Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Distribusi Kasus Fissure Sealants Di Kabupaten Kupang Merniwati Sherly Eluama; Leny Marlina A.Pinat; Christina Ngadilah; Applonia Leu Obi; Mery Novaria Pay
Journals of Ners Community Vol 13 No 4 (2022): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i4.2025

Abstract

Karies gigi merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang terbanyak terdapat dimasyarakat (Riskesdas, 2018). Di Propinsi Nusa Tenggara Timur, pada anak dengan kelompok umur 12 tahun keadaan gigi rusak, berlubang ataupun sakit menunjukkan angka 43,32%. Terapis gigi dan mulut mempunyai peran yang penting dalam mendeteksi, mengidentifikasi dan manajemen dental karies (Yamamoto dan Fannon, 2015). Berdasarkan data hasil Riskesdas 2018, persentasi jumlah anak yang sudah pernah mendapatkan perawatan fissure sealant hanyalah kelompok anak usia 15 tahun dan cuma 0.1% dari total sampel. Hal ini menunjukkan masih rendahnya ketercapaian program pencegahan penyakit gigi dan mulut dimasyarakat, sedangkan angka karies gigi pada anak cukup tinggi (DMF-T anak usia 12 tahun adalah 1.9) dan semakin meningkat dengan bertambahnya usia anak (Riskesdas 2018). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui distribusi kasus fissure sealants di Kabupaten Kupang. Kasus gigi yang membutuhkan perawatan fissure sealant berdasarkan jenis kelamin, pada perempuan sebanyak 35.40%, laki-laki sebanyak 34.16%. Berdasarkan kelompok usia yang mempunyai indikasi perawatan fissure sealant maka anak pada usia 7 tahun yang mempunyai indikasi perawatan fissure sealant yang terbanyak yaitu 31.68%, diikuti oleh anak usia 8 tahun 24.22%, 6 tahun sebanyak 9.32% dan anak usia 9 tahun 4.35%. Dari keempat gigi molar pertama permanen yang dinilai, gigi molar pertama bawah kanan mempunyai jumlah indikasi kebutuhan perawatan fissure sealant yang lebih tinggi yaitu 92 (14.29%) gigi dan diikuti dengan gigi molar pertama kiri bawah dengan jumlah 89 (13.82%) gigi, gigi molar pertama kiri atas dengan jumlah 58 (9.01%) gigi dan gigi molar pertama kanan atas dengan jumlah 53 (8.23%) gigi yang terindikasi memerlukan perawatan fissure sealant
Perilaku Ibu Bekerja dan Tidak Berkerja Dalam Menjaga Kesehatan Gigi Anak Selama Pandemi Covid-19 Ratih Variani; Applonia Leu Obi; Olandina de Fatima
Dental Therapist Journal Vol. 4 No. 2 (2022): Dental Therapist Journal
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/dtj.v4i2.943

Abstract

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi anak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, antara lain adalah peran orang tua. Karena perilaku orang tua, terutama ibu dinilai mampu mempengaruhi kebiasaan anak. Dampak COVID-19 terhadap kebiasaan merawat gigi telah terjadi penurunan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari dibandingkan hasil survey tahun 2018. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan perilaku ibu bekerja dan tidak bekerja dalam menjaga kesehatan gigi Anak selama pandemi Covid-19. Jenis penelitian ini adalah deksriptif.  Pengambilan sampel dengan menggunakan kuota sampling, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 40 orang. Hasil Penelitian menunjukkan Perilaku ibu bekerja dan tidak bekerja dalam menjaga kesehatan gigi anak selama pandemi covid-19 dengan hasil untuk ibu bekerja pengetahuan termasuk kriteria baik yaitu sebanyak 20 orang (100,00%), sikap termasuk kriteria kurang yaitu sebanyak 20 orang (100,00%), sedangkan untuk tindakan termasuk kriteria baik yaitu sebanyak 11 orang (55,00%). Sedangkan perilaku bagi ibu yang tidak bekerja dilihat dari pengetahuan termasuk kriteria baik sebanyak 20 orang (100,00%), sikap termasuk kriteria baik sebanyak 18 orang (90,00%), dan untuk tindakan termasuk dalam kriteria baik adalah sebanyak 11 orang (55,00%). Kesimpulannya yaitu Ibu yang tidak bekerja lebih banyak waktu sehingga bertindak dengan baik terhadap anak pada saat anak masih dalam pengawasannya dibandingkan ibu yang bekerja karena ibu tidak bisa mengawasi anak pada saat anak disekolah dan bermain dilingkungan luar rumah sehingga pada saat itulah anak berperilaku sendiri. Saran kedepannya dapat mengembangkan isi dari penelitian dengan cakupan yang lebih luas dan aspek yang lebih lengkap serta variabel yang berbeda.
Kepuasan Pasien Peserta BPJS Terhadap Pelayanan Dokter Gigi Keluarga Menggunakan Customer Satisfaction Indeks Apri Adiari Manu; Applonia Leu Obi; Rosliani Saragih
Dental Therapist Journal Vol. 4 No. 2 (2022): Dental Therapist Journal
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/dtj.v4i2.975

Abstract

Dokter gigi keluarga merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada peserta BPJS yang kepesertaannya terdaftar pada dokter gigi tersebut. Dari 7 dokter gigi keluarga yang menjadi fasilitas kesehatan TK 1 BPJS di Nusa Tenggara Timur, sebanyak 5 dokter gigi keluarga tersebut berada di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tingkat kepuasan pasien harus menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari pengukuran mutu layanan kesehatan. Bila tidak sesuai dengan kebutuhan yang menjadi kepentingan atau harapannya,  maka  yang dirasakan  pasien  adalah ketidakpuasan. Customer satisfaction index (CSI) diperlukan untuk mengetahui kepuasan pasien secara menyeluruh dengan memperhatikan tingkat kepentingan masing-masing dimensi kualitas pelayanan, customer satisfaction index (CSI) memiliki keunggulan mudah digunakan dan sederhana serta menggunakan indeks kepuasan dengan skala yang memiliki sensitivitas dan reabilitas cukup tinggi. Metode CSI digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada pasien BPJS di praktek dokter gigi keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui  kepuasan pasien BPJS di pelayanan dokter gigi keluarga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dimensi kualitas pelayanan dengan menggunakan metode CSI pasien BPJS yang mendapat pelayanan dokter gigi keluarga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur seperti jaminan (assurance) yaitu 88,44%, empati (empathy) yaitu 91,68%, kehandalan (reliability) yaitu 91,99%, daya tanggap (responsibility) yaitu 92,36%,  dan tampilan fisik  (tangible) yaitu 89,49% termasuk kategori Sangat Puas. Disarankan agar  Pelayanan Kesehatan gigi dan mulut kepada pasien BPJS di dokter gigi keluarga dapat dipertahankan dan ditingkatkan.
The Relationship of Pregnant Woman who Consume Betel Nut to Periodontal Disease Which will Affect Pregnancy Outcome Christina Ngadilah; Applonia Leu Obi; Melkisedek O. Nubatons
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Permas: jurnal Ilmiah STIKES Kendal: Supp April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.969 KB)

Abstract

Several studies have found that areca nut increases gingival inflammation, inhibits immune reactions, affects osteoblasts, and may be cytotoxic to periodontal fibroblasts. Pregnant women who consume betel nut, the assumption is that it will worsen the condition of periodontal tissue so that it will affect the condition of pregnancy outcome, including low birth weight. Analyzing the influence of pregnant women who consume betel nut on the condition of the periodontal tissue that will affect pregnancy outcome. Using a cross sectional analysis to analyze the effect of consuming betel nut on periodontal tissue damage that will cause bad pregnancy outcomes by accidental sampling in pregnant women aged between 17-50 years at the Lelogama Health Center, South Amfoang, Kupang Regency. There is a relationship between consuming betel nut and the severity of periodontal tissue, P < 0.05, where there is a strong correlation of 48.3%. Mothers consumed betel nut whose gums 69% in poor periodontal condition. About 6.2% of mothers knew that betel nut affects pregnancy outcome, the remaining abou 93.8 dont understand. The large number of mothers who consume betel nut with poor periodontal tissue conditions, it is feared that disturbances in pregnancy outcomes such as low birth weight and stunting can occur.
ANALYSIS OF FACTORS OF PATIENT COMPLIANCE WITH MULTI-VISIT ROOT CANAL TREATMENT IN KUPANG CITY Ratih Variani; Applonia Leu Obi; M. Ibraar Ayatullah
Jurnal Ipteks Terapan (Research Of Applied Science And Education ) Vol. 16 No. 4 (2022): Jurnal Ipteks Terapan : research of applied science and education
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.446 KB) | DOI: 10.22216/jit.v16i4.1783

Abstract

Abstract [Times New Roman 10] Background: Dental caries that reached the pulp required root canal treatment. Non-compliance in undergoing treatment in the field of conservation and endodontic teeth can cause treatment failure, which results in the treatment having to be repeated. Factors that affected a person's compliance include knowledge, education, income, employment, motivation, perception, satisfaction, and treatment costs. The purpose of the study: to determine the factors of patient compliance with multi-visit root canal treatment in Kupang City. Research method: An analytic study with a cross-sectional approach. The sample of this study used accidental sampling, namely patients who received dental root canal treatment at dental practices throughout the city of Kupang with a total sample of 40 people. The Spearman correlation test was used to determine the factors of patient compliance with multi visit root canal treatment in Kupang City. The results: There was a significant relationship between income (p=0.006), education (p=0.010), knowledge (p=0.003), motivation (p=0.000), perception (p=0.001), satisfaction (p=0.000), and cost of care (p=0.007) with patient compliance. While the occupational factor (p=0.843) had no relationship with patient compliance. The dominant factor was the cost of root canal treatment. The strength of the relationship between variables was -0.418, meaning that the relationship was sufficient and negative, which meant that the lower the cost of treatment, the higher consumer compliance. Conclusion: There was a relationship between the factors of knowledge, income, education, motivation, perception, satisfaction, and cost of care with patient compliance. For the work factor, there was no relationship. Meanwhile, the dominant factor was the cost of root canal treatment.
Upaya Promotif Sakit Gigi Dan Pencegahan Karies Dini Pada Siswa Sekolah Dasar Kabupaten Kupang Applonia Leu Obi; Mery N Pay; Fitri I. Ramli; M. Ibra Ayatullah
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2: Mei 2022
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak sekolah merupakan kelompok rentan terhadap kesehatan gigi dan mulut. Melalui promosi kesehatan gigi dapat merubah kebiasaan anak dalam menjaga kebersihan gigi. karena pada usia ini anak sedang dalam proses tumbuh kembang, dan perlu perhatian dan pendampingan dari orang tuanya. Tujuan pengabdian kepada masyarakat adalah untuk meningkatkan upaya promotif sakit gigi dan pencegahan karies dini pada siswa SDN Balfai Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang. Pengisian kuesioner pre test serta promosi kesehatan gigi dengan metode demonstrasi kemudian post test untuk mengetahui pengetahuan,sikap dan tindakan. Analisis statistik digunakan untuk mengetahui skor pretest dan post test dengan analisis Wilcoxon dengan tingkat kepercayaan (p<0,05). Hasil pengolahan data sebelum intervensi. kriteria pengetahuan baik hanya 15 siswa (50,0%) sedangkan kriteria kurang sebanyak 12 siswa (40,0%), setelah intervensi meningkat pengetahuannya 27 siswa (90,0%). Sikap termasuk kriteria cukup 14 siswa (46,7%) dan kriteria baik hanya 10 siswa (33,3%), sedangkan setelah intervensi mengalami peningkatan 20 siswa (66,7%). Tindakan siswa yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut sebelum intervensi kriteria cukup 12 orang(40,0%), kriteria baik dan kurang ada 9 orang (30,0%), setelah intervensi, mengalami peningkatan 15 siswa (50,0%). hasil uji statistik diperoleh pengetahuan dan tindakan menggunakan uji Wilcoxon diperoleh nilai signifikansi p<0,000 sedangkan sikap nilai siknifikansinya p<0,001. Hal ini menunjukan bahwa informasi kesehatan gigi pada anak sekolah dasar penting agar dapat memahami teknik dan cara menyikat gigi yang baik dan benar. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dan tindakan siswa sekolah dasar sebelum dan sesudah diberikan promotif sakit gigi dan pencegahan karies dini. Saran : Diharapkan pihak sekolah dapat bekerja sama dalam upaya pelayanan asuhan kesehatan gigi dengan Program Studi Kesehatan Gigi untuk memberikan promosi kesehatan gigi secara kontinyu sehingga siswa sekolah dasar dapat meningkatkan budaya tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dengan benar.
Pelatihan Dan Pendampingan Kader Kesehatan Gigi Pada Guru SD Manefu Kecamatan Taebenu Merniwati Sherly Eluama; Mery Novaria Pay; Leny M.A Pinat; Applonia Leu Obi; Christina Ngadilah; Melkisedek O. Nubatonis
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2: Mei 2022
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proper care for dental and oral health needs to be performed since early ages. Elementary school students should develop good habit related to dental health by regular teeth brushing and consuming health food, including at school. Dental health cadres have been appointed to assist dental health workers in carrying out efforts to maintain the dental and oral health of school members. Teachers are potential dental health cadres who can guide students to develop proper dental health behavior at schools. Purpose: This community service was administered to enhance the knowledge and skills of dentalhealth cadres to be able to assist elementary school students in improving their dental and oral health. Method: The training was conducted through lectures, demonstrations and simulations for teachers as dental health cadres at Manefu Elementary School, Taebenu District. Some educational media were used including posters, phantoms and toothbrushes and training manuals. Training and simulations on how to properly brush teeth and maintain dental health were held. In this study,a quasi-experimental pretest and posttest design was also performed and data of the study were analyzed using the paired sample test. Results: Training and assistance program for dental health cadres was found effective in improving the knowledge and skills of dental health cadres with a p-value of 0.000.
PENERAPAN PERMAINAN KARTU TOS GAMBAR SEBAGAI MEDIA EDUKASI KESEHATAN GIGI PADA SISWA SD GMIT OEHANI KECAMATAN TAEBENU KABUPATEN KUPANG: APPLICATION OF IMAGE TOS CARD GAME AS A DENTAL HEALTH EDUCATION MEDIA IN GMIT OEHANI SD STUDENTS TAEBENU SUB-DISTRICT AND KUPANG DISTRICT Mery Novaria Pay; Applonia Leu Obi; Merniwati Sherly Eluama; Melkisedek O. Nubatonis; Leny M.A Pinat; Boby I. Sakbana
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2022): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.218 KB) | DOI: 10.36082/gemakes.v2i2.728

Abstract

Kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Indonesia juga masih sangat memprihatinkan, terbukti Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 menujukkan 57,6% penduduk Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut. Penduduk yang menerima perawatan oleh tenaga medis gigi hanya 10,2%. Hal ini menjadi tantangan bagi tenaga terapis gigi dan mulut di NTT karena masalah kesehatan gigi dan mulut masyarakat NTT masih berada di bawah standar nasional dan target Indonesia bebas karies tahun 2030, sehingga perlu dilakukan upaya dalam meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut. Salah satunya dengan memberikan permainan edukasi kartu tos gambar kesehatan gigi.        Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan melakukan penyuluhan. Tahapan yang dilakukan diantaranya pre-tes pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, permianan tos gambar dan melakukan post-tes pengetahuan kesehatan gigi dan mulut. Hasil Penerapan permainan kartu tos gambar sebagai media edukasi kesehatan gigi pada siswa SD GMIT Oehani Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang efektif meningkatkan pengetahuan kasehatan gigi dan mulut.
THE EFFECTIVENESS OF COUNSELING USING PUZZLE AND SNAKE AND LADDER GAME MEDIA ON DENTAL CARIES KNOWLEDGE IN ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS Mery Novaria Pay; Applonia Leu Obi; Melkisedek O. Nubatonis; Leny M. A. Pinat; Yansestina E. Eky
JDHT Journal of Dental Hygiene and Therapy Vol. 4 No. 2 (2023): JDHT Journal of Dental Hygiene and Therapy
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/jdht.v4i2.1311

Abstract

Background: Increasing knowledge can be done through dental health education efforts, namely counseling to provide information to the community. Efforts to increase knowledge can be given a stimulus through educational games to sharpen children's brains and make children creative because the world of children is a world of play. To support playing and learning activities, media is needed that can be interesting according to the characteristics of children's development. The aim of the study was to determine the effectiveness of counseling using puzzle game media and snakes and ladders on dental caries knowledge in elementary school students in Taebenu District. The research design uses a quasi-experimental research design with a non-equivalent control group design. Sampling was by purposive sampling, the instrument in the study used a questionnaire and the analysis used SPSS with the Wilcoxon and Mann-Whitney tests. The results of the study: there is a significant difference in the number of scores between the puzzle media game and the snakes and ladders media game. This is evidenced by the results of the Mann-Whitney test, which obtained a p-value of 0.000 <0.05. From the results of the study it was concluded that there was an increase in the level of knowledge of children who were given games using snakes and ladders media more effectively than children who were given games using puzzle media.
THE EFFECTIVENESS OF COUNSELING USING PUZZLE AND SNAKE AND LADDER GAME MEDIA ON DENTAL CARIES KNOWLEDGE IN ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS Mery Novaria Pay; Applonia Leu Obi; Melkisedek O. Nubatonis; Leny M. A. Pinat; Yansestina E. Eky
JDHT Journal of Dental Hygiene and Therapy Vol. 4 No. 2 (2023): JDHT Journal of Dental Hygiene and Therapy
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/jdht.v4i2.1311

Abstract

Background: Increasing knowledge can be done through dental health education efforts, namely counseling to provide information to the community. Efforts to increase knowledge can be given a stimulus through educational games to sharpen children's brains and make children creative because the world of children is a world of play. To support playing and learning activities, media is needed that can be interesting according to the characteristics of children's development. The aim of the study was to determine the effectiveness of counseling using puzzle game media and snakes and ladders on dental caries knowledge in elementary school students in Taebenu District. The research design uses a quasi-experimental research design with a non-equivalent control group design. Sampling was by purposive sampling, the instrument in the study used a questionnaire and the analysis used SPSS with the Wilcoxon and Mann-Whitney tests. The results of the study: there is a significant difference in the number of scores between the puzzle media game and the snakes and ladders media game. This is evidenced by the results of the Mann-Whitney test, which obtained a p-value of 0.000 <0.05. From the results of the study it was concluded that there was an increase in the level of knowledge of children who were given games using snakes and ladders media more effectively than children who were given games using puzzle media.