Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa melalui Pelatihan Kader Kesehatan Jiwa dan Deteksi Dini Mariyati Mariyati; Menik Kustriyani; Priharyanti Wulandari; Dwi Nur Aini; Arifianto Arifianto; Livana PH
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Peduli Masyarakat, Maret 2021
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v3i1.423

Abstract

Masalah kesehatan jiwa tidak lagi dilihat secara individual, namun membutuhkan penanganan secara sistem. Pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas merupakan salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan. Puskesmas adalah ujung tombak dalam mengimplementasikan pelayanan kesehatan jiwa yang dapat dengan mudah dijangkau masyarakat karena jarak dekat, murah dan meminimalisir stigma di masyarakat. Mengingat hal itu, tim melakukan kegiatan pelatihan kader dan deteksi dini kesehatan jiwa di Puskesmas Lebdosari. Tujuan program ini untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan mendeteksi masalah kesehatan jiwa secara dini. Pelaksanaan kegiatan ini selama 2 hari pada 26 – 27 November 2019. Peserta terdiri dari 8 tenaga kesehatan Puskesmas Lebdosari dan 26 kader kesehatan dari 4 kelurahan di bawah wilayah kerja Puskemas. Pada hari pertama disampaikan 8 materi terdiri dari kesehatan jiwa di indonesia dan jawa tengah, konsep kelurahan siaga sehat jiwa, pelayanan kesehatan jiwa, kegiatan deteksi dini kesehatan jiwa, kunjungan rumah, kegiatan rujukan. Dilanjutkan pada hari kedua simulasi dan demonstrasi deteksi dini kesehatan jiwa dengan Self Reporting Questionnaire- 20 (SRQ 20). Hasil deteksi dini mendapat 112 orang, terdapat 48 orang (42,8%) orang yang memiliki resiko gangguan jiwa atau gangguan emosional. Upaya pelayanan kesehatan jiwa perlu dilakukan secara terintegrasi sehingga terbentuk layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas.
Peningkatan Kemampuan Kader melalui Pelatihan Pijat Oksitosin dan Teknik Marmet untuk Ibu Menyusui Menik Kustriyani; Heny Prasetyorini; Arifianto Arifianto; Dwi Nur Aini; Mariyati Mariyati; Priharyanti Wulandari
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 4 No 4 (2022): Jurnal Peduli Masyarakat: Desember 2022
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v4i4.1300

Abstract

Pelaksanaan pengabdian pada masyarakat ini berfokus pada upaya pengembangan peran serta kader dalam memotivasi ibu memberikan ASI Ekslusif. Program ASI Ekslusif sangat penting dilaksanakan, bayi yang tidak diberikan ASI Eklsusif lebih rentan sakit. Program Pengabdian Kepada Masyarakat bertujuan agar kader mengetahui dan memahami pentingnya mengetahui cara meningkatkan produksi ASI ibu menyusui, dan dapat mempraktikkan cara meningkatkan produksi ASI dengan Pijat Oksitosin dan Teknik Marmet sehingga kader dapat memotivasi ibu untuk menyusui bayinya minimal sampai dengan enam bulan. Kegiatan dalam Program PKM ini antara lain: 1) Mengajarkan prosedur Pijat Oksitosin dan Teknik Marmet pada Kader, dan 2) melakukan pendampingan dalam pelaksanaan Pijat Oksitosin dan Teknik Marmet, 3) monitoring dan evaluasi program. Hasil dalam kegiatan- kegiatan tersebut adalah terdapat 21 kader di RW IX Kelurahan Tambak Aji, yang mengikuti kegiatan 13 kader dari 5 RT. Hasil pelaksanaan pengabdian masyarakat didapatkan 92% kader mampu menjelaskan tentang manfaat pemberian ASI Ekslusif, 82% kader mampu melakukan prosedur Pijat Oksitosin dan Teknik Marmet (POTM) sesuai prosedur. Kegiatan monitoring dan evaluasi juga dilakukan untuk memastikan kader kesehatan dapat melakukan sesuai prosedur yang sudah diberikan. Outcome kegiatan PKM ini adalah kader kesehatan mengetahui manfaat pemberian ASI ekslusif, kader dapat melakukan Pijat Oksitosin dan Teknik Marmet.
Hubungan Pelaksanaan Discharge Planning dengan Dukungan Psikososial Keluarga Merawat Pasien Diabetes Mellitus Lia Lestiani; Niken Sukesi; Candra Hadi Prasetyo; Menik Kustriyani
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 5 No 3 (2023): Agustus 2023, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v5i3.1746

Abstract

Perawatan untuk diabetes termasuk konseling atau edukasi, pengobatan, latihan atau aktivitas fisik, dan diet. Peran pengawasan keluarga diperlukan dalam mengatur program pengobatan, pola makan, gaya hidup, dan olahraga yang harus dipertahankan sepanjang hidup. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui hubungan pelaksanaan discharge planning dengan dukungan psikososial keluarga dalam merawat pasien diabetes mellitus. Perencanaan pemulangan penting untuk mempersiapkan keluarga merawat pasien di rumah. Penelitian ini berbentuk kuantitatif dengan cross sectional guna mengidentifikasi korelasi antara pelaksanaan discharge planning dengan dukungan psikososial keluarga dalam merawat pasien diabetes di RS Mitra Keluarga Bintaro. Pengambilan sampel menggunkan tehnik purposive sampling sejumlah 63 orang. Uji analisis dengan uji Spearman rho dengan hasil p sebesar 0,007 (p ≤ 0,05) dan H0 ditolak, artinya ada hubungan yang bermakna dengan kekuatan korelasi lemah (r=0,336) dan arah korelasi positif. Kesimpulannya adalah ada hubungan pelaksanaan discharge planning dengan dukungan psikososial pada keluarga yang merawat pasien diabetes di RS Mitra Keluarga Bintaro.
PKM Pemberdayaan pada Keluarga Tentang Asupan Nutrisi dan Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa Menik Kustriyani; Endang Supriyanti; Dwi Nur Aini; Mariyati Mariyati; Arifianto Arifianto
Medani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jpm.v2i2.307

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan Indonesian Renal Registry (IRR) tahun 2016, sebanyak 98% penderita gagal Ginjal menjalani terapi Hemodialisis dan 2% menjalani terapi Peritoneal Dialisis (PD). Kejadian penyakit ginjal kronik terus mengalami peningkatan, demikian juga pasien gagal ginjal kronik yang menjalani dialysis. Pasien gagal ginjal kronik harus selalu memperhatikan asupan nutrisi dan cairan yang seimbang. Dalam menjaga asupan nutrisi keluarga dukungan dari keluarga sangat diperlukan, agar pasien mampu menjaga nutrisi dan cairan dengan baik. Permasalahan pada Mitra yaitu pasien dan keluarga masih kesulitan dalam menentukan asupan nutrisi pada pasien gagal ginjal kronik. Tujuan : dari kegiatan PKM ini Mengajarkan pasien dan keluarga dalam menjaga nutrisi pada pasien gagal ginjal. Metode : Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian yakni dengan memberikan kuesioner sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang pengetahuan asupan nutrisi pada keluarga. Memberikan edukasi, diskusi dan tanya jawab. Hasil : sebanyak 95% peserta terjadi peningkatan pengetahuan setelah diberikan edukasi. Peserta antusias saat diberikan edukasi mengenai asupan nutrisi dan cairan Kesimpulan: Pemberian edukasi pada keluarga pasien gagal ginjal kronik dapat meningkatkan pengetahuan keluarga pasien.
Implementasi Self Healing Untuk Mengatasi Kecemasan pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa di Rs Permata Medika Semarang Dwi Nur Aini; Maulidta Karunianingtyas Wirawati; Menik Kustriyani; Arifianto Arifianto; Mariyati Mariyati; Mohammad Arifin Noor; Desi Ramadhani; Muhammad Azkanni’am
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 3 No. 3 (2023): September : Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v3i3.1951

Abstract

HD room nurses are health workers who play an active role in managing nursing care starting from assessment, both physically and psychologically. Determine nursing problems that arise in patients based on the results of the assessment, determine interventions, carry out implementation according to the plans that have been determined and evaluate the actions / implementations that have been carried out. In accordance with the problems experienced by these partners, the efforts made include implementing self-healing in chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis therapy who experience anxiety. The specific target of this PKM activity is to teach self-healing therapy in the prevention and treatment of anxiety, especially in chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis therapy at Permata Medika Hospital, Semarang. Teaching chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis therapy how to do self-healing. Demonstration of self-healing therapy according to SOP. The result of this service activity is that the level of knowledge of chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis therapy at Permata Medika Hospital in Semarang increases after being given material on self-healing management with five finger hypnosis, besides that the patient is able to carry out a simulation on how to reduce anxiety with five finger hypnosis.
Relaksasi Autogenik untuk Menurunkan Nyeri Saat Perawatan Luka Endang Supriyanti; Menik Kustriyani
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i10.16422

Abstract

ABSTRACT Wound care is one of the actions that cause pain. Pain during wound care is very disturbing to patients because the level of pain felt is mostly at the level of moderate to severe pain. Autogenic relaxation is one of the non-pharmacological techniques to overcome pain in the form of self-suggestion abilities using short sentences that provide comfort effects. The purpose of this study was to determine the effect of autogenic relaxation on pain in patients during wound care. This type of research is a quasi-experiment pre and post test without control. The number of samples was 20 respondents who underwent wound treatment at the Lanang Children's Wound Clinic Semarang with total sampling technique. Respondents measured their pain levels using the Numeric Rating Scale (NRS). Autogenic relaxation intervention was given for 20 minutes during wound care. The results of the Wilcoxon test showed that most respondents, namely 16 respondents, experienced a decrease in pain levels after being given autogenic relaxation with an average score of 8.5. While 4 respondents did not experience changes in pain levels after being given autogenic relaxation but still experienced a decrease in pain scores. The significance value obtained was 0.001 with an α = 0.05 value.  Based on these results it can be concluded that there is an effect of autogenic relaxation on pain during wound care in patients at the Lanang Children's Clinic Semarang. Keywords: Pain, Wound Care, Autogenic Relaxation  ABSTRAK Perawatan luka merupakan salah satu tindakan yang menimbulkan nyeri. Nyeri saat perawatan luka sangat menganggu pasien karena tingkat nyeri yang dirasakan sebagian besar berada pada tingkat nyeri sedang sampai dengan berat. Relaksasi autogenik merupakan salah satu teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri berupa kemampuan sugesti diri menggunakan kalimat pendek yang memberikan efek kenyamanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh relaksasi autogenik terhadap nyeri pada pasien saat dilakukan perawatan luka. Jenis penelitian ini adalah quasi-eksperiment pre and post test without control. Jumlah sampel sebanyak 20 responden yang menjalani perawatan luka di Klinik Luka Anak Lanang Semarang dengan teknik total sampling. Responden diukur tingkat nyerinya dengan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Intervensi relaksasi autogenik diberikan selama 20 menit pada saat perawatan luka. Hasil uji wilcoxon test menunjukkan sebagian besar responden yaitu sebanyak 16 responden mengalami penurunan tingkat nyeri setelah diberikan relaksasi autogenik dengan skor rata-rata 8,5. Sedangkan 4 responden tidak mengalami perubahan tingkat nyeri setelah diberikan relaksasi autogenik akan tetapi tetap mengalami penuruan skor nyeri.Nilai signifikansi yang didapat sebesar 0.001 dengan nilai α = 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh relaksasi autogenic terhadap nyeri saat perawatan luka pada pasien di Klinik Anak Lanang Semarang. Kata Kunci: Nyeri, Perawatan Luka, Relaksasi Autogenik
Pengaruh Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Terhadap Tingkat Kualitas Tidur Pasien Chronic Kidney Disease di Ruang Hemodialisa RSD KRMT Wongsonegoro Semarang Septa Dwi Ariyanti; Rahayu Winarti; Menik Kustriyani
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.22459

Abstract

ABSTRACT Chronic Kidney Disease (CKD) is a significant global health challenge, often leading to various complications, including sleep disorders, which can seriously impact patients' quality of life. Hemodialysis, a life-sustaining treatment for end-stage CKD, itself contributes to sleep problems in 50-80% of patients. These sleep problems include quantitative and qualitative aspects, such as sleep duration, sleep latency, sleep efficiency, and general sleep disturbances, which cause discomfort and affect daily activities. The prevalence of PGK in Indonesia is quite high, with a large number of patients undergoing routine hemodialysis treatment (2-3 times a week for 3-4 hours). Addressing sleep disorders in CKD patients undergoing hemodialysis is very important. Non-pharmacological interventions are often preferred to avoid the dependence associated with long-term medication use. Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) has emerged as a promising non-drug treatment that combines energy medicine with spiritual elements, such as tapping on specific meridian points and prayer. SEFT aims to improve sleep quality by promoting relaxation, reducing anxiety, and balancing the body's energy flow. This technique involves three main steps: Set-Up, Tune-In, and Tapping. The Set-Up phase neutralizes negative thoughts, the Tune-In phase focuses on discomfort with sincere prayer, and the Tapping phase involves light tapping on 18 major meridian points to stimulate energy flow and induce relaxation. This process can stimulate the pituitary gland to release endorphins, which produce a calming effect and feelings of happiness. A quantitative research design with a one-group pre-test post-test approach was used to evaluate the effectiveness of SEFT. A total of 88 hemodialysis patients at RSD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang were recruited using purposive sampling. Sleep quality data were collected using PSQI, an instrument with validated reliability and sensitivity. Statistical analysis using the Wilcoxon test showed that 0 respondents (0%) had negative ranks, meaning there was no decrease from pre-test to post-test, while 53 respondents (27%) had positive ranks, meaning there was an increase from pre-test to post-test. It was also found that there were 35 respondents with tied values (equality) who did not experience an increase or decrease in sleep quality after receiving SEFT therapy. The sign p-value = 0.000 or p 0.05, so 0.000 α (0.05), meaning that Ho was rejected and Ha was accepted, indicating that there was an impact of SEFT therapy on sleep quality in CKD patients. These findings support the hypothesis that SEFT can effectively improve sleep quality in CKD patients undergoing hemodialysis by increasing relaxation, calmness, and reducing sleep disturbances. This study concludes that SEFT is an effective non-pharmacological intervention to improve sleep quality in this patient population, although professional implementation is crucial for optimal results. Keywords : Renal Failure, Hemodialysis, SEFT Therapy, Sleep Quality. ABSTRAK   Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan tantangan kesehatan global yang signifikan, seringkali menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk gangguan tidur, yang dapat berdampak serius pada kualitas hidup pasien. Hemodialisis, suatu perawatan penunjang kehidupan untuk CKD stadium akhir, sendiri berkontribusi terhadap masalah tidur pada 50-80% pasien. Masalah tidur ini mencakup aspek kuantitatif dan kualitatif, seperti durasi tidur, latensi tidur, efisiensi tidur, dan gangguan tidur secara umum, yang menyebabkan ketidaknyamanan dan memengaruhi aktivitas sehari-hari. Prevalensi PGK di Indonesia cukup tinggi, dengan sejumlah besar pasien menjalani perawatan hemodialisis rutin (2-3 kali seminggu selama 3-4 jam). Mengatasi gangguan tidur pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis sangatlah penting. Intervensi nonfarmakologis seringkali lebih disukai untuk menghindari ketergantungan yang terkait dengan penggunaan obat jangka panjang. Teknik Kebebasan Emosional Spiritual (SEFT) muncul sebagai pengobatan non-obat yang menjanjikan yang menggabungkan pengobatan energi dengan unsur-unsur spiritual, seperti tapping pada titik meridian tertentu dan doa. SEFT bertujuan untuk meningkatkan kualitas tidur dengan mendorong relaksasi, mengurangi kecemasan, dan menyeimbangkan aliran energi tubuh. Teknik ini melibatkan tiga langkah utama: Set-Up, Tune-In, dan Tapping. Fase Set-Up menetralkan pikiran negatif, fase Tune-In berfokus pada ketidaknyamanan dengan doa yang tulus, dan fase Tapping melibatkan tapping ringan pada 18 titik meridian utama untuk merangsang aliran energi dan menimbulkan relaksasi. Proses ini dapat merangsang kelenjar pituitari untuk melepaskan endorfin, yang menghasilkan efek menenangkan dan perasaan bahagia. Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan one-group pre-test post-test untuk mengevaluasi efektivitas SEFT. Sebanyak 88 pasien hemodialisis di RSD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang direkrut menggunakan purposive sampling. Data kualitas tidur dikumpulkan menggunakan PSQI, sebuah instrumen yang tervalidasi reliabilitas dan sensitivitasnya. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa negatif ranks 0 responden (0%) yaitu tidak terdapat penurunan pre test ke post test, diketahui juga bahwa positif ranks 53 responden (27%) yaitu ada peningkatan pre test ke post test. Diketahui juga ada ties nilai (persamaan) 35 responden yang tidak mengalami peningkatan atau penurunan tingkat kualitas tidur setelah diberikan terapi SEFT. Nilai sign p-value = 0,000 atau p 0,05 sehingga 0,000 α (0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada dampak antara terapi SEFT pada kualitas tidur pada pasien CKD. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa SEFT dapat secara efektif meningkatkan kualitas tidur pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis dengan meningkatkan relaksasi, ketenangan, dan mengurangi gangguan tidur. Studi ini menyimpulkan bahwa SEFT merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif untuk meningkatkan kualitas tidur pada populasi pasien ini, meskipun implementasi profesional sangat penting untuk hasil yang optimal. Kata Kunci:  Chronic Kidney Disease (CKD), Hemodialisa, Terapi SEFT, Kualitas Tidur.
Penerapan Pemberian Aromaterapi Lavender terhadap Kualitas Tidur Lansia di Panti Harapan Ibu Ngaliyan Kota Semarang Helsy Kusumaningrum; Menik Kustriyani
Journal of Health, Medical, and Psychological Studies Vol 2 No 1 (2026): : August: Sanitas: Journal of Health, Medical, and Psychological Studies
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/5jbg7238

Abstract

Sleep disturbances in the elderly are a health issue associated with physiological and psychological changes, as well as degenerative diseases, which lead to a decline in quality of life. This study aims to analyze the effects of lavender aromatherapy on sleep quality among the elderly at the Panti Harapan Ibu Ngaliyan nursing home in Semarang. The study employed a quantitative approach using a descriptive case study design involving five elderly individuals experiencing sleep disturbances. Data collection was conducted using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) through observation and interviews before and after the intervention. Lavender aromatherapy was administered for seven consecutive days via inhalation using five drops of lavender on a cotton pad for fifteen minutes before bedtime. The results showed a decrease in PSQI scores among all participants, shifting from the “poor” category to “fair” and “good.” Changes in sleep quality were marked by a reduction in sleep latency, a decrease in the frequency of nighttime awakenings, and an increase in feelings of comfort and refreshment upon waking. Lavender aromatherapy proved effective as a non-pharmacological intervention in improving the sleep quality of the elderly both physiologically and psychologically.