Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Widyaparwa

STRATEGI KEPENYAIRAN IMAN BUDHI SANTOSA DALAM ARENA SASTRA: KAJIAN SOSIOLOGI PIERRE BOURDIEU (POETRY STRATEGY OF IMAN BUDHI SANTOSA IN LITERARY FIELD: A STUDY ON SOCIOLOGY PIERRE BOURDIEU) Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 44, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.815 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i1.126

Abstract

Iman Budhi Santosa (IBS) di arena sastra Yogyakarta dikenal sebagai penyair legitimet, baik dipandang dari kualitas karya maupun konsekrasi dalam dunia sastra. Posisi IBS berkaitan erat dengan Persada Studi Klub (PSK), komunitas sastra yang dibimbing oleh Umbu Landu Paranggi. Penelitian ini akan mengkaji strategi IBS dalam mencapai posisi saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi IBS dalam mencapai posisi penyair saat ini dengan menggunakan teori sosiologi Pierre Bourdieu. Penelitian ini bersifat deskriptif. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa IBS cenderung meng-gunakan strategi simbolik dalam pencapaiannya sebagai penyair dan posisinya sebagai pengasuh para penulis. Iman Budhi Santosa (IBS) in Yogyakarta literary arena known as a legitimate poet, either seen from his works quality or his consecration in the literary world. IBS position is closely related to Persada Studi Club (PSK), which is guided by Umbu Landu Paranggi. This study investigates the IBS strategy in achieving his current position. The research aims to find out IBS strategy in achieving the poet current position by using Pierre Bourdieu sociology theory. The research is a descriptive study. The analysis shows that IBS tends to use symbolic strategy in his achievement as a poet and his position as a tutor for writers.
PRIBUMI VS ASING: KAJTAN POSKOLONIAL TERHADAP PUTRI CINA KARYA SINDHUNATA Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2243.673 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.45

Abstract

Identitas selalu menjadi persoalan bagi keturunan Cina di Nusantara. Permasalahan identitas tersebut adalah akibat politik identitas yang dilakukan oleh kaum Belanda. Politik tersebut menempatkan kaum berkulit putih, Cina, sebagai kaum Timur Asing (Vreemde Oostrelingen) di tingkat kedua dan pribumi (Inlanders) berada di tingkat ketiga. Selanjutnya, pelabelan Cina sebagai asing menimbulkan pengaruh panjang dan menjadi sebuah kesadaran bersama bagi masyarakat Indonesia modern. Pribumi versus asing (Cina) adalah efek dari kolonialisme yang terjadi di Indonesia sejak bertahun-tahun lalu. Gambaran tersebut didekonstruksi dalam Puti Cina, sebuah novel karya Sindhunata. Kajian ini menggunakan kajian poskolonial untuk mengungkap identitas pribumi dan asing (Cina), dan penindasan rasial terhadap keturunan Cina dalam novel Putri Cina. Identity problem always attaches to Chinese descendent in Nusantara. The problem is originated from identity politics treated by Dutch colonial. The politics places Chinese, the white, as the foreign East (Vreemde Oostrelingen) in second class and indigenous (Inlander) as third class society. Furthermore, Chinese labeling as foreigners has generated long impact and mass consciousness for modern Indonesian society. lndigenous versus foreigners (Chinese) is effect of long occupation of colonialism in Indonesia. Portrayal of the opposition is deconstructed in Putri Cina, a novel by Sindhunata. To reveal identity of indigenous and foreigners (Chinese) and race oppression to Chinese descendant in putri Cina, the study was conducted using postcolonial study.
MODAL-MODAL MAJALAH PAGAGAN: TINJAUAN SOSIOLOGI PIERRE BOURDIEU Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3330.897 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.95

Abstract

Keajegan penerbitan majalah Pagagan sejak tahun 1992 hingga 2014 memunculkan asumsi bahwa ada modal-modal tertentu yang menyebabkan majalah ini dapat bertahan. Modal-modal yang menunjang penerbitan Pagagan diasumsikan mendorong timbulnya praktik-praktik atau strategi pengelolaan penerbitan yang dilakukan oleh redaksi sehingga Pagagan mampu bertahan hingga 2014. Kajian ini bertujuan mengungkap modal-modal yang mendukung majalah Pagagan untuk dapat bertahan. Kajian ini menggunakan gagasan sosiologi Pierre Bourdieu tentang produksi karya sastra dipandang dari modal-modal yang melingkupi terbitnya karya sastra. Kajian ini bersifat deskriptif. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa modal ekonomi, simbolik, dan kultural mendorong timbulnya strategi-strategi redaksi yang menyebabkan Pagagan dapat hadir hingga tahun 2014. Dari ketiga modal tersebut, modal terkuat pendukung Pagagan adalah modal kultural. The constancy of Pagagan magazine since L992 to 20L4 emerges an assumption that there are certain capitals that make this magazine survive. The modals that support Pagagan publishing are assumed to force the emergence of practices or publishing management strategy that is carried out by editorial staff so that Pagagan has been able to survive until2014. This study is aimed at revealing supporting capitals of Pagagan magazine in order to be able to survive. This study uses Pierre Bourdieu's sociology idea on literary piece production viewed from capitals that encompass the literary piece publication. This study is descriptive. The result of analysis shows that economy, symbolic, and cultural capital drives the emergence of editorial strategy that causes Pagagan to exist until 2014. From the three capitals, the strongest supporting capital of Pagagan is cultural capital.