Tria Ocktarizka
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

DIDONG SEBAGAI INTI VOKAL GAYO: STUDI LAPANGAN VOKAL ACEH BERSAMA PENYANYI GAYO WIRATMADINATA DAN PETERIANA KOBAT Erlinda; Tria Ocktarizka; Berlian Denada
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16549

Abstract

Seni vokal tradisional Gayo, khususnya didong, merupakan komponen penting dari warisan budaya dan identitas etnis Aceh Tengah. Dalam konteks ini, pemutaran lagu-lagu etnik di Perpustakaan Aceh sangat penting untuk memperoleh pengetahuan komprehensif tentang makna didong dalam warisan vokal Gayo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan menganalisis komponen utama didong, basis vokal tradisi Gayo, untuk lebih memahami pengaruhnya terhadap tradisi dan identitas etnis di wilayah tersebut. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, dan analisis teks. Kolaborasi dengan seniman ternama Gayo Wiratmadinata dan Peteriana Kobat memperkaya teknik studi lapangan dan menyampaikan pandangan langsung dari para praktisi seni. Hasil penelitian ini adalah menambah pemahaman kita mengenai seni vokal tradisional Gayo, khususnya didong, dan juga menyoroti sejarah budaya daerah tersebut yang luas. Temuan penelitian ini dapat digunakan untuk mengarahkan tindakan melestarikan dan mendorong seni vokal tradisional Gayo agar relevan dan dapat diterima di zaman modern. Traditional Gayo vocal arts, particularly didong, are significant components of Central Aceh's cultural legacy and ethnic identity. In this context, field screenings of ethnic songs in the Aceh Library are critical for gaining a comprehensive knowledge of the core significance of Didong in the Gayo vocal legacy. The purpose of this research is to investigate and analyze the primary components of didong, the vocal basis of Gayo tradition, in order to better understand the effect they have on tradition and ethnic identity in the region. This research method employs a qualitative approach, with data collected through direct observation, interviews, and text analysis. Collaboration with well-known artists Gayo Wiratmadinata and Peteriana Kobat enriches the field study technique and delivers firsthand viewpoints from artistic practitioners. As a result, this study adds significantly to our understanding of traditional Gayo vocal arts, particularly Didong, while also highlighting the region's extensive cultural past. The findings of this study can be used to direct actions to preserve and encourage Gayo traditional vocal arts so that they are relevant and acceptable in modern times.
"Inomeurme" Interpretasi Meugang sebagai Nilai Sosial Masyarakat Aceh dalam Seni Pertunjukan Komposisi Musik Kontemporer Putra, Rizki Mona Dwi; Ocktarizka, Tria
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 12 No. 2 (2023): Grenek: Jurnal Seni Musik (December)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v12i2.50856

Abstract

Meugang merupakan salah satu budaya tradisi yang masih dilestarikan di Aceh. Meugang atau sebagian menyebutnya ma™meugang adalah sebuah tradisi makan daging pada saat sebelum memulai puasa Ramadhan, lebaran Idul fitri dan lebaran Idul Adha. Praktek Perayaan Meugang ini dirayakan oleh semua lapisan Masyrakat, baik di desa maupun di kota. Perayaan Meugang juga dijadikan momen penting untuk setiap keluarga yang bisa dilihat dari aktivitas Meuramin yaitu makan bersama dengan seluruh kalangan. Kebudayaan suatu daerah tentunya akan menghasilkan sejumlah wujud baik itu nilai, budaya maupun hal lainnya. Tradisi meugang di Aceh tentunya memiliki nilai sosial yang berbeda jika ditinjau dari segi lingkungan sosial. Nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi meugang memang tidak terlepas dari rasa keindahan dan rasa kebersamaan dalam interaksi sosial masyarakat serta keluarga. Dengan adanya interaksi sosial ini, perayaan meugang dapat menghasilkan nilai sosial dalam bermasyarakat, yaitu nilai kebersamaan dan nilai keindahan. Gagasan ini menarik untuk diaktualisasikan melalui karya seni musik dengan menginterpretasikan kembali Nilai Sosial tersebut ke dalam bentuk Komposisi Musik Kontemporer, yang mana adanya kebaruan dan gambaran terhadap karakter bunyi pada fenomena meugang tersebut. Tujuan dari penelitian karya seni ini adalah untuk mengaktualisasikan Nilai Sosial pada Fenomena Perayaan Meugang melalui Komposisi Musik Kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode penciptaan dengan menggabungkan proses penciptaan musik dari Pande Made Sukerta (Menyusun Gagasan Isi, Menyusun Ide Garapan, Menentukan Garapan) dan teori garap dari Rahayu Supanggah (Materi Garap, Pengarap, Sarana Garap, Prabot, Penentu Garap, dan Pertimbangan Garap).
“Struktur Pertunjukan Tradisi Rateb Mensa di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya”.: The Performance Structure of the Rateb Mensa Tradition in Beutong Ateuh Banggalang District, Nagan Raya Regency Yulianti, Arisa; Denada, Berlian; Ocktarizka, Tria
Awilaras Vol 11 No 2 (2024): Seni : Sinergi Tradisi dan Teknologi
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study formulates the problem of “The performance structure of the Rateb Mensa tradition in Beutong Ateuh Banggalang District, Nagan Raya Regency.” The research employed a qualitative method with a field research approach. The objective of this study is to describe the “Performance structure of the Rateb Mensa tradition in Beutong Ateuh Banggalang District, Nagan Raya Regency.” Research data were collected through observation, interviews, documentation, and triangulation/combined techniques. The theoretical framework used is the performance structure theory proposed by Djelantik, supported by Endraswara’s perspective. The results indicate that the performance structure of the Rateb Mensa tradition consists of three stages: pre-performance, main performance, and post-performance, presented in the form of group dhikr led by a Syeh (religious leader). The tradition is performed to enliven the Eid al-Fitr celebration and is carried out for three to four consecutive nights by male participants aged between 15 and 60 years. The number of performers ranges from 40 to 70 people, forming circular and shaf (row) formations. The Rateb Mensa chants include Al-Fatihah, Eid takbir, dhikr, shalawat, and laweut (poetic verses). This study demonstrates that preserving Rateb Mensa requires support in the form of documentation, regeneration, and revitalization through a community-based approach, ensuring it remains meaningful as a living intangible cultural heritage of Aceh rather than merely a spectacle.  
Rateb Mensa Sebagai Media Peningkatan Syiar Islam pada Masyarakat Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya Ocktarizka, Tria; Berlian Denada; Arisa Yulianti
IKONIK : Jurnal Seni dan Desain Vol. 7 No. 2 (2025): JULI 2025
Publisher : LPPM Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/ijsd.v7i2.16961

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Rateb Mensa Sebagai Media Peningkatan Syiar Islam Pada Masyarakat Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tradisi Rateb Mensa sebagai media dakwah Islam serta sejauh mana efektivitasnya dalam meningkatkan pemahaman keagamaan di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif sebagai metode dalam proses penelitian. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi tambahan mengenai salah satu tradisi yang dimiliki masyarakat Nagan Raya.  Rateb Mensa merupakan salah satu tradisi yang dikemas dalam bentuk zikir dan sholawat di Desa Kuta Teungoh Kecamatan Beutong Ateuh Kabupaten Nagan Raya Provisi Aceh. Rateb Mensa yang disajikan berupa zikir sambil menggerakkan tubuh ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya pada perayaan Idul Fitri di daerah tersebut. Biasanya Rateb Mensa selalu digelar pada malam ke empat Idul Fitri dan akan berlanjut hingga tiga malam berturut-turut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Rateb Mensa memiliki pengaruh yang sangat positif bagi masyarakat. Acara Rateb Mensa ini bukan hanya sekadar menjadi momen berkumpulnya warga desa, tapi juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama masyarakat. Tidak semua pelaku seni atau peserta Rateb Mensa bisa langsung mengambil intisari dari isi syiar Islam dalam acara ini, karena sebagian besar, terutama kalangan anak muda, lebih memandang Rateb Mensa sebagai bentuk hiburan. Namun demikian, Rateb Mensa dijadikan media syiar Islam dalam bentuk zikir yang masih eksis di Beutong Ateuh Banggalang.
Pembuatan Sulam Payet Kreasi Payung Pengantin Aceh melalui Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Gampong Jantho Makmur Sartika Br Sembiring; Putri Dahlia; Tria Ocktarizka
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 6 No. 01 (2022): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v6i01.1158

Abstract

Abstrak Kerajinan merupakan suatu hasil karya keterampilan tangan yang membutuhkan ketelitian dan kerapian tinggi agar terlihat hasil yang memuaskan. Keindahan hasil karya kerajinan yang indah dan unik akan memberikan kepuasan batin bagi penikmatnya. Karya kerajinan sulam payet merupakan salah satu kerajinan yang banyak diminati oleh kaum ibu-ibu secara khusus. Namun berkaitan dengan kerajinan sulam payet dengan media payung pengantin Aceh, belum banyak dijumpai pelatihan-pelatih terkait. Melihat betapa kurangnya ruang pelatihan untuk sulam payet media payung, maka diadakan pelatihan kreasi payung dengan mengunakan beberapa motif ornamen bernuansa kearifan lokal. Pelatihan diharapkan mampu mengasah kreavitivras ibu PKK Gampong Jantho Makmur dalam membuat karya sulam payet kreasi. Pelatihan ini juga bertujuan memberikan dampak yang signifikan tentang kesejahteraan keluarga ibu PKK. Selain itu diharapkan menambah kegiatan positif untuk mengisi kesibukan yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah Gampong Jantho Makmur. Proses pembuatan sulam payet terdiri dari proses pengenalan bahan, teknik yang digunakan hingga pada tahap finishing. Selain itu diberikan arahan dalam pengelolaan sebuah manajeman usaha agar ibu PKK Gampong Jantho Makmur giat dalam membuka usaha UMKM desa. Kata Kunci: Kata Kunci: Sulam Payet, Payung, Pengantin Aceh.
Bentuk Penyajian Kesenian Didong Grup Musara Bintang di Desa Linung Bulen II Kecamatan Bintang Kabupaten Aceh Tengah Yunita Rahma Yanti; Rika Wirandi; Tria Ocktarizka
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 1 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i1.4225

Abstract

This research is entitled "Forms of Presentation of the Didong Arts of the Musara Bintang Group in Linung Bulen II Village, Bintang District, Central Aceh Regency". The author examines the form of presentation of Didong art by the Musara Bintang Group in Linung Bulen II Village, Bintang District, Central Aceh Regency. The research method used is a descriptive qualitative approach. Data obtained in the field used observation, interview and documentation techniques.The theory used in this research is the presentation theory from Djelantik's theory which states that form is the basic element of manifestation. In the form of presentation, it means that form is a fundamental element of a performance. These elements include artists, musicians, seating formation, movement, songs presented, costumes, performance venue, and audience. Based on the results of research in presentation, Didong art is played by 15 people consisting of: 1 Ceh Apit (Ceh Companion), 1 Main Ceh, and 2 Penepok Pumu and 2 Penepok pillow splits, each of which acts as a pillow act, split pillow , and 9 players who act as penepok/penunung (followers). The Didong art performance consists of 9 stages, for the costumes the players wear black unity t-shirts with the words "Musara Bintang" written on the chest and wear a headband called Jembolang.
Eksistensi Tradisi Rapa'i Pulot Geurimpheng Di Desa Iembude Kecamatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen Muhammad Mufadhal; Rika Wirandi; Tria Ocktarizka
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v6i1.30929

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji eksistensi Rapa'i Pulot Geurimpheng sebagai kesenian Islami sekaligus objek kebudayaan yang khas di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pelaku seni, tokoh masyarakat, dan generasi muda, serta dokumentasi terhadap aktivitas pertunjukan dan proses pelestarian kesenian tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rapa'i Pulot Geurimpheng tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi seni dan hiburan, tetapi juga sebagai sarana dakwah dan penguatan nilai-nilai spiritual dalam masyarakat Bireuen. Kesenian ini menjadi simbol identitas budaya lokal yang terus dipertahankan melalui proses regenerasi dan partisipasi aktif komunitas, meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan perubahan sosial. Penelitian ini merekomendasikan perlunya dukungan lebih intensif dari berbagai pihak untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan Rapa'i Pulot Geurimpheng sebagai warisan budaya takbenda yang bernilai strategis bagi masyarakat Aceh.
Kesenian Rapa’i Bubee: Realisme Magis dalam Seni Tradisi Masyarakat Pidie Jaya Tria Ocktarizka; Rizki Mona Dwi Putra; Erlinda
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 15 No. 1 (2026): Grenek: Jurnal Seni Musik (June)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v15i1.73604

Abstract

Rapa'i Bubee is a traditional art form from Meureudu, Pidie Jaya Regency, which represents an oral narrative about the efforts of religious scholars to conquer Jin Pari through rapa'i percussion and traditional media such as aree, jeuee, and bubee. This study aims to describe the transformation of function, structure, and mystical meaning in the Rapa'i Bubee performance. The study used a qualitative descriptive method with data collection techniques through observation, interviews, and documentation studies. Data analysis was carried out through the stages of reduction, presentation, and drawing conclusions. The results show that Rapa'i Bubee has undergone a transformation from a supernatural healing ritual to entertainment and a medium for historical education. Elements considered contrary to Islamic teachings, such as the burning of incense, have been removed without losing the cultural identity of the performance. Despite the change in function, the magical dimension is still apparent through the phenomenon of trance of the performers who are controlled by the Caliph through the regulation of the tempo of the percussion as a symbol of the conquest of astral beings.
Reinterpretasi Pertunjukan Tradisional Rapai Bubee: Pewarisan Kesenian Tradisional Kabupaten Pidie Jaya ke dalam Dokumentasi Audio Digital Tria Ocktarizka; Rizki Mona Dwi Putra
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 14 No. 2 (2025): Grenek: Jurnal Seni Musik (December)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v14i2.69174

Abstract

Rapa'i Bubee is a traditional art form that originated and developed in the Meureudu area of ​​Pidie Jaya. Rapai Bubee, a ritualistic art form featuring musical and movement attractions, has been recognized as an Intangible Cultural Heritage of Humanity. However, its existence has faded, necessitating innovation in the form of digital audio documentation research and art and cultural preservation. Generally, research on the Rapa'i Bubee art form is limited to movement; musical research is rare. This study offers an innovative approach to Rapa'i Bubee music, exploring the local wisdom of the Pidie Jaya Regency community by digitally documenting Rapa'i Bubee in the modern era. This research uses the Artistic Research Method with a reinterpretation approach. This research provides a reinterpretation of the form of the rapai bubee performance in the form of taboh tapoh musical expression through the creative process of digital audio recording. This research has three stages, namely: a. Formulation of Rapa'i Bubee Musical Syair and Rhythm of Rapa'i Bubee Beats, b. determining the design of the Record/Record, c. development of musical innovation by utilizing digital audio technology. In this research, the researcher focuses on the musical aspects of the Rapai Bubee art, which includes the playing of rapa'i instruments and the sung poetry. Researchers are leveraging the latest technological advances in cultural preservation efforts, specifically through digital audio recording. Taboh tapoh is a term derived from the Acehnese language, where taboh means percussion and tapoh means blow. Taboh tapoh represents the Rapai Bubee performance, featuring a variety of rapai beats, ranging in speed from slow to fast.
An Experimental Approach Using Papuan-Culture-Based Lahpah Dance Music to Foster Environmental Awareness in Early Childhood Marwati Marwati; Putri Prabu Utami; Bayu Aji Suseno; Muhammad Ilham Mustain Murda; Sarah Sabrina Mukaddam; Tria Ocktarizka
Jurnal CARE (Children Advisory Research and Education) Vol. 14 No. 2
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jcare.v14i2.25747

Abstract

The issue of waste, particularly inorganic waste, requires a sustainable management strategy alongside an educational approach capable of fostering environmentally conscious behavior from an early age. This study aims to develop Lahpah (an acronym for Waste Sorting dance music grounded in Papuan culture using an experimental approach to serve as a medium for environmental education and the cultivation of environmental awareness in young children. The study employs a qualitative approach with a practice-based research design, positioning exploration, experimentation, creation, and artistic reflection as integral components of the research process. The research was conducted at YPPK Bintang Kecil Kindergarten in Jayapura City from June to December 2025. Data were gathered through observation, in-depth interviews, documentation, and literature review, and subsequently analyzed interactively through data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The results indicate that inorganic waste holds potential as material for alternative musical instruments through processes of selection, cleaning, design, and acoustic experimentation. This exploration yielded rhythmic instruments and aerophones, which were then integrated into a children's song titled Sorting and Selecting Waste and a dance choreography representing the actions of collecting, sorting, and maintaining environmental cleanliness. The integration of musical elements, movement, and Papuan cultural values ​​created an artistic experience that was contextual, participatory, and educational. Children's responses during rehearsals demonstrated active engagement through observing, playing instruments, imitating rhythmic patterns, and performing choreographic movements. The design of Lahpah dance music offers potential as an arts-based learning model that integrates artistic innovation, local culture, environmental education, and the development of environmental consciousness in young children.