Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENGARUH ATRAKSI WISATA TERHADAP KUNJUNGAN WISATA DI DESA WISATA SAMIRAN KECAMATAN SELO KABUPATEN BOYOLALI Made Prasta Yostitia; Alip suroto
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 12 No 2 (2017): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atraksi wisata di Desa Samiran sudah sangat beragam, tinggal bagaimana pengelola dan masyarakat sekitar mau untuk menjaga, melestarikan dan mungkin mengembangkan lagi Desa Samiran ini. Hal ini terbukti dari pengunjung yang setiap bulan datang ke Desa Samiran entah untuk sekedar Outbond, Wisata religi / budaya maupun ke Argo MerapiMerbabu untuk melakukan pendakian. Dengan keunggulan panorama alam yang menakjubkan diapit dua gunung Merapi dan Merbabu, penduduk yang ramah tamah, atraksi wisata yang beragam dari Site attraction sampai event attraction serta hawa pegunungan yang sejuk. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui atraksi apa saja yang terdapat di Desa Samiran, untuk mengetahui bagaimana tingkat kunjungan setiap tahun di Desa Samiran, dan untuk mengetahui bagaimana pengaruh atraksi wisata terhadap tingkat kunjungan di Desa Samiran. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, yaitu berdasarkan data yang dikumpulkan dari pengelola Desa Samiran untuk Domestik dan dari Polsek Selo untuk wisatawan Mancanegara, lalu dianalisis secara lisan dan tulisan. Di Desa Samiran mempunyai dua jenis atraksi yaitu site attraction dan event attraction. Ada beragam atraksi di Desa Samiran yaitu Site Attraction dan Event Attraction yang kesemuanya mengacu pada pembangunan Desa Samiran. Tingkat kunjungan di Desa Samiran tiap tahunnya sangat padat, bisa dilihat dari tabel-tabel per tahun, tetapi pada saat erupsi, tahun 2009 wisatawan domestik menurun drastis, tetapi wisatawan mancanegara semakin meningkat, hal ini disebabkan karena rasa ingin tahu tentang erupsi Gunung Merapi. Pengaruh atraksi sangat besar karena daya tarik alam merupakan hal utama untuk menarik wisatawan. Sedangkan daya tarik budaya meliputi perilaku atau event budaya menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan.
PERAN KULINER LOKAL DALAM MENGEMBANGKAN GASTRONOMI KULINER BERKELANJUTAN Alip Suroto
Jurnal Pariwisata PaRAMA : Panorama, Recreation, Accomodation, Merchandise, Accessbility Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Pariwisata PaRAMA : Panorama, Recreation, Accomodation, Merchandise, Acces
Publisher : STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36417/jpp.v4i1.621

Abstract

Gastronomi berkelanjutan menjadi hal yang semakin penting dalam industri makanan dan minuman. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki dampak kuliner lokal di Indonesia dalam mengembangkan gastronomi berkelanjutan. Fokus utama peneitian ini adalah bagaimana kuliner lokal di Indonesia berkontribusi dalam menciptakan keberlanjutan dalam industri kuliner. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan analisis konten dari sumber-sumber terpercaya yang terkait dengan kuliner lokal dan gastronomi berkelanjutan di Indonesia. Data tersebut kemudian dianalisis secara komprehensif untuk memahami sejauh mana kuliner lokal di Indonesia mempengaruhi aspek-aspek keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuliner lokal di Indonesia memainkan peran yang signifikan dalam perkembangan gastronomi berkelanjutan. Keberlanjutan mencakup aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlunya mengakui dan mengapresiasi peran kuliner lokal di Indonesia dalam meningkatkan gastronomi berkelanjutan. Dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri kuliner di Indonesia sangat penting untuk melindungi keberlanjutan kuliner lokal.
Memorable Tourism Experience (MTE) pada Wisata Gastronomi Menggunakan Konsep Ngidang di Palembang Debby Fifi Yanti; Nurvia Nathasya; Alfitriani Alfitriani; Alip Suroto
JURNAL KAJIAN PARIWISATA DAN BISNIS PERHOTELAN Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Kajian Pariwisata dan Bisnis Perhotelan
Publisher : Departemen Pariwisata Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jkpbp.v7i1.89572

Abstract

This study analyzes the transformation of the gastronomic tourism experience of the Ngidang tradition in Palembang City into a Memorable Tourism Experience (MTE) that lingers in tourists' long-term memory. Employing a qualitative descriptive-analytical approach with triangulation of in-depth interviews (48 participants), participant observation, and documentation, this study identifies seven dimensions of MTE (Kim, Ritchie, & McCormick, 2012) that are fully present in Ngidang: novelty (100%), knowledge (100%), hedonism (100%), meaningfulness (93%), local culture (90%), refreshment (87%), and involvement (83%). The findings reveal three mechanisms of collective memory formation: shared bodily practices that create somatic markers (Damasio, 1994), repetitive ritual structures (Connerton, 1989), and circular seating arrangements without hierarchy (Oldenburg, 1999). The study also identifies the unique role of the ngobeng as a cultural broker that reinforces cultural authenticity. Ngidang is proven to not only satisfy sensory aspects but also touch the spiritual and emotional dimensions of tourist
Strategi Pengembangan Wisata Kuliner di Pasar Bambu Desa Wisata Bonjeruk sebagai Upaya Meningkatkan Jumlah Kunjungan Wisatawan Lale Aulia Soleha; Alip Suroto; I Gusti Ayu Agung
Jurnal Perhotelan dan Pariwisata Vol 4 No 2 (2026): JURNAL PERHOTELAN DAN PARIWISATA (TELPAR)
Publisher : LPPM Politeknik Pajajaran ICB Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59820/telpar.v4i2.433

Abstract

Culinary tourism is an essential attraction in the development of sustainable tourism villages. Pasar Bambu in Bonjeruk Village, Central Lombok, offers traditional culinary experiences and a strong cultural atmosphere that can enhance tourist visits, yet its management still faces several challenges. This study aims to analyze culinary tourism development strategies at Pasar Bambu and examine efforts to manage facilities and infrastructure in order to increase visitor numbers. The research employed a descriptive qualitative method, utilizing observation, in-depth interviews, documentation, and literature review, with market staff and tourists as informants. The findings indicate that development strategies include improving physical facilities, organizing cultural events, promoting through digital media, providing community training and empowerment, and collaborating with external partners. Data revealed a significant 58% increase in tourist visits in 2024 compared to the previous year. However, challenges remain, including limited funding, low community participation in facility maintenance, and minimal external support. The study concludes that integrated management strategies combined with effective digital promotion and community involvement are crucial to strengthening Pasar Bambu’s position as a sustainable culinary tourism destination.
Pengelolaan Atraksi Budaya Sebagai Daya Tarik Wisata Sasak Ende Desa Sengkol Kabupaten Lombok Tengah Lale Yusticia Zachroyana; Alip Suroto; I Gusti Ayu Agung
Jurnal Perhotelan dan Pariwisata Vol 4 No 2 (2026): JURNAL PERHOTELAN DAN PARIWISATA (TELPAR)
Publisher : LPPM Politeknik Pajajaran ICB Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59820/telpar.v4i2.513

Abstract

Cultural attractions play an important role in strengthening the uniqueness and competitiveness of tourism destinations. Sasak Ende Village, located in Sengkol Village, Central Lombok Regency, represents a traditional Sasak settlement that preserves local cultural values and traditions. The village has significant tourism potential through its traditional houses, cultural performances, and the daily lifestyle of the local community. However, the management of cultural attractions still faces several challenges related to infrastructure, community participation, and tourism promotion. This study aims to analyze the management of cultural attractions in Sasak Ende Village as a tourism attraction and examine its role in increasing tourist interest. The research uses a descriptive qualitative method with data collection techniques including observation, in-depth interviews, documentation, and literature study. Informants in this research consist of tourism managers, local community members, and visiting tourists. The results indicate that cultural attraction management in Sasak Ende Village is implemented through the preservation of traditional houses, cultural demonstrations, handicraft production, and community-based tourism activities. The involvement of local communities plays a crucial role in maintaining the authenticity of Sasak culture. Nevertheless, challenges remain, including limited infrastructure, insufficient promotion, and the need for improved tourism management capacity. This study concludes that effective cultural attraction management combined with community participation and sustainable tourism strategies can enhance the attractiveness of Sasak Ende Village as a cultural tourism destination.