Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Kesesuaian Biaya Riil Terhadap Tarif INA-CBG’S Pasien Diabetes Melitus Rawat Inap di RSUD Kota Kotamobagu Tahun 2024 Nanda Sayyida Begum; Windi Astuti; Moh. Rasyid Kuna
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v9i2.1559

Abstract

Background: The high prevalence of diabetes mellitus and its associated complication risks potentially increase the financial burden of healthcare. Therefore, evaluating the alignment between actual care costs and INA-CBG's rates is necessary to support the sustainability of the National Health Insurance (JKN) financing system. Objective: This study aimed to analyze the alignment between actual care costs and INA-CBG's rates for inpatient diabetes mellitus patients and to identify factors influencing any discrepancy at RSUD Kota Kotamobagu. Methods: This was an observational study with a cross-sectional design and a retrospective approach. A sample of 83 patients was selected using simple random sampling from the population of JKN-insured inpatients with diabetes mellitus from January to December 2024. Data were analyzed using a paired t-test to compare actual costs with INA-CBG's rates, and multiple linear regression to identify factors affecting the cost difference. Results: The mean actual care costs for class I, II, and III were IDR 6,882,567, IDR 5,282,412, and IDR 5,224,188, respectively. All treatment classes showed negative differences (actual costs higher than INA-CBG's rates), but a statistically significant difference was found only in class III (p = 0.000). Regression analysis revealed that length of stay (LOS) was the only factor significantly influencing the cost difference (p = 0.002; coefficient B = 1,250,000), while age, comorbidities, and class of care showed no significant effect (p > 0.05). Conclusion: There is a significant discrepancy between actual costs and INA-CBG's rates in class III care, with length of stay as the main determining factor. Hospitals should consider adjustments in inpatient management and tariff evaluation, particularly for cases with longer LOS.
Uji Efektivitas Antidiabetes Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia) Terhadap Mencit (Mus musculus) Yang Diinduksi Aloksan Putri Isauraamabel Tangahu; Moh Rivaldi Mappa; Rizky Resvita R Bahi; Windi Astuti
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1481

Abstract

Diabetes melitus merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh peningkatan kadar gula darah akibat gangguan produksi atau kerja insulin. Penyakit ini terus mengalami peningkatan prevalensi dan menjadi salah satu masalah kesehatan global yang memerlukan penanganan yang serius. Penggunaan obat antidiabetes sintetis secara berkelanjutan diketahui dapat menimbulkan berbagai efek yang tidak diinginkan, sehingga diperlukan alternatif herbal seperti daun binahong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas serta menentukan dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah pada mencit yang diinduksi aloksan. Penelitian rancangan eksperimen ini menggunakan 25 mencit jantan yang dibagi secara acak ke dalam lima kelompok perlakuan, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, serta kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak 100, 200, dan 400 mg/kgBB. Hasil penelitian ini diuji menggunakan One-Way ANOVA dan menunjukkan pengaruh perlakuan terhadap penurunan kadar glukosa darah (p<0,05), yang menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun binahong berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit. Dilanjutkan dengan uji tukey tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok ekstrak dengan kelompok kontrol positif (p>0,05). Di antara seluruh dosis, dosis 400 mg/kgBB menunjukkan rerata penurunan kadar glukosa darah terbesar (-133,00 ± 10,62 mg/dL) dibandingkan dengan dosis lainnya. Berdasarkan hasil tersebut, dosis 400mg/kgBB dapat dipertimbangkan sebagai dosis yang memberikan aktivitas antidiabetes paling optimal.