Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

SPACE REQUIREMENTS AND BUILDING FORM STUDIES FOR LOW INCOME HOUSING COMMUNITY Rizaldi Lufti; Nia Suryani; Fery Mulya Pratama
Lakar: Jurnal Arsitektur Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/lja.v6i2.18964

Abstract

The need for a house is still the main need for humans, namely as a place to live, a place to live, or a place of refuge. This need often does not go according to expectations because the need for housing has arisen but is not in line with adequate income or funds. The problem of housing for people who do not have the power to buy a house or commonly called low-income people (MBR) is difficult to solve. This phenomenon requires a study of housing for low-income people that comes with a flexible concept so that the house can follow the needs of its occupants so that at any time this house can be adjusted depending on which spaces are needed to adjust the life development of the occupants even with a relatively small plot area. This study was carried out by conducting a literature review and simple simulation with the minimum size and money polarity needed by every human being in living activities, so that a study can be initiated that produces residential design proposals that are applicable to the MBR. So that houses that have been subsidized by the government (the selling price is affordable for the MBR) are not easily sold, and the MBR are again homeless. From the results of the study conducted, it can be seen that the rooms that cannot be changed (permanent) are only rooms related to installation (service zones) such as bathrooms and kitchens, while spaces that can be changed flexibly according to needs such as family rooms and a mezzanine room so that all the space needs of the occupants can be accommodated even with a relatively small land size. This study was conducted to produce a residential design for MBR that adapts to their needs and can become a house they live in for a long time even though their space requirements change.
KAJIAN PENCAHAYAAN ALAMI PADA RANCANGAN MICROHOUSING DI PONDOK PINANG 88 RESIDENCE Purnama, Muhammad Sega Sufia; Nia Suryani; Sega Purnama; Fery Mulya Pratama
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 21 No. 1 (2023): Kenyamanan dan Ketahanan dalam Desain Arsitektur dan Lingkungan
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v21i1.16228

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji apakah konsep microhousing mampu memberikan kenyamanan visual terhadap penggunannya dari sisi intensitas cahaya. Kenyamanan visual dalam penelitian ini dititikberatkan pada sejauh mana cahaya alami dapat memenuhi standar pencahayaan yang diterbitkan oleh lembaga Standar Nasional Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan untuk mengukur fenomena tersebut adalah dengan simulasi. Hasil simulasi menunjukan intensitas cahaya yang masuk sudah dalam intensitas yang sesuai standar. Beberapa temuan adalah adanya pengaruh dinding di depan bukaan terhadap jauhnya penetrasi cahaya ke dalam ruang. Kaca mati pada bagian atas dinding tidak signnifikan membantu penerangan alami dan kurang dapat digunakan untuk aktivitas.
MIXED-USED DESIGN WITH TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) APPROACH IN PULO GADUNG, EAST JAKARTA Primadani, Paraswati; Pratama, Fery Mulya; Dwiputri, Marselly
Lakar: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/lja.v7i1.21682

Abstract

Pulo Gadung adalah wilayah industri yang padat penduduk dengan lalu lintas dan polusi udara yang tinggi karena kendaraan bermotor, kejahatan kriminal juga sering terjadi dikawasan terminal. Solusi untuk mengurangi kepadatan pertumbuhan penduduk dan ketergantungan pada kendaraan pribadi serta memperhitungkan lahan yang luas adalah dengan merancang bangunan multifungsi yang terintegrasi dengan transportasi. Tujuan perancangan ini difokuskan pada jalur transportasi yang terbentuk, yang menyatukan berbagai pilihan moda transportasi. Metode perancangan kualitatif digunakan dalam perancangan Mixed-Used Building dengan konsep Transit Oriented Development. Dari analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa akibat masalah yang ada maka terbentuklah jalur sirkulasi dengan beberapa moda transportasi, oleh karena itu hasil bangunan meliputi tiga masa bentuk bangunan yang relevan untuk memenuhi kebutuhan TOD. Penerapan konsep apartemen, ruang terbuka, terminal, dan pusat perbelanjaan menjadi solusi untuk menciptakan lingkungan kawasan transit yang berdaya guna, aktif, dan aman. Tata ruang tercipta karena adanya kebutuhan TOD yaitu meliputi Bangunan Terminal yang di fokuskan dengan memperhatikan tiap moda jalur transportasi guna mengurangi kemacetan, membuat ruangan dengan bukaan yang besar untuk mengurangi tindak kejahatan. Bangunan Apartemen dan Mall berbentuk vertikal dengan menggunakan podium sebagai ruang transisi antara fungsi bangunan hunian dan pusat perbelanjaan agar mempermudah pengguna Kawasan TOD. Bangunan parkir disediakan dengan penghubung berupa jembatan antara terminal dan halte Transjakarta untuk memudahkan pengguna TOD, khususnya pengguna transportasi umum.
Baranangsiang Integrated Transportation Facilities with TOD Approach in Bogor City Prayitno, Agung; Pratama, Fery Mulya; Afif, Lukman
Lakar: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/lja.v7i2.22880

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan ide atau konsep terkait pengembangan Terminal Baranangsiang dan Stasiun LRT Bogor sebagai moda transportasi yang saling terhubung, menciptakan desain Terminal Baranangsiang yang user-friendly yang melayani pengguna angkutan umum, pejalan kaki, pesepeda, dan penyandang disabilitas. Tujuannya adalah mengubah Terminal Baranangsiang menjadi terminal Tipe A. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif, dengan pengumpulan data melalui tinjauan literatur, studi preseden proyek bangunan serupa, dan analisis implementasi konsep Transit-Oriented Development (TOD) di Indonesia. Tema perancangan proyek ini mengadopsi pendekatan TOD yang mengintegrasikan desain terminal bus dengan moda transportasi LRT. Hasil perancangan sarana transportasi terpadu Baranangsiang menggunakan TOD di Bogor menunjukkan potensi besar Baranangsiang menjadi transit hub yang komprehensif. Melalui penerapan TOD, pembangunan dapat mengintegrasikan LRT Bogor, angkutan umum, dan area parkir yang nyaman. TOD juga melibatkan pengembangan kawasan sekitar menjadi pusat perbelanjaan, bisnis, dan fasilitas umum yang mendukung mobilitas berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Fasilitas transportasi terpadu ini meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi perjalanan warga Bogor, mengurangi kemacetan lalu lintas, polusi udara, dan meningkatkan sirkulasi Terminal Baranangsiang, sehingga berkontribusi pada terciptanya kota yang lebih berkelanjutan dan terintegrasi.
DESIGN OF SEAFRONT TOURISM VILLAGE UPSTREAM PORT-BAGANSIAPIAPI WITH ECO ARCHITECTURE APPROACH Ramadhan, Guntur; Pratama, Fery Mulya; Hidayat, Ryan
Lakar: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/lja.v7i1.22376

Abstract

REDESIGN OF CHINESE BIDARA FLATS IN EAST JAKARTA WITH BIOPHILIC APPROACH Hamidah, Wardah; Pratama, Fery Mulya; Dwiputri, Marselly
Lakar: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/lja.v7i2.23625

Abstract

The Bidara Cina flats is a building constructed in 1996. The phenomenon of urbanization in Jakarta City, which caused limited land availability at that time, and the presence of numerous irregular urban areas due to the proliferation of slums, prompted the initial construction of these flats. However, the construction of this building did not immediately solve the existing problems. The lack of adequate facilities and insufficient maintenance of the building have led to an unhealthy environment. Therefore, it is hoped that the redesign of the Bidara Cina flats in the future can integrate housing function, entertainment, and provide adequate facilities. The result of this redesign is expected to become a healthy living place for the lower-middle-class community or MBR.
Perancangan dan Pengembangan Masterplan Masjid dan Gedung Yayasan Bayt Al Furqon Lufti, Rizaldi; Suryani, Nia; Pratama, Fery Mulya
Jurnal PkM (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol 6, No 6 (2023): Jurnal PkM: Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jurnalpkm.v6i6.19570

Abstract

Yayasan Bayt Al Furqon hadir sebagai Yayasan yang berkhidmat pada bidang social, dakwah, dan Pendidikan Islam. Di YBAF ini pun diterapkan prinsip-prinsip pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat yang terbentuk sebagai sarana untuk mengelola dan mengembangkan Pendidikan Islam. YBAF ini berdiri berlandaskan pada Quran dan Assunah dengan pemahaman Slaful Ummah (Ahlu Sunnah Wal Jamaah) yang memiliki tujuan khusus untuk melahirkan generasi yang memiliki motivasi dan kemandirian sehingga bisa menjadi teladan bagi lingkungan dimana pun mereka berada. YBAF terdiri dari dua massa bangunan yakni Masjid Al Furqon dan TPA Al Furqon yang dalam kondisi sekarang memiliki urgensi untuk dilakukan pengembangan karena dua bangunan ini sudah tidak bisa menampung kebutuhan ruang dari penggunanya. YBAF memiliki keinginan untuk memakmurkan Masjid Al Furqon agar dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat lingkungan sekitar khususnya di wilayah Cibodas Baru. YBAF pun berharap masjid bukan hanya dijadikan sebagai tempat beribadah namun juga dijadikan pusat diskusi atau musyawarah serta interaksi sosial dan pemberdayaan masyarakat (hablun min annas). Sedangkan untuk TPA Al Furqon ini ada harapan untuk mengembangkannya menjadi sekolah formal agar jauh lebih bisa bermanfaat bagi masyarakat sehingga membutuhkan penataan ulang atau perancangan pengembangan dari seluruh masterplan YBAF ini supaya tidak adanya tumpang tindih dan perencanaan pengembangan bisa sinergis dengan aksi yang dilakukan oleh masyarakat
PKM Perancangan Ruang Komunal Rt.05/Rw.20 Perumahan Antariksa Permai Bojongnangka Gunung Putri Bogor Lufti, Rizaldi; Pratama, Fery Mulya; Suryani, Nia
Jurnal PKM: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Jurnal PkM: Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jurnalpkm.v8i3.27934

Abstract

Ruang komunal ini hadir sebagai ruang interaksi antar warga di RT. 05/RW.20 Perumahan Antariksa Permai. Ruang komunal ini diharapkan bisa menjadi ruang yang menghasilkan keterkaitan yang lebih erat bagi antar warga baik bapak-bapak, ibu-ibu, para remaja, dan juga anak-anak. Ruang komunal ini juga diharapkan bisa menjadi pusat kegiatan bersama yang sifatnya untuk kepentingan bersama atau hanya sekedar tempat berinteraksi seluruh lapisan warga. Fasilitas  ini sangat dibutuhkan mempertimbangkan di RT.05 kebanyakan para istri berprofesi sebagai ibu rumah tangga, dan para suami sudah ada di rumah saat malam dan juga di akhir pekan, sehingga memiliki banyak waktu untuk berkumpul bersama tetangga dalam mengisi waktu luangnya. Interaksi saat berkumpul bersama tetangga ini diharapkan bisa mempererat hubungan antar warga sehingga memiliki keterikatan kuat dalam lingkungan ini. Tujuan ini tidak akan tercapai saat ruang komunalnya tidak tersedia secara layak. Langkah yang dilakukan dalam kegiatan ini diawali dengan tahapan observasi, diskusi lalu desain yang melibatkan perwakilan warga secara partisipatif sehingga desain yang dihasilkan bisa tepat sasaran. Setelah adanya desain ruang komunal ini, warga bisa melanjutkan kegiatan ini ke tahap pembangunan sebagai aplikasi desain ruang komunal yang sudah dirancang sebelumnya. walaupun pembangunan dilakukan secara bertahap karena keterbatasan dana, namun tujuan agar warga dapat memiliki wadah kegiatan bersama bisa tercapai.