Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

EXPLORING DNA ISOLATION TECHNIQUE: A GUIDE FOR EDUCATORS AND STUDENTS Siti Masruroh; Wati, Dwi Retno
Jurnal Multidisipliner Kapalamada Vol. 3 No. 04 (2024): JURNAL MULTIDISIPLINER KAPALAMADA
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/kapalamada.v3i4.1411

Abstract

This study is intended to guide educators or students who will conduct DNA isolation experiments to prove and view the presence of DNA contained in fruit using a simple method. DNA isolation is a method to obtain or research deoxyribonucleic acid from an organism. The basic principle in DNA isolation is to break or extract a tissue so that a cell extract contains DNA, RNA, and other essential substances will be formed. DNA isolation experiment is intended to determine a simple method of isolating DNA in fruit and to determine the effectiveness of detergents used for DNA isolation. In this experiment, to observe DNA, DNA isolation was carried out on the crushed fruits to form juice from the fruit. Then, make a solution from a mixture of detergent and water. Later, mix the fruit juice with a detergent solution and add salt to it. Once the solution is homogeneous, filter it and add cold ethanol. Then, the DNA strands will appear because of the reaction. The results obtained are influenced by the type of detergent used, the type of fruit used, the alcohol concentration, and the results of the filtering performed.
Pengaruh Pemberian Konseling ASI Eksklusif terhadap Efikasi Diri Ibu Menyusui Wati, Dwi Retno; Sumini, Gempi Tri; Suryani, Lilis; Sari, Wahyu Anjas
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30802

Abstract

Air Susu Ibu eksklusif (ASI eksklusif) merupakan makanan terbaik bayi untuk kebutuhan pertumbuhan dan perkembangannya di enam bulan pertama. Pada ibu menyusui, dibutuhkan keyakinan dan efikasi diri yang tinggi bahwa mereka dapat memberikan ASI bagi bayi mereka. Pemberian layanan konseling memungkinkan ibu memperoleh pemahaman komprehensif mengenai teknik menyusui yang benar dan manfaat ASI bagi bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian konseling ASI eksklusif terhadap efikasi diri ibu menyusui. Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperiment dengan rancangan one group pretest-postest. Sampel dalam penelitian ini sejumlah 33 ibu menyusui eksklusif ≤ 6 bulan yang merupakan total pupulasi. Data yang diperoleh diolah dan di analisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank test. Hasil analisis uji statistik menunjukkan perubahan efikasi setelah konseling sebesar 15,50 dengan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,000. Artinya, ada pengaruh pemberian konseling ASI eksklusif terhadap efikasi diri ibu menyusui. Kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh pemberian konseling ASI eksklusif terhadap efikasi diri ibu menyusui. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan informasi untuk melakukan asuhan kebidanan, sehingga petugas dapat memberikan pelayanan yang maksimal guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama konseling dan pemberian informasi mengenai pentingnya ASI eksklusif supaya tidak terjadi drop out dan pemberian ASI berlanjut sampai 2 tahun.
Implementasi Acupressure ST36, SP6, CV12 sebagai Upaya Meningkatkan Berat Badan Balita Wati, Dwi Retno; Sumini, Gempi Tri; Suryani, Lilis; Taninas, Ewalde Maria; Anjas Sari, Wahyu Anjas
APMa Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2: Juli 2025
Publisher : STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47575/apma.v5i2.724

Abstract

Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan berat badan balita melalui teknik akupresur pada titik ST36, SP6, dan CV12. Intervensi dilakukan selama 30 hari pada 20 balita usia 13–36 bulan di Desa Tembelang. Pelatihan diberikan kepada ibu balita untuk melakukan akupresur mandiri. Hasil analisis uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan signifikan berat badan (p= 0,014). Teknik ini diharapkan dapat menjadi pendekatan alternatif dalam mendukung status gizi balita. Kegiatan ini terdiri dari melatih ibu balita untuk dapat melakukan acupressure secara mandiri, pengukuran berat badan sebelum dan setelah dilakukan acupressure selama 30 hari. Hasil dari kegiatan implementasi acupressure dapat meningkatakan berat badan balita, dengan kenaikan rata- rata 296 gram dengan Nilai p value yaitu 0.014. Setelah kegiatan ini diharapkan acupressure secara mandiri oleh keluarga balita dapat dilakukan secara rutin sebagai upaya pendekatan alternatif untuk membantu meningkatkan berat badan balita.
Implementasi Konseling Menyusui pada Masa Kehamilan dalam Meningkatkan Breastfeeding Self Efficacy Awal Laktasi Gempi Tri Sumini; Istiada Fatmawati; Lilis Suryani; Dwi Retno Wati
APMa Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1: Januari 2026
Publisher : STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47575/apma.v6i1.842

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengimplementasikan konseling laktasi pada ibu hamil usia >30 minggu secara tatap muka sejumlah 2 kali pertemuan sebagai upaya peningkatan breastfeeding self-efficacy pada awal laktasi dan mengikuti empat rangkaian kegiatan. Instrumen yang digunakan adalah Breastfeeding Self-Efficacy Scale–Short Form (BSES–SF). Ibu mengisi kuesioner pre-test untuk mengetahui tingkat breastfeeding self-efficacy awal, kemudian mengikuti sesi konseling laktasi. Pada masa laktasi dilakukan post-test sebagai evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan rata-rata breastfeeding self-efficacy 56.1 setelah konseling laktasi. Kegiatan menunjukkan adanya peningkatan Breastfeeding Self-Efficacy pada awal laktasi. Disarankan konseling laktasi tetap dilanjutkan selama masa laktasi minimal 4 kali home visit maupun pendampingan online.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF OLEH IBU MENYUSUI DI DESA MOROSUNGGINGAN KECAMATAN PETERONGAN KABUPATEN JOMBANG Gempi Tri Sumini; Dwi Retno Wati
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1483

Abstract

Latar Belakang: Dukungan keluarga memainkan peran penting dalam keberhasilan seorang ibu dalam menyusui bayinya secara eksklusif. Ibu menyusui yang kurang mendapat dukungan dari suami dan orang tua cenderung beralih ke susu formula. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan praktik menyusui eksklusif di kalangan ibu di Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari seluruh ibu yang menyusui bayi berusia 7–12 bulan di Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Pengambilan sampel dilakukan secara acak, menghasilkan sampel sebanyak 35 ibu. Variabel independen adalah dukungan keluarga, dan variabel dependen adalah menyusui eksklusif. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Koefisien Kontingensi (α = 0,05). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu menyusui di daerah penelitian menerima dukungan keluarga yang "cukup" (20 responden atau 57,1%). Sebagian besar ibu mempraktikkan menyusui eksklusif (19 ibu atau 54,3%). Ditemukan adanya hubungan antara dukungan keluarga dan praktik pemberian ASI eksklusif, sebagaimana dibuktikan oleh hasil uji Koefisien Kontingensi (nilai p = 0,002). Kesimpulan: Keluarga berupaya memberikan dukungan instrumental, informasional, penilaian, dan emosional kepada ibu terkait pemberian ASI eksklusif; namun, karena berbagai kendala dan keterbatasan, dukungan keluarga tersebut termasuk dalam kategori "cukup". Dukungan keluarga ini terbukti meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya selama enam bulan pertama tanpa makanan pendamping.
HUBUNGAN ANTARA PARITAS DENGAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN DI DESA MORO SUNGGINGAN PETERONGAN JOMBANG Gempi Tri Sumini; Lilis Suryani; Dwi Retno Wati; Wahyu Anjas Sari
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1484

Abstract

Background: The issue of incorrect and premature introduction of complementary foods (MP-ASI) in our community is a classic and complex problem. Although breast milk is known to offer numerous advantages—regarding nutritional content, immunity, economics, practicality, and psychological benefits—awareness among mothers in Indonesia regarding breastfeeding remains low. The exclusive breastfeeding coverage rate in Morosunggingan Village was 78%. A breastfeeding mother's parity is associated with her breastfeeding experience. Research Objective: To determine whether there is a relationship between parity and the provision of complementary foods to infants under 6 months of age in Morosunggingan Village. Research Method: An analytical research method was used to determine the relationship between two variables: parity and the early introduction of complementary foods. The study population consisted of 42 mothers with infants under 6 months of age in Morosunggingan Village. The sampling method employed was total sampling. This study employed interviews and questionnaires, utilizing the Chi-Square test for analysis. Results: The study found that 22 respondents (52%) practiced early introduction of complementary foods; among these 22 respondents, 17 (40%) were categorized based on parity. Conclusion: The Chi-Square test yielded a p-value of 0.001 (p < α = 0.05), indicating a significant relationship between parity and the introduction of complementary foods to infants under six months of age in Morosunggingan Village. Recommendation: It is recommended that health institutions provide integrated education regarding the introduction of complementary foods using leaflets and brochures, conducted during village activities such as *Posyandu* (integrated health posts), *arisan* (social gatherings), PKK (Family Welfare Empowerment programs), and other community events.