Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

MARI MOI NGONE FUTURU SEBAGAI IDENTITAS KULTURAL: MAKNA DAN IMLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MALUKU UTARA Ibrahim, Asriadi; Bau, Suharlin Ode; Safi, Jamin
Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter Vol. 7 No. 1 (2023): WASKITA: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter
Publisher : PUSAT MPK UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.waskita.2023.007.01.6

Abstract

Mari Moi Ngone Futuru merupakan semboyan yang hidup dalam masyarakat Maluku Utara. Semboyan yang sarat nilai dan dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat Maluku Utara yang plural. Semboyan ini sebagai pemersatu dan pencegahan konflik lintas suku dan agama di Zajirah Al-Mulk. Dalam semboyan Mari Moi Ngone Futuru sebenarnya memiliki kedudukan yang hampir sama dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Namun Mari Moi Ngone Futuru merupakan semboyan yang berbasis pada nilai-nilai local genius. Pada prinsipnya Mari Moi Ngone Futuru telah ada sebelum Ternate menjadi Kota Madya dan Maluku Utara sebagai Provinsi Maluku Utara. Dalam konteks ini, semboyan Mari Moi Ngone Futuru digagas dan diperkenalkan bahkan dijadikan sebagai perekat antara etnis-etnis yang bertika atasnama kekuasaan. Oleh karena itu, semboyan ini mestinya dihayati dan diamalkan oleh masyarakat Maluku Utara yang beragam etnis, budaya, agama dan bahasa guna menjaga keharmonisan bersama. Penelitian ini bertujuan menjelaskan prespektif masyarakat tentang semboyan Mari Moi Ngone Futuru dan strategi internalisasi nilai dari semboyan Mari Moi Ngone Futuru dalam mayarakat Maluku Utara. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, studi dokumen. Uji keabsahan dengan cara triangulas. Analisis data yang digunakan ialah reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Mari moi ngone futuru artinya bersatu kita kuat. Semboyan bermakna bahwa kebersamaan menjadikan kuat dalam mewujudkan kedamaian. Mari moi ngone futuru mengandung nilai-nilai seperti nilai persatuan, kesatuan, tolong menolong, rela berkorban, dan kebersamaan/kekeluargaan. Proses internalisasi nilai-nilai mari moi ngone futuru melalui pembiasaan dan keteladanan dalam kegiatan sosial budaya seperti kegiatan bari rumah, liliyan dina, dan sebagainya.
PENGUATAN NILAI-NILAI NASIONALISME: STUDI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH Suharlin Ode Bau; Leny M.S. Tomagola; Jamin Safi; Yusri A. Boko
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 6 No 1 (2022): Santhet : Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.911 KB) | DOI: 10.36526/santhet.v6i1.1566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan; a) bagaimana penguatan nilai-nilai nasionalisme di SMA Negeri 2 Ternate; b) kendala yang dihadapi guru sejarah dalam penguatan nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 2 Ternate. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi dan subjek penelitian ialah peserta didik dan guru sejarah di SMA Negeri 2 Ternate. dan subyek penelitian adalah peserta didik dan guru sejarah yang dianggap mampu memberikan informasi terkait dengan permasalahan yang diteliti yaitu integrasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah. Sumber data utama, yaitu peserta didik, guru sejarah, tempat dan kejadian. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Pengujian keabsahan data penelitian dilakukan dengan triangulasi data/sumber dan triangulasi metode. Teknik analisis data dalam penelitian adalah reduksi data, penyajian data, dan penerikan simpulan. Perencanaan pembelajaran sejarah telah diterapkan dengan cara menyusun Silabus dan RPP sebelum waktu pembelajaran itu ditetapkan. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan secara terencana dengan mempertimbangkan komponen pembelajaran, maka tujuannya dapat tercapai. Penguatan nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah yakni cinta tanah air, persatuan, dan kesatuan, rela berkorban, disiplin, tengang rasa dan berani. Dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 2 Ternate, guru sejarah telah mempersiapkan sumber belajar yang dibutuhkan, metode dan media dan sumber belajar tergantung atau dikembalikan kepada guru masing-masing. Penguatan nilai-nilai nasionalisme di sekolah dilaksanakan melalui ekstrakurikuler, seperti kegiatan kepramukaan. Kendala yang dihadapi guru mata pelajaran sejarah ialah berhubungan dengan inkonsistensi guru dalam menyusun dan mengumpulkan RPP. Kendala lain yang dihadapi guru sejarah di masa pandemi Covid-19 ialah terkait evaluasi sikap melalui pembelajaran daring. Banyak guru yang masih bingung karena bagi mereka, pembentukan karakter siswa harus melalui pembelajaran luring (tatap muka).
Tagi Jere Tradition: Its Function and Preservation as A Cultural Identity of Tidore People in Foramadiahi Safi, Jamin; Bau, Suharlin Ode; A. Boko, Yusri
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 26 No 1 (2024): June
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v26.n1.p18-24.2024

Abstract

Tagi Jere in the Tidore language means to visit the tomb of a saint. This ritual usually begins with certain preparations and is then followed by a visit to the Jere such as Jere Sultan Babullah, Jere Doe-doe, Jere Laboso, Jere Amo, Jere Tui, and Jere Wange Lamo. Tagi Jere is carried out as an expression of gratitude to God for the blessings that have been given. In addition, the Tagi Jere ritual is also carried out under certain conditions, such as crop failure, or as an antidote to distress or disaster. The researcher was interested in seeing the Tagi Jere ritual in the Tidore ethnic community in Ternate, especially in the Foramadiahi sub-district, using a qualitative approach. The interpretation of the data in the field shows that the Tagi Jere ritual is used as a request by the community based on their respective intentions. They brought Boso Kene (small pots of earthenware) containing Bira Kuraci (yellow rice) which they brought to the visited Jere. The Tagi Jere ritual also has a social value to strengthen the bonds of brotherhood that are manifested in mutual cooperation activities. The rituals performed by the Tidore ethnic community in various circles are preserved from generation to generation.
Historiografi Kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin sebagai Pemerkaya Bahan Ajar Sejarah untuk Penguatan Karakter Gen-Z Maluku Utara Ode Bau, Suharlin
KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2025): KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/kambotivol6issue1page57-66

Abstract

This study highlights the urgency of local hero historiography as a means to strengthen collective identity and foster the character of younger generations, particularly Gen-Z in North Maluku. Haji Salahuddin Talabuddin, officially recognized as a National Hero in 2022, is positioned as a representation of local resistance that is highly relevant to be integrated into history education. The purpose of this research is to reconstruct the heroic narrative of Salahuddin Talabuddin and to explore its potential integration into history learning materials as a medium for Gen-Z character development. This research employs a library research method with a qualitative approach by examining primary and secondary sources, including official archives, academic publications, and credible online news. The findings reveal that the historiography of Salahuddin Talabuddin reflects the fusion of religiosity and politics in anti-colonial resistance while conveying values of courage, integrity, and solidarity that align with Gen-Z’s character education needs. The integration of his heroic narrative into learning materials is proven to enhance critical literacy, historical empathy, and national pride. Supported by digital media and contextual approaches, local historiography transforms from a mere historical record into a pedagogical instrument that adapts to contemporary challenges. This study enriches the historiographical discourse of Indonesian education by integrating local values of North Maluku into the character curriculum for Generation Z.