Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat Adat melalui Pariwisata Ilmiah: Pembelajaran dari Kampung Persiapan Malasigi di Provinsi Papua Barat Daya Kafa Abdallah Kafaa; Wahid Nur Kartiko; Harsanto Mursyid; Danang Arif Darmawan
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.27346

Abstract

Artikel ini menganalisis peran pariwisata ilmiah sebagai strategi pemberdayaan masyarakat multipihak dalam konteks masyarakat adat di Kampung Persiapan Malasigi, Provinsi Papua Barat Daya. Dengan mengadopsi perspektif pariwisata ilmiah sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, penelitian ini menunjukkan bagaimana integrasi pengetahuan lokal, konservasi ekologis, dan inovasi kolaboratif dapat memperkuat agensi sosial dan ekonomi masyarakat adat. Adapun penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang pengambilan datanya dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan Focus Group Discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata ilmiah tidak hanya mendiversifikasi sumber pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan memperluas legitimasi sosial melalui praktik wisata berbasis pengetahuan. Dalam hal ini, kolaborasi multipihak seperti FFI sebagai NGO konservasi, PT Pertamina EP Papua Field sebagai penyelenggara Program CSR MATA HATI MALASIGI, dan masyarakat adat Malasigi sebagai aktor utama telah berperan sebagai fasilitator kolaboratif yang memperkuat kapasitas lokal secara etis dan adaptif melalui pemberdayaan berbasis masyarakat.
Pemberdayaan Masyarakat Adat melalui Pariwisata Ilmiah: Pembelajaran dari Kampung Persiapan Malasigi di Provinsi Papua Barat Daya Kafa Abdallah Kafaa; Wahid Nur Kartiko; Harsanto Mursyid; Danang Arif Darmawan
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.27346

Abstract

Artikel ini menganalisis peran pariwisata ilmiah sebagai strategi pemberdayaan masyarakat multipihak dalam konteks masyarakat adat di Kampung Persiapan Malasigi, Provinsi Papua Barat Daya. Dengan mengadopsi perspektif pariwisata ilmiah sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, penelitian ini menunjukkan bagaimana integrasi pengetahuan lokal, konservasi ekologis, dan inovasi kolaboratif dapat memperkuat agensi sosial dan ekonomi masyarakat adat. Adapun penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang pengambilan datanya dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan Focus Group Discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata ilmiah tidak hanya mendiversifikasi sumber pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan memperluas legitimasi sosial melalui praktik wisata berbasis pengetahuan. Dalam hal ini, kolaborasi multipihak seperti FFI sebagai NGO konservasi, PT Pertamina EP Papua Field sebagai penyelenggara Program CSR MATA HATI MALASIGI, dan masyarakat adat Malasigi sebagai aktor utama telah berperan sebagai fasilitator kolaboratif yang memperkuat kapasitas lokal secara etis dan adaptif melalui pemberdayaan berbasis masyarakat.
Menuju Desa Maju: Menakar Efektivitas Reformasi Birokrasi di Kalurahan Panggungharjo, Daerah Istimewa Yogyakarta Muh Faiq Fauzan; Fawwaza Masedha Athariq; Muhammad Imam Maulana; Pramesthi Aura Nawang Savitri; Mahira Putu Ariandhini; Kafa Abdallah Kafaa
Journal of Social Development Studies Vol 5 No 2 (2024)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.14977

Abstract

Abstrak Tata kelola pemerintahan yang belum optimal menimbulkan persepsi masyarakat terhadap birokrasi menjadi negatif. Birokrasi kalurahan mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pelayanan publik. Dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance) maka perlu upaya reformasi birokrasi di tingkat kalurahan. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini mengkaji efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi kalurahan Panggungharjo, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dokumentasi, serta studi pustaka. Metode analisis data penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi Kalurahan Panggungharjo menghasilkan perluasan pelayanan publik yang tidak hanya sebatas lingkup administratif. Untuk mewujudkan reformasi kalurahan tersebut, terdapat berbagai upaya yang dilakukan, yakni: mengubah pola pikir masyarakat, mengubah relasi kuasa, partisipasi masyarakat secara aktif (meaningful participation), perluasan dimensi pelayanan publik, serta penggunaan datakrasi dalam pengambilan kebijakan. Pelaksanaan reformasi birokrasi kalurahan berdampak pada peningkatan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Selain itu, Kalurahan Panggungharjo juga menerima penghargaan dari berbagai pihak. Kata kunci: Reformasi Birokrasi; Pelayanan Publik; Panggungharjo; Pemerintah Kalurahan Abstract The unoptimal governance has led to a negative public perception of the bureaucracy. The village bureaucracy plays a crucial role in public service delivery. To achieve good governance, bureaucratic reform at the village level is essential. This study examines the effectiveness of bureaucratic reform in Panggungharjo Village, Bantul Regency, DI Yogyakarta. Data collection methods included direct observation, in-depth interviews, documentation, and literature review. The data analysis method used is qualitative descriptive analysis. The findings indicate that the bureaucratic reform in Panggungharjo Village has led to an expansion of public services beyond administrative functions. Various efforts have been made to implement this reform, including changing public mindset, altering power relations, encouraging meaningful public participation, expanding service dimensions, and using data-driven decision-making. The reform has positively impacted various aspects of community life, and Panggungharjo Village has received accolades from various parties. Keywords: Bureaucracy Reform; Public Services; Panggungharjo; Sub-district Government
Digitalising Traditional Markets: Challenges and Opportunities for Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Indonesia Hempri Suyatna; Kafa Abdallah Kafaa; Mohammad Farid Budiono; Rindu Sanubari Mashita Firdaus; Istianto Ari Wibowo
JSP (Jurnal Ilmu Sosial dan ilmu Poltik) Vol 29, No 3 (2026): March
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsp.104248

Abstract

Using a qualitative case study approach conducted from May 2020 to August 2021, this study investigates how traditional markets, namely the Sambilegi and Kolombo markets, work with digitalisation in Indonesia. It focuses on collective-based digital initiatives in terms of their implementation and sustainability amid increasing competition with modern e-commerce platforms. Within the broader context of Indonesia's economic development, the informal economy that is strongly dominated by micro, small, and medium enterprises (MSMEs) remains crucial for national growth. Findings from observations and field interviews with market stakeholders show that the influence of social capital is twofold; while it can strengthen transformation through shared commitment and collaboration, it can also hinder progress and innovation among stakeholders in traditional markets. Furthermore, the sustainability of collective-based digitalisation faces challenges when met with limited digital literacy, insufficient motivation, and inconsistent mentorship programmes. The study concludes that capacity-building and persistent institutional support, as well as a robust governance framework, have the potential to ensure long-term success in digitalising traditional markets. The study extends an understanding of how social capital ushers in digital transformation, along with strategies to sustain it within the Indonesian traditional market context.
Digital Adaptation and Subjective Well-Being among Independent Older Adults: A Study at BKL Sekar Melati, Yogyakarta Syakhira Ramadhani; Kafa Abdallah Kafaa
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2026.101-04

Abstract

This study examines digital adaptation and subjective well-being among independent older adults at BKL Sekar Melati, Yogyakarta. Subjective well- being is understood as encompassing life satisfaction, positive affect, and negative affect, while independent older adults refer to functionally independent individuals who are able to perform daily activities without assistance. Digital adaptation is defined as the process through which older adults develop skills and strategies to engage with digital devices according to their everyday needs. Using a qualitative descriptive–interpretive approach, this study involved ten primary informants aged 60–80 years selected through purposive sampling from BKL Sekar Melati Elderly School, Condongcatur, Sleman. Additional data were obtained from one program administrator and three family companion informants. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation. The findings reveal three main themes: selective digital engagement, in which older adults prioritize communication and entertainment platforms over more complex digital services; affective duality, where enjoyment, enthusiasm, and meaningfulness coexist with confusion, feelings of inferiority, and anxiety about digital security; and the mediating role of family and peer-group support within the Elderly School community. The study concludes that subjective well-being in digital adaptation emerges from the balance between life satisfaction gained through meaningful digital activities and the ongoing regulation of negative affect. The findings suggest the need for peer-based digital literacy training, empathy-centered facilitation for family companions, and simplified interface design to support older users.