LITERATUS Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Internasional Sosial dan Budaya
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/lit.v4i1.695

Abstract

This study aims to examine the phonetic elements in the similarity of words in Javanese and Sundanese. This research is a qualitative descriptive study. The data collection technique used observational interviews with two sources and the data recorded for analysis. The theory used by the researcher is auditory phonetic theory, where the sense of hearing (ears) used to learn something. Two speakers were Tariq Ibra as a single speaker (Java) and Silpia Maulida as a double speaker (Sunda). The data used is the similarity of words in Javanese and Sundanese from both sources. The results of the data analysis concluded that there are seven similar words in Javanese and Sundanese, including g?lis, ag?ng, p?p?k or p?p?g, bade kudu, edan, and mudun. The similarities of the phonetic aspects of the word equation are sound variations (allophones), segmental sounds, and changes in phoneme sounds (neutralization). And the difference in sound from the word equation is the articulation, namely retroflex consonants and lamino-alveolar consonants.
Kemampuan Fonetik dalam Perkembangan Bahasa pada Anak Usia Dini Lasdame Srydevi Octavia Sihombing; Irwan Siagian
LITERATUS Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Internasional Sosial dan Budaya
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/lit.v4i1.699

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan fonetik dalam meningkatkan perkembangan bahasa pada anak usia dini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengolahan data menggunakan studi dokumentasi dan pustakaan. Subjek penelitian adalah anak-anak usia 0-6 tahun. Perkembangan fonetik pada anak secara umum dapat dilihat dari kemampuan bahasa reseptif dan produksi bahasa. Ketika seorang anak telah mampu memproduksi bunyi dalam bahasa (fonetik) dengan tepat, mulai mencoba untuk mengaitkannya dengan makna yang hendak disampaikan dan menggunakan susunan kata-kata yang tepat dalam ungkapannya, anak tersebut sudah mampu untuk menggunakan bentuk bahasa ekspresifnya dalam menyampaikan gagasan. Dengan digunakannya bahasa ekspresif untuk menyatakan kehendak kepada pihak lain, anak tersebut mampu menerima respons dari lawan bicaranya dengan menggunakan kemampuan reseptifnya. Satu pihak menggunakan bahasa ekspresif dan pihak lain menggunakan bahasa reseptif dan sebaliknya merupakan suatu timbal balik yang sering disebut dengan komunikasi. Proses perkembangan pengetahuan fonetik pada anak usia dini dimulai dari tahap bayi, batita, prasekolah dan teman kanak-kanak. Perkembangan bahasa pada anak menunjukkan karakter yang spesifik di setiap tahap perkembangannya. Perkembangan bahasa pada anak usia dini mungkin berbeda-beda, namun secara alamiah perkembangan bahasa pada anak cenderung memiliki tahap yang sama. Perkembangan tersebut  harus seimbang  untuk memperoleh hasil yang optimal. Ada anak yang berusia 10-14 bulan sudah dapat mengucapkan satu kata sementara ada anak yang belum dapat mengucapkan satu kata dengan jelas. Di sisi lain, ada anak jenjang usia 3 tahun yang belum dapat memahami instruksi sederhana dari orang tuanya sementara di sisi lain ada anak yang sudah mampu memahami bahasa yang di ucapkan sesuai instruksi orang tuanya.
Pengaruh Bahasa Daerah terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia dikalangan Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI Winadia Winadia; Irwan Siagian
LITERATUS Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Internasional Sosial dan Budaya
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/lit.v5i1.1127

Abstract

Penelitian ini berkaitan dengan pengaruh bahasa daerah terhadap cara berbicara mahasiswa di lingkungan kampus Unindra. Metode yang digunakan adalah kuatitatif, pengambilan sample dari 41 mahasiswa melalui kuisioner. Teknis dari pengambilan data dengan cara membagikan form isian yang berisikan pertanyaan, adapun pertanyaanya sebagai berikut : Apakah anda sering memakai bahasa daerah dalam komunikasi antar teman mahasiswa satu daerah dilingkungan kampus?, 2. Apakah anda melakukan campur kode bahasa daerah dan bahasa Indonesia dilingkungan kampus?, 3. Apakah anda sering memakai logat bahasa daerah, ketika sedang berbicara dengan teman mahasiswa satu daerah?, 4. Apa penyebab anda menggunakan bahasa daerah dilingkungan kampus?. Dari penelitian yang telah dilakukan menghasilkan presentase hasil analisis mengenai respon mahasiswa dari beberapa pertanyaan. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan jika sebagian besar mahasiswa unindra memakai bahasa daerah dalam berinteraksi.
Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini melalui Metode Bercerita Fatwah Hanipah; Irwan Siagian
LITERATUS Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Internasional Sosial dan Budaya
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/lit.v5i1.1134

Abstract

Usia dini atau yang akrab disebut dengan golden age berada pada rentang usia 0-6 tahun. Pada masa ini anak mendapatkan rangsangan yang tepat agar perkembangan anak dapat berlangsung secara optimal, salah satunya dengan metode bercerita. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini dengan menggunakan metode bercerita dan mendeskripsikan kemampuan berbahasa yang dimiliki anak melalui metode bercerita. Adanya penelitian ini dikarenakan masih banyak anak yang belum mampu berbicara dengan baik dan benar. Dalam penelitian ini menggunakan metode studi literatur dimana teknik ini menggunakan metode pengumpulan data kepustakaan, membaca, menulis dan mengolah hasil penelitian dari beberapa buku, artikel dan jurnal. Hasil penelitian dengan menggunakan metode bercerita ini dapat meningkatkan perkembangan linguistik pada anak dan memberikan kepercayaan diri anak untuk berpartisipasi dalam mendongeng. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian bahwa metode bercerita merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan bahasa anak.