Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pendirian Lembaga PAUD Andri Hadiansyah; Fidesrinur Fidesrinur; Masni Erika Firmiana
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.167 KB) | DOI: 10.36722/sh.v3i1.197

Abstract

Abstrak – Ketentuan tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sudah diatur dalam pasal 28 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada dasarnya banyak cara yang telah dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memperluas akses layanan PAUD bagi seluruh lapisan masyarakat, antara lain (1) bantuan pendirian/rintisan satuan PAUD baru, (2) bantuan pembangunan/penyediaan fasilitas PAUD, dan (3) penambahan satuan layanan PAUD yang sudah berjalan seperti TK/KB/TPA/SPS. Namun tentunya pemerintah tidak bisa bergerak sendiri, karena itu banyak lembaga atau yayasan lain yang ikut serta dalam upaya ini, salah satunya Yayasan Asih Foundation (YAF). Lembaga ini sudah berhasil memberdayakan masyarakat dalam hal pendirian dan pembinaan lembaga PAUD di seluruh Indonesia, termasuk di Jabotabek. Riset ini akan mendeskripsikan tentang strategi pemberdayaan yang diterapkan oleh Yayasan Asih Foundation. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan subjek 3 sekolah di Jabotabek. Teknik pengumpulan data adalah wawancara dan observasi. Hasilnya menunjukkan bahwa pemberdayaan msyarakat yang dilakukan oleh Yayasan Asih Foundation berada di level messo. Lembaga PAUD dapat merasakan perubahan dan manfaat dari pembinaan yang diberikan oleh YAF meski pembinaan yang utama hanya berlangsung selama 2 tahun. PAUD binaan ini dapat mengembangkan diri Kata Kunci – Pendidikan Anak Usia Dini, Pembangunan Masyarakat, Pengembangan Masyarakat Abstract - The regulation on Early Childhood Education has been regulated in Article 28 of Law of the Republic of Indonesia Number 20 of 2003 on National Education system. Basically, many ways have been done by the Ministry of Education and Culture to expand access to early childhood education services for all levels of society, among others (1) support the establishment/ stub new Early Childhood Education unit, (2) help construction/provision of EDC facilities, (3) and the addition of early childhood services units such as TK / KB / TPA / SPS. But of course the government cannot move alone, therefore many institutions or other foundations that participate in this effort, one of the Asih Foundation. This institution has succeeded in empowering the community in terms of establishment and development of Early Childhood Education institutions across Indonesia, including in Jabotabek. This research is will described about strategy empowerment apllied by Asih Fondation. The research method used is qualitative, with the subject of 3 schools in Jabotabek.. Data collection techniques are interviews and observations. The results show that community empowerment conducted by Yayasan Asih Foundation is at the messo level. Early Childhood Education institutions can feel the changes and benefits of coaching provided by Asih Fondation even though the main coaching takes only 2 years. Early Childhood Education under supervisor of it can be developing themselves. Keywords - Early Childhood Education, Community Development, Community Empowerment
SIKAP MASYARAKAT TERHADAP ONDEL-ONDEL SEBAGAI ALAT MENGAMEN DI JAKARTA Masni Erika Firmiana; Siti Rahmawati; Rochimah Imawati
Psychopedia Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol 7 No 2 (2022): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v7i2.3425

Abstract

Ondel-ondel has existed in the life of the Betawi people since 1605. At that time Ondel-ondel was trusted and used by the Betawi people as a repellent against reinforcements and a symbol of safety. Nowadays, many of these cultural symbols are used as tools for singing on the streets of the capital and its surroundings. This qualitative research aims to describe people's attitudes regarding it. Using a phenomenological design, the research subjects were 6 (six) people from different ethnic groups. The results show that 5 subjects both from Betawi and non-Betawi have a negative affection for this activity, while one subject from Sumatra has a positive affection on the grounds that there are still Jaipong and Kuda Lumping as other cultural symbols that are used as tools for singing and busking. Keywords: Attitude, ondel-ondel, busking Ondel-ondel sudah eksis dalam kehidupan masyarakat Betawi sejak tahun 1605. Saat itu Ondel-ondel dipercaya dan digunakan oleh masyarakat Betawi sebagai penolak bala dan simbol keselamatan. Saat ini banyak ditemui, simbol budaya ini dijadikan alat untuk mengamen di jalan-jalan ibukota dan sekitarnya. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap masyarakat terkait hal itu. Menggunakan desain fenomenologi, subjek penelitian berjumlah 6 (enam) orang yang berasal dari suku bangsa yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa 5 subjek baik asal Betawi maupun non Betawi memiliki afeksi negatif terhadap aktivitas ini, sementara satu subjek asal Sumatera memiliki afeksi positif dengan alasan masih ada Jaipong dan Kuda Lumping sebagai simbol budaya lain yang dijadikan alat untuk mengamen. Kata Kunci: Sikap, ondel-ondel, mengamen
‘THE CONTEMPORARY HIJRAH’ PHENOMENON AS RELIGIOUS CONVERSION: A PSYCHOLOGICAL STUDY OF RELIGION Rochimah Imawati; Vahruddin Jayadi; Siti Rahmawati; Masni Erika Firmiana
Media Bina Ilmiah Vol. 19 No. 1: Agustus 2024
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena ‘hijrah kekinian’ yang popular pada masyarakat muslim beberapa waktu lalu telah menarik perhatian berbagai disiplin keilmuan untuk membahasnya. Akan tetapi kajian mengenai ‘hijrah kekinian’ sebagai bentuk konversi beragama pada psikologi agama, masih sangat jarang dan belum penulis temukan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu pengamatan, wawancara mendalam, dan triangulasi. Sembilan orang muslimah dalam rentang usia 18-45 tahun berdomisili wilayah Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan dikaji dan diteliti sebagai obyek penelitian. Temuan dalam studi ini ialah bahwa ‘hijrah kekinian’ sebagai proses konversi beragama pada subjek penelitian meliputi adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap ajaran agama yang dianut, dan perubahan dalam keberagamaan ini terjadi tidak hanya karena faktor psikologis dan lingkungan sosial, tetapi juga karena petunjuk ilahi; dan konversi beragama ini menyebabkan perubahan penampilan sebagai simbol konversi.