Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Simposium II UNIID 2017

PERENCANAAN PEMELIHARAAN JALAN RELDAOP VI YOGYAKARTA Ayi Rayhana Aulia; Danang Parikesit
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.648 KB)

Abstract

PT. Kereta Api Indonesia menempatkan keselamatan pada misi utamanya dalam melayani pelanggan dengan cara melakukan pemeliharaan pada seluruh daerah operasionalnya, termasuk Daerah Operasional VI Yogyakarta yang terdiri atas 12 koridor dengan panjang total sekitar 385 km. Pelaksanaan pemeliharaan akan menggunakan IMO (Infrastructure Maintenance and Operation) sebagai biaya pemeliharaan dan operasi, namun IMO yang diberikan oleh pemerintah seringkali tidak cukup karena adanya kendala dalam anggaran. Daerah pemeliharaan yang panjang, dana pemeliharaan yang terbatas, dan pentingnya pemeliharaan membuat pemeliharaan dilakukan berdasarkan urutan prioritas koridor atau urutan koridor yang membutuhkan pemeliharaan terlebih dahulu, sehingga dana yang terbatas dapat dialokasikan dengan tepat. Perencanaan pemeliharaan dilakukan dengan mencari banyaknya kuantitas pemeliharaan berdasarkan umur layan masing-masing komponen atas penyusun jalan rel, kemudian menetapkan koridor prioritas dengan menggunakan penilaian kekritisan dan penilaian kondisi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa koridor YogyakartaLempuyangan menjadi prioritas utama dengan nilai kekritisan sebesar 18, dan 17 untuk penilaian berdasarkan kondisi. Kuantitas pemeliharaan untuk koridor YogyakartaLempuyangan adalah penggantian rel R-54 sebanyak 187 m/tahun, 87 penggantian bantalan kayu dan 76 penggantian bantalan beton, penggantian balas sebanyak 203 m3/tahun, dan frekuensi pemecokan yang dilakukan 20 bulan sekali sepanjang 1,517 m.
KOMPONEN AKSESIBILITAS YANG MEMPENGARUHI PEMANFAATAN JALAN TOL SEMARANG – SOLO OLEH KAWASAN STRATEGIS DI SEKITARNYA Catherine Wahyu NW; Danang Parikesit
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.873 KB)

Abstract

Pembangunan Jalan Tol Semarang – Solo bertujuan untuk mengurangi beban lalu lintas pada jalan nasional yang selama ini menjadi jalan utama dalam pendistribusian orang maupun barang dan juga untuk meningkatkan akses kawasan – kawasan strategis yaitu kawasan yang diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting terhadap ekonomi, sosial, budaya atau lingkungan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian apakah kawasan – kawasan strategis tersebut memiliki akses yang cukup baik untuk memanfaatkan Jalan Tol Semarang – Solo dilihat dari sisi komponen aksesibilitas. Penelitian dilakukan metode pengukuran gabungan antara activity based measured dan infrastructure based measured, dimana perjalanan yang dihasilkan oleh suatu kawasan dibagi dengan impedance atau hambatan jaringan jalan penghubung dari kawasan strategis menuju gerbang tol terdekat dengan persamaan Ai = Σ Oj / (tαij dβijcγijlδij pσij). Impedance infrastruktur berupa jarak, waktu tempuh, tingkat pelayanan dan kondisi perkerasan. Indeks aksesibilitas kawasan strategis rata-rata tergolong rendah (nilai indeks < 70), indeks aksesibilitas tinggi hanya dimiliki oleh kawasan strategis perkotaan Ungaran sebesar 201,44. Dari sisi pemanfaatan akses tol terdekat diperoleh nilai pemanfaatan sebesar 48%, dengan kawasan industri yang paling kecil yaitu 23%. Komponen aksesibilitas yang paling berpengaruh untuk pemanfaatan jalan tol pada kawasan industri adalah level of service sebesar – 0,32, pada kawasan perkotaan adalah komponen biaya yaitu sebesar -4,884, dan pada kawasan wisata adalah komponen waktu yaitu sebesar -2,489.
RANCANGAN MANAJEMEN LALU LINTAS KAWASAN STASIUN TUGU DENGAN PEMBANGUNAN STASIUN KA BANDARA Muhammad Deni Satria Putra; Danang Parikesit
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1128.132 KB)

Abstract

Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakara akan merencanakan pembangunan Bandar Udara baru di Kecamatan Temon, Kulon Progo. Untuk memudahkan akses menuju Bandar Udara baru tersebut, akan direncanakan pembangunan Stasiun kereta api bandara Yogyakarta. Tujuan dari perancangan ini adalah merancang manajemen lalu lintas jaringan jalan Stasiun Tugu Yogyakarta akibat adanya Stasiun kereta api bandara Yogyakarta. Metode yang akan digunakan untuk menghasilkan pemodelan arus lalu lintas antara lain : Survei volume lalu lintas di 8 titik simpang jaringan jalan Stasiun Tugu Yogyakarta, pengukuran geometrik jalan, survei kecepatan dan pemodelan simulasi lalu lintas menggunakan perangkat lunak VISSIM. Berdasarkan hasil perancangan, didapat rata-rata derajat kejenuhan dan rata-rata kecepatan masing-masing kondisi ialah kondisi eksisting 0,4 dan 33 km/jam, kondisi skenario 1 0,38 dan 36 km/jam lalu kondisi skenario 2 0,30 dan 39 km/jam. Dilakukan 2 skenario yaitu skenario 1, jalan satu arah pada Jalan Letjen Suprapto dan skenario 2, pemberian lampu APILL pada simpang Stasiun kereta api bandara Yogyakarta. Jumlah setiap kendaraan yang masuk dan keluar Stasiun kereta api bandara sebanyak 196 sepeda motor, 680 mobil penumpang dan 3 bus.
REDESAIN FASILITAS KISS-AND-RIDE, PARK-AND-RIDE, DAN PARKIR PEGAWAI (Studi Kasus: Stasiun Yogyakarta) Bayu Adi Nugroho; Danang Parikesit
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.67 KB)

Abstract

Stasiun Yogyakarta merupakan gerbang masuk Kota Yogyakarta bagi pengguna kereta api. Setiap penumpang menggunakan moda pendukung untuk datang ke stasiun maupun sebaliknya. Fasilitas kiss-and-ride dan park-and-ride merupakan fasilitas antarmoda yang mengakomodasi perpindahan penumpang tersebut. Setiap tahun, volume penumpang yang menggunakan Stasiun Yogyakarta semakin bertambah sehingga diperlukan redesain fasilitas kiss-and-ride dan park-and-ride untuk meningkatkan pelayanan bagi penumpang dan pengantar/ penjemput. Selain itu, disediakan fasilitas parkir pegawai yang terpisah dari fasilitas kiss-and-ride dan park-and-ride. Dilakukan survei counting penumpang yang dijemput, pola pergerakan penumpang, dan parkir untuk mengetahui penggunaan fasilitas kiss-and-ride dan park-and-ride eksisting sedangkan penggunaan parkir pegawai eksisting diketahui berdasarkan pembagian shift dan waktu dinas. Setelah itu, dapat diketahui permasalahan yang timbul akibat penggunaan eksisting lalu ditentukan solusi permasalahannya. Hasil redesain fasilitas kiss-andride dan park-and-ride yaitu pola pergerakan penumpang, sirkulasi kendaraan, ruang parkir, dan ruang tunggu penumpang yang baru. Disediakan ruang parkir: mobil 39 SRP, taksi 17 SRP, sepeda motor 16 SRP, shuttle 2 SRP, becak 14 SRP, dan bus pariwisata 5 SRP dan ruang tunggu seluas 1529 m2 pada fasilitas kiss-and-ride sedangkan ruang parkir: mobil 137 SRP, dan sepeda motor 1131 SRP pada fasilitas park-and-ride tanpa ruang tunggu. Parkir pegawai perlu ditambah ruang parkir sepeda motor sebanyak 5 SRP.