Lexical innovation is a linguistic phenomenon that reflects the dynamic development of language amid social change and the rise of digital culture. This study aims to describe the forms of lexical innovation used by Generation Z speakers of Acehnese in their everyday interactions, particularly within the domain of digital communication. This research employs a qualitative descriptive method. The data consist of authentic utterances collected from online conversations on WhatsApp, Instagram, and TikTok, recordings of face-to-face interactions, and informal interviews with Generation Z speakers. The data were gathered through non-participant observation, documentation of screenshot messages, and responsive interviewing. The analysis draws on theories of lexical innovation and the framework of contextual clues to word-making to examine how new lexical forms are created, how their functions shift, and how their meanings change.The findings reveal that Generation Z produces lexical innovations through four main mechanisms: (1) adaptation of Indonesian slang, (2) phonological modification, (3) morphological play, and (4) semantic shift. Forms such as emang boleh, sapay, gemoy, lucknut, misqueen, ani-ani, online, and di luar jangkauan illustrate how elements of Indonesian, English, and digital-technology discourse are utilized to create new variations within Acehnese speech. These innovations serve to express humor, social closeness, evaluation, and generational identity. The study demonstrates that the Acehnese language continues to adapt to technological developments and the communicative patterns of the digital generation, revealing linguistic creativity that contributes to sustaining the vitality of regional languages in contemporary digital communication. Abstrak Inovasi leksikal merupakan salah satu fenomena kebahasaan yang menunjukkan dinamika perkembangan bahasa di tengah perubahan sosial dan budaya digital. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk inovasi leksikal yang digunakan oleh Generasi Z penutur bahasa Aceh dalam interaksi sehari-hari, khususnya pada ranah komunikasi digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa tuturan autentik yang diperoleh dari percakapan daring pada WhatsApp, Instagram, TikTok, rekaman interaksi langsung, dan wawancara informal dengan penutur Generasi Z. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipatif, dokumentasi tangkapan layar percakapan, serta wawancara responsif. Analisis data dilakukan menggunakan teori inovasi leksikal dan kerangka contextual clues to word-making untuk melihat proses pembentukan, perubahan fungsi, dan pergeseran makna bentuk-bentuk leksikal tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z menghasilkan inovasi leksikal melalui empat mekanisme utama: (1) adaptasi slang bahasa Indonesia, (2) modifikasi fonologis, (3) pelesetan morfologis, dan (4) pergeseran makna. Bentuk-bentuk seperti emang boleh, sapay, gemoy, lucknut, misqueen, ani-ani, online, dan di luar jangkauan menunjukkan bagaimana unsur bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan teknologi digital dimanfaatkan untuk membentuk variasi baru dalam tuturan bahasa Aceh. Inovasi tersebut berfungsi untuk mengekspresikan humor, keakraban sosial, penilaian, dan identitas generasi muda. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa Aceh terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan pola komunikasi generasi digital, serta memperlihatkan kreativitas linguistik yang berperan dalam mempertahankan vitalitas bahasa daerah dalam praktik komunikasi era digital.