Lalan Ramlan
Unknown Affiliation

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

“SKAK” Sebuah Karya Tari Kontemporer Berdasarkan Perspektif Pemikiran Wallas IndahPurnamasari; Subayono; Lalan Ramlan
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

‘Skak’ merupakan karya penciptaan tari kontemporer yang terinspirasi dari langkah-langkah dalam permainan catur, salah satu cabang olahraga yang berskala regional, nasional, dan internasional. Permainan catur bukanlah olahraga yang hanya mengandalkan kekuatan fisik saja, melainkan kemampuan otak (indera) dalam menyusun strategi efektif untuk mengalahkan lawan dan dimainkan oleh dua orang. Oleh karena itu, olahraga catur sering dianggap sebagai pelatihan otak. Dengan kata lain, dalam permainan catur membutuhkan strategi otak yang berfokus pada langkah-langkah strategis, sehingga membutuhkan konsentrasi tinggi dan pemikiran strategis sehingga aktivitas fisiknya cenderung statis. Sumber inspirasi ini, selanjutnya disusun ke dalam sebuah konsep garap tari kontemporer dengan pendekatan tipe tari murni dengan bentuk garap kelompok, yaitu semata-mata mengandalkan keindahan gerak, baik yang bersumber dari tradisi maupun dari gerak keseharian yang distilisasi sesuai kebutuhan. Untuk mewujudkan karya tari ini digunakan metode kreativitas dari yang meliputi; eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Hasil perwujudan garap menunjukkan, bahwa karya tari kontemporer yang diberi judul ‘Skak’ setelah melalui proses memiliki klimaks, terutama ditunjang dengan music tari dan rias dan busana tari yang sesuai dengan karakteristik tariannya. Kata Kunci: Skak, Tipe Murni, Tari Kelompok, Kontemporer. ABSTRACT 'SKAK': A CONTEMPORARY DANCE CREATION BASED ON WALLAS PERSPECTIVE, DECEMBER 2024. 'Skak' is a contemporary dance creation inspired by the steps in the game of chess, a sport on a regional, national and international scale. The game of chess is not a sport which only relies on physical strength, but rather on the ability of brain (senses) to develop effective strategies to defeat the opponent and is played by two people. Therefore, chess is often considered as brain training. In other words, playing chess requires a brain strategy that focuses on strategic moves, so it requires high concentration and strategic thinking so that the physical activity tends to be static. This source of inspiration is then organized into a concept for contemporary dance work with a pure dance type approach in a form of group work, in which relying solely on the beauty of movement, both from traditional sources and from daily movements which are stylized to its needs. To create this dance work, the creative methods are used which include; exploration, improvisation, and formation. The result of the work realization shows that the contemporary Naskahditerimapada20,Julirevisiakhir8Oktober2024 |169 dance work entitled 'Skak' after going through the process has a climax, especially supported by the dance music, make-up and costume that suits the characteristics of the dance. Keywords: Skak, Pure Type, Group Dance, Contemporary.
TARI JAIPONGAN LEUNGITEUN KARYA GONDO DI KLINIK TARI GONDO ART PRODUCTION Bella Norvasita; Lalan Ramlan; Risa Nuriawati
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Repertoar tari Jaipongan Leungiteun merupakan satu bentuk tarian yang diciptakan oleh Gondo, terinspirasi dari lingkungan alam sekitar yang bagi dirinya menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya kerusakan lingkungan dan hasil dari apresiasinya terhadap tari tradisi serta modern. Oleh sebab itu, struktur tarinya memiliki kekhasannya tersendiri, yakni struktur koreografi; totogan, ngusik, tusuk bumi, siku stakato, etnik kreatif, struktur karawitan iringan tari; intro, dua wilet gancang, dua wilet lalamba (pencugan/ngalaga), irama merdeka (bebas wiletan), dua wilet gancang (pencugan tengah), keringan (interlude) dua wilet gancang (autro), dan busananya; kebaya hijau panjang, sinjang, celana beludru selutut, sabuk, bros, anting, kalung, dan gelang, hiasan kepala atau siger meliputi; bunga melati dan bunga mawar. Hal tersebut menjadi daya tarik bagi penulis untuk melakukan kegiatan penelitian yang difokuskan pada permasalahan kreativitas Gondo dalam penciptaan tari Jaipongan Leungiteun. Untuk menjawab permasalahan ini, digunakan pendekatan konsep pemikiran 4P Rhodes dengan metode kualitatif yang dilengkapi dengan langkah-langkah meliputi: studi pustaka, observasi, wawancara, analisis data. Adapun hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah keempat komponen; person, proses, press, product terjalin saling berkaitan (bersinergi) dalam mewujudkan sebuah bentuk karya tari Jaipongan yang oleh Gondo diberi judul “Leungiteun”. Gondo sebagai seorang kreator yang produktif dalam menjalankan aktivitasnya tetap memerlukan dorongan baik secara intrinsik maupun ekstrinsik, sehingga proses kreatifnya dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakannya.
IDHA JIPO SEBAGAI PENARI VOKAL DALAM PERTUNJUKAN BAJIDORAN DI KOTA BANDUNG Martiasyah, Agung Rizki; Ramlan, Lalan
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3408

Abstract

ABSTRAK Penari vokal merupakan sebuah istilah yang muncul dalam perkembangan kesenian Bajidoran, yaitu penari tunggal yang mengawali tarian dalam pertunjukan serta memiliki daya tarik untuk mengundang perhatian penonton potensial (bajidor) yang menyaksikan serta memberikan uang sawéran. Idha Jipo sebagai penari vokal kehadirannya dalam mencug memiliki kekhasannya tersendiri yang memberi warna, sehingga membuat pertunjukan ini selalu menarik dan tak lekang oleh waktu. Fenomena inilah yang menjadi daya tarik, sehingga penelitian ini difokuskan pada permasalahan kreativitas kepenarian Idha Jipo dalam mencug sebagai penari vokal pada pertunjukan Bajidoran di Kota Bandung. Berdasarkan pada fokus permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan konsep pemikiran kreativitas 4P menurut Rhodes yaitu; Person, Press, Process, dan Product. Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, sehingga metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui pendekatan deskriptif analisis, dengan langkah-langkah; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Adapun penelitian ini menghasilkan informasi akademik mengenai keberhasilan yang dicapai oleh Idha Jipo dalam kariernya sebagai penari vokal yang menggunakan konstruksi tari; bukaan, pencugan, nibakeun, dan mincid ketika mencug dengan menggunakan pengolahan teknik ngigelkeun lagu. Gaya penyajiannya seperti itu telah menjadi identitasnya yang mempribadi, sehingga eksistensinya dapat dipertahankan hingga saat ini dan tetap diapresiasi oleh para bajidor baik di Bandung, Subang maupun Karawang. Kata Kunci: Idha Jipo, Penari Vokal, Mencug, Kreativitas, Bajidoran. ABSTRACT IDA JIPO AS A VOCAL DANCER IN BAJIDORAN PERFORMANCE IN BANDUNG, JUNE 2024. Vocal dancer is a term that emerged in the development of Bajidoran art, namely a single dancer who starts the dance in a performance and has the allure to attract the attention of potential audiences (bajidor) who watch and give money as sawéran. Idha Jipo, as a vocal dancer, has her own unique presence in mencug to make the performance always interesting and timeless. This phenomenon has been an attraction, so this research focuses on the problem of Idha Jipo's dancing creativity in mencug as a vocal dancer at the Bajidoran performance in Bandung. Based on the focus of the problem, this research uses the 4P creativity thinking concept approach by Rhodes, namely; Person, Press, Process, and Product. In line with this concept of thought, the method used is a qualitative method through a descriptive analysis approach, with these steps; literature study, field study, and data analysis. This research produces academic information regarding the success achieved by Idha Jipo in her career as a vocal dancer using dance constructions; bukaan, pencugan, nibakeun, and mincid when mencug using the processing technique of ngigelkeun lagu. This style of presentation has become her personal identity, so that her existence can be maintained to this day and is still appreciated by bajidor in Bandung, Subang and Karawang. Keywords: Idha Jipo, Vocal Dancer, Mencug, Creativity, Bajidoran.
Estetika Tari Réndéng Bojong Karya Gugum Gumbira Ramlan, Lalan; Jaja, Jaja
PANGGUNG Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1048

Abstract

ABSTRAKTari Réndéng Bojongyang diciptakan oleh Gugum Gumbira pada tahun 1978 dan sepanjang tahun 1980-an, sangat populer di kalangan masyarakat Sunda.Akan tetapi, sejak pertengahan tahun 1990-an bentuk tarian ini tidak pernah terlihat lagi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara komprehensif mengenai berbagai unsur yang membentuknya.Penelitian kualitatif ini mengggunakan teori estetika instrumental dengan metode deskriptif analisis yang tahapan penggalian datanya dilakukan melalui studi pustaka, observasi, dan studi dokumentasi.Berdasarkan hasil analisis diperoleh simpulan, bahwa tari jaiponganRéndéng Bojong itu wujudnya dibentuk oleh tiga unsur utama, yaitu “bentuk” terdiri dari struktur koreografi, struktur karawitan, dan penataan rias-busana; “bobot” terdiri dari eksistensi senimannya, konsep garap, dan proses garap; “penyajian” yaitu tarian berpasangan yang bernuansa pergaulan.Ketiga unsur tersebut terintegrasi menjadi sebuah kristalisasi estetika tari yang menjadi identitas tari Réndéng Bojong.Kata kunci: Estetika tari, jaipongan, Gugum Gumbira, tari Réndéng Bojong, estetika instrumental. ABSTRACTThe Réndéng Bojong dance, which was created by Gugum Gumbira in 1978 and throughout the 1980s, is prevalent among Sundanese people. However, since the mid-1990s, this dance form has never been seen again. The purpose of this study is to understand various elements forming it. This qualitative research uses the theory of instrumental aesthetics with descriptive analysis methods in which data collection uses several stages: library study, observation, and documentation study. The results of the analysis are the Jaipongan Réndéng Bojong dance was formed by three main elements, namely, first, "form" consisting of a choreographic structure, musical structure, and makeup arrangement. Second, "weight" includes the existence of the artist, the concept of working on, and the working process. Third, "presentation" is a paired dance with a social nuance. The three elements integrated into a dance aesthetic crystallization, which is the identity of Réndéng Bojong dance.Keywords: dance aesthetics, jaipongan, Gugum Gumbira, Réndéng Bojong dance, instrumental aesthetics.