Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

ELAN VITAL ORANG BANJAR DI PERANTAUAN (Studi Kasus Migrasi dan Adaptasi Orang Banjar di Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau) Putra, Edi Susrianto Indra
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v11i1.1643

Abstract

This research is aim at studying the power struggle of Banjarese People in Indragiri Hilir Regency in which the focus of study is about the Banjarese People’s migration and adaptation and it’s implication to the social studies subject. The object of this research is to explore the causes of Banjarese People’s migration such as; the motivating factors from the place of origin and the attractions from the place of destination. In addition, this research also describes the adaptation strategy, culture, and the role of Banjarese people’s social capital which forms their power struggle in Shoreline. Further, the procedure of this research is qualitative research in the form of case study. The results of this research are; (1) the migration of Banjarese People is done because of the economy crisis and policy pressure at that time; (2) Indragiri Hilir is chosen as the migration place because it has the same geographic land with their place, thus it is easy for them to work there; (3) the adaptation and the social interaction of Banjarese People hold important role in managing and cooperating with other ethnics in Indragiri Hilir; (4) the social capital, especially the social networking holds important role in maintaining the banjarese identity ethnic in Shoreline.Key words: Migration, Adaptation, Social Capital, Banjarese People’s.
MODEL PENDEKATAN REFLECTIVE INQUIRY BERBASIS LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR PENDIDIKAN IPS Edi Susrianto Indra Putra
Jurnal Edukasi Vol 7 No 2 (2019): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v7i2.829

Abstract

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sangat erat kaitannya dengan isu-isu faktual yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Karena materi pembelajaran Pendidikan IPS sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai budaya bangsa. Salah satu karakteristik Pendidikan IPS adalah pengembangan nilai, analisis nilai (value) serta penerapannya pada aksi sosial (sosial action). Isu-isu sosial dapat didefinisikan sebagai masalah-masalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang belum dapat diselesaikan dan mengundang perhatian masyarakat sebagai warga negara. Dalam memecahkan masalah sosial, Pendidikan IPS harus ikut berperan aktif. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah sosial ini yaitu melalui pendekatan reflective inquiry. Melalui pendekatan reflective inquiry, para siswa diajarkan bagaimana menggunakan keterampilan sosial untuk memecahkan masalah-masalah faktual yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan IPS harus dapat membantu siswa mengontrol diri dalam kehidupan dan menerapkan tata nilai tersebut dalam berperilaku di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan IPS harus mampu mengembangkan masyarakat menjadi warga negara yang baik, akrab dengan semua unsur lingkungan, bersifat arif dan bijaksana dalam membina hubungan, mengeksplorasi, dan mengembangkan berbagai bentuk unsur lingkungan budaya yang ada
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI SEKOLAH DASAR (Studi Kasus di Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau). Edi Susrianto Indra Putra
Jurnal Edukasi Vol 8 No 1 (2020): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v8i1.1107

Abstract

Tujuan Pendidikan IPS adalah membina warga negara agar menjadi warga negara yang baik, yang memiliki kepekaan dan tanggung jawab sosial, berjiwa demokratis, mampu menghargai perbedaan etnis, budaya dan agama, berfikir kritis, kreatif dan inovatif. Mampu memecahkan masalah-masalah sosial serta berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat lokal, nasional dan global.Dari serangkaian penelitian ini dapat diperoleh beberapa kesimpulan bahwa Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar ditujukan untuk meningkatkan penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku serta nilai-nilai yang dibutuhkan siswa untuk berpartisipasi dalam kehidupan sebagai warga negara yang baik.Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang merupakan kumpulan dari berbagai disiplin ilmu, sangat erat kaitannya dengan isu-isu faktual yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Karena materi pembelajaran Pendidikan IPS sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai budaya yang ada ditengah-tengah masyarakat.Pendidikan IPS harus mampu mengembangkan masyarakat menjadi warga negara yang baik,akrab dengan semua unsur lingkungan, budaya, serta bersifat arif dan bijaksana dalam membina hubungan, mengeksplorasi, dan mengembangkan berbagai bentuk unsur lingkungansosial. budaya dari berbagai etnis yang ada.Jenis Penelitian ini adalah d kualitatif. Model pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus. Melalui pendekatan studi kasus, diharapkan dapat mengungkapkan tentang berbagai kasus (fenomena) yang terjadi dilapangan.
NILAI-NILAI BUDAYA MELAYU DALAM TRADISI PACU SAMPAN LEPER DI KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Edi Susrianto Indra Putra
Jurnal Edukasi Vol 8 No 2 (2020): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v8i2.1167

Abstract

Kebudayaan memiliki pengertian yang sangat luas. Maknanya tidak hanya terbatas pada unsur-unsur yang berkaitan dengan perilaku manusi dan tradisinya, melainkan meliputi juga unsur-unsur material yang dihasilkan oleh pemikiran-pemikiran dan karya manusia serta berbagai peralatan yang digunakannya. Bahkan menurut konotasi ilmiah, pengertain kebudayaan itu juga meliputi sistem ilmu pengetahuan yang dipelajari manusia melalui komunikasi, bahasa, kelembagaan, tradisi dan kebiasaan. Tradisi pacu sampan leper adalah sebuah tradisi budaya yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir. Tradisi ini diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Tradisi pacu sampan leper bagi masyarakat Indragiri Hilir sudah merupakan sebuah festival budaya daerah. Tradisi pacu sampan leper tidak hanya sekadar adu kecepatan antara satu sampan dengan sampan yang lain, akan tetapi tradisi ini juga syarat dengan nilai-nilai budaya Melayu. Sebagai olahraga tradisional, pacu sampan leper sangat menarik perhatian masyarakat, khususnya di Kabupaten Indragiri Hilir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang sejarah lahirnya tradisi pacu sampan leper serta bentuk nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi budaya tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi lapangan, wawancara dengan narasumber dan studi dokumentasi.
PENDIDIKAN IPS DI ERA GLOBALISASI : SEBUAH PENDEKATAN KURIKULUM PEMBELAJARAN. Edi Susrianto Indra Putra
Jurnal Edukasi Vol 9 No 1 (2021): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v9i1.1541

Abstract

Perubahan yang terjadi diberbagai bidang kehidupan manusia, merupakan dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan masuknya arus globalisasi, membawa pengaruh yang multidimensional diberbagai bidang kehidupan. Di bidang pendidikan, perubahan ini dituntut oleh faktor kebutuhan siswa, masyarakat, dan lapangan kerja. Salah satu bentuk perubahan yang dituntut tersebut adalah tentang kurikulum Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Kurikulum Pendidikan IPS dituntut untuk menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan global yang terjadi saat sekarang ini. Dengan ada perubahan kurikulum ini, diharapkan siswa sejak dini sudah dibiasakan melihat, memahami, menganalisis, merefleksikan, memprediksi berbagai fenomena yang terjadi di sekitar mereka dari persfektif glabal. Oleh sebab itu, melalui Pendidikan IPS, sejak dini peserta didik sudah harus sudah dibiasakan berfikir global, melihat segala sesuatu dengan perspektif multidimensional. Dengan perspektif global, siswa mampu melihat dunia beserta berbagai fenomena yang ada didalamnya. Untuk menghadapi tantangan global ini, kurikulum Pendidikan IPS memegang peranan yang sangat penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Kurikulum sebagai suatu dokumen dan pedoman dalam proses kegiatan belajar mengajar, memuat berbagai inovasi dan kreativitas dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan harus harus dimiliki oleh peserta didik melalui suatu pengalaman belajar. Pengertian ini mengandung arti bahwa kurikulum harus tertuang dalam sebuah dokumen atau rencana tertulis. Dokumen atau rencana tertulis itu berisikan pernyataan mengenai kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik yang mengikuti kurikulum tersebut. Pengertian kualitas pendidikan di sini mengandung makna bahwa kurikulum sebagai dokumen merencanakan kualitas hasil belajar yang harus dimiliki oleh peserta didik.
PERANAN MODAL SOSIAL DALAM MEMBANGUN JARINGAN SOSIAL DAN RELASI ANTAR ETNIS (Studi Kasus pada Orang Banjar di Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau). Edi Susrianto Indra Putra
Jurnal Edukasi Vol 9 No 2 (2021): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v9i2.1730

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dan peranan modal sosial (social capital) yang dimiliki oleh orang Banjar dalam membangun jaringan sosial dan relasi antar etnis yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir. Pendekatan yang gunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study). Melalui pendekatan studi kasus, diharapkan dapat mengungkapkan tentang peranan modal sosial dan jaringan sosial orang Banjar dalam membangun relasi antar etnis di Kabupaten Indragiri Hilir. Keberhasilan orang Banjar dalam membangun jaringan sosial, tentu tidak terlepas dari pengaruh modal sosial yang mereka miliki. Melalui kajian partisipasi etnis dalam kehidupan sosial, permasalahan penelitian ini akan dicari jawabannya dengan mengidentifikasi, memetakan dan memahami dinamika sosial pada komunitas etnis tersebut. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial memegang peranan penting dalam membangun jaringan sosial dan komunikasi antar etnis bagi orang Banjar di Kabupaten Indragiri Hilir. Jaringan sosial ini berkembang seiring dengan proses adaptasi yang mereka lakukan sehingga terbentuk hubungan relasi antar etnis. Dari hasil penelitian, ternyata jaringan sosial yang dikembangkan orang Banjar di Kabupaten Indragiri Hilir dibagi dalam tiga bentuk, yaitu; (1) jaringan sosial yang didasarkan pada sistem kekerabatan dan kekeluargaan; (2) jaringan sosial yang dibentuk dan dikembangkan dalam bentuk kelompok-kelompok usaha; dan (3) jaringan sosial yang dibentuk karena kesamaan agama, budaya, dan sebagainya.
TANTANGAN PENDIDIKAN IPS DI ERA MASYARAKAT MADANI Edi Susrianto Indra Putra
Jurnal Edukasi Vol 10 No 1 (2022): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v10i1.1971

Abstract

Pada era globalisasi saat ini, teknologi memegang peran yang sangat penting. Arus globalisasi tentuk membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat dunia. Untuk mengantisipasi dari dampak tersebut, dituntut peran Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), karena Pendidikan IPS sangat erat kaitannya dengan isu-isu sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Disamping itu, materi pembelajaran Pendidikan IPS sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai budaya bangsa. Dalam memecahkan masalah sosial, Pendidikan IPS harus ikut berperan aktif. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah sosial ini melalui pendekatan reflective inquiry. Melalui pendekatan reflective inquiry, para siswa diajarkan bagaimana menggunakan keterampilan sosial untuk memecahkan masalah-masalah faktual yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan IPS harus dapat membantu siswa mengontrol diri dalam kehidupan dan menerapkan tata nilai tersebut dalam berperilaku di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan IPS harus mampu mengembangkan masyarakat menjadi warga negara yang baik, akrab dengan semua unsur lingkungan, bersifat arif dan bijaksana dalam membina hubungan, mengeksplorasi, dan mengembangkan berbagai bentuk unsur lingkungan budaya yang ada. Pendidikan IPS tidak hanya menekankan pada pengembangan aspek kognitif seperti kemampuan penguasaan konsep atau teori ilmu-ilmu sosial, kemampuan berfikir kritis dan analitis, atau menguasai keterampilan sosial saja, melainkan juga dapat mengembangkan aspek afektif siswa yang meliputi pengembangan sikap, nilai dan moral siswa. Pendekatan reflective inquiry akan mendorong siswa menggunakan pemikiran yang lebih kritis dan kreatif untuk memecahkan masalah-masalah sosial dan berpartisipasi secara lebih aktif di tengah-tengah masyarakat. Karena materi pembelajaran dari Pendidikan IPS sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai sosial dan budaya bangsa.
STUDI ETNOGRAFI ORANG BANJAR DI KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROPINSI RIAU Edi Susrianto Indra Putra
Selodang Mayang: Jurnal Ilmiah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Indragiri Hilir Vol 5 No 3 (2019): Selodang Mayang Volume 5, Nomor 3, Desember 2019
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Indragiri Hilir Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47521/selodangmayang.v5i3.137

Abstract

Humans as social beings must be able to interact in the midst of society. Social interaction is the most important requirement for various social activities. Interaction is a reflection of dynamic social relationships involving individual relationships, between groups, and between individuals with groups. As a pluralistic nation, Indonesia is a linkage of various elements in the form of communities and associations that have the same goal, which is to achieve a level of prosperity in accordance with human dignity and dignity. To achieve these goals, it is felt the need for a cultural foundation in the form of the potential for social capital in the attitudes and behaviors of various ethnic groups so that the objectives to be achieved can be realized. The approach taken in this study uses ethnographic studies. The use of ethnographic studies aims to determine the diversity (diversity) and specificity (particularity) of the object under study. So the final result to be obtained is to explain some aspects that are being studied, both about the ethnic origin, cultural and socio-economic forms. The Banjar people in this research concept are Banjar ethnic people or descendants from South Kalimantan who now live in Indragiri Hilir Regency.
Pelatihan Model Pengembangan Kurikulum 2013 Ahmad Ahmad; Edi Ardian; A. Muthalib; Edi Susrianto IP; Khairuddin Khairuddin
ABDIMASY: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2022): ABDIMASY: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : STAI Auliaurrasyidin Tembilahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46963/ams.v3i1.533

Abstract

The curriculum as several educational plans needs to be developed dynamically according to the needs and changes that occur in society with reference to the development of curriculum models. In line with this, among the many models of curriculum development, one that must be considered is choosing a curriculum development model. The selection of the development model is not based on the advantages and benefits and opportunities for optimal results, but also needs to be adapted to the education system and education processing system adopted and which educational concept model is used. serves as a means to facilitate a communication, or as a perspective guide for making decisions, or as a planning guide Therefore, the model can help us form the concept of the process by showing certain principles and procedures, as for the purpose of this mentoring is to provide insight to teachers in the development of the 2013 curriculum model. In addition, teachers who pursue escape are expected to improve their skills in carrying out learning activities. To achieve the expected goals of this training, lectures, demonstrations, exercises and assignments are used. The targets in this service are teachers SMA Tengku Sulung districts Sungai Batang. The methods used are in the form of seminars, demonstrations, and exercises or assignments.
Bedah Buku Biografi Abah Lukmanul Hakim bin Haji Musthofa Al-Banjari (Tokoh Islam Kharismatik Enok Dalam Abad ke-XX) A. Muthalib; Khairuddin Khairuddin; Edi Ardian; Edi Susrianto; Nurbaidi Nurbaidi
ABDIMASY: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): ABDIMASY: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : STAI Auliaurrasyidin Tembilahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46963/ams.v3i2.702

Abstract

Talking about the history of a scholar (Islamic figure) in this country always attracts attention from various groups to be studied and studied further, in order to take lessons from the sides of his life to be emulated, imitated or emulated in our families and communities wherever they are, because Scholars are heirs of the Prophets. The history of Abah Lukman can be summarized as follows: Abah Lukmanul Hakim was a Ulama from the land of Banjar who had studied Islam in the holy city of Mecca and then after he returned to Indonesia then madam (wandered) to Indragiri Riau around 1914. Abah Lukmanul Hakim had studied with Mr. Sapat in Hidayat Village. At that time Abah lived in Tekulai Hilir. He was one of the special students when he studied at Hidayat, because in general he had studied the books studied in the village when he was in Mecca, but he wanted to take "blessings" from the descendants of Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari who was famous in Tanah Banjar, a Ulama. Besar who authored the book "Sabilal Muhtadin", then after Tuan Guru Sapat died in 1939 Abah Lukman moved to Enok Dalam; Abah Lukmanul Hakim is someone who is consistent (consistent) in carrying out Islamic law; The legal basis for Abah Lukmanul Hakim being allowed to keep dogs for his community members at that time was to guard the coconut plantations, so that all the plants in their gardens were protected from pests such as pigs, monkeys and so on; Abah Lukmanul Hakim in the eyes of the people is a pious person. The heirs (sons and daughters) of Abah Lukmanul Hakim until this booklet was written, two people are still alive, namely: 1. Hj. Saibah and 2. Asy'ari, While in general there are still many grandchildren and they are scattered in several provinces in Indonesia such as: Jakarta, South Kalimantan, North Sumatra, Batam, Riau Islands, however, they mostly live in the Indragiri Hilir region of Riau, such as in Kec. Enok, Kec. Tempuling, Echo, Keteman (Scissors), and Kempas.