Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Konflik Komunal: Maluku 1999-2000 Jamin Safi
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 13, No 1 (2017): ISTORIA Edisi Maret 2017, Vol. 13, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.485 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v13i1.17615

Abstract

AbstractThis study aims to explain the conflict Ambon, political upheaval in North Maluku to ethnic and religious conflicts 1999-2000. This study uses historical method. Historical research includes five stages: topic selection, heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The conflict that occurred since 19 January 1999 Maluku is a bloody event that coincides with Muslims celebrating the Eid al-Fitr 1419 Hijri. The conflict stems from a dispute between an angkot driver, a Christian Jacob Lauhery with Nursalim, an Islam of the Bugis Red Stone. Conflict then developed into religious conflict (Islam and Christian). In North Maluku conflicts also occur, local political upheaval, North Maluku causing polarization in society to ethnic and religious conflicts. The North Maluku conflict is also part of a power struggle. Another factor is the creation of a new sub-district of Makian Malifut based on PP. No.42 / 1999 has been rejected by the Kao community because it is considered contrary to customary law. The event spread to Tidore, Ternate, Jailolo and Bacan. The North Maluku conflict claimed thousands of lives, homes and places of worship, both Muslims and Christians burned. During the conflict, Pela Gandong in Ambon, Maluku and indigenous people in Maluku Kie Raha as a customary and cultural system no longer functions as a strong social bond.  Keywords: Conflict, Communal, Maluku, Ethnicity
TERNATE DAN USAHA BINA NEGARA ABAD XVI -XIX Jamin Safi
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 12, No 1 (2016): ISTORIA Edisi Maret 2016, Vol. 12, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.157 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v12i1.9540

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang birokrasi tradisional kesultanan Ternate dan usaha bina negara. Penelitian ini menggunakan metode sejarah melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Kesultanan Ternate didirikan sekitar abad ke-15. Sejak terbentuk, Kesultanan Ternate dibagi dalam dua zaman yaitu zaman zaman pra-Islam dan Zaman Islam. Kedudukan Sultan sebagai kepala negara dan juga berfungsi sebagai kepala pemerintahan. Sultan diberi dua macam hak yaitu Idhin (perintah) Jaib (hak veto). Tugas utama Sultan adalah melaksanakan keputusan bobato nyangimoi se tufkange (dewan 18) dan berkewajiban melindungi rakyat, negara, dan menyebarkan Islam karena posisinya sebagai imam besar. Kaitannya dengan pajak dan sistem pembiayaan negara, negara memiliki sumber pendapatan sendiri dalam memenuhi kebutuhannya yaitu dalam bentuk ngase (pembagian) hasil pendapatan baik di darat maupun di laut. Di samping itu, negara juga memberlakukan sistem pajak dan upeti yang dibebankan kepada rakyat. Sumber pendapatan lainnya juga diperoleh dari rempah-rempah seperti cengkeh dan pala.Kata Kunci: Ternate, Struktur pemerintahan, Pajak, Pembiayaan Negara.
PEMANFAATAN MUSEUM REMPAH SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH Jamin Safi; Suharlin Ode Bau
Jurnal Artefak Vol 8, No 1 (2021): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.845 KB) | DOI: 10.25157/ja.v8i1.5087

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan museum rempah sebagai sumber pembelajaran, dampak perubahan, dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pemanfaata museum rempah dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Subjek penelitian ialah peserta didik dan guru sejarah di SMA Negeri 1 Ternate. Jenis sumber data meliputi guru sejarah dan peserta didik; tempat dan peristiwa; serta arsip dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Pengujian keabsahan data penelitian dilakukan dengan cara triangulasi. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian menggunakan model interaktif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penerikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemanfaatan museum rempah sebagai sumber pembelajaran sejarah dilakukan sekali waktu saja dan disesuiakan dengan materi pembelajaran. Dalam pelaksanaanya mengikuti tahapan-tahapan, yaitu: menentukan tujuan, menyusun rencana, membagi kelompok, penentuan judul, pelaksanaan, menyusun laporan, dan presentasi. Peserta didik mendapat informasi awal dari guru sebelum mengunjungi museum rempah. Dampak perubahan yang diperoleh adalah peserta didik menjadi aktif, berpikir kronologis, serta berpikir kesejarahan. Kendala yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran di museum rempah adalah faktor waktu dan transportasi. Uapaya pemecahannya adalah dilakukan hanya dalam sekali waktu disesuaikan dengan kondisi pembelajaran disekolah.
TRADISI OROM SASADU DALAM SUKU SAHU TALAI DI WORAT-WORAT Gomer Rionaldo Sipondak; Jamin Safi; Suharlin Ode Bau
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.873 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3337

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang tradisi orom sasadu di Desa Worat-Worat, prosesi tradisi orom sasadu suku Sahu Talai di Desa Worat-worat, serta makna dan nilai tradisi orom sasadu dalam suku Sahu di Desa Worat-Worat. Metode yang duganakan adalah metode kualitatif tipe fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwaprosesi upacara adat yang dilaksanakn pada masa ini juga memberi kesan kepada masyrakat Worat-Worat untuk selalu bersyukur atas hasil alam tersebut dalam prosesi upacara adat sehingga prosesi ritual adat orom sasadu patut dilestarikan. Prosesi ritual adat orom sasadu meliputi masa persiapan, yaitu dilaksanakan pertemuan-pertemuan adat antara masyarakat, kepala desa serta perangkat adat untuk membahas waktu pelaksanaan tradisi ritual adat orom sasadu. Pembukaan yakni menggantungkan kain putih berbentuk segi tiga mengelilingi sasadu dan pengibaran bendera induk. Pelaksanaan, yaitu makan secara bersama-sama sebagai wujud ucupan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang ada. Serta penutupan, yakni penurunan bendera induk (paji) di bumbungan rumah adat dan melepaskan kain putih yang berbentuk segi tiga dengan dilepaskannya kain putih berbentuk segi tiga yang digantung mengililingi sasadu, maka acara makan bersama di rumah adat atau orom sasadu dinyatakan berakhir dan masyarakat suku Sahu kembali ke kegiatan rutin keseharian mereka. Melalui orom sasadu, masyarakat Worat-worat juga diajarkan untuk memaknai hubungannya dengan lingkungan alam sekitar, hubungan sesama manusia, dan relasi deng yang Maha Kuasa. Nilai yang terkandung dalam tradisi orom sasadu yakni nilai sosial, nilai moral, nilai kebersamaan atau gotong royong, dan nilai religius. Tradisi orom sasadu perlu dilestarikan karena dibalik prosesi upacara adat tersebut tersimpan makna dan nilai yang baik.
TRADISI DAMA NYILI-NYILI DALAM MASYARAKAT TIDORE KEPULAUAN Farida Yusuf; Sidik Dero Siokona; Jamin Safi
Jurnal Artefak Vol 6, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.609 KB) | DOI: 10.25157/ja.v6i2.2441

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masayarakat Tidore Kepulauan, proses serta nilai-nilai dalam tradisi Dama Nyili-nyili pada masyarakat Tidore Kepulaun. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penilitian menunjukan bahwa masyarakat Tidore Kepulauan masih berpegang teguh pada adat dan tradisi leluhurnya karena memiliki makna dalam tata kehidupan masyarakat seperti tradisi dama nyili-nyili. Tradisi dama nyili-nyili adalah tradisi berkeliling masyarakat Tidore dengan membawa dama (obor) dan paji (bendera) dengan mengunjungi wilayah-wilayah atau daerah-daerah kesultanan Tidore. Proses ritual dama nyili-nyili diawali dengan sogoroho gunyihi (membersihkan tempat) yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya ritual, kemudian dilanjutkan dengan ratib taji besi (dabus). Ratib taji besi merupakan bagian dari dzikrullah atau mendoakan keselamatan dan kesejahteraan sultan, boki, (permaisuri), bobato, dan rakyat di Kesultanan Tidore. Setelah prosesi tersebut dilanjutkan dengan upacara kota paji (pelepasan bendera) dan dama. Upacara pelepasan dama dan paji diarak secara bergantian dari soa ke soa menuju kadato kie atau keraton kesultanan Tidore yang berkedudukan di Soasio. Nilai-nilai dalam tradisi dama nyili antara lain nilai-nilai religius dan persatuan. Nilai religius bermakna bahwa selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon kepada-NYA agar dijauhkan dari musibah. Sedangkan Nilai Persatuan bermakna bahwa keberagaman merupakan kodrat yang patut disyukuri. Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan baik itu suku, agama, ras atau golongan menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.This study aims to determine the perceptions of the Tidore Islands community, the processes and values in the Dama Nyili-Nyili tradition in the Tidore Kepulaun community. The method used is a qualitative method. The results of the study indicate that the Tidore Islands community still adheres to the customs and traditions of their ancestors because they have meaning in the life order of the community such as the dama nyili-nyili tradition. The Dama Nyili-Nyili tradition is a tradition of traveling around the Tidore community by bringing dama (torches) and paji (flags) by visiting the regions or areas of the Sultanate of Tidore. The dama nyili-nyili ritual process begins with sogoroho gunyihi (cleaning the place) which is used as a place for the ritual, then followed by an iron spur ratib (dabus). Iron spurs Ratib is part of the Dhikrullah or pray for the safety and welfare of the sultan, boki, (empress), bobato, and the people in the Sultanate of Tidore. After the procession continued with the city ceremonies of paji (release of the flag) and dama. The release ceremony of dama and paji was paraded alternately from soa to soa to Kadato Kie or the Sultanate of Tidore sultanate based in Soasio. Values in the Dama Nyili tradition include religious values and unity. Religious value means that always draw closer to Allah and ask Him to be kept away from disaster. While the Value of Unity means that diversity is a nature that is thankful for. In social life, differences in terms of ethnicity, religion, race or class become a force in maintaining the unity and integrity of the nation.
KEARIFAN LOKAL SEBAGAI IDENTITAS ETNIK: TRADISI SALAI JIN DALAM MASYARAKAT TIDORE KEPULAUAN Yusri A Boko; Jamin Safi
Jurnal Artefak Vol 9, No 1 (2022): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.877 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i1.6638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) persepsi masyarakat tentang tradisi Salai Jin dalam Masyarakat Tidore Kepulauan; (2) proses ritual tradisi Salai Jin dalam masyarakat Tidore Kepulauan; dan (3) mengidentifikasi strategi pewarisan tradisi Salai Jin Masyaraka Tidore Kepulauan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Lokasi dan subyek penelitian adalah pemangku adat dan masayarakat pelestarian tradisi salai Jin di Tidore kepulauan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Pengujian keabsahan data penelitian dilakukan dengan triangulasi data/sumber dan triangulasi data. Teknik analisis data dalam penelitian adalah reduksi data, penyajian data, dan penerikan simpulan. Dalam persepsi masyarakat Tidore adalah Jin hadir sebelum kehadiran manusia dibumi. Masyarakat Tidore berpegang teguh pada pada nilai-nilai keluhuran yang diwariskan oleh leluhurnya. Ritual tradisi Salai Jin merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas nikmatNya. Dalam ritual salain Jin sebelum waktu pelaksanaan, semua keluarga atau ngofa sedano (anak cucu) mengadakan pertemuan guna menentukan siapa yang menangung bahan seperti beras dan keperluan lainnya. Termasuk dimai (bahan) khusus yang terdiri dari pinang dan sirih. Sedangkan alat yang dipakai dalam salai Jin adalah parang (pedang), salawaku, ruba (tombak), Rababu/fiol (biola), tifa (beduk yang dibuat dari batang kayu yang dipahat dan ditutupi oleh kulit rusa atau kambing), daun woka (jenis tanaman tertentu yang dipakai sebagai atribut tarian Jin). Strategi pewarisan tradisi Salai Jin yaitu kepada anak cucu yang masih memiliki garis keturunan.
THE USE OF HISTORICAL SITES IN TERNATE AS LEARNING SOURCES Jamin Safi; Suharlin Ode Bau
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 5 No 1 (2021): Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.83 KB)

Abstract

This research aimed to describe the use of historical sites in Ternate as learning sources. To achieve the mentioned aim, this research applied the qualitative method. As a field study, the data collection was done through interviews, observations, and content analysis. The data was validated by using triangulation to acquire accurate information. The learning of history in the subject of historical heritage was done by exploring the historical heritage in Ternate. The exploration was done after the discussion between the lecturer and the students. The field study was done with the project method and study tour. The process of field study covered learning orientation, historical site exploration, report writing, and students’ presentation. During exploration, the students observed, noted, and interpreted the historical heritages in the sites. The field study can promote the students to think about the chronology of any historical event. By doing this study, the students' historical awareness can also be grown.
Pemanfaatan Situs Sejarah di Ternate Sebagai Sumber Pembelajaran Jamin Safi; Suharlin Ode Bau
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 9, No 2 (2021): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.806 KB) | DOI: 10.24127/hj.v9i2.3592

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan situs sejarah di Ternate sebagai sumber pembelajaran. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini bersifat penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, pengamatan dan analisis isi. Validitas data dilakukan dengan cara triangulasi untuk memperoleh informasi yang akurat. Pembelajaran sejarah pada mata kuliah kajian peninggalan sejarah dilakukan dengan mengeksplorasi peninggalan sejarah di Ternate. Eksplorasi peninggalan sejarah dilakukan setelah mahasiswa memperoleh pengetahuan dari dosen. Pembelajaran lapangan dilakukan dengan metode project dan wisata ilmiah. Proses pembelajaran lapangan mengukuti skema pemanfaatan situs sejarah di Ternate sebagai sumber pembelajaran yang meliputi orientasi pembelajaran; eksplorasi situs sejarah; dan penulisan laporan dan presentasi hasil. Dalam kegiatan eksplorasi, mahasiswa mengamati, mencatat, dan menafsirkan situs-situs peninggalan sejarah. Pembelajaran lapangan dapat mendorong mahasiswa untuk berpikir kronologis pada setiap peristiwa sejarah. Kajian peninggalan sejarah juga dapat menumbuhkan kesadaran sejarah pada mahasiswa.
Tradisi Salai Jin Sebagai Modal Sosial Masyarakat Tidore Kepulauan Yusri A Boko; Jamin Safi
Jurnal Artefak Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v10i1.9241

Abstract

The Tidore people are people who still adhere to the traditions passed down by their ancestors. One of the traditions in question is the Salai Jin ritual. Viewed from the aspect of social relations, this tradition characterizes social interaction between people. The Salai Jin ritual is basically a ritual which, according to local people's beliefs, allows communication between humans and supernatural beings with various purposes. Among the purposes of this ritual is to establish cooperation to ensure safety and health. The researcher is interested in examining (1) the values of the Salai Jin ritual as one of the social assets of the Tidore archipelago community, and (2) the meaning and internalization of the values of the Salai Jin ritual in the social life of the Tidore archipelago community. Designed as a descriptive qualitative research, data were collected through interviews, observation, and documentation. Meanwhile, triangulation is used to validate research data. After the data has been analyzed using data reduction techniques, data presentation, and drawing conclusions, this study captures several social phenomena related to the Salai Jin ritual in the Tidore Islands community, including, (1) the Salai Jin ritual contains values of togetherness, bari (mutual cooperation), empathy, and social care, and (2) the meaning of these values is to build good communication and cooperation based on the values and norms prevailing in society. The actualization of the Salai Jin ritual as social capital can be found in various mutual cooperation activities such as building houses, wedding celebrations, dina (the tradition of commemorating those who have died), and other community social activities.
Nilai-Nilai Multikultur di Sekolah Multi Etnik: Studi dalam Pembelajaran Sejarah Jamin Safi; Suharlin Ode Bau
Jurnal Artefak Vol 10, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v10i2.12166

Abstract

This research examines the strengthening of multicultural values in multi-ethnic schools and the constraints of strengthening multicultural values in learning history in multi-ethnic schools, SMA Negeri 1 Ternate. This research is a qualitative type. Information collection uses interview techniques, field observations, and document analysis. Meanwhile, data validity was carried out using the triangulation technique. Data analysis started with data reduction, data presentation, and conclusion. The study results show that integrating multiculturalism values in history learning can form a sense of togetherness among students so that they can accept and appreciate differences in ethnicity and religion. Multicultural values such as tolerance, mutual respect, unity, mutual respect, cooperation, and mutual help are instilled in students to strengthen unity and oneness among people. The obstacle faced is the inconsistency of students' parents with what teachers have taught at school. Multiculturalism can be a vehicle for increasing the degree of mutual respect between ethnicities, tribes, and religions. Strengthening pluralistic values can strengthen diversity among fellow Indonesian citizens. Multicultural education can educate students about unity and integrity to avoid inter-ethnic, ethnic, and religious conflicts.