Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : EDUKASI

PROFESIONALISME DOSEN DALAM METODE DISKUSI PADA PEMBELAJARAN Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 7 No 2 (2019): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v7i2.832

Abstract

Profesional adalah orang yang memiliki profesi atau pekerjaan yang dilakukan dengan memiliki kemampuan yang tinggi atau orang yang menjalankan profesi sesuai dengan keahliannya. Sementara profesionalisme sama dengan orang yang hidup dengan cara mempraktekkan suatu keterampilan yang mereka miliki dan terlibat dengan kegiatan yang sesuai dengan keahliannya tersebut. Metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar karena tujuan pembelajaran akan dapat di capai dengan penggunaan metode yang tepat. Dalam pembelajara banyak metode yang bisa digunakan dalam proses belajar mengajar, salah satunya metode diskusi. Maka dari itu metode diskusi adalah salah satu metode yang bisa diterapkan bahkan sering digunakan oleh dosen dalam pembelajaran. Metode diskusi merupakan metode yang paling popular di perguruan tinggi karena metode diskusi dianggap lebih efektif dalam mengembangkan kreatifitas, kemandirian dan kerjasama antara mahasiswa. Metode diskusi merupakan metode yang melatih mahasiswa untuk tampil percaya diri, punya ide sendiri, dan pengembangan ilmu pengetahuan secara alami, namun hal tersebut bisa terjadi jika metode diskusi dilaksanakan dengan baik dan benar di dalam pembelajaran.
MEMBANGUN PROFESIONALISME GURU DALAM ERA GLOBALISASI Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 8 No 1 (2020): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v8i1.1112

Abstract

Profesi guru pada dewasa ini sering dikategorikan sebagai profesi yang paling mendekati profesi penuh sebagaimana halnya dengan dokter, akuntan, pengacara, dan apoteker yang bersifat profesi, bernomor register, dan memiliki kode etik keprofesionalan sehingga guru benar-benar menjadi profesi yang membanggakan setara dengan profesi-profesi lainnya. Dari sini diharapkan dapat dijadikan tonggak kebangkitan guru untuk senantiasa terus meningkakan profesionalismenya dan sebagai upaya agar profesi guru menjadi daya tarik bagi siswa terbaik di negeri ini untuk menjadi guru. Dalam menjalankan tugasnya, guru lebih bersifat sebagai fasilitator sehingga siswa dapat berkembang menjadi dewasa yang utuh, maka dari itu model yang diutamakan adalah siswa yang aktif dan dominan. Tugas guru adalah memberi fasilitas agar siswa akhirnya belajar, mengolah bahan sehingga mengerti dan berkembang diri menjadi lebih dewasa. Guru harus lebih merangsang siswa untuk belajar, memberi dukungan, dan motivasi agar siswa mau terus belajar. Selain itu juga guru memberi tantangan kepada siswa, apa yang telah ditemukan oleh guru dipersoalkan sehingga siswa mengeluarkan segala pemikirannya untuk menjawab persoalan yang didiskusikan tersebut. Kemudian guru dan siswa mencari solusi bersama dan saling mengomunikasikan pemikiran masing-masing.
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DITENGAH PANDEMI COPID-19 Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 8 No 2 (2020): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v8i2.1161

Abstract

Saat ini dunia sedang dikejutkan dengan adanya virus yang mematikan, yaitu virus corona atau Covid-19. Coronavirus disease (Covid-19) ini mengguncang dunia. Kejadian besar yang dipicu penyakit menular ini di luar prediksi banyak kalangan sehingga memberi banyak perubahan kepada aspek kehidupan salah satunya bidang pendidikan. Sistem pendidikan di sekolah merupakan salah satu yang terkena dampak negatif dari meluasnya wabah virus corona. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus beradaptasi dengan virus corona apalagi sampai saat ini tidak ada tanda-tanda masa pandemic ini akan berakhir. Demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19, pemerintah mengubah sistem pendidikan yang pada mulanya proses pembelajaran dilakukan di sekolah diganti menjadi pembelajaran dari rumah. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi kepala sekolah untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan dalam situasi yang berbeda. Kepala Sekolah dituntut kreatif dan menjadi motivator yang baik unutk merancang kurikulum dan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi darurat bencana covid-19 ini, melalui optimalisasi pemanfaatan teknologi bagi semua pihak disekolah dalam pelaksanaan model pembelajaran daring dengan menggunakan media seperti whatsApp, google classroom, zoom meeting dan sebagainya sehingga tercipta siswa yang memiliki kemampuan dan tujuan pendidikan tetap tercapai.
KONSEPSI ISLAM TENTANG TUHAN DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 9 No 1 (2021): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v9i1.1547

Abstract

Dalam konsep Islam, Tuhan disebut Allah (bahasa Arab: الله‎) dan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam. Islam menitikberatkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa (tauhid). Dia itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Menurut ajaran Islam, Tuhan muncul di mana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apapun. "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Al-'An'am :103). Sebagai pencipta, Allah itu maha esa dalam wujud-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya, oleh karena itu sifat Tuhan hendaknya ditransformasikan dalam pendidikan untuk mewujudkan manusia sebagai khalifah. Penciptaan dan penguasaan alam semesta menjadi saksi atas keesaan-Nya dan kuasa-Nya. Alam semestsa dirancang oleh Allah sebagai pasilitas hidup, yang harus dikembangkan melalui kreativitas manusia sehingga melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, Tuhan harus dikenal melalui ciptaan-Nya sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya, pemahaman tentang eksistensi Tuhan merupakan tujuan pendidikan.
KONSEPSI ISLAM TENTANG ALAM DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 9 No 2 (2021): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v9i2.1731

Abstract

Dalam konsep Islam, Alam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah alam ghoib dan alam syahadah. Alam syahadah dalam istilah Inggris disebut universe yang artinya seluruhnya, yang dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai alam semesta. Alam semesta merupakan ciptaan Allah yang diurus dengan kehendak dan perhatian Allah. Allah menciptakan alam semesta ini dengan susunan yang teratur dalam aspek biologi, fisika, kimia, dan geologi beserta semua kaidah sains. Penciptaan dan penguasaan alam semesta menjadi saksi atas keesaan-Nya dan kuasa-Nya. Alam semestsa dirancang oleh Allah sebagai pasilitas hidup, yang harus dikembangkan melalui kreativitas manusia sehingga melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, Sunnatullah atau hukum Allah yang menyebabkan alam semesta selaras, serasi dan seimbang dipatuhi sepenuhnya oleh partikel atau zarrah yang menjadi unsur alam semesta. Hukum-hukum yang mengatur operasional alam harus dipelajari, sehingga peserta didik memilki keteraturan dalam hidupnya. Pendidikan hanya akan berhasil jika terjadi interkasi yang baik antara peserta didik dengan lingkungan seperti melestarikan lingkungan alam. Mempelajari alam dan hukum-hukum alam harus mengarah kepada alam sebagai tanda keagungan Tuhan.
KONSEPSI ISLAM TENTANG MANUSIA DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 10 No 1 (2022): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v10i1.1972

Abstract

Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikannya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS.At-Tin:4). Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya masih belum selesai (setengah jadi), sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS.Asy-Syams:7-10). Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada dasarnya manusia itu fitri, hanif dan berakal ditambah lagi dengan datangnya para Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidup manusia (QS.An-Nisa:174). Kesempurnaan itu tidak akan tercapai bilamana manusia tidak mempergunakan akal secara baik dan benar serta tidak mengimplementasikan petunjuk Allah, maka derajat manusia sama dengan hewan (QS.al-A’raf: 179). Pendidikan secara sederhana adalah sebagai sebuah proses memanusiakan manusia, “man is the core of the educational process”, bahwa manusia adalah inti dari sebuah proses pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah obyek dan sekaligus pelaku pendidikan. Oleh sebab itu formulasi dan implementasi pendidikan harus selalu disandarkan pada konsepsi tentang hakekat manusia. Potensi akal yang dimiliki oleh manusia mampu menghasilkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan. Pendidikan hendaklah mengembangkan potensi manusia secara simultan dan seimbang sehingga membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanat dari Allah yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya sebagai ‘abdullah” (hamba Allah) dan sebagai “Khalifatullah” (wakil Allah) dimuka bumi
KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM (Sebuah Pendekatan Normatif) Khairuddin Khairuddin; Ali Murtopo
Jurnal Edukasi Vol 10 No 2 (2022): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agama adalah kebenaran yang datang dari Tuhan maka agama memiliki nilai kemutlakan. Apa yang dapat dilakukan manusia adalah mencoba mendekati kebenaran itu, sedangkan yang sesungguhnya mengetahui kebenaran mutlak hanyalah Allah semata, Itulah pandangan dasar Islam dalam usaha memahami ajaran agama yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Melalui pendekatan studi kepustakaan, terdapat berbagai istilah pemimpin dalam Islam diantaranya ada kata Khalifah, Ulil Amri, Imam dan Ro’in. Ada dua bentuk paradigma umat terhadap kepemimpinan yang Islami diantaranya paradigma formalistic dan paradigma substantif. Kepemimpinan/ kekuasaan, menurut pandangan Islam merupakan sebuah amanah dan tanggungjawab yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia tetapi juga akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Jadi pertanggungjawaban kepemimpinan/kekuasaan dalam Islam tidak hanya bersifat horizontal sesama manusia, tetapi juga bersifat vertikal kepada Allah diakhirat, barangkali inilah hakekat kepemimpinan/kekuasaan dalam Islam yang menjadi pembeda dengan kepemimpinan sekuler saat ini. Pemimpin yang ideal menurut konsep Islam adalah pemimpin yang mempraktekan prinsip-prinsip dasar kepemimpinan dalam Islam seperti prinsip Tauhid (QS.an-Nisa;48, QS.al-Ikhlas:1-4), prinsip Musyawarah (QS.al-Imran:159), prinsip Keadilan (QS.an-Nisa:58, QS.al-Maidah:8), prinsip Persamaan (QS. Al-Huzarat:13), prinsip Kebebasan yang bertanggung jawab (QS.al-Baqarah:256, QS.al-Kahfi:29). Disamping prinsip-prinsip diatas, seorang pemimpin yang ideal adalah kepemimpinan seperti apa yang telah dicontohkan Rasullullh SAW karena dalam dirinya terdapat suri tauladan yang baik, hal ini tercermin dalam sifat atau karakter yang ada pada diri Rasulullah yakni Siddiq (Jujur), Tabligh (menyampaikan kebenaran), Amanah (dipercaya), Fathannah (Cerdas).