Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Al-Mizan (e-Journal)

LARANGAN MEMADU ISTRI DENGAN TANTENYA PERSPEKTIF HADIS AHKAM Rahman, Muhammad Gazali
Al-Mizan Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernikahan dalam corak poligami sampai saat ini masih menjadi hal yang kontroversial di kalangan umat Islam secara teoritis maupun aplikatifnya. Sekiranya dipahami bahwasanya poligami yang dilakukan oleh nabi Muhammad saw. bukan dalam orientasi seksual atau sekadar pemenuhan hasrat/nafsu seksual semata, maka pro dan kontra ini tentu tidak signifikan untuk menjadi polemik yang berkepanjangan Sebab, pernikahan yang dilakukan nabi saw. terhadap lebih dari satu orang merupakan bagian dari deskripsi fungsi kenabian beliau yang dalam hal ini bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan yang secara sosiologis sebagian diantara mereka adalah budak, yatim-piatu dan perempuan-perempuan yang memang perlu dilindungi. Salah satu piranti yang mengatur relasi laki-laki dan perempuan dalam bentuk pernikahan dan poligami misalnya larangan poligami antara istri dan tantenya. Kajian terhadap hal ini merupakan analisis kritis terhadap hadis nabi saw. yang perlu disimak dalam semangat wahyu. Secara umum mayoritas ulama mengharamkan penyatuan (poligami) istri dan tantenya dengan berbagai alasan dan pendekatan yang mereka gunakan. Salah satu yang urgen menjadi pendekatan dalam hal ini adalah atas dasar psikologi, yakni kekhawatiran akan menyebabkan terputusnya-merenggangnya hubungan silaturahmi kekeluargaan.
The Style of Criminal Act Verses in The Quran and Its Implications for Legal Status Determinationits Implications for Legal Status Determination Rahman, Muhammad Gazali; Abdullah, Abdullah; Nurkamiden, Sukrin; Jaya M., Umar
Al-Mizan (e-Journal) Vol. 21 No. 1 (2025): Al-Mizan (e-Journal)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/am.v21i1.6351

Abstract

One aspect of law in the Quran is criminal act (jinayat). This law aims to protect, prevent, and avoid criminal acts (jinayat) that may threaten a person's life, property, and honor. Muslims have acknowledged and accepted Islamic law as an absolute truth that must be implemented with the principle of sami‘na wa ata‘na (we hear and we obey), as part of religious practice aimed at achieving well-being in this world and the hereafter. To implement Islamic law properly, a careful understanding and observation of the objectives of sharia, both explicit and implicit, is necessary. This study has two goals: (a) to identify, categorize, and describe the linguistic styles of al-amr (command) and al-nahyu (prohibition) in jinayat verses and their legal implications; and (b) to map and elaborate on the implications of jinayat verses in determining legal status. The styles used in conveying commands and prohibitions in jinayat verses include: (1) commands; a) passive past tense verbs (fi‘il madhi majhul) that contain obligatory demands; b) verbal nouns (masdar), such as "let the one who forgives follow," where the previous imperative form is replaced with compensation; c) imperative sentences using commands verb (fi‘il amr); (2) prohibitions; a) forms that mean “do not”; b) declarative sentences (khabariyah); c) commands (al-amr) that require abstaining from self-harming acts; d) negating expressions. If the divinely prescribed commands and prohibitions are not enforced, perpetrators of crimes will never be deterred, as human-made laws have many weaknesses. Furthermore, if murderers and thieves are merely imprisoned, it could lead to increased hatred.