Edi Ardian
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Islam Indragiri, Indragiri Hilir, Riau, Indonesia

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

AMERICAN AND INDONESIAN VALUES OF WOMAN IDENTITY AND THEIR INFLUENCE ON WOMAN'S PURSUIT OF HAPPINESS AS REFLECTED IN ELIZABETH GILBERT'S EAT PRAY LOVE (2006) AND NH. DINI PADA SEBUAH KAPAL (1973) A COMPARATIVE STUDY Edi Ardian
Elite : English and Literature Journal Vol 1 No 2 (2014): December
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.109 KB)

Abstract

AbstractThe differences in cultural backgrounds influence the content of literary works, despite the same theme addressed. The purpose of the research is to compare and contrast an American novel Eat Pray Love (EPL) and Indonesian Pada Sebuah Kapal (PSK) for differences and similarities in the sense of how different cultures influence the heroine in each novel in her pursuit of happiness.  For that purpose, a thematic, descriptive, and comparative analysis is conducted to answer two research problems: 1) what constraint each heroine has to face in her attempts to achieve happiness; and 2) how the novel reflects the different ways in which American and Indonesian values concerning women influence the heroine of each novel. The analysis finds out that the heroine in each novel faces the same marital problem. Both are unhappy in their marriages, but they deal with their problem in different ways. In EPL, the heroine attempts individual redefinition of the self by undergoing material and spiritual search and fulfillment, and finally managed to achieve her true happiness. American individualism allows this. In PSK, the heroine undergoes an internal conflict, attempts for her happiness by committing extramarital relationship but fails to redefine herself and returns to her abusive husband and unhappy marriage. Traditional Javanese norms she strongly believes in do not allow her to strive for her happiness in an ‘unlawful’ way. Different cultures and different eras have their own articulation in literary work. American individualism gives greater priority to individuals, whereas Indonesian communality puts individual after social’s interests.IntisariLatar belakang budaya yang berbeda mempengaruhi dalam perkembangan karya sastra walaupun temanya sama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan novel Amerika Eat Pray Love (EPL) dan novel Indonesia Pada Sebuah Kapal (PSK) untuk mencari persamaan dan perbedaan di antara keduanya dengan melihat bagaimana perbedaan budaya tersebut mempengaruhi kedua tokoh wanita di dalam masing-masing novel dalam upaya mereka mencapai kebahagiaan sejati. Analisis tematik dan deskriptif dalam kerangka studi perbandingan sastra digunakan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut: 1) hambatan apa yang dihadapi oleh kedua tokoh wanita tersebut untuk mencapai kebahagiaan; 2) bagaimana kedua novel tersebut menggambarkan perbedaan antara nilai-nilai budaya dan masyarakat Amerika dan Indonesia dalam kaitannya dengan perempuan mempengaruhi perilaku tokoh utama wanita di masing-masing novel tersebut dalam upaya mereka mencari kebahagiaan sejati.  Penelitian menemukan bahwa tokoh wanita pada masing-masing novel menghadapi masalah yang sama dalam perkawinan mereka masing-masing. Kedua tokoh wanita ini tidak bahagia dalam perkawinannya. Pada EPL, tokoh wanita ini berusaha mendefinisikan kembali dirinya melalui sebuah proses pencarian jati diri secara material dan spiritual dan hingga akhirnya kebahagiaan sejati. Individualisme dalam masyarakat Amerika memungkinkan hal ini. Pada PSK, tokoh wanita ini menghadapi konflik bathin, berusaha mencapai kebahagiaan dengan melakukan hubungan di luar nikah tetapi gagal mendefinisikan kembali jati dirinya dan kembali kepada suaminya dan penikahannya tidak bahagia. Norma tradisional budaya Jawa yang dipegangnya dengan teguh tidak membenarkannya mencapai kebahagiaan dengan cara yang ’tidak benar’. Individualism Amerika memberikan prioritas terbesar untuk setiap individu, komunalitas masyarakat dan budaya Indonesia menempatkan kepentingan individual setelah kepentingan sosial.
THE SUPERNATURAL ELEMENTS REFLECTED IN WASHINGTON IRVING’S TALES OF A TRAVELER Edi Ardian
Elite : English and Literature Journal Vol 3 No 1 (2016): June
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.846 KB)

Abstract

AbstractWashington Irving describes the Supernaturalism in Tales of a Traveler. He is one of the earliest American writer of Imaginative literature in the age of Romanticism and it happened of France Revolution that fulfilled by the enthusiasm and liberty. This research is going to find some words to indicate the supernatural element in romantic era. Based on the previous explanation, the writer formulates the problems as follow: 1) Why Washington Irving as the Romantic writer does write the supernatural elements in his essays and 2) What are the words to indicate of supernatural elements in his essays. The analysis finds out that the supernatural gothic and symbol that he described in Tales of a Traveler is one of satire or criticize of the condition in his era, that happened French revolution and there are many conflict in Europe that make people want move to the new place. Therefore, we can call by the transition era. The mysticism is one of characteristic of the romantic era, so the mysticism close meaning with the supernatural that the extra of natural. Irving made satire as criticize of the condition that filled any conflict in Europe after French revolution to make people individualistic.AbstrakThe Supernatural Elements Reflected in Washington Irving’s Tales of A Traveler. Washington Irving menggambarkan hal-hal yang berhubungan dengan dunia supernatural di dalam karyanya yang berjudul Tales of Traveler. Dia termasuk penulis pertama Amerika yang sastranya imaginatif pada Era Romantis yang terjadi pada saat revolusi Ferancis yang ditandai dengan anthusiasme dan kebebasan. Berdasarkan penjelasan ini maka dapat dirumuskan dua pertanyaan yaitu: 1) mengapa Irving di dalam karyanya pada era romantis ini menulis tentang supernatural pada karyanya 2) Apa saja perkataan Irving yang menunjukan hal-hal supernatural dalam karyanya. Maka analisis ini menemukan bahwa supernatural gothic dan symbol yang tergambar didalam Tale of Traveler adalah salah satu sindiran atau keritikan terhadap kondisi yang terjadi pada era revolusi Perancis. Terjadi banyak konflik di Eropa yang membuat orang ingin pindah tempat yang baru. Oleh karena itu disebut dengan era transisi. Karya yang berbau mistik merupakan salah satu karakteristik pada era romantis ini, mistik dekat maknanya dengan supernatural yang berhubungan dengan di luar hal alami. Irving menyindir dan mengkritik terhadap konflik yang terjadi di Eropa pasca revolusi perancis yang membuat orang lebih individualistik.
PENGARUH MEDIA TELEVISI TERHADAP PRILAKU REMAJA DI DESA GEDONGAN KOTA GEDE YOGYAKARTA Edi Ardian
Jurnal Edukasi Vol 7 No 2 (2019): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v7i2.828

Abstract

Nowadays, Television is one of media in modern era in the world, the positive effect of television to increase of knowledge and discourses, as the entertainment medium to show of the messages and information to increase of self-quality and it bring social impact in society also. Whereas, the negative impact of television from the sadism, pornography and sinetron that presents about hedonism to encourage adolescent become consumptive. The parents and teachers’ role are significant to decrease the negative effect of Television and religion role also can be able to suppress of negative effect of Television. Keyword: impact, hedonism, glamor.Media televisi merupakan salah satu media modern yang ada di dunia saat ini, media tersebut sangat berdamfak positif untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan, sebagai sarana hiburan dan penyampai pesan dan informasi serta peningkatan kualitas diri. Masuknya media televisi membawa dampak sosial dalam kehidupan bermasyarakat . Sedang dampak negatif adalah dampak dari tayangan-tayangan yang berbau sadisme , pornograpi, dan tayangan seperti sinetron yang menampilkan kegelamoran yang tidak sesuai dengan budaya kita yang memotivasi para remaja untuk bersifat konsumerisme. Dalam hal ini peranan orang tua dan guru serta kerja sama yang baik antara keduanya maka akan bisa menekan dampak negatif yang ditimbulkan oleh tayangan televisi dengan komunikasi yang efektif kepada mereka. Peranan agama juga memberikan pengaruh yang signifikan untuk memfilter dampak dari hal negatif dari media televisi.
KLASTER KATA ZEST, ZEAL, ARDOUR, SPIRIT DAN ANTUSIAME DALAM KONTEK ILMU SEMANTIK. Edi Ardian
Jurnal Edukasi Vol 8 No 2 (2020): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v8i2.1164

Abstract

Dalam kehidupan sehari-hari, semua kegiatan kita selalu melibatkan bahasa, bahkan dalam beberapa hal bahasa sering merupakan solusi langsung atau jelas dalam menyelesaikan permasalahan yang medianya menggunakan bahasa. Bahasa itu sifatnya universal dan unik. Universal berarti bahasa memiliki karakter khusus, yang dapat ditemukan dalam bahasa di dunia ini. Unik berarti mempunyai ciri khas masing-masing pada daerah tertentu di setiap negara. Salah satu bahasa yang universal adalah Bahasa Inggris, yang telah menjadi bahasa international. Di Indonesia orang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa asing mereka. Dalam tulisan ini penulis akan mencoba mencari secara semantic, klaster kata-kata tersebut adalah: zest, zeal, ardor, spirit, and enthusiasm. Yang arti keseluruhannya adalah: semangat. Penelitian ini akan menjelaskan cluster kata zest, zeal, ardor, spirit, and enthusiasm dalam kontektual bahasa. Bagaimana perbedaan konteksnya dalam penggunaan kata tersebut. Salah satu contoh kata Zest artinya: energi, semangat lawan katanya adalah: apatis, ketidak pedulian, kemalasan, kelesuan. Kata benda zest memiliki dua arti artinya pertama: Kenikmatan yang kuat dan antusias. Arti yang kedua: kepedasan asam, sinonimnya: kesedapan jadi kata "zest" dalam kata benda memiliki dua arti, dan kata "zest" dalam kata kerja memiliki satu arti Kata "Zeal" memiliki dua arti yang artinya sama dengan antusiasme. Kata ini yang selalu berhubungan dengan tujuan, kesepakatan, dan ketekunan yang tidak ada habisnya dalam kemajuannya. Kata ardour memiliki tiga arti, kata spirit memiliki delapan arti dan memiliki satu kata kerja dan kata anthusiasme memiliki tiga arti yang keseluruhannya menyesuaikan dengan kontek pragmatic dalam bahasa.
IDENTITAS PEREMPUAN INDONESIA YANG TERGAMBAR DALAM NOVEL PADA SEBUAH KAPAL Edi Ardian
Jurnal Edukasi Vol 9 No 1 (2021): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v9i1.1542

Abstract

Latar belakang budaya jawa yang mempengaruhi dalam perkembangan karya sastra yang mempunyai tema tentang perjuangan wanita untuk mencapai sebuah kebahagiaan sejati.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi wanita indonesia untuk mencapai kebahagiaan yang tergambar dala novel Pada Sebuah Kapal. Analisis tematik dan deskriptif dalam kerangka studi yang digunakan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut: 1) Bagaimana cara yang dilakukan seorang Perempuan Jawa untuk mencapai kebahagiaannya?. 2. Hambatan apa saja yang terjadi untuk mencapai sebuah kebahagiaan yang tergambar dalam novel tersebut? Pada novel Pada Sebuah Kapal, tokoh wanita ini menghadapi konflik bathin, berusaha mencapai kebahagiaan dengan melakukan hubungan di luar nikah tetapi gagal mendefinisikan kembali jati dirinya dan kembali kepada suaminya dan penikahannya tidak bahagia. Norma tradisional budaya Jawa yang dipegangnya dengan teguh tidak membenarkannya mencapai kebahagiaan dengan cara yang ’tidak benar’ dapat disimpulkan bahwa peranan superego lebih besar daripada ego.
Democracy and Feudalistic between Daisy Miller and Mrs. Costello through Sociological Approach as reflected in Daisy Miller (1879) Edi Ardian
EJI (English Journal of Indragiri) : Studies in Education, Literature, and Linguistics Vol. 3 No. 2 (2019): EJI (English Journal of Indragiri): Studies in Education, Literature and Lingui
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/eji.v3i2.603

Abstract

There are several kinds of literary works. They are a poem, novel, fiction, drama,etc. Daisy Miller is one of the famous and popular novels. This novel is written inthe spring of London. The Author is Henry James. The writer analyzed this novel bythe sociological approach. This research applies qualitative research which thedata are taken from the analysis document and material from books and internetresearch. Data analysis concerns the interpretative technique that focuses onexamining data. The main source of this research is the novel Daisy Miller thisresearch is going to answer the research questions what is the characteristic ofdemocracy and Feudalistic is as reflected in Daisy miller novel? And what are thephenomena between democracy and Feudalistic in Daisy Miller novel? From theanalysis the author concluded that Daisy Miller is a representative of Americanwoman as same as democracy in the American Custom, She is going abroad toSwitzerland which is peaceful country inhabited by all kinds of people of differentrace, ethnic, language, skin color, religion, profession, from all over the world.The Henry James as the author showed Daisy Miller as a vulgar and as free asthe representation of American culture that has correlated with the social life. On theother hand, the author describes Mrs. Costello as a Feudalistic of Europeanculture. Mrs. Costello is a representation as European social-life that alwaysdistinguishes between high and low status and it is one of the character of Feudalism.The feudalistic was that the power of the ruling class or Aristocracy rested on theircontrol of the farmable lands, leading to a class based upon the exploitation of thepeasants who farm these lands.
Pelatihan Model Pengembangan Kurikulum 2013 Ahmad Ahmad; Edi Ardian; A. Muthalib; Edi Susrianto IP; Khairuddin Khairuddin
ABDIMASY: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2022): ABDIMASY: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : STAI Auliaurrasyidin Tembilahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46963/ams.v3i1.533

Abstract

The curriculum as several educational plans needs to be developed dynamically according to the needs and changes that occur in society with reference to the development of curriculum models. In line with this, among the many models of curriculum development, one that must be considered is choosing a curriculum development model. The selection of the development model is not based on the advantages and benefits and opportunities for optimal results, but also needs to be adapted to the education system and education processing system adopted and which educational concept model is used. serves as a means to facilitate a communication, or as a perspective guide for making decisions, or as a planning guide Therefore, the model can help us form the concept of the process by showing certain principles and procedures, as for the purpose of this mentoring is to provide insight to teachers in the development of the 2013 curriculum model. In addition, teachers who pursue escape are expected to improve their skills in carrying out learning activities. To achieve the expected goals of this training, lectures, demonstrations, exercises and assignments are used. The targets in this service are teachers SMA Tengku Sulung districts Sungai Batang. The methods used are in the form of seminars, demonstrations, and exercises or assignments.
Bedah Buku Biografi Abah Lukmanul Hakim bin Haji Musthofa Al-Banjari (Tokoh Islam Kharismatik Enok Dalam Abad ke-XX) A. Muthalib; Khairuddin Khairuddin; Edi Ardian; Edi Susrianto; Nurbaidi Nurbaidi
ABDIMASY: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): ABDIMASY: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : STAI Auliaurrasyidin Tembilahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46963/ams.v3i2.702

Abstract

Talking about the history of a scholar (Islamic figure) in this country always attracts attention from various groups to be studied and studied further, in order to take lessons from the sides of his life to be emulated, imitated or emulated in our families and communities wherever they are, because Scholars are heirs of the Prophets. The history of Abah Lukman can be summarized as follows: Abah Lukmanul Hakim was a Ulama from the land of Banjar who had studied Islam in the holy city of Mecca and then after he returned to Indonesia then madam (wandered) to Indragiri Riau around 1914. Abah Lukmanul Hakim had studied with Mr. Sapat in Hidayat Village. At that time Abah lived in Tekulai Hilir. He was one of the special students when he studied at Hidayat, because in general he had studied the books studied in the village when he was in Mecca, but he wanted to take "blessings" from the descendants of Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari who was famous in Tanah Banjar, a Ulama. Besar who authored the book "Sabilal Muhtadin", then after Tuan Guru Sapat died in 1939 Abah Lukman moved to Enok Dalam; Abah Lukmanul Hakim is someone who is consistent (consistent) in carrying out Islamic law; The legal basis for Abah Lukmanul Hakim being allowed to keep dogs for his community members at that time was to guard the coconut plantations, so that all the plants in their gardens were protected from pests such as pigs, monkeys and so on; Abah Lukmanul Hakim in the eyes of the people is a pious person. The heirs (sons and daughters) of Abah Lukmanul Hakim until this booklet was written, two people are still alive, namely: 1. Hj. Saibah and 2. Asy'ari, While in general there are still many grandchildren and they are scattered in several provinces in Indonesia such as: Jakarta, South Kalimantan, North Sumatra, Batam, Riau Islands, however, they mostly live in the Indragiri Hilir region of Riau, such as in Kec. Enok, Kec. Tempuling, Echo, Keteman (Scissors), and Kempas.
MENINGKATKAN HASIL BELAJARMATEMATIKA MATERI FPB DAN KPK DENGAN METODE SIMULASI DI KELAS VI SD 006 MUHAMMADIYAH TEMBILAHAN KABUPATEN INDRAGIRI HILIR. Siti Nurbaya; Edi Ardian
Jurnal Edukasi Vol 10 No 2 (2022): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dengan judul “Penggunaan Metode simulasi Untuk MeningkatkanHasil Belajardengan Materi FPB dan KPK padaSiswa Kelas VI SDS 006 Muhammadiyah Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Tahun Pelajaran 2018-2019” bertujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi siswa dalam belajar dengan menerapkan penggunaan metode simulai pada pembelajaran Matematika dengan pokok bahasan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Penelitian ini dilaksanakan karena adanya permasalahan yang dihadapi oleh guru di setiap pembelajaran berlangsung, permasalahan itu datang baik dari sisi guru, siswa, lingkungan belajar sehingga materi pembelajaran yang telah disajikan oleh guru ataupun materi yang telah dipresentasikan oleh kelompok-kelompok diskusi. Penelitian ini dilaksanakan dengan menerapkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan subjek penelitian siswa kelas VI SD 006 Muhammadiyah dengan jumlah siswa 20 orang siswa, yaitu 9 orang siswa laki-laki dan 11 orang siswa perempuan. Instrument yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian diantaranya lembar observasi aktivitas guru, aktivitas siwa, lembar tes. Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan metode simulasi yang dilaksanakan dalam dua siklus menunjukkan peningkatan prestasi belajar siswa pada setiap siklusnya. Lembar Kerja Siswa pada pra siklus yaitu 45% siswa yang tuntas dalam pembelajaran, siklus I 60 %, dan untuk lebih memastikan peneliti melakukan evaluasi pada Siklus II yaitu 85% siswa yang tuntas dalam pembelajaran. Sehingga hal tersebut dapat membuktikan bahwa penerapan metode simulasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI pada mata pelajaran Matematika dengan pokok pembahasan FPB dan KPK dapat terlaksana dengan cukup baik dan hasil setiap siswa memiliki peningkatannya masing-masing.
THE AMERICAN WOMAN IDENTITY AS REFLECTED IN EAT PRAY LOVE NOVEL IN HER PURSUIT OF HAPPINESS Edi Ardian; Samsul Amri; Edi Susrianto Indra Putra
EJI (English Journal of Indragiri) : Studies in Education, Literature, and Linguistics Vol. 7 No. 1 (2023): EJI (English Journal of Indragiri): Studies in Education, Literature, and Lingu
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/eji.v7i1.2380

Abstract

American culture background influences the content of literary work in this novel. The purpose of the research is to know an American woman identity as reflected in Eat Pray Love (EPL) novel in her pursuit of happiness. For that purpose, a thematic and descriptive, analysis is conducted to answer two research problems: 1) what constraint of woman to face in her attempts to achieve happiness; and 2) How the novel reflects of the American woman identity in her pursuit of happiness? The analysis finds out that woman faces the problem based on her culture. She is unhappy in her marriage, but the she deal with her problem in American culture identity, she attempts individual redefinition of the self by undergoing material and spiritual search and fulfillment, and finally managed to achieve her true happiness. The ego wins over the superego, and a new identity comes out of an internal conflict and an intense spiritual process. American individualism allows this. American individualism gives greater priority to individuals.