Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Penggunaan Tepung Limbah Rumput Laut Merah (Eucheuma cottonii) Terfermentasi terhadap Konsumsi Ransum, Konsumsi dan Kecernaan Serat Kasar dan Lemak Kasar Ternak Babi Peranakan Landrace Fase Starter: The Effec the Use of Fermented Red Seaweed (Eucheuma cottonii) Waste Flour on Consumption, and Digestability of Crude Fiber and Crude Fat In Cross Breed Landrace Starter Pigs Delvi Yoblina Tallas; Ni Nengah Suryani; Sabarta Sembiring
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of using fermented red seaweed (Eucheuma cottonii) waste flour onconsumption and digestibility of crude fiber and crude fat in starter phase landrace crossbreed pigs. Thematerial used was 12 landrace crossbreed pigs in the starter phase, aged 1-2 months with an initial body weightof 6.5-26 kg with an average of 20.11 Kg (KVariation) = 41.56%). This study used a randomized block designwith 4 treatments and 3 replications. The treatments were R0: basal ration without fermented red seaweed wasteflour (TLRLMF), R1: basal ration + 5% TLRLMF, R2: basal ration + 10% TLRLMF, R3: basal ration + 15%TLRLMF. The variables studied were consumption, digestibility of crude fiber and crude fat. The results ofstatistical analysis showed that the use of fermented red seaweed waste flour 5%, 10%, and 15% had nosignificant effect (P>0.05) on ration consumption, crude fiber and crude fat consumption, digestibility of crudefiber and fat. Rough. It was concluded that the use of fermented red seaweed waste flour up to 15% gave thesame effect on consumption, digestibility of crude fiber and crude fat in starter phase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh penggunaan tepung limbah rumput laut merah (Eucheumacottonii) terfermentasi terhadap konsumsi, dan kecernaan serat kasar dan lemak kasar ternak babi peranakanlandrace fase starter. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi peranakan landrace fase starter,berumur 1-dua bulan dengan berat badan awal 6,5 – 26 kg dengan rata-rata 20,11 Kg (KVariasi)= 41,56%).Penelitian ini menggunakan Rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yangdicobakan adalah R0 : ransum basal tanpa tepung limbah rumput laut merah terfermentasi (TLRLMF), R1:ransum basal + 5% TLRLMF, R2 : ransum basal + 10% TLRLMF, R3 : ransum basal + 15% TLRLMF.Variabel yg diteliti yang diteliti adalah konsumsi, kecernaan serat kasar dan lemak kasar. Hasil analisis statistikamenunjukkan bahwa penggunaan tepung limbah rumput laut merah terfermentasi 5%, 10%, dan 15%memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, konsumsi serat kasar, dan lemakkasar, kecernaan serat kasar dan lemak kasar. Disimpulkan bahwa penggunaan tepung limbah rumput laut merahterfermentasi hingga 15% memberikan pengaruh yang sama terhadap konsumsi, kecernaan serat kasar sertalemak kasar babi fase starter.  
PengaruhTepung Kelordan Katuk dalam Ransum terhadap Kecernaan Serat Kasar, Lemak KasarTernak Babi: The Effect of Moringa Flour and Katuk in the Ration on Digestibility of Crude Fiber, Crude Fat of Pigs Yohanes Paulus Juan Bagus Pampo; Sabarta Sembiring; Ni Nengah Suryani
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of a mixture of Moringa leaf flour andsauropus leaf meal in the basal diet on the consumption and digestibility of crude fiber and crudefat of grower landrace crossbreed pigs. The material used was 12 castration male pigs aged 2-3months with an average initial body weight of 29.83 kg with a coefficient of variance 18.16%. Thedesign used was a Randomized Block Design with 4 treatments and 3 replications. The treatmentstested were R0: 100% basal died (control), R1: 95% basal died + 5% mixture of moringa andsauropus leaf meal, R2: 90% basal died + 10% mixture of moringa and sauropus leaf meal, R3:85% basal died + 15% mixture of moringa and katuk leaf meal. The ratio of the mixture ofMoringa leaf flour and katuk leaf flour is 4:1. Variables evaluated in the study were: intake anddigestibility of crude fiber and crude fat. The results of the analysis of variance ANOVA thetreatment had no significant effect (P>0.05) on the consumption and digestibility of crude fiberand crude fat. It can be concluded that the use of a mixture of Moringa leaf flour and katuk leafflour up to 15% in the ration has the same effect on consumption and digestibility of crude fiberand crude fat in grower phase pigs. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh campuran tepung daun kelor (Moringaoleifera) dan tepung daun katuk (Sauropus androgynus L. Merr) dalam ransum basal terhadapkonsumsi dan kecernaan serat kasar dan lemak kasar ternak babi peranakan landrace fase grower.Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi jantan kastrasi berumur 2-3 bulan dengan rata-rata bobot badan awal 29,83Kg dengan Koefisien varians 18,16%. Rancangan yang digunakanadalah Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakanadalah R0: 100% ransum basal (control), R1: 95% ransum basal + 5% campuran tepung daunkelor dan katuk, R2: 90% ransum basal + 10% campuran tepung daun kelor dan tepung daunkatuk, R3: 85% ransum basal + 15% campuran tepung daun kelor dan tepung daun katuk.Perbandingan campuran tepung daun kelor dan tepung daun katuk adalah 4:1.Variabel yang ditelitiadalah konsumsi dan kecernaan serat kasar serta lemak kasar. Hasil analisis sidik ragam ANOVAberpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumi dan kecernaan serat kasar serta lemak kasar.Dapat disimpulkan bahwa penggunaan campuran tepung daun kelor dan tepung daun katuk hinggalevel 15% dalam ransum memberikan pengaruh yang sama terhadap konsumsi dan kecernaan seratkasar serta lemak kasar pada ternak babi fase grower.
Analisis Usaha Ternak Babi Peranakan Landrace Fase Starter Yang Diberi Tepung Limbah Kubis (Brassica oleraceae) Terfermentasi Dalam Ransum Basal: Business Analysis Of Landrace Starter Pig Fed Fermented Cabbage Waste Flour (Brassica oleraceae) In Basal Ration Heny Suek; Sabarta Sembiring; Matheos Filipus Lalus; Ulrikus Romsen Lole
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 5 No. 4 (2023): Desember
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study on starter phase landrace crossbreed pigs fed with fermented cabbage waste flour (Brassica oleraceae) in basal rations was to determine the income obtained, changes in costs, changes in profits and business feasibility of using this technology.The material used was 12 landrace crossbreed pigs aged 8 weeks with a body weight of 9-15kg (CV=15.33%). The study used a randomized block design (RBD) which consisted of 4 treatments and 3 replications. The four treatments were: R0: 100% basal ration, R1: 5% fermented cabbage waste flour + 95% basal ration, R2: 10% fermented cabbage waste flour + 90% basal ration, R3: 15% fermented cabbage waste flour + 85 % basal ration.The parameters analyzed are revenue, cost and profit gross margin and business feasibility.The data analysis method used is analysis of variance, partial budgetanalysis and business feasibility.analysis i.e. analysis of break-even point, payback period and revenues – costs ratio.The results showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on revenues. The biggest incremental profit was IDR 304,771 at 5% level. The break-even point was obtained from the sale of 8 pigs with a price break-even point of IDR1,310,977 and R/C of 1.54. In summary, the use of fermented cabbage waste flour in the basal ration is financially feasible. Suatu penelitian pada ternak babi peranakan landrace fase starter yang diberi tepung limbah kubis (Brassica oleraceae) terfermentasi dalam ransum basal adalah untuk mengetahui penerimaan yang diperoleh, perubahan biaya, perubahan keuntungan serta kelayakanusaha dari penggunaan teknologi  tersebut. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi peranakan landrace yang berumur 8 minggu dengan bobot badan 9-15kg (KV=15,33%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok (RAK) yang terdiri atas 4 perlakuan 3 ulangan. Empat perlakuan tersebut adalah: R0: ransum basal 100%, R1: 5% tepung limbah kubis terfermentasi + 95% ransum basal, R2: 10% tepung limbah kubisterfermentasi + 90% ransum basal, R3: 15% tepung limbah kubis terfermentasi + 85% ransum basal. Parameter yang dianalisis adalah penerimaan, marjin kotor biaya dan keuntungan serta kelayakan usaha. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis varians, analisis anggaran parsial dan analisis kelayakan usaha melalui perhitungan titik impas, waktu pengembalian modal dan ratio penerimaan dan biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap penerimaan. Keuntungan tambahan terbesar adalah Rp304.771 pada level 5%. Titik impas diperoleh pada penjualan ternak babi sebanyak 8 ekor dengan titik impas harga sebesar Rp1.310.977 dan rasio pendapatan dan biaya sebesar 1,54. Secara ringkas, pemanfaatan tepung limbah kubis terfermentasi dalam ransum basal dikatakan layak secara finansial.