Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

POTENSI SITUS-SITUS WARISAN GEOLOGI DI AREA KARS GUNUNG SEWU SEBAGAI PENDUKUNG DAN PELUANG PENGEMBANGAN GEOPARK DI INDONESIA UNTUK ASET GEOWISATA KREATIF Permadi, Reza; Rachwibowo, Prakosa; Hidajat, Wahju Krisna
Geological Engineering E-Journal Vol 6, No 2 (2014): Wisuda Periode Juli - Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.262 KB)

Abstract

Kars Gunung Sewu yang melingkupi wilayah Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan merupakan salah satu kawasan Kars yang paling terkenal di Jawa karena kekhasan dan keunikan Karsnya.  Gunung sewu secara geologi terbentuk dari batugamping berumur Neogen (Miosen Tengah) dengan ketebalan mencapai lebih dari 200 m. Karena ciri khas morfologinya menjadikan Gunung Sewu terpilih sebagai kandidat Geopark (Taman Bumi) di Indonesia. Geopark merupakan suatu konsep manajemen pengembangan kawasan secara berkelanjutan, yang memadu-serasikan tiga keragaman alam, yaitu keragaman geologi (geodiversity), keragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity), dengan tujuan untuk pembangunan serta pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada asas perlindungan (konservasi) terhadap ketiga keragaman tersebut.  Sebanyak 30 geological heritage dan 3 non-geological heritage yang berada di Kawasan Kars Gunung Sewu yang diakui sebagai geopark atau taman geologi nasional oleh Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral. Situs-situs ini ditargetkan akan dikelola oleh masyarakat dengan berbasis pemberdayaan masyarakat.Berdasarkan hasil analisis citra landsat Area Kars Gunung Sewu dikelompokkan menjadi 4 Satuan yaitu : Unit K1 Dataran Tinggi Kars, Unit K5 Dataran Alluvial Kars, Unit K6 Doline dan Unit K8 Lembah Kering (Brahmantyo B, 2006). Hasil analisis SWOT dan scoring self-assesment yang melingkupi Keadaan Geologi, Struktur Manajemen, Edukasi Lingkungan, Geotourism dan Perkembangan Ekonomi Daerah secara berkelanjutan didapat nilai 73,25%, angka tersebut (lebih dari 50 %) yang berarti Kawasan Kars Gunung Sewu sangat layak untuk bergabung ke dalam Jaringan Global Geopark National oleh UNESCO. Sebab, pengembangan kawasan geopark memiliki dampak yang sangat besar untuk pariwisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat juga kebutuhan Negara.
POTENSI SITUS-SITUS WARISAN GEOLOGI DI AREA KARS GUNUNG SEWU SEBAGAI PENDUKUNG DAN PELUANG PENGEMBANGAN GEOPARK DI INDONESIA UNTUK ASET GEOWISATA KREATIF Reza Permadi; Prakosa Rachwibowo; Wahju Krisna Hidajat
Geological Engineering E-Journal Vol 6, No 2 (2014): Wisuda Periode Juli - Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.262 KB)

Abstract

Kars Gunung Sewu yang melingkupi wilayah Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan merupakan salah satu kawasan Kars yang paling terkenal di Jawa karena kekhasan dan keunikan Karsnya.  Gunung sewu secara geologi terbentuk dari batugamping berumur Neogen (Miosen Tengah) dengan ketebalan mencapai lebih dari 200 m. Karena ciri khas morfologinya menjadikan Gunung Sewu terpilih sebagai kandidat Geopark (Taman Bumi) di Indonesia. Geopark merupakan suatu konsep manajemen pengembangan kawasan secara berkelanjutan, yang memadu-serasikan tiga keragaman alam, yaitu keragaman geologi (geodiversity), keragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity), dengan tujuan untuk pembangunan serta pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada asas perlindungan (konservasi) terhadap ketiga keragaman tersebut.  Sebanyak 30 geological heritage dan 3 non-geological heritage yang berada di Kawasan Kars Gunung Sewu yang diakui sebagai geopark atau taman geologi nasional oleh Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral. Situs-situs ini ditargetkan akan dikelola oleh masyarakat dengan berbasis pemberdayaan masyarakat.Berdasarkan hasil analisis citra landsat Area Kars Gunung Sewu dikelompokkan menjadi 4 Satuan yaitu : Unit K1 Dataran Tinggi Kars, Unit K5 Dataran Alluvial Kars, Unit K6 Doline dan Unit K8 Lembah Kering (Brahmantyo B, 2006). Hasil analisis SWOT dan scoring self-assesment yang melingkupi Keadaan Geologi, Struktur Manajemen, Edukasi Lingkungan, Geotourism dan Perkembangan Ekonomi Daerah secara berkelanjutan didapat nilai 73,25%, angka tersebut (lebih dari 50 %) yang berarti Kawasan Kars Gunung Sewu sangat layak untuk bergabung ke dalam Jaringan Global Geopark National oleh UNESCO. Sebab, pengembangan kawasan geopark memiliki dampak yang sangat besar untuk pariwisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat juga kebutuhan Negara.
PELATIHAN VIRTUAL TOUR BAGI PEGIAT DESA WISATA DI KABUPATEN PEMALANG Irwan Tamrin; Reza Permadi; Suryo Sumarahadi
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Panrita Abdi - Januari 2022
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v6i1.13303

Abstract

Tourism villages have an important role in the development of Indonesian tourism. However, the conditions of the Corona Covid-19 Virus pandemic that occurred globally had a significant impact on the tourism industry including tourist villages in Kabupaten Pemalang which also felt the impact of this pandemic. In an effort to rise from this condition, Dinas Pariwisata Pemudan dan Olah Raga Kabupaten Pemalang in collaboration with Caventer Indonesia held a Virtual Tour Training for Tourism Villages. This training aims to improve the ability of tourism village activists in Kabupaten Pemalang in promoting their tourism village through virtual tours. By using the methods of presentation, question and answer, group discussion and field practice, it was found that the participants can understand with the material that presented and realized that the virtual tour could be used as promotion media for their tourism village during this pandemic. --- Desa wisata memiliki peranan penting dalam perkembangan pariwisata Indonesia. Namun kondisi pandemic Virus Corona Covid-19 yang terjadi secara global berdampak secara signifikan terhadap industry pariwisata termasuk desa wisata di Kabupaten Pemalang yang ikut merasakan dampak pandemic ini. Sebagai upaya untuk bangkit dari kondisi ini pihak Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Pemalang bekerjasama dengan Caventer Indonesia mengadakan kegiatan Pelatihan Virtual Tur Bagi Desa Wisata. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pegiat desa wisata di Kabupaten Pemalang dalam mempromosikan desa wisatanya masing-masing melalui virtual tour. Dengan menggunakan metode presentasi, tanya jawab, diskusi kelompok serta praktek lapangan, didapatkan hasil bahwa peserta dapat memahami materi-materi yang telah disampaikan dan menyadari bahwa virtual tour dapat dijadikan sebagai sarana promosi bagi desa wisata mereka selama kondisi pandemic ini.
PERAN KEWIRAUSAHAAN DALAM PENGEMBANGAN GEOWISATA Reza Permadi; Ute Lies Siti Khadijah; M. Sapari Hadian
Tornare: Journal of Sustainable and Research Vol 2, No 3 (2020): September, 2020
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/tornare.v2i3.29691

Abstract

Kewirausahaan dan inovasi adalah dua elemen penting dari pertumbuhan ekonomi negara-negara maju. Dengan kondisi pasar yang berubah cepat di dunia, para pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata memainkan peran kunci dalam pencapaian kesuksesan di bidang pariwisata, terutama di bidang pariwisata minat khusus kebumian atau geowisata. Istilah geowisata merupakan gabungan dari dua kata, yaitu geo yang bermakna bentuk geografis, geomorfologi dan juga sumber daya alam lainya, dan tourism atau pariwisata yang bermakna kunjungan ke kawasan wisata untuk apresiasi dan pendidikan (R. K. Dowling & Newsome, 2006) dan saat ini sedang berkembang pesat. Banyaknya pilihan paket wisata yang memiliki aktivitas yang sama dan perang harga membuat wisatawan jenuh dalam menentukan perjalanan. Dalam makalah ini, metode yang digunakan adalah kualitatif, untuk mengetahui karakteristik pemimpin pelaku pariwisata seperti kreativitas, kebutuhan untuk pencapaian dan pengambilan risiko. Penelitian ini menunjukkan bahwa geowisata adalah kegiatan berisiko dalam bidang pengelolaan dan kinerja sektor pariwisata, juga memerlukan inovasi dan kreativitas sebagai industri yang berkembang pesat yang harus mendukung selera wisatawan yang berbeda, dan oleh karena itu para pemimpin pelaku industri pariwisata memiliki efek besar pada pengembangan geowisata.
The Role of Pentahelix Actors for Sawahlunto City to be Deemed a Unesco World Heritage Reza Permadi; Fahriza Junizar; Nurul Aldha Mauliddinna Siregar; Ute Lies Siti Khadijah
Journal of Business on Hospitality and Tourism Vol 7, No 1 (2021): JOURNAL OF BUSINESS ON HOSPITALITY AND TOURISM
Publisher : Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.451 KB) | DOI: 10.22334/jbhost.v7i1.253

Abstract

The coal mine closures have turned Sawahlunto into an idle city. By integrating the post-mining sites landscape and the Dutch colonial architecture heritage, Sawahlunto becomes a city of a kind. Therefore, the local government and the legislature (DPRD) as well as other stakeholders created a vision for Sawahlunto as a “A Cultural Tourism Mining City” in 2020, set in Local Government Regulation (PERDA) No 2 of 2001. The year 2020 was set as a target to motivate the local government and stakeholders to achieve the vision. As a matter of fact, Sawahlunto has been included as a World Heritage site by UNESCO as of 2019. This research aims to understand the role of stakeholders in developing and rebranding Sawahlunto, by using the Pentahelix model. This research uses a qualitative method along with the case study approach as well as utilizing interviews, observations and archival study as the types of research methodology. Finally, the result of this research shows that the stakeholders carry out their roles well and fully support the vision of Sawahlunto city.
Utilization of Geodiversity of Mount Gamalama Eruption Products as Geotourism Activities on The Batu Angus Geotrail, Aspiring Ternate Geopark Arif, Abdul Kadir D; Agastya, Ida Bagus Oka; Permadi, Reza; Marsaoly, Rizal; Waliyanti, Ida Kurnia
JURNAL BIOSAINSTEK Vol 6 No 2 (2024): Jurnal BIOSAINSTEK
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/biosainstek.v6i2.2395

Abstract

The eruption activities of Gamalama Volcano produced various volcanic materials which ultimately became a geological diversity on Ternate Island. Where the identified geodiversity consists of rock types, landscapes, beaches, hot springs and underwater geology which are very beautiful and interesting. In an effort to support the development of geotourism activities in the Aspiring Ternate geopark area, research is needed regarding the use of geological diversity, especially in the Batu Angus Geotrail, to provide an overview of how it can be utilized in geotourism activities and at the same time create opportunities for economic growth. This research uses a qualitative approach utilizing the inventory of geological diversity issued by the Geological Agency, 2017 with mapping and field observations related to geological diversity and its use in geotourism activities. The geological diversity resulting from the eruptive activity of Mount Gamalama, namely producing aa lava flow, blocky lava, spatter cone, spatter vent, lava tumuli, hornito lava, lava tube, channel lava, blocky lava flow, blocky lava smoother, accreted lava, lava walls and fracture. The geological diversity contained in the Batu Angus Geotrail is used for geotourism activities in the form of trekking activities, sport tourism activities (trail running, jogging, gymnastics, yoga), adventuring, research activities, jeep tours, Geo-Edu (field trips and excursions), art attraction stages & culture and conservation activities. Utilization of the geological diversity of eruption products from Mount Gamalama provides opportunities for local communities and regional governments to develop sustainable tourism activities in the form of geotourism.
Pendampingan Tata Kelola Destinasi Pariwisata di Desa Wisata Dayun, Kabupaten Siak, Provinsi Riau Asy'ari, Rifqi; Larasati, Ajeng Ramadhita; Permadi, Reza; Tamrin, Irwan; Sumarahadi, Suryo Agung
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 8 (2025): Juni
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/j8hwps77

Abstract

Desa menjadi salah satu target dalam perwujudan pariwisata alternatif dewasa ini. Hal ini didukung karena desa dapat memberikan daya tarik yang beragam dan membentuk satu kegiatan tematik yang beragam untuk di kunjungi. Desa Wisata Dayun merupakan desa wisata yang memenangi anugerah desa wisata dalam kategori kelembagaan. Potensi wisata yang berada di Desa Wisata Dayun cukup tinggi namun belum terkelola secara terintegrasi khususnya dalam lingkup potensi ruang administrasi Kecamatan. Mengintegrasikan potensi yang ada dalam lingkup destinasi pariwisata dibutuhkan tata kelola untuk membentuk integrasi yang berkesinambungan, maka dari itu dilakukan pendampingan tata kelola destinasi pariwisata di Desa Wisata Dayun dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan. Proses pendampingan dilakukan secara intensif dalam pendekatan pemberdayaan. Hasil pendampingan yang dilakukan terlihat dalam peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola dan memasarkan produk wisata. Secara keseluruhan, pelatihan dan pendampingan bukan hanya memberikan pengetahuan praktis, tetapi juga merangsang motivasi dan semangat kolaboratif di antara masyarakat.
The Role of Pentahelix Actors for Sawahlunto City to be Deemed a Unesco World Heritage Permadi, Reza; Junizar, Fahriza; Siregar, Nurul Aldha Mauliddinna; Khadijah, Ute Lies Siti
Journal of Business on Hospitality and Tourism Vol. 7 No. 1 (2021): JOURNAL OF BUSINESS ON HOSPITALITY AND TOURISM
Publisher : Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22334/jbhost.v7i1.253

Abstract

The coal mine closures have turned Sawahlunto into an idle city. By integrating the post-mining sites landscape and the Dutch colonial architecture heritage, Sawahlunto becomes a city of a kind. Therefore, the local government and the legislature (DPRD) as well as other stakeholders created a vision for Sawahlunto as a “A Cultural Tourism Mining City” in 2020, set in Local Government Regulation (PERDA) No 2 of 2001. The year 2020 was set as a target to motivate the local government and stakeholders to achieve the vision. As a matter of fact, Sawahlunto has been included as a World Heritage site by UNESCO as of 2019. This research aims to understand the role of stakeholders in developing and rebranding Sawahlunto, by using the Pentahelix model. This research uses a qualitative method along with the case study approach as well as utilizing interviews, observations and archival study as the types of research methodology. Finally, the result of this research shows that the stakeholders carry out their roles well and fully support the vision of Sawahlunto city.