Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Gambaran Self-Management Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Poli PenyakiT Dalam Rumah Sakit Santa Elisabeth Bantul Sari, Susan Permata; Zulaika, Umi; Noviati, Bernadetta Eka
I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih Vol 5 No 2 (2024): I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih
Publisher : STIKes Panti Rapih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46668/jurkes.v5i2.276

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 adalah suatu gangguan metabolik yang terjadi akibat hiperglikemia. Hal ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi bahkan kematian. Oleh karena itu, sangat krusial bagi individu yang menderita diabetes melitus tipe 2 untuk menerapkan kontrol dan self-management yang efektif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran self-management diabetes melitus tipe 2 di poli penyakit dalam rumah sakit Santa Elisabeth Bantul. Metode: Metode penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan survei sederhana. Instrumen yang digunakan untuk mengukur self-management diabetes adalah kuesioner DSMQ (Diabetes Self-Management Quisionaire). Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 73 pasien diabetes yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa karakteristik responden adalah lansia (72,6%), berjenis kelamin perempuan (56,2%), berpendidikan SMP/SMA (43.8%), tidak merokok (75.3%), indek massa tubuh normal (60.3%), riwayat keluarga dengan diabetes (52,1%), memiliki kemampuan self-management yang cukup (53,4%) dan baik (46,6%), dengan rata-rata sub skala manajemen glukosa (7,20), kontrol diet (5,17), aktivitas fisik (5,63), dan layanan kesehatan (6,30). Simpulan: Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden memiliki self-management yang cukup. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dalam mengambil keputusan terkait tindakan keperawatan bagi individu dengan diabetes.
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KONTROL GLIKEMIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI KLINIK ENDOKRIN RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA: THE RELATIONSHIP BETWEEN PHYSICAL ACTIVITY AND GLYCEMIC CONTROL AMONG DIABETES MELLITUS PATIENTS AT THE ENDOCRINE CLINIC OF PANTI RAPIH HOSPITAL, YOGYAKARTA Indah Lestari, Hanny; Ikaristi Maria Theresia, Siwi; Eka Noviati, Bernadetta
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam tubuh (hiperglikemia) yang disebabkan oleh terganggunya sistem sekresi insulin dan aktivitas fisik yang kurang. Aktivitas fisik yang menjadi salah satu manajemen yang disarankan pada pasien Diabetes Melitus. Aktivitas fisik yang mengacu pada semua gerakan yang teratur terbukti dapat membantu mencegah dan menangani penyakit tidak menular seperti Diabetes Melitus. Tujuan dari pelayanan Diabetes Melitus di Rumah Sakit tidak hanya pengobatan, namun juga pemeriksaan HbA1c yang merupakan pemeriksaan tunggal terbaik untuk menilai resiko terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan oleh tingginya kadar gula darah. Tujuan Penelitian: Menganalisis hubungan aktivitas fisik dengan kadar HbA1c pasien diabetes melitus di Klinik endokrin Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Metode penelitian: desain penelitian ini adalah kuantitatif non eksperimental, menggunakan pendekatan crosssectional. Sampel penelitian ini adalah  113 responden yang menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah  International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dan studi dokumentasi kadar HbA1c  yang diambil melalui rekam medik pasien. Berdasarkan Hasil penelitian hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus dengan  nilai p 0.082 (>0.05). Perawat seharusnya secara rutin memberikan edukasi tentang aktivitas fisik untuk menjaga kadar gula darah tetap di batas yang normal dan tetap skala berkala melakukan pengecekan kadar HbA1c untuk menilai terkait dengan pola makan pada pasien dengan diabetes melitus.   Background: Diabetes is a disease characterized by elevated blood glucose levels (hyperglycemia) caused by impaired insulin secretion and lack of physical activity. Physical activity is one of the recommended management strategies for patients with Diabetes Mellitus. Regular physical activity, which involves any consistent movement, has been proven to help prevent and manage non-communicable diseases such as Diabetes Mellitus. The goal of Diabetes Mellitus care in hospitals is not only treatment but also the monitoring of HbA1c levels, which is considered the best single test to assess the risk of tissue damage caused by high blood glucose levels. Objective: To analyze the relationship between physical activity and HbA1c levels in Diabetes Mellitus patients at the endocrine clinic of Panti Rapih Hospital, Yogyakarta. Method: This study used a quantitative, non-experimental design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 113 respondents selected through accidental sampling. The instruments used were the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) and documentation study of HbA1c levels obtained from patients’ medical records. Based on the results, the study showed no significant relationship between physical activity and HbA1c levels in patients with Diabetes Mellitus, with a p-value of 0.082 (>0.05). Suggestion:  Nurses should provide education on physical activity to help maintain blood glucose levels within the normal range and regularly monitor HbA1c levels to assess dietary patterns in patients with Diabetes Mellitus.
Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu Lansia melalui Pelatihan Penerapan 5 Meja di Desa Ngestirejo, Tanjungsari Gunungkidul Kurniastuti, Margaretha; Noviati, Bernadetta Eka; Ratnawati, Emmelia
Lamahu: Jurnal Pengabdian Masyarakat Terintegrasi Vol 4, No 2: August 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/ljpmt.v4i2.33408

Abstract

Ngestirejo Village has a high proportion of elderly residents (30% or approximately 1,800 people) but limited cadres and low participation, making cadre training essential to enhance the capacity of elderly health services for more optimal and integrated implementation. This community service activity aims to form and train kader in managing elderly posyandu using the 5-table system. The activity was conducted using a training method with the topic “Elderly Posyandu with the 5-Table System,” followed by a simulation of the elderly posyandu. Evaluation of the activity was carried out using a pretest and posttest. A total of 25 participants attended the training. Posttest evaluation results showed that the knowledge level of the kader regarding the implementation of the Elderly Posyandu with the 5-Table System improved significantly. The majority (94%) or 23 participants experienced an increase in knowledge, while only a small portion (8%) or 2 participants showed no improvement. The GIN improvement results showed that 40% of participants experienced an increase of 15 points. The simulation of the elderly posyandu demonstrated enthusiasm from both the kader and elderly representatives in participating in the 5-table posyandu activity, indicating a positive increase in knowledge and engagement.
Beban Kerja Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul Fitri astuti, Veronica; Noviati, Bernadetta Eka; Ririn Widianti, Christina
I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih Vol 6 No 2 (2025): I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih
Publisher : STIKes Panti Rapih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46668/jurkes.v6i2.381

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Perawat merupakan tenaga kesehatan yang berperan penting dalam memberikan pelayanan kepada pasien secara langsung, khususnya di ruang rawat inap. Tuntutan pekerjaan yang tinggi sering kali menimbulkan beban kerja berlebih yang berdampak pada kondisi psikologis, termasuk kecemasan. Tujuan: mengetahui hubungan antara beban kerja dengan tingkat kecemasan perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik nonprobability sampling dengan metode purposive sampling, dengan jumlah responden sebanyak 44 perawat pelaksana. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: menunjukkan bahwa sebagian besar (86,4%) perawat mengalami beban kerja berat, serta sebagian besar responden (61,4%) berada dalam kategori kecemasan berat. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai p-value sebesar 0,001 dan koefisien korelasi 0,479, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara beban kerja dan kecemasan perawat, dengan kekuatan korelasi lemah. Kesimpulan: semakin tinggi beban kerja yang dirasakan perawat, maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami. Kata kunci: Beban kerja, kecemasan, perawat, ZSAS
Effect of “Growol” on glucose levels and lipid profile of metabolic syndrome rats Maharini, Fransisca Shinta; Lubijarsih, Maria Amrijati; Noviati, Bernadetta Eka; Setyaning, Ruth Surya Wahyu
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).378-386

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Growol merupakan makanan tradisional khas Kulon Progo, Yogyakarta yang terbuat dari singkong melalui proses fermentasi. Proses fermentasi ini melibatkan Bakteri Asam Laktat (BAL), khususnya Lactobacillus casei subsp. rhamnosus TGR2. Sifat sinbiotik pada growol menjadikannya pangan fungsional yang berpotensi memperbaiki profil lipid dan glukosa darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian growol terhadap kadar glukosa darah dan profil lipid pada hewan model sindrom metabolik.Metode: Penelitian ini dilakukan di laboratorium pada 36 ekor tikus Wistar yang dibagi menjadi enam kelompok: dua kelompok kontrol dan empat kelompok perlakuan. Kelompok kontrol terdiri atas kontrol negatif yang diberi diet standar, dan kontrol positif yang diberi diet diet tinggi lemak dan fruktosa (DTLF). Kelompok perlakuan diberi DTLF selama 4 minggu, kemudian 4 minggu berikutnya diberikan intervensi pakan Growol dengan komposisi 25% (P1), 50% (P2), 75% (P3), dan 100% (P4).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan kadar kolesterol total, LDL, trigliserida, glukosa serta peningkatan HDL secara signifikan pada kelompok perlakuan yang diberi growol (P1-P4) (p<0,05). Sedangkan kelompok kontrol negatif maupun positif mengalami peningkatan glukosa, kolesterol total, LDL, trigliserida, serta penurunan HDL secara signifikan (p<0.05). Kesimpulan: Diet berbasis growol secara signifikan memperbaiki profil lipid dan kadar glukosa pada model tikus sindrom metabolik. Temuan ini menyoroti potensi growol sebagai makanan fungsional dengan sifat sinbiotik untuk mengelola sindrom metabolik.KATA KUNCI: growol; kadar glukosa; profil lipid; sindrom metabolik; tikus ABSTRACTBackground: Growol is a traditional food from Kulon Progo, Yogyakarta, made from cassava through fermentation. This fermentation process utilizes Lactic Acid Bacteria (LAB), particularly Lactobacillus casei subsp. rhamnosus TGR 2. The synbiotic properties of “growol” make it a functional food with the potential to improve lipid profile and blood glucose levels.Objectives: This study aims to assess the impact of “growol” administration on blood glucose levels and lipid profiles in an animal model of metabolic syndrome.Methods: The study was conducted in a laboratory with 36 Wistar rats, which were divided into six groups: two control groups and four treatment groups. The control groups included a negative control group fed a standard diet and a positive control group given a high-fat and fructose diet (DTLF). The treatment groups received the DTLF for 4 weeks, followed by 4 weeks of intervention with Growol diets containing 25% growol (P1), 50% growol (P2), 75% growol (P3), and 100% growol (P4).Results: The findings indicated a significant decrease in total cholesterol, LDL, triglycerides, and glucose levels, along with an increase in HDL, in the treatment groups receiving growol (P1-P4) (p<0.05). In contrast, the negative and positive control groups exhibited significant increases in glucose, total cholesterol, LDL, and triglycerides, along with a decrease in HDL (p<0.05).Conclusions: A growol-based diet significantly improves lipid profiles and glucose levels in a rat model of metabolic syndrome. These results highlight the potential of growol as a functional food with synbiotic properties that may aid in managing metabolic syndrome.KEYWORD: glucose levels; growol; lipid profile; metabolic syndrome; rats
Hubungan Karakteristik Responden Dengan Self Manajemen Pada Pasien Diabetes Mellitus Type 2 Di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Santa Elisabeth Bantul Kristanti, Fittriya; Eka Noviati, Bernadetta; Permata Sari, Susan; Zulaika, Umi
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 11 No 1 (2026): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v11i1.28769

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus is a metabolic disorder characterized by high levels of glucose in the blood due to impaired insulin secretion or insulin resistance. Macrovascular disorders (eg coronary heart disease) and microvascular disorders (eg retinopathy) are complications that often occur in patients with uncontrolled type 2 DM. Proper treatment to avoid complications requires efforts to be made by type 2 DM patients to control themselves by implementing self-management. Objective: This study aims to determine the relationship between respondent characteristics and self-management of type 2 diabetes mellitus in the internal medicine clinic at Santa Elisabeth Hospital, Bantul. . Methods: This research method is a quantitative descriptive study with a simple survey. The instrument used is the DSMQ (Diabetes Self-Management Questionnaire) questionnaire which is used to measure diabetes self-management. The number of samples in this study was 73 diabetes respondents who met the inclusion and exclusion criteria Results: The results of this study show that education and family history (Type 2 DM) have a p value >0.05. Conclusion: Based on this research, it can be concluded that education and family history (Type 2 DM) significantly influence self-management in Type 2 DM patients. It is hoped that the results of this research can be a guide in making decisions regarding appropriate nursing actions for Type 2 DM patients Keywords: Respondent Characteristics, Self Management, Type 2 Diabetes Mellitus