Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

The Level of SGOT and SGPT after Consuming Putri Malu (Mimosa pudica, Linn) Leaves Boiled on Carbon Tetrachloride (CCl4) Induced Rats (Rattus norvegicus) Bulan, Marina Sari; Pramono, Ardi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2 (s).1609

Abstract

The activity testing of flavonoid compounds as antioxidant and as scavenger of free radical, from the putri malu (Mimosa pudica, Linn) leaves had been performed for prevention liver damage This study used unrandomized control trial method. Ten male Wistar rats with 150¬250 gr of body weight were divided into two groups. Measuring of SGOT and SGPT before treating was taken to determine first level of SGOT and SGPT. Group I as a control group was given with 1 ml aquadest orally for 9 days. Group II as a experiment group was treated 1, 890 gr for each rat/day putri malu (Mimosa pudica, Linn) leaves boiled for 9 days. In the day 10th, both of groups were induced 1 ml/of kg body weight carbon tetrachloride (CCl4) intraperitoneally. Twenty four hours after CCl-induced, measuring of serum SGOT and SGPT was done. The result showed Statistic test of independent t - test indicated that there was significant difference beetwen control group and experiment group. Grade of rate SGOT and SGPT after treatment of group control more than hight with p0.001 (p0.05) so it could be concluded that putri malu (Mimosa pudica, Linn) leaves boiled can be prevent liver damage greated carbon tetrachloride (CCl4) induced.Telah dilakukan uji aktivitas hepatoprotektif penangkal radikal bebas terhadap flavonoid dari daun Putri malu (MimosaPudica, Linn.) pada tikus putih galur wistar (Rattus norvegicus) jantan induksi CCl4. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan rebusan daun putri malu (Mimosa pudica, Linn) sebagai hepatoprotektor dan menurunkan efek radikal bebas akibat perlakuan hepatotoksin CCl4. Penelitian ini menggunakan metode unrandomized control trial. Sepuluh ekor tikus putih galur wistar (Rattusnorvegicus) jantan dengan berat badan 150-250 gram dibagi menjadi dua kelompok. Pengukuran kadar SGOT dan SGPT sebelum perlakuan dilakuan untuk mengetahui kadar SGOT dan SGPT awal. Kelompok pertama sebagai kelompok control diberikan 1 ml aquades secara oral selama 9 hari. Kelompok kedua sebagai kelompok uji diberi rebusan daun putri malu (Mimosapudica, Linn) sebanyak 1,890 mg/ekor/hari selama 9 hari. Pada hari ke-10 kedua kelompok diinduksi 1 ml/kgBB CCl4 secara intraperitoneal. Dua puluh empat jam setelah induksi CCl4 dilakukan pengukuran kadar SGOT dan SGPT pada kedua kelompok. Hasil uji statistik independent t- test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok control dan kelompok uji. Kadar rata-rata SGOT dan SGPT setelah perlakuan pada kelompok kontrol lebih tinggi dari pada kelompok uji dengan nilai p0,01 (p0,05) sehingga dapat disimpulkan rebusan daun putri malu (Mimosapudica, Linn) dapat mencegah kerusakan hepar akibat induksi karbon tetraklorida.
Pengaruh Rebusan Daun Sukun (Artocarpus altilis) terhadap Kadar Trigliserida, Kolesterol Total dan Low Density Lipoprotein (LDL) Serum Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus) Ardi Pramono; Solikah Ulfa Kesuma; Nurul Hikma Tazkiana; Rahma Alma Yunita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i3.945

Abstract

Tingginya asupan SAFA (saturated fatty acid)  dapat meningkatkan risiko penyakit yang dipicu oleh dislipidemia, termasuk penyakit jantung koroner.Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid, yang antara lain ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol, trigliserida, dan low density lipoprotein (LDL). Daun sukun (Artocarpus altilis) memiliki kandungan flavonoid, yang diperkirakan mempunyai efek menurunkan kadar trigliserida,kolesterol total, dan LDL. Penelitian ini akan mengkaji pengaruh rebusan daun A. altilis terhadap kadar trigliserida, kolesterol total dan LDL darah tikus putih (Rattus norvegicus) . Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni, dilakukan selama 28 hari pada tikus putih (Rattus norvegicus)  berjumlah 24 ekor, yang terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol, dan tiga kelompok perlakuan (pemberian rebusan sebanyak 1,4 ml; 2,8 ml; 4,2 ml). Profil lipid yang diukur adalah kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida. Serum darah diambil sebelum induksi minyak babi, 1 minggu setelah diinduksi minyak babi, dan 2 minggu setelah diinduksi minyak babi. Analisis dengan paired T-testmenunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan nilai signifikansi (p0,001) antara kelompok rebusan 4,2 ml; 2,8 ml; 1,4 ml terhadap kelompok aquades.Penurunan kadar trigliserida, kolesterol total, dan kadar LDL terbesar terdapat pada dosis 4,2 ml. Disimpulkan bahwa pemberian rebusan daun A. altilis dapat menurunkan kadar trigliserida, kolesterol total, LDL serum tikus putih (Rattus norvegicus).
The Study of Congestive Heart Failure as a Risk Factor of Cardiac Arrest in ICU Pramono, Ardi; Hernawan, Andhika Rajendra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol. 33 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2024.033.02.7

Abstract

Cardiovascular disease, especially congestive heart failure, is the second most common cause of death after stroke In Indonesia, current data on cardiac arrest in the ICU, especially those related to CHF, are still limited. This study aimed to determine the relationship between congestive heart failure and cardiac arrest in Intensive Care Unit (ICU) inpatients. The study used an analytic observational method with a cross-sectional research design. To find the relationship between the two variables, a regression test was performed on subjects with congestive heart failure and cardiac arrest in the ICU. Data was collected from 316 subjects, including 111 Congestive Heart Failure (CHF) subjects and 205 without CHF. Of the 111 CHF subjects, 51 subjects (45.9%) experienced cardiac arrest, and 60 subjects (54.1%) did not experience cardiac arrest. In comparison, the 205 subjects without CHF comprised 125 subjects (61.0%) who experienced cardiac arrest, and 80 subjects (39.0%) did not experience cardiac arrest. There is a relationship between congestive heart failure (CHF) and cardiac arrest, but CHF is not the only risk factor for cardiac arrest (p<0.05; OR 0.75). Congestive heart failure is associated with cardiac arrest in ICU patients with a relative risk of 0.75 times compared to subjects without congestive heart failure. Future research is needed to find the cause of congestive heart failure leading to cardiac arrest.
The relationship between q-SOFA score and mortality of sepsis patients at Jogja Hospital Pramono, Ardi; Rahmat, Basuki; Nurchalifah, Jessenia Eldora; Geofany, Shania Ardelia
Science Midwifery Vol 12 No 4 (2024): October: Health Sciences and related fields
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v12i4.1712

Abstract

Sepsis and severe sepsis are the leading causes of death in critically ill patients admitted to intensive care units (ICUs) in the United States. The national economic burden for sepsis in Indonesia at 100,000 patients is estimated to reach USD 130 million. Currently, screening for patients who may have sepsis has also been used frequently. The assessment can be done with a qSOFA score measurement (quick SOFA) or rapid measurement. This study used a retrospective with secondary data from medical records of patients treated in the intensive care unit of Jogja Hospital from January through December 2023. The subjects of 62 patients suffering from sepsis were obtained, with 25 patients (40.3%) at low-risk qSOFA values and 37 (59.7%) at high-risk qSOFA values. The results of this study stated that there was no relationship between the patient's qSOFA score when admitted to the hospital and the mortality of sepsis patients in the intensive care unit of the Jogja Hospital (p>0.07). Thus, the results of this study provide important insights for clinical practitioners in evaluating and planning the treatment of sepsis patients, considering that qSOFA, although useful as an initial screening tool, should not be used as the sole factor in clinical decision-making regarding the management of sepsis patients.
Hubungan Antara Hiperglikemia dan Hipertensi Pramono, Ardi; Luzida Azmi Aurelia , Aufanissa
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 2 No. 6 (2024): Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v2i6.213

Abstract

Penyakit tidak menular menjadi sebuah permasalahan di seluruh dunia khususnya negara berkembang seperti Indonesia. Angka penderita penyakit tidak menylar mengalami kenaikan tiap tahunnya khususnya pada penyakit diabetes mellitus dan hipertensi. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu provinsi di Indonesia dengan angka penderita hipertensi dan diabetes mellitus yang tinggi. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan adanya korelasi antara kadar gula darah yang tinggi dan hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 22 orang. Subjek penelitian merupakan anggota posyandu lansia dukuh Pereng Dawe, Sleman, Yogyakarta. Analisis data menggunakan uji chi square untuk menilai hubungan antar variabel Jumlah subyek penelitian sebanyak 22 orang dengan rerata umur 60-69 tahun yang terdiri dari laki-laki 13.6% dan perempuan 86.4%. Adapun kadar glukosa darah normal pada subyek penelitian sebesar 77.3% dan hiperglikemia sebesar 22,7%. Tekanan darah normal terdapat pada 36.4% subyek dan hipertensi sebesar 63.6%. Hasil statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara hiperglikemia dan hipertensi (p>0,05) Tidak ada hubungan yang signifikan santara kadar glukosa darah dengan tekanan darah pada warga Padukuhan Pereng Dewe, Kecamata Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Promoting Healthy Lifestyles Among The Indonesian Academic Community In Thailand To Prevent Non-Communicable Diseases (NCDS) Pramono, Ardi
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3: Mei 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/joongki.v4i3.9133

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs) are one of the leading causes of death in the world, including Indonesia. Non-communicable diseases (NCDs) such as diabetes mellitus, hypertension, heart disease, cancer, stroke, and mental health disorders are increasingly being found in young people or adolescents. Lack of knowledge in adolescents causes risk factors for unhealthy lifestyles in adolescents. This community service will explore the problem of non-communicable diseases in Indonesian students studying in Thailand, through brave lecture activities and surveys. The survey results showed that the subjects' awareness of healthy living practices was moderate. More than 50% of respondents avoided consuming sweet foods regularly and did physical activity at least once a week. However, several behavioral patterns need to be watched out for, especially the high percentage (35%) of respondents who used laptops for more than six hours every day which resulted in a sedentary lifestyle and musculoskeletal problems.
Hubungan Antara Hiperglikemia dan Hipertensi Pramono, Ardi; Luzida Azmi Aurelia , Aufanissa
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 2 No. 6 (2024): Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v2i6.213

Abstract

Penyakit tidak menular menjadi sebuah permasalahan di seluruh dunia khususnya negara berkembang seperti Indonesia. Angka penderita penyakit tidak menylar mengalami kenaikan tiap tahunnya khususnya pada penyakit diabetes mellitus dan hipertensi. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu provinsi di Indonesia dengan angka penderita hipertensi dan diabetes mellitus yang tinggi. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan adanya korelasi antara kadar gula darah yang tinggi dan hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 22 orang. Subjek penelitian merupakan anggota posyandu lansia dukuh Pereng Dawe, Sleman, Yogyakarta. Analisis data menggunakan uji chi square untuk menilai hubungan antar variabel Jumlah subyek penelitian sebanyak 22 orang dengan rerata umur 60-69 tahun yang terdiri dari laki-laki 13.6% dan perempuan 86.4%. Adapun kadar glukosa darah normal pada subyek penelitian sebesar 77.3% dan hiperglikemia sebesar 22,7%. Tekanan darah normal terdapat pada 36.4% subyek dan hipertensi sebesar 63.6%. Hasil statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara hiperglikemia dan hipertensi (p>0,05) Tidak ada hubungan yang signifikan santara kadar glukosa darah dengan tekanan darah pada warga Padukuhan Pereng Dewe, Kecamata Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
The Relationship Between Cholesterol Levels and Blood Pressure in the Elderly Pramono, Ardi; Sari, Qoni Ihda Permata
Journal of Community Health Provision Vol. 5 No. 2 (2025): Journal of Community Health Provision
Publisher : PSPP JOURNALS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55885/jchp.v5i2.652

Abstract

Hypertension and hypercholesterolemia are two common comorbidities in the elderly and contribute greatly to the increased risk of cardiovascular disease. The two are often found together, but local data on the direct relationship between the two in the elderly population is limited. The purpose of this study is to find out whether there is a relationship between total cholesterol levels and blood pressure in the elderly. This study uses an observational analytical design with a cross-sectional approach. The subjects of the study were 16 elderly members of the posyandu in Balecatur, Sleman, who met the inclusion criteria. Blood pressure was measured using a sphygmomanometer, and total cholesterol levels were measured using a point-of-care device. Data were analyzed using the chi-square test to determine the relationship between cholesterol levels and hypertension. Of the total 16 respondents, as many as 13 people (81.25%) had blood pressure in the hypertension category, and 13 people (81.25%) had total cholesterol levels ≥200 mg/dL. The results of the statistical test showed that there was a significant relationship between cholesterol levels and blood pressure, with a value of p = 0.018 (p < 0.05). From this study, it was found that there was a significant relationship between cholesterol levels and blood pressure in the elderly. These findings confirm the importance of integrated screening for dyslipidemia and hypertension in promotive and preventive programs in the elderly population.
Faktor Risiko Komorbid pada Mortalitas Sepsis Pramono, Ardi; Maryani, Nova; Wardhani, Ufita Dauma Ummi Nusuka; Ramadhan, Muhammad Tahfiz; Afaki, Sajida Fihrisa
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.4426

Abstract

Sepsis merupakan disfungsi organ yang disebabkan oleh respons berlebihan tubuh terhadap infeksi dan dapat mengancam jiwa. Secara global, insiden sepsis di rumah sakit mencapai 189 kasus per 100.000 orang per tahun dengan tingkat moralitas 26,7%. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi luaran pasien adalah komorbiditas. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang dilakukan untuk menilai faktor risiko komorbid yang berhubungan dengan kematian pasien sepsis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping pada tahun 2022–2023. Berdasarkan data rekam medik diperoleh 55 subjek dengan sepsis, baik yang meninggal maupun hidup, dengan komorbid meliputi gangguan paru, gangguan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan diabetes mellitus. Analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa dari lima faktor komorbid yang dianalisis, dua faktor berhubungan signifikan dengan mortalitas, yaitu gangguan paru dan gangguan ginjal (p<0,05).
HUBUNGAN UMUR DENGAN KEJADIAN MENGGIGIL PASCA OPERASI Pramono, Ardi; Desfitra, Renandita
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 7 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v3i7.644

Abstract

Menggigil (shivering) pasca operasi adalah salah satu komplikasi yang sering terjadi pada anestesi umum. Menggigil dapat mengakibatkan keadaan yang kurang nyaman dan berbagai resiko seperti perdarahan yang meningkat, gangguan penyembuhan luka, pemulihan yang lama pasca anestesi, serta meningkatkan risiko terkena infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan umur dengan kejadian menggigil pasca operasi di rumah sakit. Rancangan penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan desain studi cross-sectional, dilakukan di RSUD Salatiga pada bulan Maret 2022. Data penelitian menggunakan data primer dengan subjek semua pasien yang masuk ke RSUD Salatiga dan memenuhi kriteria inklusi operasi elektif ringan hingga sedang menggunakan anestesi umum. Analisis data dengan uji chi-square menggunakan signifikansi (p<0,05). Hasil penelitian didapatkan kejadian menggigil pada 4 kasus (7,7%) dari 52 subjek. Menggigil pasca operasi lebih banyak terjadi pada wanita (3 orang) dibandingkan pria (1 orang). Pada rentang umur 45-65 tahun mempunyai kejadian 2 kasus (22,2%). Dari uji Chi-Square didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian menggigil (Shivering) pasca operasi (p>0,05). Pada pasien umur lanjut dapat mengakibatkan pergeseran ambang termoregulasi dengan derajat yang lebih tinggi dibanding dengan pasien berumur muda, sehingga memiliki resiko tinggi mengalami menggigil. Kesimpulan penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara umur dengan kejadian menggigil pasca anestesi umum, tetapi semakin tua sering terjadi menggigil.